Bima Pawitra terlahir dari keluarga kaya, namun takdir telah menentukan dirinya.
Ketika orangtuanya dalam perjalan pulang, ditengah jalan menjadi target pembunuh bayaran. Orangtua Bima berusaha menghindar, namun terpojok ketepi jurang, sehingga Bima yang berada dalam pelukan ibunya terlepas dari tangannya dan terlempar ke jurang karena terpeleset.
Tanpa di ketahui oleh orangtuanya, Bima yang masih bayi menembus dimensi lain dan di selamatkan kakek Alam.
17 tahun dalam perawatan kakek Alam, Bima menjadi sosok pemuda sakti dan kembali kebumi untuk mencari orangtuanya.
Bumi tidak sesederhana yang di lihatnya, Bima juga tidak tahu bahwa dia adalah sang terpilih menjadi penguasa tiga dunia.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, berhasilkah menemukan orangtuanya. Dan apa reaksinya setelah mengetahui bahwa menjadi sang terpilih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arkhan biantara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Tak Terduga
Mobil yang ditumpangi Bima beserta lainnya melaju kecepatan sedang. Mereka tidak menyadari setelah kepergiannya Jaya Arsha dan asistennya datang untuk membantu, juga berita tentang mereka menjadi trending topik dan mulai dikenal masyarakat kota.
"Rumah ibu di daerah atau blok mana..?" Bima mulai berbicara,
"Ibu berasal dari desa cisaat; dari pusat kota kira-kira membutuhkan waktu satu setengah jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan". Ucap Bu Lasmi.
"Pak sopir tolong antar dulu ibu Lasmi ke desa Cisaat ya", Bima menepuk puncak sopir,
"Tapi den aku telah diperintahkan harus mengantar aden kerumah dengan selamat"; kata sopir.
"Iya tapi antar dulu bu Lasmi, kan sama saja", ucap Bima.
Sopir mengangguk.
"Jadi ibu jauh-jauh dari desa Cisaat ke pusat kota untuk membeli resep obat dari Dokter juga anak ibu sakit apa...?" Bima kembali bertanya ke bu Lasmi setelah sopir setuju mengantar bu Lasmi kerumah terlebih dahalu.
"Iya nak kata dokter tanpa resep darinya maka anakku tidak bisa diselamatkan, maka dari itu aku menjual satu-satunya barang peninggalan dari almarhum suami ibu, aku tidak tega melihat anakku yang sudah lama sakit, demi anak aku akan bekerja keras menyembuhkannya", Bu Lasmi dengan sedih menceritakannya tak terasa dari kedua kelopak matanya yang sudah tua, air matanya sudah bercucuran.
"Yang sabar ya bu mudah-mudahan putra ibu bisa diselamatkan", Bima tersenyum hangat kemudian sedikit menepuk pundak bu Lasmi, tanpa disadari oleh bu Lasmi sebenarnya Bima mengalirkan sedikit energi Qi untuk memberikan ketenangan jiwa. Ini yang membuatnya menjadi hangat.
"Dirumah kalau boleh tahu ada berapa orang bu..!!", Wira yang sejak tadi hanya menjadi pendengar bertanya.
"Anak asuhku banyak nak!!", bu Lasmi tersenyum
"Banyak...!!"
"Anak asuh, maksud ibu.?" Wira mengerutkan kening.
"Iya anak asuh ibu banyak nak, karena ibu menampungnya; anak-anak jalanan, juga anak yang ditelantarkan oleh orang tua mereka, ibu tidak tega melihatnya," bu Lasmi menjelaskannya.
"Jadi ibu bikin semacam panti asuhan?" Wira mengangguk mengerti, kemudian berkata kembali; "apakah ada semacam donatur untuk memenuhi kebutuhan anak-anak yang ibu rawat..?"
"Dulu waktu suamiku masih hidup, ada satu orang donatur tetap yang rutin memberi sumbangan bahkan rumah tempat tinggal sekarang adalah pemberiannya. Akan tetapi setelah donatur meninggal tidak ada lagi yang menyumbang, meskipun ada yang menyumbang beberapa warga sekitar, namun masih kurang untuk mencukupi biaya hidup anak asuhku. Dan membuatku lebih sedih bukan karena kehilangan donatur tetap ataupun bantuan dari warga sekitar, tapi suamiku juga meninggal hanya satu minggu kemudian. Ibu Lasmi menghela napas berat, lalu kembali berkata kembali; setelah beberapa tahun ada orang yang datang ke rumah dan mengaku keturunan keluarga donatur tetap datang dan menuntutku supaya rumah dikosongkan, dan di beri waktu selama satu minggu, karena rumah itu bukan diberikan tapi di pinjamkan, maka dari itu aku berencana mencari rumah yang di sewakan, kemudian pindah. wajah bu Lasmi semakin murung."
Setelah mendengarkan perkataan bu Lasmi, Bima dan Wira menggelengkan kepala juga ikut prihatin atas penderitaan bu lasmi serta anak asuhnya.
Mobil yang ditumpangi mereka bertiga sudah sampai ketujuan desa Cisaat, kemudian supirpun berkata; "Kita sudah masuk ke desa Cisaat dimana posisi rumah ibu."
"Masih lurus setelah ada simpang tiga belok kiri, lalu lurus lagi nanti disana ada simpang dua tapi masih lurus nanti ada dua poon cemara, disitulah baru berhenti karena mobil tidak masuk gang", Ibu Lasmi menjelaskan.
"Baik aku ngerti", sopir mengangguk.
Sekitar dua atau tiga menit mobil yang ditumpangi mereka bertiga berhenti, "apakah pohon ini bu", sopir menunjuk ke arah dua pohon cemara.
"Iya terima kasih sudah mengantarku kesini", kata bu Lasmi kemudian turun,
Bima dan Wira juga ikut turun.
"Kenapa nak Bima dan nak Wira turun juga, seharusnya kalian berdua segera pulang", bu Lasmi keheranan.
"Aku dan kang Wira turun karena ingin melihat dan memeriksa anak asuh ibu, siapa tahu aku bisa membantu ibu", Bima tersenyum.
"Tapi.. kalian berdua telah menolongku begitu banyak, aku tidak bisa terus merepotkan kalian" ucap bu Lasmi.
"Kata siapa merepotkan, Justru kami berdua senang membantu bagi yang membutuhkan; kata Wira lalu melanjutkan perkataannya, jadi tunggu apalagi ayo bu kita kerumah ibu, kasian anak asuh ibu bila terlambat datang."
Bu Lasmi menghela napas dan mengangguk.
"Untuk pak sopir terima kasih atas tumpangan, jadi pak sopir boleh pulang", Bima melihat ke sopir utusan Jatmiko.
"Maaf den aku tidak bisa pulang sebelum aden pulang kerumah dengan selamat", sopir berkata dengan nada tegas.
"Tapi ini kemungkinan bisa lama" ucap Bima.
"Tidak apa-apa, aku akan menunggu disini" balas pak sopir.
"Begini saja, bagaimana kalau pak sopir ikut juga jadi enak nunggunya", Kata Bima,
Sopir berfikir sebentar lalu mengangguk.
"Oke mari kita berangkat, tolong kang Wira seperti biasa bantu ibu Lasmi berjalan," Bima melirik ke arah Wira.
"Siap kata Wira, ayo bu aku bantu Wira langsung memegang tangan Lasmi."
Dari kejauhan ada yang berlari dan berteriak memanggil Ibu Lasmi, "bu Lasmi untung ibu telah datang Rumah ibu akan dirobohkan."
"Apa yang kamu katakan Sarip..!!" kata bu Lasmi setelah orang yang di panggil Sarip ada di depannya.
Dengan napas yang masih terengah-engah, Sarip berkata; "ini...ini bu...hah..huh...!!!"
"Tenang dan atur napasmu dulu Sarip", kata bu Lasmi walau sedikit cemas karena sama-samar mendengar teriakan Sarip bahwa rumahnya akan di robohkan.
"Minum dulu agar tenggorokanmu tidak kering," pak Sopir menyodorkan air mineral ke Sarip.
Sarip menerima air mineral lalu meminumnya, setelah itu dia mengatur napas, karena sudah merasa napasnya normal kemudian Sarip berkata; "begini ceritanya bu, sekitar beberapa jam setelah ibu pergi untuk menebus obat, ada dua puluh orang yang datang kerumah ibu, orang itu menanyakan keberadaan ibu dan juga perginya, lalu beberapa warga memberitahukan dan juga menanyakan tujuan orang itu datang mencari ibu, orang itu mengatakan bahwa sesuai perjanjian rumah harus di kosongkan, karena rumahnya akan di robohkan. Warga mencoba menahannya jangan di robohkan dulu sebelum ibu datang, awalnya mereka setuju juga memerintahkan anak-anak yang ada di rumah harus keluar, akan tetapi setelah menunggu selama satu jam dan ibu belum kembali juga, orang-orang itu tidak sabar lagi. Warga masih mencoba menahannya kembali dan aku berinisiatif untuk menyusul ibu. Begitu bu."
Setelah mendengar perkataan Sarip, Bu Lasmi menghela napas lalu berkata; "seharusnya akhir dari perjanjian masih ada waktu dua hari kenapa mereka melanggar janjinya."
"Aku juga tidak tahu bu, tapi aku mendengar dari mereka, bahwa rumah itu sudah di jual jadi pemilik barunya ingin secepatnya rumah itu di kosongkan karena akan di robohkan lalu dibangun kembali." Ucap Sarip
"Sebaiknya kita kesana dan lihat, motif apa yang sebenarnya sampai melanggar perjanjian" kata Bima.
"Baik".
Mereka mengangguk secara bersamaan lalu bergegas pergi ke arah rumah bu Lasmi.