Hai, ini kisah pertamaku yang berkolaborasi dengan salah satu temanku Amanda. Karya ini murni hasil khayalan kami berdua. Semoga kalian suka ya? Ini cerita Kerajaan di abad 21.
Aithan Regner Cainio, adalah pangeran ketiga yang sebenarnya bukan ahli waris kerajaan. Makanya ia memilih menjauh dari istana dan akhirnya jatuh cinta pada Argani Christabel, seorang Mahasiswi asal Indonesia yang derajat sosialnya sangat berbeda jauh dari Aithan.
Setelah susah payah Aithan mendapatkan cinta Argani, ia justru dipanggil pulang ke istana untuk menjadi raja. Dan sebagai raja, Aithan hanya bisa menikah dengan putri bangsawan. Aithan hanya bisa menjadikan Argani sebagai selirnya. Sementara Argani tidak ingin cintanya dibagi.
Bagaimana Aithan dapat mempertahankan kedudukannya sebagai raja dibalik semua kelicikan di istana yang ingin menjatuhkannya? Apakah ia rela melepaskan cinta sejatinya demi tahta yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Pertama
"Selamat pagi, sayang." Aithan mengecup dahi Argani saat istrinya itu membuka matanya.
"Astaga, Ai. Ini sudah jam berapa? Kenapa aku bangunnya sampai terlambat begini ya?" Argani bergegas bangun namun ia segera menahan selimut di dadanya saat menyadari kalau ia tak mengenakan apapun.
"Kenapa ditutup? Aku tak akan bosan melihatnya."
"Aithan....!"
Aithan terkekeh saat Argani melotot.
"Baiklah. Aku tak akan meledek lagi."
"Wajahmu berkeringat. Baru selesai olahraga?"
Aithan mengangguk. "Iya."
"Kenapa tak membangunkan aku?"
Aithan memegang wajah Argani. "Aku tahu kalau kamu capek, sayang. Makanya tadi saat bangun aku sengaja membiarkan mu tidur terus." .
"Ini sudah jam berapa?"
"Jam 9 kayaknya."
"Aku mau mandi dulu."
"Aku juga mau mandi."
"Mandi bareng maksudnya?"
"Kan belum pernah."
"Ai...."
"Kenapa sayang? Kita ini kan sudah menjadi suami dan istri."
Argani menatap Aithan. Agak ragu. Namun akhirnya ia mengangguk juga. "Tolong ambilkan bajuku."
"Kenapa harus pakai baju sayang? Memangnya kamu mau mandi pakai baju?"
"Lalu aku harus ke kamar mandi dalam keadaan polos?"
Aithan langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Argani lalu ia segera mengangkat tubuh istrinya itu dan berjalan ke kamar mandi.
"Ai.... turun....!"
"Jangan berisik."
Argani akhirnya diam. Aithan menurunkannya di dalam bak mandi yang ternyata sudah diisi dengan air hangat.
"Wah enaknya......" Argani langsung menjulurkan kakinya dan bersandar di bak mandi itu. Bak mandi ini bentuknya bulat dan bisa muat sampai 3 orang. Aithan menyalahkan sistem semburan air dari dinding bak mandi membuat Argani sedikit terkejut ketika pinggangnya bagaikan dipijat.
Lalu ia membuka pakaian olahraga yang dikenakannya dan ikut bergabung dengan istrinya.
Argani yang sudah memejamkan matanya, langsung terkejut ketika ia merasakan tangan Aithan yang sudah melingkar di pinggangnya.
"Ai.....!" protes Argani. Namun ia tak bisa melanjutkan kalimatnya saat Aithan sudah membungkam bibirnya dengan ciuman.
*********
Berbagai macam menu sarapan sudah Tio atur di atas meja. Dan sesuai pesanan sang pangeran, ada nasi yang Tio buat.
"Apakah nona Argani belum bangun ya? Ini sudah hampir jam 10. Tadi pangeran selesai olahraga masih jam setengah sembilan."
Darren yang sedang main game di ponselnya hanya tersenyum. "Jangan ditanya mengapa mereka selalu terlambat. Namanya juga pengantin baru."
Tio hanya bisa cekikikan.
Akhirnya pasangan itu menuruni tangga sambil bergandengan tangan. Wajah mereka terlihat bahagia.
Argani agak salah tingkah saat Tio menatap mereka dengan tatapan menggoda, seakan tahu apa yang baru saja merela lalui di dalam kamar mandi.
Mereka pun sarapan bersama. Tadi, selesai olahraga, Aithan sudah berpesan agar Tio dan Darren ikut sarapan dengannya agar Argani tak curiga dengan statusnya. Aithan memang berencana akan mengatakan pada Argani siapa dirinya namun ia menunggu Argani terbiasa dulu dengan gaya hidup mewahnya. Sebab, semalam saja Argani masih meminta untuk tidur di asramanya. Makanya Aithan menunda sedikit. Ia ingin Argani naik tangga sebanyak mungkin bersamanya barulah ia akan mengatakannya.
Selesai sarapan, Argani meminta ijin kepada Aithan untuk kembali ke asramanya karena ia harus belajar untuk memulai perkuliahan esok pagi.
"Jadi malam ini kamu akan tidur di asrama?" tanya Aithan sedikit kecewa.
"Iya. Kalau kita tidur bersama pasti aku tak bisa belajar."
"Aku janji tak akan menganggu."
Argani mendekat. Ia memegang wajah suaminya. "Sayang, kita berdua sedang merasakan manisnya sebuah hubungan. Gairah akan mudah terbakar setiap kali kita bersentuhan. Aku memang ingin merasakannya lagi dan lagi. Namun tubuhku juga butuh istirahat agar bisa belajar dengan baik. Kita kan sudah sepakat, ingin memprioritaskan studi masing-masing."
Aithan tersenyum. "Aku tahu! Hanya saja selama hampir dua minggu ini aku sudah terbiasa tidur sambil memelukmu."
Argani mengecup pipi Aithan. "Kita berdua pasti akan mampu melaluinya."
Aithan memeluk Argani. "Aku akan belajar lebih giat lagi agar bisa selesai tahun ini."
"Aku juga akan belajar lebih giat lagi agar bisa lulus dengan cepat."
Tio dan Darren yang melihat pasangan itu saling berpelukan di ruang tamu jadi senyum-senyum sendiri.
"Pangeran memang sedang bucin." ujar Tio lalu mengajak Darren pergi dari sana agar tak meleleh melihat kemesraan mereka.
**********
Sudah dua hari Argani kembali kuliah. Masih ada 8 mata kuliah yang harus dikontraknya. Argani menjadi satu-satunya diangkatannya yang bisa menyelesaikan hampir semua mata kuliahnya, memasuki tahun ketiga ia kuliah di sana.
"Argani.....!" panggil dokter Rian saat Argani baru saja keluar dari kelasnya. Dokter Rian merupakan juga dosen muda di fakultas kedokteran ini.
"Eh..., dokter." sapa Argani.
"Sudah selesai mata kuliahnya hari ini?"
"Sudah, dok."
"Kapan mulai prakteknya?"
"Minggu depan. Aku prakteknya mulai siang sampai malam."
"Di kelompok aku aja ya?"
"Boleh, dok."
Keduanya terus bercakap sampai akhirnya mereka tiba di ujung koridor. Argani melihat kalau Aithan sudah ada di tempat parkir. Aithan nampak tak suka melihat Rian.
Setelah dokter Rian menuju ke ruangannya, Argani langsung menemui Aithan yang sedang berdiri di samping mobilnya.
"Mengapa wajahnya cemberut seperti itu?' tanya Argani saat sudah berdiri di samping Aithan.
"Masih sajakah dokter itu me dekati mu?"
Argani tersenyum. Ia segera masuk ke dalam mobil yang pintunya memang sudah dibuka oleh Aithan. setelah itu, Aithan duduk di belakang kemudi. Namun ia belum menghidupkan mesinnya. Tangannya hanya mencengkram stir mobil dengan agak keras. Argani tahu, Aithan butuh penjelasan.
"Dokter Rian adalah atasanku di kampus ini dan juga di rumah sakit. Aku suka dengannya karena dia orangnya ramah, tak sombong dan juga tak pelit berbagi ilmu dengan kami semua. Lagi pula bukan hanya kepadaku dokter itu bersikap baik. Melainkan pada semua mahasiswa yang ada." Argani menyentuh tangan Aithan. "Ai, satu kampus ini sudah tahu kalau aku hubungan denganmu. Dokter Rian juga sudah tahu. Makanya ia tak pernah mengajak aku makan malam lagi. Dia tahu kalau hatiku sudah ada yang memiliki."
Aithan perlahan tersenyum lalu ia menggenggam tangan Argani. Menautkan jari-jari mereka dan menatap istrinya. "Entah mengapa aku selalu takut kalau ada pria lain yang akan membuatmu jauh dariku."
"Hei...., jangan meragukan cintaku padamu. Aku sudah bersedia menikah denganmu diusia yang masih mudi, apakah ini bukan merupakan salah satu bukti bahwa aku mencintaimu?"
Aithan mengecup pipi Argani. "Iya, sayang. Aku percaya. Eh...., dimana cincin pernikahan mu?" Aithan terkejut melihat jari manis Argani yang kosong.
"Aku menyimpannya."
"Kenapa disimpan?"
"Ai, bukankah kita sudah sepakat untuk menyembunyikan dulu pernikahan kita? Baru tahu saja aku pacaran denganmu, seluruh kampus ini sudah menghinaku dengan berbagai ucapan dan sumpah serapah. Bagaimana jika mereka tahu kalau kita sudah menikah?"
Aithan diam.
"Ai, kau sudah memakai cincin itu. Mereka akan tahu jika aku juga memakainya. Jadi biarkan saja aku menyimpannya saat ke kampus atau ke rumah sakit." Argani mengambil cincin itu dari dalam tasnya dan memakainya kembali.
"Baiklah." Aithan kembali mengecup dahi Argani lalu ia pun menjalankan mobilnya.
"Kita pergi makan siang ya?" ujar Aithan.
"Boleh. Tapi selesai makan siang, aku mau kembali ke asrama."
"Kenapa ke asrama? Aku kangen, Ar. Sudah dua malam aku tidur sendiri."
"Besok aku ada ujian, Ai. Aku butuh waktu yang cukup banyak untuk belajar."
"Bisa belajar di apartemen ku kan?"
Argani tak menjawab. Ia hanya menyandarkan punggungnya dengan wajah dingin. Inilah yang ia takutkan saat menikah. Sebagian waktunya akan tersita untuk mengurus suami. Pada hal Argani termasuk orang yang sangat maniak untuk belajar. Makanya disaat mahasiswa lain memilih jalan-jalan untuk weekend, Argani justru menuju ke perpustakaan dan menghabiskan waktunya seharian di sana.
**********
Aithan menatap jarum jam yang sudah menunjukan pukul 9 malam. Sekarang masih musim panas. Jadi jam sembilan malam pun masih agak terang.
"Pangeran, mau makan malam sekarang?" tanya Tio sambil mendekati sang pangeran yang baru saja keluar dari ruang kerjanya. Aithan memang sedang mengurus beberapa pekerjaannya. Ia punya dua bisnis yang tak ada hubungannya dengan perusahaan milik kerajaan.
"Aku tak lapar, Tio. Buatkan saja aku segelas kopi." kata Aithan lalu segera melangkah ke sayap kanan apartemennya. Ia menggeser pintu kaca yang ada, dan tampaklah kolam renang di sana. Aithan membuka kaos dan celana pendeknya, menyisahkan boxer nya dan ia pun terjun ke dalam kolam renang.
"Pangeran suntuk lagi ya?" tanya Tio.
"Sepertinya."
"Mungkin kah karena nona Argani tak datang?"
"Bisa saja. Argani itu jenis gadis yang sangat kuat mengejar cita-cita nya. Aku sebenarnya bangga padanya karena ia tak memanfaatkan hubungannya dengan pangeran untuk sekedar berfoya-foya. Ia justru tetap mandiri. Black card yang pangeran berikan padanya saja, belum pernah ia gunakan."
"Dia memang wanita yang pas untuk pangeran."
Darren mengangguk walaupun hatinya takut. Jika rencana permaisuri Viola akan diwujudkannya, maka Aithan harus melepaskan Argani apapun alasannya.
Di asramanya, Argani baru saja selesai menutup buku pelajarannya. Hatinya gelisah saat memikirkan Aithan. Ia tahu Aithan tadi sangat kecewa saat ia turun di depan asrama. Aithan bahkan tak mengantarnya sampai ke dalam.
Aku kan sudah selesai belajar, apakah tidak sebaiknya aku pergi ke apartemennya? Bagaimana pun kami sudah suami istri.
Argani pun mengganti piyamanya dengan celana jeans dan kemeja berwarna biru. Ia memasukan laptop, buku dan peralatan kuliahnya ke dalam tas punggungnya lalu ia segera meninggalkan asrama. Ia ingin memberikan kejutan pada Aithan.
Ia keluar asrama dan menunggu bis di halte dekat asrama. Tak lama kemudian bis itu pun datang.
Untuk sampai di apartemen Aithan, Argani harus dua kali pindah bis. Ia memerlukan waktu setengah jam untuk tiba di sana.
Dari tempat perhentian bis, Argani harus berjalan sedikit jauh untuk bisa sampai di pintu gerbang apartemen itu. Saat itulah Argani merasa kalau ada orang yang membuntutinya. Gadis itu segera berlari dan dua lelaki yang dibelakangnya pun ikut berlari. Argani jadi takut. Ia terus berlari. Apalagi hari mulai gelap. Argani menjadi sangat ketakutan. Ia berlari cukup kencang sampai akhirnya ia terjatuh. Dua orang yang mengejarnya pun semakin dekat. Argani berusaha bangun dan kembali berlari sampai akhirnya ia tiba di lobby apartemen, mengambil kartu akses masuknya, menempelnya di sana dengan tangan gemetar. Saat pintu terbuka, Argani berlari memasuki nya dan saat ia membalikan tubuhnya, dua orang itu sudah tak ada.
Dengan menahan sakit di tangan dan kakinya, Argani pun masuk ke dalam lift, menuju ke lantai paling atas apartemen itu. Ia merapihkan rambutnya sebelum akhirnya menempelkan kartu di pintu masuk dan akhirnya pintu terbuka.
Aithan yang baru selesai mandi dan kini sedang menuruni tangga langsung tersenyum saat melihat Argani yang baru saja masuk.
"Honey....!" Seru Aithan. Ia sedikit berlari membuat Tio dan Darren yang sedang menonton TV saling berpandangan sambil tersenyum.
Ia langsung memeluk Argani dengan sangat erat. "Kau datang akhirnya. Kenapa tak meminta aku untuk menjemput?"
Argani tersenyum. Namun saat tangan Aithan memegang sikunya, perempuan itu meringis. "Ah....sakit!"'
Aithan melihat tangan Argani yang terluka dan menyadari bahwa celana yang digunakan Argani juga agak kotor. "Kamu kenapa?"
"Aku jatuh."
"Kok bisa jatuh?"
"Tadi, saat aku turun dari bis, ada dua orang lelaki yang mengejar ku. Jadi aku berlari sekencang mungkin dan akhirnya jatuh. Untung saja aku masih bisa berdiri dan segera masuk ke dalam lobby."
Aithan dan Darren saling berpandangan. Darren segera berdiri. Ia tahu kalau pihak kerajaan sudah mengetahui sesuatu.
*********
Duh....tantangan mulai ada guys....
sanggupkah Argani bertahan???
dukung kami terus ya guys...