Ashilla tidak pernah menyangka jika di hari itu ia harus merelakan masa lajangnya, menikah dengan sosok yang tidak pernah ia kenal sebelumnya hanya karena ancaman dari sang paman yang akan menghentikan pengobatan adiknya yang tengah berjuang dalam masa kritisnya.
Hidupnya hancur, semakin hancur ketika ia mengetahui fakta sebenarnya mengenai alasan mengapa laki-laki itu memilih menikahinya.
Mampukah Ashilla menjalani biduk rumah tangga yang jelas-jelas tidak ada kata cinta didalamnya?
IG : reinata_ramadani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seorang Pewaris
°°°~Happy Reading~°°°
Tanpa terasa usia kehamilan Shilla kini memasuki bulan ke lima. Mual yang selalu menyiksanya dulu, kini tak lagi menderanya. Perutnya yang rata kini sudah mulai membuncit menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Damian yang berada jauh disana hanya bisa berkunjung setiap tiga minggu sekali. Ingin rasanya merengek, tapi bagaimana. Tekanan pekerjaan membuat suaminya bahkan hanya bisa menemaninya 2 hari sebelum akhirnya kembali berjibaku dengan pekerjaannya.
"Alhamdulillah, mas Damian datang."
Perempuan yang tengah duduk di ruang TV itu sontak bangkit dari duduknya saat deru mesin mobil terdengar semakin mendekat. Kaki jenjangnya kini melangkah cepat keluar dari kediaman demi menyambut kedatangan sang suami yang begitu dirindukannya.
Mobil itupun menghentikan lajunya tepat di teras villa. Terlihat laki-laki yang semakin rupawan itu menuruni mobilnya di susul sang asisten yang dengan setia menemaninya.
"Mas... ."
Kaki jenjang itu tak sabar untuk melangkah cepat, Shilla bahkan berlari membuat Damian ketar-ketir dibuatnya.
"Hati-hati Shilla." keluh Damian saat istrinya kini menghamburkan rengkuhannya.
"Shilla kangen. Mas sudah satu bulan tidak kesini." Keluh Shilla saat dirasakannya sang suami semakin jarang mengunjunginya.
"Maaf. Pekerjaan saya padat. Minggu lalu saya harus terbang ke Singapura."
"Saya bawakan strawberry. Kata bi Asih kamu lagi suka sama buah itu."
Mata Shilla sontak berbinar. "Beneran mas?"
"Saya bawakan banyak, biar bisa buat setok untuk kamu nyemil."
"Makasih mas." Perempuan itu kembali merengkuh suaminya. Rasa bahagia itu begitu membuncah dada. Kehangatan itu, Shilla sungguh tak ingin kehilangannya.
Keduanya kemudian memasuki kediaman dengan menenteng sebagian strawberry untuk langsung di cicipi oleh Ashilla. Sedang sisanya langsung dimasukkan ke dalam kulkas. Membuat kulkas itu seketika penuh akan buah strawberry karena saking banyaknya.
"Enak mas. Mas ngga mau?" Shilla menyodorkan buah di tangannya.
"Tidak. Kamu saja." timpal Damian sembari memainkan ponselnya.
"Adek sudah mulai menendang loh mas." Membuat Damian sontak berpaling menatap Shilla yang juga tengah menatap ke arahnya. Ponsel yang tadi di genggamnya kini langsung ia letakkan di atas meja kaca.
"Benarkah?" tanya Damian dengan mata berbinar. Tangan besarnya kini sudah bertengger di atas perut buncit Ashilla.
"Iya. Tapi belum terlalu terasa kalau di sentuh dari luar. Kata dokter, seiring bertambah usia kehamilan nanti, tendangannya akan semakin terasa."
Damiam menatap perut buncit Shilla penuh binar. "Hallo baby. Kamu mendengar Daddy?"
Gerakan kecil itu terasa di telapak tangannya. Membuat Damiam sontak dibuat termangu tak percaya. "S-shilla. Lihat. Dia bergerak Shilla."
Terasa gelenyar aneh saat tendangan-tendangan kecil itu terasa di telapak tangannya. Damian tak pernah merasakan ini sebelumnya. Rasa haru bercampur bahagia. Ini benar-benar menakjubkan.
"Iya, sepertinya adek kangen sama ayah ya dek..." tangannya ikut mengusap di sisi kosong sebelah tangan Damian.
Shilla mengukir senyum. Momen ini, kenangan ini, sungguh Shilla tak ingin melupakannya.
Apa tidak bisa seperti ini saja.
Apa perpisahan itu masih harus terjadi dan menghempaskan semua kebahagiaan yang telah diukir bersama?
"Kamu sudah mengetahui jenis kelaminnya?"
Shilla menggeleng. "Adeknya ngumpet terus mas. Kata bu dokter belum bisa lihat terlalu jelas. Perkiraannya sih perempuan. Tapi masih bisa berubah. Jadi belum pasti."
Damian tampak berpikir sejenak.
"Kalau dia benar perempuan, pasti dia sangat cantik karena menurun dari mas," perempuan itu menyunggingkan senyum kala wajah Damian versi kecil memenuhi pikirannya.
"Jadi kamu belum bisa memberikan saya seorang pewaris?"
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕