Dear diary...
Siapa yang akan mati selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yuna
Yuna mengunci toko rotinya. Terdiam sejenak di depan pintu dan memutar tubuhnya. Langit sore telah lenyap sejak tiga jam yang lalu. Kini, malam telah datang. Yuna ingin pulang cepat. Dia harus menjenguk Dei setelah mengambil beberapa pakaian Dei di rumah. Yuna menarik napas panjang dan berdiri di perempatan jalan, menunggu untuk menyeberang ke gang tempat Dei tinggal.
Mata Yuna nampak sayu, rinai kecil hujan menemani lamunannya. Beberapa bulan penuh kejutan, penuh rasa sedih dan penuh derita. Dimulai dari kematian Sherin, kematian Deka, kematian Langit dan Dei yang nyaris mati.Yuna tidak paham, kenapa orang di sekelilingnya seperti ini. Tapi, apa yang terjadi selama ini membuat ingatan Yuna berlabuh pada masa itu.
Awal pertemuannya dengan Dei bisa dibilang tidak cukup mengesankan. Semua anak panti saat itu menjauhinya. Tapi, Yuna merasa berbeda. Dia ingin dekat dengan Dei. Dei memiliki kehangatan yang samar, namun cukup membuat Yuna tertarik. Di balik mata sayunya yang kelam dan masa lalu yang mengerikan, Yuna merasa Dei adalah sosok yang menyenangkan.
Adalah Rena, salah seorang anak panti yang mewanti Yuna untuk menjauhi Dei. Rena adalah seorang gadis yang katanya ‘indigo’. Rena mengatakan, ada satu aura gelap yang mengincar Dei. Ada sesuatu yang kelam dan mengerikan. Tapi, Yuna mengabaikan Rena. Hanya saja, kalimat Rena kecil saat itu cukup terngiang di telinga Yuna.
“Dia gadis yang dikutuk. Aura kematian. Dia memiliki hal lain yang ia sembunyikan. Dia tidak sepolos yang kamu duga. Dia... adalah jiwa yang hampa.”
Yuna tidak mengerti. Tapi, apa yang terjadi akhir-akhir ini membuat Yuna mulai mempercayai Rena. Oke. Mungkin ini sama artinya Yuna telah menusuk Dei dari belakang. Harusnya, Yuna percaya pada Dei. Harusnya... tapi, kembali ada kejanggalan merambat di hati Yuna. Dei memiliki sebuah rahasia. Yuna merasakan itu. Tapi, Yuna tidak tahu rahasia apa itu dan sekelam apa itu.
“Jiwa yang hampa... .”
Ting.
Yuna melirik lampu penyeberangan jalan yang berubah jadi hijau. Gadis itu mulai melangkah menyeberang dan memasuki gang kecil yang temaram sebelum bertemu jalan utama menuju rumah Dei.
Tap. Tap. Tap.
Yuna terhenti sambil mengernyit kecil. Ia mendengar langkah kaki samar di belakangnya. Yuna membalikkan badan dan suara langkah itu lenyap, berganti suara desau angin. Ia menerawang jauh ke arah kegelapan, namun nihil. Dia sama sekali tidak menemukan apapun. Tapi, ia merasa sedang diawasi dan suara langkah kaki tadi serasa begitu nyata. Yuna mengerjap, menahan debaran yang membuatnya kian gelisah.
“Halo? Siapa di sana? Ada orang?”
Ia kembali menatap lekat gang kecil ini, gelap dan hanya ada dia seorang. Yuna merasakan bahunya menegang. Perasaannya semakin tidak nyaman. Kegelepan di hadapannya, membuat bulu kuduknya meremang. Ia mengusap kecil lehernya sebelum kembali bergegas melangkah.
Tap. Tap. Tap.
Yuna memejamkan mata dengan tangan terkepal. Ia mengabaikan suara itu dan semakin cepat melangkah. Sebuah ******* lega terhembus saat ia berhasil mencapai ujung gang dan berdiri di bawah lampu jalan yang bersinar terang. Cahaya lampu jalan membuatnya lega sekaligus senang. Rasa takutnya menguap. Lenyap.
Yuna menyempatkan diri menoleh ke belakang sebelum memasuki rumah Dei. Memeriksa keadaan, nalurinya memerintahkan untuk waspada. Mungkin masih terbawa suasana di gang gelap tadi. Yuna menutup pintu rumah dan menyalakan lampu rumah Dei. Aura kesedihan dan seram menguar. Yuna bergidik kecil dan segera menuju kamar Dei.
Kamar Dei masih berantakan. Masih sama seperti saat Yuna menemukannya terlunglai di atas lantai kamar, nyaris mati. Beberapa bercak darah masih terlihat di sisi ranjang Dei. Yuna menggeleng kecil dan mendekati lemari Dei, mengeluarkan sebuah tas besar dan memilah beberapa helai pakaian Dei, memasukkannya ke dalam tas.
Jauh dari kesadaran Yuna, sepasang mata di balik cermin nampak awas menatap Yuna. Sesuatu yang kelam dan licik. Yuna nampak selesai memilah baju dan beberapa perlengkapan mandi Dei ke dalam tas dan bersiap pergi saat Yuna berhenti di depan meja kamar Dei. Dia menilik sesuatu. Tangannya terulur meraih sebuah buku. Buku berwarna merah, semerah darah. Yuna menelisik buku itu dengan seksama dan merasa aneh. Dei bukan tipe gadis yang suka menulis atau membaca. Tapi, buku ini menguarkan aura aneh yang dingin. Mencekam.
Dengan memberanikan diri, Yuna membuka buku semerah darah itu. Dia menelisik setiap halaman yang ia balik dnegan mata terkejut.
Tanpa Yuna sadari, Sosok dari dalam cermin yang kelam itu kini nampak menyeringai. Bibirnya yang terkatup namun sekaligus menyunggingkan senyum mengerikan lalu berbisik... .
“Mati... .”
Sesaat, Yuna merasa tidak nyaman. Ia menoleh ke belakang dan tidak menemukan apapun. Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar Dei dan menyadari betapa suramnya kamar Dei. Kamar Dei cukup pengap dan kurang dari pencahayaan. Yuna mengelus lehernya dengan gelisah.
Yuna mendesah panjang dan menggeleng, menepis perasaan tidak nyamannya. Ia mulai mmbereskan kamar Dei sekaligus mencari barang yang mungkin akan diperlukan Dei saat di RS. Meski kecurigaannya pada Dei kian besar, tetap saja Dei adalah sahabatnya. Dan bagi Dei, Yuna adalah satu-satunya yang tersisa. Yuna tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Dei bergantung padanya.
Yuna mengemas barang-barabg Dei yang berserakan dan terdiam saat ia menemukan bercak darah Dei yang mengering di sekeliling ranjang. Yuna beranjak menuju dapur untuk mengambil kain lap. Semua tindakan Yuna, ditetapkan oleh sosok yang sembunyi di balik kegelapan. Sosok yang terus menyeringai mengerikan.
Yuna duduk di lantai dan mulai membersihkan bercak darah yang mengering itu saat ia menyentuh sesuatu di bawah ranjang Dei. Yuna menunduk dan menemukan sebuah pisau tergeletak di sana. Yuna meraih pisau itu yang penuh darah. Gadis itu menatap pisau itu dan mendesah panjang.
“Kenapa kamu menyimpan ini di sini, Dei? Pantas saja kamu dekat dengan pemikiran pendek semacam ini.”
Yuna meletakkan pisau itu di atas meja dan akan membereskannya nanti saat tiba-tiba sebuah tangan ikut menggenggam pisau itu.
“Akkkk!”
Pisau itu terjatuh dari genggaman Yuna sebelum sempat diletakkan di meja. Dan, pisau itu nyaris menghujam kakinya. Yuna menarik kakinya menjauh dari pisau itu dengan perasaan berkecamuk. Dada Yuna kembang kempis menyimpan rasa takut yang membuncah.
Sreeeekkk.
Yuna memutar kepalanya, menoleh ke arah asal suara menyeret tadi. Tapi, kembali hanya kegelapan yang merayapi kamar Dei. Yuna merasakan keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuhnya. Dia semakin merasa ada yang tengah menatapnya di sudut kegelapan itu. Dia bisa merasakan suasana mencekam dan sesuatu yang... mengerikan. Ada apa denganmu, Dei? Apa yang terjadi dalam hidupmu? Apa semua ini?
Dan, sekali lagi... ada desau suara angin yang menyuarakan kata...
Mati.
-oOo-
Bersambung
Jangan lupa berikan Like dan Komentarnya ya...
Regards Me
Far Choinice ^^
Silence mampir kak, semangat berkarya baru 🥰💪🌹