💞 NOVEL ini sedang dalam tahap REVISI demi perbaikan kualitas karya. Namun, alur dan isi tetap sama. Pemberitahuan akan saya hapus setelah REVISI SELESAI. Terimakasih.
Bunga seorang gadis desa yang mengawali karirnya sebagai karyawan biasa menjadi seorang asisten pribadi CEO tampan dan mapan yang sangat cemerlang di kantornya, harus pasrah dengan keadaan. Setelah berpisah dengan Dirga, lelaki yang sudah menjadi tunangannya dalam waktu empat tahun karena perjodohan kesalah pahaman keluarga saat itu. Dia pergi menjelajahi tempat-tempat yang pernah di singgahi untuk mengenang jejak kebersamaan mereka. Hidup begitu pilu baginya. Hingga ia teringat dengan seseorang yang selalu ingin ada di dekatnya.
Bunga mengenang kegagalan percintaan di masa lalunya dan bercerita pada kakak angkatnya Jeny. Namun belum sempat Bunga menceritakan keseluruhan kisah hidupnya, Jeny mengatakan agar Bunga tidak perlu risau akan hari esok, sebab Ryan sang CEO tampan mantan bosnya akan membuatnya bahagia.
Nb: Ini kisah sedih petualangan hidup gadis desa, menguras emosi dan air mata.
"Jika penasaran... baca terus lanjutan ceritanya ya... jangan lupa like dan komentar positifnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang Lia Taufik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Hati
Mentari pagi menyinari jendela kamar hunian baruku, serasa tak biasa. Semilir angin dari kipas berhembus menyapu rambut di wajah ku. Aku membuka mataku perlahan.
"Ini seperti mimpi?! Rumah ini ... Ayah dan Bunda ku bahkan tidak pernah merasakan nya." lirih Bunga dalam hatinya sambil menatap langit-langit kamar. Tak terasa air matanya terjatuh mengalir deras sebab mengingat saat pertama kali mencari kerja dengan penolakan dari sahabatnya kala itu.
Beberapa saat kemudian
Bunga bersiap untuk pulang, ia menaiki jalur kereta. Saat akan berangkat, sebuah gawai berdering tertanda panggilan masuk.
"Hallo ... Assalamualaikum, ada apa?" tanya Bunga yang terkejut ketika Dirga tiba-tiba menghubunginya.
"Waalaikum salam Bunga! Aku sudah di kost Kamu, kata pemilik kost kamu sudah pindah dan menitipkan motorku disini, kenapa menolak pemberian ku?" tanya Dirga mencari tahu.
" Iya ... maaf aku pindah ke perumahan milik kantor!" balas Bunga.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Dirga heran.
"Memangnya kenapa!" balas Bunga gusar.
"Aku nggak nyangka Kamu berubah Bunga! Jangan-jangan benar yang dikatakan oleh keluarga ku jika perempuan desa hanya mengejar harta!!" ucap Dirga seraya memasukkan kunci motor nya kemudian menutup sambungan teleponnya.
Bunga terdiam mendengar ucapan Dirga, air matanya mengalir tanpa terasa. Dirinya bagai di sambar petir saat hinaan keluar dari bibir tunangannya sendiri.
Dirga melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, ia berteriak sekuat tenaga bak orang gila kehilangan kesadarannya. Dirga meluapkan kekesalan dengan menyendiri di sebuah Kafe kecil pinggir jalan.
Sementara Bunga menangis tanpa henti di dalam kamarnya. Suara langkah kaki menghentikan tangisannya, membuatnya menoleh dan beranjak berdiri mendekati sumber suara.
Suara ketukan pintu mengagetkan nya yang sedang berdiri di dekatnya, membuat Bunga segera membukanya. Bunga menahan tangisannya yang kini makin sesenggukan setelah melihat kedatangan Jeny. Jeny kebingungan melihat sikap Bunga yang tak biasa. Bunga mendekati Jeny lalu memeluk erat tubuh kakak angkatnya untuk menumpah kan semua kesedihan nya.
"Ada apa dek?" tanya Jeny kebingungan.
"Dir ... Dirga hiks...hiks ..." Bunga menangis hingga tidak dapat menyelesaikan ucapannya.
Jeny mengelus punggung Bunga, sambil mengedar kan pandangan nya mencari-cari seseorang yang baru saja bersamanya.
"Mana si bos?" lirihnya agar tidak terdengar oleh Bunga. Namun Ryan ternyata telah berdiri di samping nya.
"Kamu cari siapa?" ucap Ryan mengagetkan keduanya. Bibir Ryan tersenyum menahan tawa saat melihat keduanya hendak melompat yang terkesiap oleh suaranya.
"Aduh ... Pak kira-kira dong!! Nggak lucu Pak, enggak lihat apa si Bunga lagi sedih begini!" celoteh Jeny yang merasa sebal dengan prilaku Ryan.
Ryan mengalihkan pandangan nya kepada Bunga yang saat ini matanya memerah dan sedikit sembab.
"Kamu nangis?" olok Ryan sambil menahan senyum.
"Enggak Pak, lagi ketawa" ucap Bunga sambil menunjukkan gigi putihnya ke arah Ryan.
"Nggak waras ni bocah!" balas Ryan mengerucutkan bibirnya ke arah depan.
"Ada apa kemari?" tanya Bunga.
"Mau antar Kamu pulang, mereka ikut juga!" berkata sambil menunjuk Ferdi Dan Jeny yang sudah menenteng tas di tangan.
"Saya mau naik kereta Pak?!" rengek Bunga.
"Ayo ... Kamu sudah siap? lekas berangkat!" ujar Ryan sambil tersenyum.
Bunga berjingkrak kegirangan seperti bocah kecil yang sedang bahagia, tanpa di sadari ia memeluk tubuh Ryan. Ryan menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan sikap Bunga.
Merekapun menikmati perjalanan kereta kala itu. Ferdi terlihat asyik memainkan gawainya, sedangkan Jeny tidur terlelap hingga mendengkur. Ryan menahan tawanya yang hampir saja meledak menyaksikan dengkuran keras Jeny.
"Pak Ryan kenapa mau ikut saya Pak?" tanya Bunga lirih mendekat kan wajahnya di telinga Ryan agar Jeny tidak terbangun. Ferdi sesekali melirik keduanya sambil tersenyum.
"Wah Kamu polos banget sih Bunga, kalau bukan karena Kamu mana mau tuh si Boss!" gerutu Ferdi dalam hati nya.
Ryan menatap teduh dan dalam wajah Bunga, seakan hati nya meleleh mendengar suara lirih Bunga.
"Jangan besar kepala dulu kamu, aku emang dari dulu sering main sama beberapa karyawan ku di waktu senggang!" ucap Ryan yang masih ingin terlihat dingin di mata Bunga.
"Huh ... jual mahal," lirih Bunga agar tidak terdengar oleh Ryan, tapi faktanya Ryan masih bisa mendengar ucapan Bunga yang sedang menggerutu, ia melirik sambil tersenyum senang.
Bunga memalingkan wajahnya melihat kearah luar jendela! Ryan mencubit lengan Bunga agar menoleh ke arah nya.
"Apalagi Pak?! Tadi sewot diajak ngomong!" omel Bunga yang merasa dirinya di acuhkan.
"Huust ... jangan keras-keras, nanti Jeny bangun! ucap Ryan lirih sambil menutup mulut Bunga dengan telapak tangan nya.
"Pacaran apa gimana sih, nih orang berdua? Dari tadi ribut nggak ada yang mau ngaku." gerutu Ferdi sambil menaikkan sebelah alisnya dan memainkan ponselnya.
"Enggak", ucap Bunga Dan Ryan bersamaan.
Ferdi mengulum senyumnya hingga hampir tersedak, lalu mengedarkan pandangan ke luar jendela menyembunyikan egonya yang berani menimpali Bossnya.
Ryan mencolek tanyan Bunga yang berada di sampinnya agar menoleh me arahnya. Bunga yang tidak ingin kembali memancing keributan segera mendekat kan wajahnya.
"Apa?" tanya Bunga lirih, bahkan sangat lirih namun Ryan masih bisa mendengar ucapan nya.
"Kenapa tadi nangis?" tanya Ryan dengan wajah sendu.
Bunga segera berdiri hendak menuju kursi kosong sambil menarik lengan Ryan agar mengikuti pergerakannya. Ryan langsung bergegas mengikuti langkah Asisten cantiknya tersebut sambil setengah berlari.
"Tadi Dirga telepon Pak, dia marah mengetahui Saya pindah. Dia di kost Bunga ambil motor tadi, " jelas Bunga.
"Terus?? Kamu merasa bersalah gitu sama dia? Kamu pindah itu kan sebab prestasi Kamu Bunga?!" jelas Ryan.
"Bukan gitu Pak, Saya di Cap cewek matre persis seperti kata mamanya tentang Saya katanya. Dia bilang semua gadis desa sama seperti Saya Pak, itu yang menyakitkan hati Bunga. Dia pakek bawa-bawa embel-embel gadis desa segala. Dulu dia toh juga pernah sekolah di desa." jelas Bunga sambil menggerutu dan menyebikkan bibirnya.
Ryang langsung menggenggam erat tangan Bunga Dan meletakkan nya di dada. Lalu memejamkan matanya sejenak, amarahnya mendidih mendengar cerita Bunga. Ryan membuka matanya perlahan dan segera menegakkan posisi duduk nya menatap Bunga.
"Gitu masih Kamu lanjutin hubungan Kamu?" tanya Ryan yang bingung dengan pola pikir Bunga.
"Saya sudah berkomitmen akan menjaga nama baik keluarga Pak, jika memang nanti pihak Dirga yang membatalkan pernikahan akan Saya terima." jelas Bunga lirih sambil menunduk dan memainkan jarinya gugup di depan Ryan.
"Aku yang ngomong sama Ayah Kamu nanti ya?" tanya Ryan dengan tatapan mata memohon agar Bunga menyetujui keinginannya.
Bunga membuka mulutnya terkesiap dengan ucapan Ryan.
"Jangan cari gara-gara Pak!" Bunga menimpali Bossnya yang mencoba mencari kesempatan sambil mendongakkan wajahnya yang mulai memerah menahan malu.
Bersambung ...