Visual berada di Part 103.
Avelia Wrestlin, seorang gadis berusia 22 tahun yang merupakan putri tunggal keluarga kaya raya. Terlahir sebagai putri tunggal tidak membuatnya menjadi gadis manja yang hanya bisa memamerkan kekayaan orang tuanya. Namun Avelia tumbuh menjadi gadis cantik yang mandiri, dan juga cerdas.
Kehidupan Avelia berubah saat dia bertemu dengan seorang pria tampan, David Carlisle. Gadis itu mencintai dalam diam selama kurang lebih dua tahun, sampai pada akhirnya dia meminta kepada orang tuanya untuk dijodohkan dengan pujaan hatinya. Pernikahan pun terjadi.
Akankah pada akhirnya si pria berbalik hati dan mencintai gadis yang sudah sah menjadi istrinya, atau malah si gadis yang akan mundur dan merelakan suami yang dia cintai?
Diwarnai dengan kisah persahabatan empat serangkai yang ingin membantu menyelamatkan pernikahan Avelia.
Yuk cari tahu kisah David dan Ave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desi Manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 22 - Menjaga Jarak
Kau bisa saja mencoba untuk menyembunyikan dosamu, namun karma akan tetap mengejarmu kemana pun engkau pergi.
🌹 Happy Reading 🌹
David sedang memeriksa grafik dengan tablet di tangannya saat ponselnya berbunyi. Dia mengecek ponselnya dan mendapati ternyata itu pesan dari Yessica. Tangan pria itu sedikit bergetar membaca pesan yang baru saja diterimanya.
Perselingkuhanmu sudah terbongkar, Dav. Aku memberimu waktu untuk memilih. Selesaikan urusanmu dengan wanita bernama Agatha atau aku akan membeberkan semuanya kepada ayah juga ibu. Jangan membuatku terlalu lama menunggu, adikku sayang.
Pesan itu disertai dengan sebuah foto. Foto dirinya yang sedang mengecup bibir Agatha dengan mesranya. Terlihat jelas tanggal di foto itu, dua bulan yang lalu. Matilah dia kalau foto itu sampai ke tangan ayahnya. David tidak bisa membayangkan ke pulau terpencil mana ayahnya akan membuangnya. Apakah yang dekat dengan hiu atau dengan harimau buas? Membayangkan saja dia sudah bergidik ngeri.
David menghubungi seseorang dan begitu panggilan teleponnya tersambung, David berbicara dengan suara beratnya. “Bisa bertemu sekarang? Ada hal penting yang harus kubicarakan. Ini urgent.” David melirik sekilas Avelia yang sudah tidur memunggunginya.
“Baiklah. Kita bertemu di Rainbow Cafe. Sampai jumpa.”
David memutus panggilan telepon. Dia menarik asal jaket dari lemari pakaian dan menyambar kunci mobilnya. Pria itu bergegas meninggalkan kamar tidurnya.
Tanpa dia sadari, Avelia ternyata belum tidur. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Dia berusaha mati-matian untuk menahan tangisnya. Dia tidak ingin menangisi hal yang sama lagi. Walau dia merasa terluka karena tahu siapa yang akan ditemui oleh suaminya.
Avelia memutuskan untuk melakukan panggilan grup dengan ketiga sahabatnya. Tidak menunggu lama, Nami, Angel dan Stela bergabung dengan panggilan.
“Girls, David menemui Agatha lagi. Di Rainbow cafe, tempat mereka biasa bertemu.” Avelia membuka pembicaraan. Suranya lesu. Hanya ketiga orang inilah tempatnya mengadu.
“Agatha itu tidak tahu malu sekali sih jadi orang. Ingin rasanya kucakar wajahnya yang sok cantik. Dasar wanita ganjen!” Angel seperti biasa selalu menjadi orang yang pertama kali emosi. Nami dan Stela sampai harus menjauhkan sedikit ponsel mereka karena suara Angel yang melengking.
“Ini tidak bisa dibiarkan terus menerus, Ve. Kita harus mencari tahu pria yang kau dan Stela pernah lihat sedang bermesraan dengan Agatha. Kita harus membongkar kedoknya.” Nami yang tampak jauh lebih tenang dari Angel memberikan ide.
“Benar kata Nami. Kali ini kita harus mendapatkan bukti.” Stela menimpali. Dia kadang masih merasa sedikit bersalah. Jika saja waktu itu ponselnya tidak ketinggalan di rumah, pasti sekarang sudah ada bukti yang bisa digunakan.
“Tapi bagaimana caranya?” tanya Avelia.
“Kau tenang saja, tidak usah terlalu dipikirkan. Biar aku, Nami juga Stela yang mencari caranya,” kata Angel mantap.
“Iya Ve, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu,” Nami menimpali.
“Baiklah kalau kalian bilang begitu. Aku sungguh bersyukur memiliki sahabat seperti kalian. Terima kasih ya,” kata Avelia dengan tulus.
Angel, Nami, dan Stela secara bergantian membuat lelucon untuk menghibur Avelia. Gadis itu tertawa sampai terbahak-bahak, seolah lupa dengan masalahnya.
\=\=\= Rainbow Cafe \=\=\=
David telah tiba di Rainbow Cafe. Cafe yang didesign dengan tujuh warna pelangi itu adalah cafe langganan Agatha dan David. Pria itu melirik jam tangannya, sudah sepuluh menit dia menunggu. Pesanannya bahkan sudah datang beberapa menit yang lalu. Namun yang dia tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Setelah kurang lebih dua puluh menit, orang yang ditunggu akhirnya pun datang. Berbalut dress tanpa lengan berwarna biru muda, Agatha tersenyum manis begitu duduk di depan David.
“Maaf aku sedikit terlambat ya sayang. Jalanan sedikit macet,” katanya dengan suara yang dibuat semanja mungkin.
“Sedikit terlambat?” tanyanya tidak suka. David melirik jam tangan miliknya. “Aku sudah menunggu selama dua puluh menit. Kau ini mengerti tidak sih apa yang dimaksud dengan urgent? Sering sekali tidak menghargai waktu.”
Dahi Agatha mengernyit. Ini bukan pertama kalinya dia terlambat dan membuat David menunggu. Biasanya pria itu tidak akan marah hanya karena dia terlambat datang. Namun hari ini seperti ada yang berbeda.
“Kan aku sudah minta maaf, sayang. Jangan marah ya?” bujuknya sambil mengelus pelan tangan kanan David. Pria itu menepis tangannya. Agatha semakin bingung dibuatnya. Sudah dua kali dia merasa ditolak dalam satu hari ini.
“Sayang, sebenarnya ada apa? Kenapa akhir-akhir ini sayang begitu sensitif padaku? Tadi bahkan menyuruhku pulang secara paksa.”
“Karena aku tidak suka dengan caramu. Aku kan sudah bilang kalau kakak dan keponakanku sedang berada di kota ini. Kau malah dengan seenak jidatmu datang ke apartemen. Kau tahu, gara-gara kau bermulut besar dan mengatakan hal yang tidak-tidak kepada Zico, aku ketahuan. Kak Yessica tahu kalau aku masih memiliki hubungan denganmu. Dia bahkan mengancamku.”
David menyalahkan Agatha. Menurutnya Yessica pasti tahu karena Zico yang
menceritakannya. Selama ini dia berusaha untuk membungkam mulut orang-orang di
perusahaan untuk membicarakan tentang dirinya dan Agatha.
Wajah Agatha sedikit memucat. Dia menyesal berbicara kepada bocah ingusan itu. “Maaf, aku tidak menyangka kalau bocah itu akan menceritakan kepada ibunya.”
“Bocah itu memiliki nama. Namanya Zico,” katanya tegas. David menatap Agatha tajam.
Agatha tercekat. Sepertinya apa pun yang dia katakan selalu salah di mata David sekarang ini. Gadis itu menunduk dalam. Rayuannya juga tidak bekerja sama sekali.
“Iya, maksudku Zico,” katanya tanpa memandang David.
“Untuk sementara waktu, lebih baik kita tidak berhubungan. Jangan datang menemuiku. Tidak perlu menelepon atau mengirim pesan sekali pun. Kak Yessica adalah tipe orang yang sangat teliti saat menyelidiki sesuatu. Jadi mari kita jaga jarak aman.”
Agatha mendongak. “Lalu bagaimana kalau aku merindukanmu?” tanyanya sendu.
“Aku akan menghubungimu atau mengirim pesan jika keadaan sudah cukup aman,” suaranya sedikit melembut. Agatha hanya diam. Wajahnya terlihat semakin muram. Seperti akan dipisahkan selamanya dari kekasih hatinya.
“Aku harap kau bisa mengerti. Ayah akan membuatku sengsara atau bahkan membunuhku jika dia sampai tahu tentang kita. Mari kita lakukan ini untuk kebaikan bersama.” David mengeluarkan salah satu kartu kredit miliknya.
“Pakailah kartu ini selama kita tidak bisa bertemu. Belilah apa saja yang kau suka,” katanya sambil menyodorkan kartu kredit kepada Agatha.
Agatha hanya menatap nanar kartu itu. David kemudian meletakkannya di tangan Agatha karena gadis itu seperti tidak berniat untuk mengambilnya.
“Aku seperti sedang menukar cintaku dengan uang,” katanya lirih. Gadis itu menghirup napasnya dalam-dalam.
“Baiklah. Terima kasih untuk kartu kreditnya. Aku akan mempergunakannya dengan baik. Dan aku berharap masalah ini agar secepatnya selesai. Aku tidak bisa terlalu lama jauh darimu, sayang. Aku sangat mencintaimu. Hari-hariku akan membosankan tanpamu. Aku pasti akan sangat merindukanmu.”
David merasa ada yang aneh dengan dirinya. Dia akan luar biasa bahagia saat Agatha sudah mengutarakan kalimat romantis penuh cinta. Hatinya akan berdebar kencang dan mulutnya akan secara refleks mengatakan hal yang tidak kalah romantis. Namun kini hatinya tidak sebahagia itu dan lidahnya pun terasa kelu.
“Aku juga akan merindukanmu. Aku pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik,” katanya mengucapkan selamat tinggal setelah menepuk pelan bahu Agatha. Gadis itu hanya bisa mengangguk lemah.
Agatha menatap punggung David yang semakin menjauh. Setelah David berada di luar jarak pandangnya, bibirnya sedikit terangkat. Dia tersenyum sinis. Namun kemudian matanya berbinar melihat kartu kredit yang berada di tangannya.
“Dasar pria bodoh.”
--- TBC ---
sayangku itu lebay aja kedengaranny thor🤣🤣🤣🤣🤣😎😎😎❤️❤️❤️