NovelToon NovelToon
NARA

NARA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:747.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Hanna

Nara seorang gadis biasa dan sederhana terpaksa harus menikah dengan pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya karena sebuah surat wasiat dari kakeknya.

Dia harus rela berpisah dengan kekasihnya dan menjalani kehidupan pernikahannya yang bagaikan neraka.


Follow IG Author : @hanania442 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

3 bulan kemudian...

 

“Nyonya anda sudah di tunggu di ruang makan” seorang wanita paruh baya menghampiri Nara yang sedang menyisir rambutnya di meja rias dengan tatapan kosong.

 

“Haruskah aku kesana?” tanya Nara

 

“Maaf tapi tuan melarang saya untuk membawakan sarapan kesini untuk anda”

 

“Ya, aku akan turun sebentar lagi”

 

Marah?

 

Atau Lelah?

 

Entahlah Nara sudah tidak ingin memiliki rasa itu. Kini hidupnya benar-benar tidak berarti. Satu-satunya yang menjadi alasannya untuk hidup sudah pergi.

 

Ya, Revan merenggut semua darinya.

 

Sedih? Menyesal?

 

Tentu saja Revan sedih dan marah saat mengetahui darah dagingnya tidak bisa lahir kedunia. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama bahkan bagi ku kini dia sudah melupakan semua yang pernah terjadi.

 

Kini aku harus menahan semua rasa ini dalam hati ku. Sendiri tanpa seorang pun yang dapat berbagi dengan ku.

 

Aku menuruni tangga demi tangga menuju meja makan. Pemandangan yang memuakkan selalu tersaji setiap pagi yang membuat aku lebih sering menghabiskan sarapan dan makan malam ku dikamar.

 

“Mas suapin aku dong, kaya dulu waktu kita baru menikah kamu sangat romantis tapi sekarang kamu kalau aku gak minta gak pernah di suapin” wanita itu membuka mulutnya agar sang pria menyuapinya

 

“Iya, sini aku suapin” dan dengan bodohnya ang pria menuruti

 

Ah, sudahlah aku tidak perlu menjelaskan siapa wanita itu tentu saja dia Mona istri pertama Revan yang kini tinggal serumah dengan ku.

 

Ini mimpi. Mimpi buruk ku yang berulang setiap hari.

 

“Pagi Nara. Gimana kabar mu? Kamu jarang banget keluar kamar aku jadi khawatir” Mona menyapa ku dengan senyuman yang sangat manis yang membuat Revan mabuk kepayang

 

Aku lebih memilih diam. Tidak perlu aku menjawab basa basinya.

 

Lebih baik aku menghabiskan sarapan ku dan kembali ke kamar.

 

“Nara aku dan Mona akan pergi selama 2 hari untuk mengunjungi orang tuanya. Aku harap kau tidak membuat masalah dan tetaplah di rumah”

 

Bahkan kini Revan hanya menganggap ku si “pembuat masalah”.

 

Aku berdiri dan beranjak dari meja makan.

 

“Nara, kamu masih marah sama aku dan Revan? Aku memohon maaf pada mu atas meninggalnya calon bayi mu” Mona pun mendekati dan memegang kedua bahu ku

 

“Tapi kau tidak perlu terpuruk seperti ini. Kau dan Revan masih bisa mendaptakan anak lagi”

 

Seperti tersambar petir sekujur tubuh ku saat mendengar ucapan Mona.

 

“Begitukah pemikiran seorang wanita yang tidak bisa memiliki anak? Kau bahkan tidak pernah tau rasanya mengandung”

 

Plakkk...

 

Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kiri Nara.

 

“Mona! cukup” Revan menarik tangan Mona

 

“Tamparan mu tidak terasa sakit bagi ku karena rasa sakit kehilangan seorang anak tidak akan pernah bisa hilang walapun aku memilik anak yang lain. Jangan pernah katakan itu lagi di hadapan ku jika kau masih ingin hidup”

 

Hah! Perlahan wanita itu menampakkan topengnya. Aku paham sangat paham apa yang dirasakan Mona.

Walaupun Revan mengatakan Mona dengan iklas menerima ku tapi wanita mana yang rela membagi cinta suaminya termasuk aku.

 

Tetapi disini akulah penjahatnya akulah yang merebut suaminya dan kini aku juga menanggung semua kejahatan yang tidak pernah sadar telah aku lakukan.

 

Dalam hati kecil ku selalu menyangkal bukan aku yang bersalah dan bukan aku yang merebut Revan. Aku

bahkan tidak tahu jika Revan sudah memiliki istri. Semua itu salah mereka yang telah membohongi ku.

 

Tetapi ini kenyataannya tahu atau tidak tahu aku memang benar istri kedua Revan itulah status ku yang

sebenarnya.

 

Revan tidak ingin menceraikan ku. Dia mengatkan masih sangat mencintai ku dan akan berbuat adil antara aku dan Mona.

 

Namun kenyataannya Revan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Mona.

 

Perasaaan ku?

 

Aku tidak tahu. Kadang aku merasa senang Revan tidak memperdulikan aku tetapi aku merasa sedih dan cemburu saat melihat kemesraan Revan dan Mona.

 

Bahkan kini Revan tidak memperdulikan aku setelah Mona menamparku dengan sangat keras.

 

Aku memang pantas mendapatkan tamparan itu. Kata-kataku sangat tidak sopan apalagi aku tahu jika Mona sudah tidak memiliki rahim lagi akibat penyakit kanker yang dia derita.

 

Tok tok tok

 

“Masuk”

 

“Nyonya ingin saya bawakan makanan ringan?” tanya seorang pelayan muda yang baru beberapa bekerja dengan ku

 

“Tidak. Pergilah”

 

“Nyonya cuaca diluar sangat cerah bagaimana kalau nyonya jalan-jalan di taman?”

 

“Aku tidak ingin” aku mulai kesal dengan sikap pantang menyerahnya

 

“Ayolah Nyonya. Just info tuan dan nenek sihir itu sudah pergi jadi sekarang andalah satu-satunya

nyonya di rumah ini”

“Aku akan bahagia jika itu terjadi selamanya. Pergilah aku ingin istirahta”

 

“Oke tapi anda harus minum obat dulu” dia sangat gigih dengan keinginannya

 

“Ambilkan obat ku”

 

Dia menyodorkan sebutir obat dan segelas air. Aku pun meminum obat itu. Lalu dia pergi dan berjanji tidak akan mengganggu ku dalam waktu beberapa jam.

 

                                                                                            ******

Aku mengerjapkan mataku perlahan dan ternyata sinar mentari sudah berganti dengan sinar bulan yang

terlihat samar-samar tertutup awan.

 

Aku mengambil ponselku di nakas untuk memastikan berapa lama aku tertidur. Oh god! Sepertinya aku bukan tidur tetapi tidak sadarkan diri bagaimana bisa aku melewatkan makan siang dan makan malam.

 

Aku menarik selimut yang menutupi tubuh ku dan beranjak untuk membersihkan diri tetapi kepala ku begitu terasa berat dan berputar. Sepertinya karena aku belum makan dan tertidur terlalu lama. Sebaiknya aku makan malam dulu.

 

Begitu sunyi dan hanya terlihat beberap pria berbadan tegap sedang berjaga. Para maid juga sudah kembali ke paviliun.

 

Makan malam masih tersedia dan masih hangat. Berapa kali mereka memanaskan masakan ini sampai aku

bangun. Lagi-lagi aku membuat orang kesusahan.

 

Aku duduk dan menikmati makan malam ku dengan lahap. Sepertinya aku terlalu lapar rasanya aku ingin

menghabiskan semua makanan ini. Setidaknya aku bisa makan dengan tenang tanpa harus melihat wajah wanita itu untuk beberapa hari ini.

 

“Nyonya”

 

“Aaaaaa....” aku terkejut saat ada sebuah telapak tangan menyentuh pundak ku

 

“Bia! Kau menakuti ku” aku berteriak kesal pada maid ceroboh itu

 

“Ma-maaf nyonya saya sejak tadi disini. Saya pikir anda sudah tahu” Bia mencoba membela diri. Sesungughnya dia sengaja mengendap-endap menghampiri ku yang sedang fokus pada makan malam terlihat jelas semua itu diwajahnya.

 

“Ini jam berapa, sedang apa kau masih disini?”

 

Kini Bia bergeser dan berdiri disamping ku “Seharusnya saya yang bertanya kenapa nyonya jam segini baru makan malam. Anda tahu saya sudah tiga kali memanaskan makanan ini. Tetapi anda tidak keluar untuk makan malam” Bia menjelaskan panjang lebar.

 

“Saya merasa di intimidasi disini” tambah Bia sambil mengerucutkan ujung bibirnya

 

“Kenapa begitu?” tanyaku dengan singkat

 

“Anda tidak tahu bagaimana perlakuan para maid senior pada saya. Mereka meminta saya menunggu sampai nyonya makan malam dan memastikan semua makanan ini tetap hangat dan aku tidak boleh tidur”

 

“Baguslah para senior itu paham apa yang harus dilakukan pada mu” Aku tersenyum puas karena Bia sudah

mendapatkan balasannya

 

“Bahkan anda tidak membela saya” Bia mendengus kesal

 

“Aku sudah selesai makan. Kembalilah ke kamar mu dan istirahat” aku beranjak dari meja makan dan menuju kamar.

 

“Ah, satu lagi minta bodyguard yang sedang berjaga di sekitar kolam renang agar istirahat juga karena aku ingin bersantai disana tanpa gannguan” perintah Nara dengan menunjuk kearah taman belakang dimana kolam renang itu berada

 

“Siap, saya juga akan menyalakan lilin aroma terapi agar anda rilex dan romantis” Bia tersenyum penuh arti pada ku

 

“Ya...ya... terserah kau saja tapi aku tidak membutuhkan itu”

 

Aku berlalu dan memasuki kamar. Aku  menanggalkan pakaian tidur dan hanya menyisakan bikini berwarna merah hati berenda emas. Lalu aku memakai kimono mandi ku.

 

Aku duduk ditepian ranjang dengan memainkan ponsel ku membuka sosial media dan membaca beberap

berita terkini hari ini. aku menunggu berap menit untuk menunggu para bodyguard itu pergi dan aku tidak ingin mereka melihat lekuk tubuh ku.

 

“Ternyata anak itu melakukan semua yang dia ucapkan tadi” Aku menggelengkan kepala dan tertawa geli.

Bagaimana tidak bukan hanya lilin aroma terapi yang dia siapkan tetapi beberapa bunga kuntum bunga mawar dia letakkan di meja kecil tepi kolam dan ya ampun dia membuang begitu banyak bunga kolam renang ini sudah penuh dengan bunga.

 

“Awas saja jika besok dia tidak membersihkan semua ini”

 

Cuaca malam ini memang sedikit panas sangat menyenangkan jika menghabiskan waktu untuk berendam. Suasananya sangat mendukung dengan lampu taman yang temaram dan aroma lilin bercampur bunga mawar ini.

 

Semenjak kejadian tiga bulan lalu Revan melarang ku pergi tanpa pengawasan darinya.

 

“Jangan pernah berpikir untuk menemui mantan kekasih mu itu, Nara. Jika kau ingin semua baik-baik saja ikuti semua perintah ku”

 

Masih terbayang jelas bagaimana dia memukuli Ferdian agar aku bersedia pulang ke rumah ini. tentu saja aku tidak ingin Ferdian mendapat masalah lagi semua yang dia lakukan sudah cukup membantu.

1
Nai Christian Kolb
lanjut
Ira Wati
kalau aku pergi aja dari hadapan lelaki seperti itu
Na_ernaauk
aku mampir thor...
sejauh ini memang menarik ceritanya....
Nur Kholifah
mudah2han nara berjodoh sama alvian
Nur Kholifah
nara kamu kok bodoh amaat siih.mau maunya jadi mesin pembuat anak buat revan dan mona.sungguh bodooh
Nur Kholifah
revan mempertahankanmu hny untuk harta papanya
🌼stfaiza
lanjutin dong thor yg novel Raya...kan penasaran...knp kok gk lnjut...pdhl bagus lho thor😄😄😄😄
fina eva devanti
baca novel ini bawaannya emosi terus astagfirullah:(
Tatik Pkl
Asistennya Revan???? Ah tebak2 buah semangka 🤓🤓🤓
Tatik Pkl
Anak tiri ga tau diri...
farida ainur
bagus banget
Lanny Tan
Seru thor, jadi baper...

Mampir jg ke novelku ya : HARD TO SAY GOODBYE, ini bikin baper jg lho... Thx...
Zilvi Purnama
lanjut
Irna wisudawati
lanjut Thor...
Bentang Azza
monoton ceritanya gk seruuuu cwe nya kyk murahan
ᶠˡᵃ•Fit.ry_Hiatus☘️
Nunghu ceritanya si Sean Kak,.. 😁
Diajenk Yanti
jujur menurutku tdk ada 1 wanitapun yg mau berbagi suami, jika ada dia munafik
Vida Kasim
Ferdian. .aq padamu. .wkwkkkk
Vida Kasim
agak mendingan aq baca.nya...emosi berkurang hehehe
Vida Kasim
nara..kayaknya kmu terpikir mo kembali ke revan lg yh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!