Siapa sangka bekerja di sebuah hotel akan mengantarkan kesucian yang di jaganya, Dhea harus kehilangan mahkotanya di saat seorang pria memaksanya untuk melayaninya saat mengantar minuman.
Hingga gadis itu hamil dan melahirkan anak kembar yang sangat cantik.
Arya Ghora prasida, bahkan pria itu pun tak tau siapa wanita yang sudah berhasil membuatnya puas hanya dengan satu malam, hingga rasa itu menjadi candu baginya, dan Arya tak bisa melupakannya walaupun sekejap.
Sampai lima tahun penantian yang hampa, akhirnya mereka di pertemukan kembali, meskipun tak saling mengenal, Arya merasa ada sebuah aliran listrik yang menyengat di saat ia berdekatan dengan Dhea.
apakah dunia akan mempersatukan mereka dengan hadirnya si kembar yang hebat?
ataukah Dhea memilih untuk hidup sendiri, dengan kedua putrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menghindar
Seminggu berlalu, semenjak kejadian Maya kecelakaan, Arya memang tak pernah datang ke rumah Dhea, jika kedua bocah cilik itu bertanya, selalu menjawabnya sibuk dan keluar kota, meskipun sedikit teriris, Arya tidak ingin membuat Maya emosi lagi seperti waktu itu.
Hingga sampai saat ini hanya penantian yang di harapkan Reina dan Rania saat menatap mentari terbit dari ufuk timur, keduanya nampak lesu dan tak ada semangat untuk melakukan aktivitas hariannya.
"Sekolah, Nak!" ucap Dhea seraya merapikan selimut yang berantakan.
Kedua bocah itu masih saja tak bergeming dan tetap pada pandangannya.
"Reina, Rania." Akhirnya Dhea memanggilnya dengan sebutan nama menegaskan kalau ibu muda itu tidak mau di abaikan.
"Ma..." Reina berhamburan memeluk Dhea lebih dulu, di susul Rania dari belakang.
"Kenapa Om Arya nggak mau ke sini, kami nakal ya?" ucap Reina melas.
Dhea menghela napas, aneh memang, Dhea juga merasakan kalau Arya menghindari kedua putrinya. Namun ia tak bisa memaksakan kehendak orang lain begitu saja. Apa lagi mereka tak ada hubungan apapun, itu pikirnya.
"Enggak sayang, kan Om Arya bilang sibuk, jadi nggak bisa ke sini." jawab Dhea singkat seperti Arya saat di telepon kemarin.
"Jangan bohong, ma, hari minggu kemarin kan setiap pegawai itu libur, apa lagi Om Arya yang mempunyai perusahaan, nggak mungkin kan sibuk juga," Ucap Reina mendesak. Seolah olah Dhea menutupi sesuatu darinya.
Itulah Reina yang selalu membantah ucapan Dhea jika menjanggal di hatinya.
Dhea masih diam, menerka nerka apa yang akan di ucapkannya lagi, karena memberi alasan ke kedua putrinya tak semudah yang ia kira.
"Ya mungkin saja Om Arya lagi sama keluarganya." Imbuhnya lagi berharap Reina dan Rania percaya.
"Jangan cari alasan lagi Ma, kami hanya mau ketemu sama Om Arya sebentar saja."
Yesi yang mematung di ambang pintu kamar Reina dan Rania itu pun ikut terenyuh mendengar permintaan yang sederhana Reina dan Rania, tak menyangka keinginan keduanya begitu dalam untuk bertemu dengan Arya.
"Nanti mama coba bilang ke Om Arya ya."
"Sekarang kalian sekolah."
Keduanya masih kekeh menggeleng dan memilih naik ke atas ranjang.
Kesabaran ekstra yang di miliki Dhea hingga kini membuatnya harus tetap tersenyum meskipun hatinya merasa dungkel dengan putrinya.
"Apa perlu aku bantu bujuk mereka?" Yesi memegang pundak Dhea dari belakang.
"Nggak usah Yes, biarkan saja, biar aku bilang sama mas Restu."
Dhea mengambil ponselnya dan menghubungi Restu untuk tidak menjemputnya saat ini. Sedangkan Yesi membantu membawakan makanan untuk keduanya.
Ada apa dengan mereka sih, kenapa mereka jadi tergantung sama Tuan Arya.
Lagi lagi beberapa hari ini Dhea hanya bisa bertanya dalam hati.
"Sekarang makan ya, mama dan mama Yesi akan suapi kalian."
"Nggak mau." Mendorong tubuh Dhea hingga terhuyung.
Seketika Dhea terkejut, ini pertama kalinya Rania dan Reina bersikap kasar padanya hanya karena keinginannya tak terpenuhi.
"Kalian kenapa sih, apa kalian sudah nggak percaya sama mama, apa kalian nggak sayang lagi sama mama, kalau gitu mama akan pergi saja." Ancam Dhea.
Dhea kembali meletakkan mangkuknya dan melangkah keluar, namun langkahnya tiba tiba saja berhenti saat mendengar suara tangisan dari kedua Putrinya.
Aku nggak tau harus bagaimana, nggak mungkin aku meminta Tuan Arya untuk ke sini. Sudah terang terangan dia menolak permintaan Reina dan Rania, apa yang harus aku lakukan untuk mengatakan pada mereka.
Terpaksa Dhea kembali ke atas ranjang dan memeluk keduanya.
"Maafkan mama ya sayang, Mama janji kita akan ke rumah Om Arya."
"Beneran, Ma?" Dhea mengangguk pelan karena ia pun masih tak yakin dengan ucapannya.
"Biar aku antar kamu!"
Semoga saja Tuan Arya mau ketemu anak anak, aku nggak tega sama mereka.
"Sekarang kalian makan dulu ya?"
Tak seperti tadi, kali ini Reina dan Rania antusias memakan sarapannya setelah mendapat pernyataan dari sang mama.
"Reina, Rania," suara yang tak asing memanggil dari balik pintu.
"Masuk saja mas! nggak di kunci." Sahut Dhea yang masih sibuk menyuapi Rania.
Akhirnya Restu masuk ke kamar si kembar yang lagi lahapnya makan.
"Anak anak papa nggak kenapa napa kan?" tanya Restu mendekati kedua bocah itu dan menempelkan punggung tangannya di kening keduanya.
"Enggak, Pa, kami hanya mau ke rumah Om Arya saja." jawab Rania dengan polosya.
Apa, jadi mereka nggak sekolah karena ingin bertemu kak Arya.
"Memangnya Om Arya nggak pernah kesini?"
Rania dan Reina kembali menggeleng.
Kenapa dengan kak Arya, apa ada masalah dengannya sampai tak mau menemui Reina dan Rania.
''Ya sudah, setelah makan, nanti mandi, Papa akan antar ke rumah Om Arya.''
Setelah selesai makannya, Yesi membantu Dhea merawat kedua putrinya, sedangkan Restu berada di ruang tamu mencoba menghubungi Arya.
''Kenapa nomornya nggak aktif sih?'' gerutu Restu menatap kembali layar ponsel di tangannya.
Karena merasa tak ada hasil, akhirnya Restu hanya diam menunggu Reina dan Rania.
''Mas....'' panggil Dhea yang baru saja keluar dari kamar putrinya.
Restu hanya menoleh tanpa suara.
''Ada apa?'' tanya Dhea saat menatap wajah Restu yang sedikit cemas.
''Ponsel kak Arya nggak aktif, aku nggak tau kenapa, beberapa hari ini aku juga nggak dapat kabar dari dia.'' Tutur Restu.
''Mas, kayaknya Tuan Arya memang menghindari Reina dan Rania, kemarin aku telepon dia saat Reina dan Rania ingin ketemu, tapi Tuan Arya bilang di sibuk. Padahal hari minggu lo mas, menurut kamu itu wajar nggak sih?''
Kini Restu ikut berpikir keras dengan sikap sepupunya, tak menyangka kehadirannya adalah sumber kebahagiaan Reina dan Rania.
''Dhe, apa aku boleh bertanya?''
Dhea mengangguk.
''Siapa papa kandung Reina dan Rania?''
Dhea menunduk, ingin rasanya melupakan sosok papa si kembar yang belum ia ketahui, namun Dhea takut kalau itu akan menjadi bomerang dengan rumah tangganya nanti.
''Mas, apa itu sangat penting buat kamu?'' tanya Dhea balik, karena ia pun tak mau sembarang cerita ke orang lain tentang papa putrinya yang belum ia ketahui.
''Kalau menurut kamu bagaimana?''
''Kalau menurut aku nggak penting, papa mereka nggak tau ke mana, jadi kalau mas mau menerimaku, harus mau menerima anak anak dan masa laluku. Karena kehadiran mereka lah aku bisa berdiri lagi, mereka penyemangatku.'' jawab Dhea tegas.
''Dan aku nggak bisa menceritakan masa laluku, bagiku itu hanyalah mimpi buruk yang sempat hadir.'' Imbuhnya.
Restu tersenyum, ''Baiklah, aku tidak akan menanyakan itu lagi, dan aku menerima kamu dan anak anak apa adannya.''
''Terima kasih.''
Entah lah Dhe, sebenarnya aku juga mamang, karena yang aku lihat mereka lebih menyayangi kak Arya dari pada aku.
typo ya thor,yg paling aneh di apartemen tapi denger klakson dan deru mobil 🙈
kok di klakson mobilnya naik keatas 🙈😛
terharu biru 💕
makasih Thor 🙏
cerita ny keren 👌👍
Arya vs Dhea wkwkwkwk
cocok nih Restu sama Yesi 🤔 akhirnya Restu menemui tambatan hatinya yaitu sahabatny Dhea c Yesi 🤔
terus Maya sama siapa nih 🤔