"Gak bisa begini. Pokoknya, bagaimana pun caranya, aku harus dapetin perempuan ini dan jadiin dia istriku. Harus!" gumam Ryu dalam hati penuh tekad.
***
"What's!? Kenapa sih ni Dosen satu maksa banget buat gue mau terima dia buat jadi pacarnya!? Aih.." gerutu Arin dalam hati.
***
Lalu, sebenarnya apa sih yang sudah terjadi pada mereka?
Kita coba baca yuk..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Friska Nanda Raisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta dibatalkan
Ryu pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Kek, aku ingin meminta Kakek untuk membatalkan rencana tersebut.”
“Apa kamu bilang?”
Melihat dari cara Kakek Ardi merespons, Ryu pun dengan perlahan-lahan menceritakan semuanya dan Kakek pun mendengar dengan serius.
Ketika Ryu telah selesai menceritakan semuanya, Kakek pun bertanya, “Yu, jadi kakek akan segera menimang cucu?”
Ryu pun mengangguk dan kemudian berkata, “Jadi, Kek. Tolong batalkan rencana pertunangan tersebut, Kek. Aku benar-benar gak bisa meninggalkan Arin dan juga anak dalam kandungannya. Mereka itu hidupku, Kek.”
Kakek Ardi pun terdiam mendengar ucapan Ryu. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Kakek Ardi, namun saat itu ekspresi wajah Kakek Ardi adalah sebuah ekspresi yang dilema.
“Kek!?”
Ryu pun mencoba menegur Kakek Ardi yang kala itu sedang terdiam termangu.
Kakek Ardi yang tersadar kalau dirinya ditegur oleh Ryu ini pun akhirnya berkata, “Yu, kakek bisa paham dengan apa yang kamu rasakan. Tapi Kakek juga bingung bagaimana caranya Kakek menjelaskannya pada keluarga Tania.”
Mendengar ucapan Kakek Ardi, kini ganti Ryu yang terdiam. Namun itu hanya sesaat karena tak lama setelah itu, Ryu berkata, “Maaf, Kek. Untuk masalah itu, aku gak mau tahu. Pokoknya keputusan finalku itu ada pada Arin. Di samping karena aku memiliki salah dan seorang anak, ini juga merupakan pesan yang ditinggalkan Almarhum Ayah untukku.”
Melihat Ryu bersikeras memutuskan akan hal itu, Kakek pun menghela nafas panjang dan kemudian berkata, “Bagaimana kalau kamu menikahi keduanya?”
Mendengar Kakek berbicara seperti itu, Ryu pun spontan langsung menyahut, “Gak. Aku gak bisa. Kakek aja juga kalau di suruh menikah lagi, Kakek selalu bilangnya hanya ada Nenek di hati Kakek. Kenapa sekarang malah Kakek nyuruh aku menikahi dua perempuan sekaligus!? Gak. Pokoknya aku gak mau dan gak bisa. Maaf.”
Kakek pun tiba-tiba hatinya seperti digugah saat mendengar ucapan Ryu tersebut. Dia tidak menyangka kalau akan ada hari di mana keteguhan cintanya pada Istrinya akan dikembalikan oleh seseorang yang mengalami hal yang serupa dengannya.
Dengan menghela nafas panjang, Kakek pun akhirnya berkata, “Ya sudahlah. Kalau begitu biarkan Kakek memikirkan caranya. Kamu persiapkan saja pernikahanmu dengan Arin.”
“Ja—jadi Kakek sudah merestuinya ya?” tanya Ryu memastikan.
Kakek pun mengangguk dan kemudian kembali berkata, “Ayo sekarang kita temui Arin di luar.”
Ryu pun mengangguk dan kemudian mereka berdua pun akhirnya keluar menemui Arin.
Setelah mereka sampai di ruang tamu, mereka melihat sudah ada Nenek Indah yang sedang mengajak Arin mengobrol.
“Nek,” sapa Ryu.
“Yu!? Kamu habis dari mana saja sih!? Kenapa ninggalin seorang perempuan di sini sendirian. Untung tadi nenek sudah selesai masak di dapur terus keluar dan lihat, jadinya nenek langsung menemaninya ngobrol. Coba kalau enggak, kan kasihan dia sendirian,” ucap Nenek sambil mengelus-elus rambut Arin.
“Iya iya, Nek. Tadi aku sama Kakek ngobrol sebentar karena ada urusan,” ucap Ryu.
“Heleh. Alasan aja bisanya,” ucap Nenek Indah.
“Beneran, Nek. Kalau Nenek gak percaya, tanya aja sama Kakek,...” ucap Ryu, “Iya kan, Kek?”
Mendengar ucapan Ryu seperti itu, Nenek Indah pun langsung melihat ke arah Kakek Ardi dengan tatapan tajam.
Kakek Ardi yang dilihat seperti itu pun langsung mengangguk dan kemudian berkata, “Sudah sudah. Ayo kita makan aja yuk. Masakan Nenek enak lho.”
Kakek pun langsung mendorong perlahan punggung Nenek sambil memberi isyarat pada Ryu dan Arin agar ikut dengan mereka ke meja makan.
***
Sementara itu di saat yang bersamaan, Tania yang sedang duduk di ruang keluarga ini pun tiba-tiba teringat dengan Arin.
Saat itu dia berpikir mumpung sedang tidak ada Ryu di rumah, dia jadi bisa leluasa membully Arin bahkan dengan leluasa mengusirnya.
Dengan segera dia pun langsung bangun dari tempat duduknya dan pergi menuju kamar Arin.
Betapa terkejutnya dia saat mendapati pintu kamar tersebut terkunci. Begitu pula dengan pintu kamar Ryu.
Karena merasa penasaran, dia pun akhirnya memanggil Bu Weni.
Ketika Bu Weni sudah datang, Tania pun langsung bertanya, “Bu, di mana Arin?”
“Arin!? Sepertinya tadi dia pergi pagi-pagi sekali dengan Tuan, Non,” sahut Bu Weni.
“Ke mana?” tanya Tania.
“Sepertinya ke kampus deh, Non,” sahut Bu Weni.
“Oh. Ke kampus ya!? Ya sudah. Aku ke kampus kalau begitu,” ucap Tania yang langsung menyelonong begitu saja.
Bu Weni yang melihat Tania seperti ini pun langsung berkata, “Ta—tapi, Non.”
Tania tidak menggubris ucapan Bu Weni. Dia justru melanjutkan langkahnya dan pergi menuju kampus.
Sesampainya Tania di kampus, dia pun langsung bertanya pada seorang satpam yang sedang berjaga di depan pintu gerbang kampus.
“Pak, Bapak kenal Ryu Ardian?” tanya Tania begitu saja.
“Kenal,” sahut satpam tersebut.
“Oh bagus. Lalu apa Pak Ryu nya ada di dalam?” tanya Tania.
“Oh maaf, Mbak. Kalau soal itu saya kurang tahu. Coba Mbak tanya aja di salah satu Dosen yang ada di dalam,” ucap Satpam tersebut.
Mendengar jawaban satpam tersebut, Tania pun langsung berkata, “Ya sudahlah. Kalau begitu aku cari di dalam.”
Tania pun langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih terlebih dahulu.
Saat di tengah perjalanan ke dalam kampus, Tania pun menggerutu, “Dasar Satpam gak bisa diandalkan. Masa’ ditanya begitu aja gak tahu.”
Sambil menggerutu, tiba-tiba saja di saat yang bersamaan...
'Bruk'
“Eh lihat-lihat donk kalau jalan,” ucap Yuke.
“Elo tuh yang lihat-lihat kalau jalan. Bukan gue,” serang balik Tania.
“Apa lo bilang!?” ucap Yuke dengan nada emosi.
“Cih. Bukan cuma gak lihat kalau jalan, ternyata lo juga gak denger. Haiiss kasihan,” ucap Tania sehingga membuat Yuke langsung naik darah dan kemudian terjadilah saling pukul dan juga saling jambak di antara keduanya.
***
Di rumah Ardian...
Setelah kejadian itu, Tania pun pulang dengan hati kesal.
Bukan hanya kesal, Tania pun mengalami luka lebam di ke dua pipinya dan rambutnya pun berantakan seperti orang yang ada di pinggir jalan. Hal ini pun didukung dengan pakaiannya yang berantakan.
Bu Weni yang melihat itu pun langsung menghampiri Tania dan kemudian bertanya, “Non, Non kenapa?”
“Aku tadi ketemu orang gila, Bu. Di kampus Ryu,” sahut Tania yang kemudian dia pun menggerutu, “Heran, kenapa orang gila bisa masuk kampus itu sih!? Untung tadi dilerai, kalau gak dia bakalan aku bejek-bejek kayak sambel.”
Bu Weni yang mendengar ucapan Tania itu pun langsung berkata, “Orang gila!? Emangnya ada orang gila di kampus tempat kerja Tuan, Non?”
“Ada,” sahut Tania singkat.
***
Sementara itu di saat yang bersamaan, Ryu dan Arin ternyata sedang bersenda gurau dengan Kakek Ardi dan juga Nenek Indah.
Saat itu mereka terlihat sangat bahagia sekali hingga akhirnya Nenek Indah yang tahu kalau Ryu ingin sekali menikahi Arin ini pun bertanya, “Rin, di mana keluargamu? Berhubung Ryu sudah memilihmu, jadinya kami mewakili orang tua Ryu untuk datang melamarmu.”
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Arin pun terdiam dan Ryu pun langsung mengeluarkan surat dari Ayahnya yang sengaja dia bawa.
“Ini Nek. Bacalah,” ucap Ryu.
Dengan segera Nenek Indah pun membacanya hingga sesaat kemudian, “I—ini!?”
Bersambung...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
Tingkahmu melebihi majikan yang menggajimu.
ap gk ad cctv to dirumahmu ryu biar kamu tau perlakuan weni ke arin tu kek gimana
lanjut
lanjut
lanjut
lanjut