Aneh bukan? Tapi kembali lagi, hati manusia tidak bisa dipaksakan. Karena cinta merupakan keikhlasan, tak ada paksaan atau pun pelampiasan. Semuanya murni dari kesucian hati yang paling dalam.
Kita tidak bisa menentukan kepada siapa hati ini akan berlabuh. Semua terjadi dengan sendirinya, namun tetap dalam kendali Sang Pencipta.
Ada saatnya berjuang dan diperjuangkan. Tugas kita hanyalah memantaskan diri sesuai dengan apa yang diharapkan, karena jodoh merupakan cerminan diri. Namun, jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, maka yakin itulah yang terbaik. Bisa jadi, jalan kita menuju kebahagiaan yang hakiki.
Pencipta maha tahu, apa yang sebenarnya lebih kita butuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ainun 23
Apartemen Danish
Friska mengikuti Danish hingga ke kamarnya.
"Aku tadi ke rumah bunda. Tapi bunda mengatakan kalau kamu ada di sini," kata Friska.
Danish memijat keningnya dan langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dia masih merasakan pusing meskipun demamnya mereda. Friska yang mengikutinya segera mendekat dan menempelkan punggung tangannya di dahi Danish.
"Kamu sakit tapi tidak bilang sama aku," dengan nada khawatir. "Seharusnya kamu segera menghubungiku."
Danish menaikkan selimutnya sampai ke pinggang. "Aku tidak apa-apa Friska. Lagi pula aku tidak mau merepotkanmu."
"Merepotkan bagaimana? Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu." Mencoba mengelak.
"Huuff ... jangan bilang sama bunda," ucapnya dengan menatap Friska yang duduk di sampingnya. "Aku cuman butuh istirahat saja, mengingat pekerjaanku akhir-akhir ini sangat padat."
"Hmm ... baiklah. Tapi aku akan tetap disini sampai kamu benar-benar sembuh. Aku akan menelpon asistenku segera membawa obat," sembari menggeledah tasnya untuk mengambil benda canggih tersebut.
Secepat Danish menahannya, "Tidak perlu, aku sudah minum obat. Lagi pula, kamu harus ke rumah sakit," tolaknya.
"Kamu minum obat tanpa diperiksa terlebih dahulu? Apakah wanita itu yang memberikannya?" Friska menatap lekat kepada Danish.
"Iya. Cuman demam biasa. Lebih baik kamu segera berangkat," seraya berbalik memunggungi Friska dan mencoba memejamkan matanya.
Friska mendengus kesal melihat itu. Dia tahu, menghadapi pria pujaannya butuh kesabaran ekstra. Mau bagaimana lagi? Demi cintanya, dia harus bertahan. "Tidak. Aku akan tetap disini merawatmu sampai sembuh." Masih bersikukuh dengan keputusannya.
Pria itu tak bergeming mendengar jawaban Friska.
"Masalah wanita tadi, siapa dia? Aku bahkan tidak pernah melihatmu bersama dengan seorang wanita?" Entah kenapa hatinya cemburu mengingat sosok wanita berjilbab yang dia temui bersama Danish keluar dari apartemen. Namun sekuat tenaga dia mencoba menepis pikiran negatif yang menghampirinya.
Danish yang semula memejamkan mata mendengar wanita itu disebut spontan membukanya dan membalikkan tubuh. Jantungnya berdegup kencang. Sebenarnya dia tidak tahu apa yang harus dijawabnya. Friska yang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
"D-dia adalah ...." Otaknya berpikir keras mencari jawaban tepat. "Pelayan cafe. Iya! dia pelayan cafe!"
Friska mengerutkan kening "Bukankah dia yang bernyanyi waktu itu? Lantas apa yang dilakukannya disini? Bersamamu?"
Jantung Danish semakin memompa dengan cepat mendengar cercaan pertanyaan dari wanita di samping. Tidak mungkin juga baginya menjawab kalau wanita itu menginap semalam.
"A-aku meminta Bara mengutus karyawannya untuk membersihkan apartemenku sebelum aku tinggal disini," ucapnya dengan gugup. Kali ini dia harus berbohong meskipun tidak sepenuhnya. Karena memang wanita itu datang untuk membersihkan dan tidak ada maksud apa-apa.
Friska mengangguk mendengar penuturan Danish. "Oh, aku kira kenapa." Ada kelegaan yang dirasakan. Pikirnya, tidak mungkin juga seorang Danish memiliki hubungan dengan pelayan cafe.
Melihat ekspresi Friska, Danish memejamkan matanya dan menghembus napas lega. Namun, Sekelebat ingatannya mengenai wanita itu muncul mengisi pikirannya. Bagaimana wanita itu merawatnya, dan memberikan perhatian-perhatian kecil namun meninggalkan kesan bagi Danish.
Segenap ketulusannya yang terpancar dari raut wajah dan sorot matanya yang indah. Meskipun selama ini, Danish selalu membuatnya jengkel dan marah. Nilai lebihnya, tidak sekali pun wanita itu meminta imbalan atas apa yang dia lakukan.
Namun siapa sangka, wanita itu telah meneteskan air pada bongkahan batu besar yang bertahun-tahun berusaha dipecahkan oleh Friska.
.
.
.
.
.
Uh sabar Fris...😁
Terima kasih banyak kepada Readersku yang masih setia dengan Novel AINUN 🤗 semoga semuanya dalam keadaan sehat wal Afiat 😇 aamiiinnn.
Jangan lupa tinggalkan jejak like Comment dan VOTE 😉
AINUN percaya bahwa readersnya adalah orang yang baik dan pastinya pengertian 🤗
Salam
AAH♥️
trnyata lutfii orang nyaa