Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Yogyakarta menyambut dengan langit yang lebih rendah dan udara yang lebih sabar.
Bandara tidak semegah Jakarta, tetapi ada sesuatu di kota itu yang membuat langkah orang melambat. Aroma tanah basah, gudeg dari warung dekat jalan, dan kain batik yang dijemur di halaman rumah produksi bercampur menjadi satu.
Mei Li tidak datang untuk berlibur.
Begitu mendarat, ia langsung menuju sebuah rumah batik tua di Kotagede. Di depan bangunan joglo itu, papan kayu bertuliskan Batik Sasmita tergantung miring, tetapi halaman dalamnya bersih. Beberapa perempuan duduk di bangku rendah, menorehkan malam panas dengan canting di atas kain putih.
Pemiliknya, Bu Ratih, menyambut dengan senyum hati-hati.
"Miss Lim, kami tidak menyangka Koh Group datang sendiri."
"Saya ingin melihat langsung," jawab Mei Li.
Amy berdiri di sampingnya dengan folder tipis. "Batik Sasmita pernah menerima investasi dari galeri milik rekan keluarga Tan tiga tahun lalu. Kami hanya perlu memeriksa apakah ada tekanan dalam kontrak lama."
Wajah Bu Ratih berubah. "Kami memang pernah hampir kehilangan merek. Mereka meminta hak desain turun-temurun kami dijadikan aset bersama."
Mei Li menatap kain di hadapannya. Motifnya rumit, garis cokelat muda bergerak seperti akar. "Anda menolak?"
"Kami menolak, tapi setelah itu pesanan besar kami dibatalkan. Dua pengrajin keluar karena takut."
Amy mencatat.
Mei Li menyentuh ujung kain tanpa merusak malam basahnya. "Kami akan beli kontrak bermasalah itu. Merek tetap milik keluarga Anda."
Bu Ratih terdiam. Matanya berkaca, tetapi ia menahan diri untuk tidak menangis di depan para pengrajin.
"Kenapa membantu kami?"
"Karena motif lama tidak seharusnya menjadi alat orang serakah."
Di belakang mereka, suara langkah berhenti di ambang joglo.
"Kalimat yang bagus."
Mei Li menoleh.
Arka berdiri di sana bersama dua panitia forum KADIN. Ia melepas sepatu sebelum masuk ke area kerja, sebuah detail kecil yang membuat Bu Ratih langsung lebih ramah.
"Pak Arka," Bu Ratih menyapa. "Panel KADIN baru selesai?"
"Sesi pertama. Saya dengar Koh Group datang, jadi saya mampir sebelum ke lokasi gamelan."
Mei Li menatapnya. "Kebetulan yang ketiga."
"Kali ini Bu Ratih saksi saya. Saya memang dijadwalkan ke sini."
Bu Ratih tertawa pelan. "Pak Arka sudah beberapa kali membantu promosi batik kami ke acara KADIN."
Mei Li menoleh ke Arka. "Anda punya alibi lokal."
"Akhirnya."
Seorang pengrajin tua mengangkat kain baru dan menjelaskan motif di atasnya. Arka mendengarkan dengan serius, lalu menerjemahkan beberapa istilah Jawa halus ke bahasa Indonesia yang lebih mudah untuk Amy. Ia tidak memamerkan pengetahuan. Ia hanya mengisi ruang yang diperlukan, membuat orang-orang tua merasa dihargai.
Mei Li memperhatikan lebih lama daripada yang ia sadari.
Pria seperti Arka tidak hanya tahu cara memakai batik mahal di ballroom. Ia tahu kapan harus melepas sepatu, kapan harus menunduk sedikit pada pengrajin tua, dan kapan harus diam agar cerita orang lain tidak terpotong.
Setelah kunjungan, rombongan berpindah ke pendopo kecil tempat latihan gamelan berlangsung. Anak-anak muda duduk di depan saron dan kendang, mengikuti instruksi guru mereka. Bunyi logam yang dipukul lembut memenuhi udara, berulang tetapi tidak membosankan.
Mei Li berdiri di sisi pendopo.
"Anda suka gamelan?" tanya Arka.
"Saya tidak cukup mengenalnya untuk suka atau tidak."
"Kalau begitu, dengarkan bagian jedanya."
"Jeda?"
"Dalam gamelan, yang membuat suara indah bukan hanya pukulan. Tapi jarak antar suara. Kalau semua instrumen ingin terdengar paling keras, musiknya rusak."
Mei Li menatap para pemain muda itu. Satu saron masuk sedikit terlambat, tetapi kendang menyesuaikan. Musiknya goyah sebentar, lalu kembali utuh.
"Anda sedang bicara tentang musik atau politik keluarga?" tanyanya.
Arka tersenyum. "Tergantung pendengarnya."
"Saya pendengar yang sulit."
"Saya perhatikan."
Kalimat itu membuat udara di antara mereka berubah tipis.
Amy yang berdiri beberapa meter di belakang menerima pesan, lalu mendekat. "Nona, dokumen kontrak yang kita cari ternyata disimpan di Solo. Bu Ratih baru mengonfirmasi. Kita perlu ke sana hari ini jika ingin mencegah pemindahan arsip."
Bella menambahkan dari earpiece, "Mobil utama bermasalah. Remotely triggered sensor error. Bukan serangan, tapi saya tidak suka waktunya."
Arka mendengar bagian terakhir. "Rombongan KADIN menuju Solo setelah sesi gamelan. Saya punya mobil cadangan dengan pengemudi dari kantor gubernur. Jalurnya aman."
Bella langsung menatapnya.
Arka menambahkan, "Dan sebelum dicurigai, mobil itu sudah diperiksa Paspampres daerah karena sempat dipakai pejabat pagi tadi."
Amy melihat Mei Li. Secara keamanan, tawaran itu masuk akal. Secara pribadi, itu lebih rumit.
Mei Li menatap Arka. "Anda selalu siap dengan solusi?"
"Tidak selalu." Ia menatap gamelan yang masih berbunyi pelan. "Tapi untuk perjalanan ke Solo, kebetulan saya punya kursi kosong."
Bu Ratih yang tidak tahu ketegangan di antara mereka tersenyum polos. "Kalau begitu, bagus. Jalan ke Solo lebih nyaman kalau ada yang bisa menjelaskan cerita-cerita Jawa di sepanjang jalan."
Mei Li ingin menolak hanya karena kalimat itu terdengar terlalu mudah.
Namun di layar ponsel Amy, batas waktu arsip kontrak terus bergerak.
Ia menyimpan ponselnya.
"Baik," kata Mei Li. "Kita ke Solo."
Arka menunduk sedikit, senyumnya tenang.
Di luar pendopo, mobil hitam sudah menunggu.
Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, Mei Li dan Arka akan berada di ruang tertutup yang sama, tanpa meja rapat, tanpa kamera, tanpa keluarga Tan di antara mereka.