Novelia hidup berdua dengan adiknya Milea, Novelia sangat menyayangi adiknya itu hingga sesuatu yang menyakitkan menimpa adiknya. Adiknya dinyatakan defresi dan harus dirawat di rumah sakit jiwa dan itu membuat hati Novelia sangat hancur.
Novelia curiga kalau defresinya adiknya ada hubungannya dengan lingkungan sekolah, maka dari itu Novelia bekerja sebagai penjaga kantin untuk menyelidiki siapa orang-orang yang berada dibalik kejadian yang menimpa adiknya itu.
Akankah Novelia bisa menemukan pelakunya atau justru nyawa Novelia yang akan terancam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NOVELIA BAB 23
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
Malam pun tiba...
Novelia sudah selesai menyiapkan makan malam, Novelia memasak sedikit karena dia tahu kalau Patricia pasti akan pulang malam.
"Pak Angkasa ke mana? Kok belum turun juga, apa dia ketiduran ya? Terus, bagaimana aku membangunkannya, kejadian tadi pagi membuat aku sangat malu," gumam Novelia.
Di tengah-tengah kegalauannya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga, Novelia terkejut dan langsung menundukan kepalanya.
"Patricia belum pulang?" tanya Angkasa.
"Be-belum Pak, tadi Bu Patricia bilang akan pulang malam."
"Ehmm."
Novelia pun mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Angkasa kemudian menuangkan air putih.
"Apa kamu sudah makan?"
"Be-belum Pak, nanti saja setelah Pak Angkasa selesai makan, aku akan makan di belakang."
"Duduklah, dan makan."
"Ah, tidak usah Pak, aku kan di sini hanya pembantu rasanya tidak sopan kalau makan bersama Tuan rumah."
"Ini kan permintaanku jadi tidak ada salahnya, lagipula aku malas makan sendirian."
"Baiklah Pak."
Akhirnya dengan perasaan canggung, Novelia pun duduk di meja makan dan berhadapan dengan Angkasa. Mereka mulai menyantap makanan masing-masing, hingga keduanya tidak disangka ingin mengambil sayur secara bersamaan membuat tangan keduanya bersentuhan.
Angkasa dan Novelia seketika saling tatap, hingga akhirnya Novelia tersadar dan segera menarik tangannya.
"Maaf Pak, silakan Pak Angkasa ambil terlebih dahulu," seru Novelia menundukan kepalanya.
Keduanya kembali makan dalam diam, tidak ada yang bicara sama sekali hingga ponsel Angkasa pun bergetar dan Angkasa melihatnya, ternyata itu pesan dari Patricia. Patricia mengirim pesan kalau dia akan pulang larut malam karena ada shooting yang tidak bisa ditunda.
Angkasa hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan Novelia tahu kalau saat ini Angkasa sedang merasa tidak baik-baik saja.
Angkasa menyelesaikan makan malamnya dan setelah selesai, Angkasa pun langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya. Novelia bisa lihat dari sorot mata Angkasa kalau ada kekecewaan yang mendalam.
Angkasa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tatapannya lurus ke langit-langit kamarnya.
"Rasa cintaku kepada Patricia, sudah mulai berkurang malahan nyaris menghilang, aku sangat kecewa kepada Patricia, dia sudah berani membohongiku bahkan dia sudah menyerahkan kehormatannya kepada orang lain. Aku harus bagaimana, aku ingin sekali menceraikan Patricia tapi pernikahanku masih sangat awal dan aku tidak mau membuat hati kedua orangtuaku kecewa," gumam Angkasa.
Angkasa sangat menyayangi kedua orangtuanya, dia tidak mau sampai menyakiti hati kedua orangtuanya. Mungkin untuk saat ini, Angkasa akan bertahan dulu sampai dia bisa menemukan bukti kejelekan Patricia.
***
Keesokan harinya...
Hari ini adalah hari minggu, Angkasa tidak pergi ke sekolah karena libur, sedangkan Patricia meminta izin untuk pergi pemotretan.
"Pak Angkasa, bolehkah aku izin sebentar," seru Novelia.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku ada urusan sebentar, aku janji tidak akan sampai malam."
"Baiklah."
"Terima kasih Pak, kalau begitu aku permisi dulu."
Novelia pun akhirnya pergi menggunakan taksi online yang sudah dia pesan, hari ini Novelia ingin pergi ke rumah sakit untuk menjenguk adiknya.
Beberapa saat kemudian, Novelia pun sampai di rumah sakit. Di saat Novelia ingin membuka pintu ruangan Milea, terdengar suara tawa Milea. Novelia pun memutuskan untuk tidak masuk dan hanya mengintip dari balik pintu.
Ternyata di dalam ada Fatar, Milea terlihat tertawa mendengar Fatar bercerita.
"Ya Allah, terima kasih Engkau sudah memberikan keajaiban untuk Milea, semoga Milea sembuh dan kembali seperti dulu lagi," batin Novelia.
Novelia tidak mau mengganggu keduanya, akhirnya Novelia memilih untuk duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan rawat Milea.
"Kamu harus sembuh Milea, dan kembali seperti dulu lagi," seru Fatar dengan merapikan rambut Milea.
Milea tersenyum dan menganggukan kepalanya, kondisi Milea saat ini memang berangsur membaik bahkan Milea sudah tidak ngamuk lagi. Selain akibat obat yang diberikan, Fatar dan Novelia pun menjadi pemicu kondisi Milea menjadi lebih baik.
"Sekarang kamu istirahat ya, Kak Novel bilang, kalau dia saat ini sedang diperjalanan menuju ke sini, aku mau keluar dulu sebentar," seru Fatar.
Milea menganggukan kepalanya dan mulai merebahkan tubuhnya, Fatar pun memutuskan untuk keluar sebentar. Fatar membuka pintu, dan betapa terkejutnya Fatar saat melihat Novelia sudah duduk dengan senyumannya.
"Kak Novel, sejak kapan Kakak datang? Kenapa gak masuk?" seru Fatar.
Fatar pun duduk di samping Novelia...
"Kakak tidak mau mengganggu kalian, terima kasih ya Tar, karena selama ini kamu sudah membantu Kakak untuk jagain Milea."
"Sama-sama, Kak. Oh iya, bagaimana apa sudah ada perkembangannya?" tanya Fatar.
"Perkembangan apa?"
"Kakak kan, sekarang bekerja di rumah Pak Angkasa dan kesempatan Kakak untuk menggoda Pak Angkasa jauh lebih besar, jadi apa sekarang Kakak sudah mulai beraksi?"
"Kakak masih takut Tar, dan tidak tahu harus mulai dari mana?"
"Kenapa takut, Kak? Kakak ditawari kerja di rumah Pak Angkasa, itu tandanya ada campur tangan dari yang Maha Kuasa untuk mempermudah rencana Kakak untuk balas dendam. Kalau Pak Prima bisa merusak hidup Milea, Kakak pun bisa merusak hidup anaknya, cukup adil kan?"
Novelia terdiam, apa yang dikatakan Fatar memang ada benarnya. Nyawa harus dibayar dengan nyawa, dan kehancuran harus dibayar dengan kehancuran juga.
"Kakak akan mencobanya Tar, Kakak ingin melihat mereka semua hancur seperti Milea yang mereka buat hidup dan masa depannya hancur," sahut Novelia dengan mengepalkan tangannya.
"Bagus Kak, aku akan selalu mendukung Kakak dan akan selalu membantu Kakak."
"Terima kasih ya, Tar."
Fatar menganggukan kepalanya sembari tersenyum, Novelia tidak tahu kalau Fatar sudah sejak lama menyukai Milea dan Fatar pun ingin sekali membalaskan rasa sakit Milea.
semangat buat Novelia,,😉😉
buat Authornya semangat juga,,🙂🙂
mksh k popy untuk sajisn yg bagus maaf lama nggak baca lg sibuk di rl... 🙏🙏🙏