Wrenny Saragih, wanita berusia 30 tahun yang mewujudkan ambisinya menjadi pengacara di hadapkan pada kisah masa lalu yang mengganggu Hidupnya.
Dominic Sinatria, lelaki bodoh yang menganggap istrinya juga mencintainya.
Alur maju mundur. Diharapkan jika membaca harus teliti di setiap narasi.
Enjoy it ! Thanks....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAST TENSE.
Dominic berjalan tergesa melalui koridor lantai tiga Rumah Sakit Elite yang ada di Jakarta. 20 Menit yang lalu, sang kakak menelpon seraya menangis memberi kabar jika Papa masuk Rumah Sakit lagi.
Untuk kesekian kalinya, penyakit komplikasi yang di derita Papa membuatnya opname di rumah Sakit. Hingga Dominic yang baru saja di wisuda mau tidak mau harus menggantikan posisi Papa di peeusahaan. Sebenarnya dengan usia yang masih muda untuk terjun dalam dunia bisnis, Dominic belum layak memegang kendali perusahaan. Tapi, dewan direksi mendesaknya untuk segera mengisi posisi penting ini atau perusahaan menjadi tidak stabil.
Nadia sedang menangis dan Doni suaminya menenangkannya dalam pelukan saat Dominic sudah sampai di depan ruang perawatan Papa.
"Domi" Nadia segera melerai pelukannya dan bergantian terisak di dada adik kandungnya. Dominic segera merengkuh pundak sang kakak untuk sekedar menguatkannya.
"Maaf Mbak, aku datengnya telat. Tadi aku ada meeting di kantor. Gimana keadaan Papa?" Kaeduanya melepas pelukan. Nadia masih terisak dan menyeka air matanya.
"Papa sudah di tangani Dokter, dan sekarang masih belum sadarkan diri" Saudara kandung itu duduk di kursi tunggu di depan ruang perawatan Papa mereka.
"Maaf permisi, Bu Nadia anda diminta menemui Dokter Iskhak untuk menandatangani dokumen" Seorang perawat mendatangi Nadia untuk segera ke ruangan Dokter. Dari Awal Papa mulai Sakit-sakitan, Nadia lah yang bertanggung jawab mengantar Papa chek up ke Rumah Sakit. Nadia dan Dominic harus membagi tugas.
"Aku ke ruangan Dokter dulu ya Dom. Mas, kamu sini aja ya tungguin Papa" Nadia berpamitan pada suami dan adiknya untuk masuk ke ruangan dokter yang sudah menangani Papa selama sakit.
Setelah Nadia pergi menjauh, Doni agak sedikit bergeser mendekat ke sisi adik iparnya. Doni ingin mengajaknya bicara.
"Gimana kantor Dom? Apa kamu bisa menghandle semuanya?" Doni membuka pembicaraan. Kakak iparnya itu, juga bekerja sebagai manager perencanaan di kantor Ayah mertuanya. Dia hanya ingin tahu, adakah kendala yang di hadipi Dominic selama menjadi pimpinan baru disana.
"Yah gitu lah Mas. Aku kan belum ada pengalaman" Dominic tersenyum tipis. Jujur, dia masih banyak belajar tentang management perusahaan.
"Lama-kelamaan juga kamu bisa. Siapa lagi yang akan menjadi penerus dan menggantikan Papa kalau bukan kamu." Doni menepuk bahu adik iparnya.
"Masih ada Mbak Nadia, Mas Doni dan Jantaka kan? Mana mungkin aku bisa sendiri tanpa kalian?"
Doni mengulum senyum, Dominic sama seperti Papa. Dia baik dan menerimanya walaupun Doni dulu karyawan dengan jabatan rendah dan berjodoh dengan putri bosnya. Doni sempat minder dan menjauhi Nadia, tapi keteguhan cinta yang mereka miliki mampu menembus dinding kesenjangan sosial di antara mereka.
"Bagaimana hubungan kamu sama pacar kamu. Siapa namanya?"
"Kalinda Mas...."
"Oh, dia anak pengusaha cigaret itu kan?"
Dominic mengangguk perlahan.
"Kamu emang udah berapa lama pacaran sama dia?"
Dominic menganggap Doni iparnya seperti kakak kandungnya sendiri. Jadi, tidak apa-apa kan jika iparnya itu menanyakan urusan percintaannya.
"Aku kenal dia dari SMA Mas, dia adik kelas dan juniorku di kampus. Aku pacaran sama dia udah 2 tahun"
"Sebelum penyakit Papa kambuh lagi dan beliau masuk rumah sakit. Papa sempat bilang sama Mas Doni soal pernikahan kamu"
Dominic sedikit terperanjat dengan ucapan kakak iparnya tentang Papa yang menyuruhnya menikah. Seulas senyum bahagia disertai binar mata yang jernih, Dominic sedikit lega. Apakah Papa sudah bisa memberi lampu hijau dan merestui hubungannya dengan Kalinda hingga jenjang pernikahan??
Dominic tahu, Papa menentang keras hubungannya dengan Kalinda. Papa bilang bahwa alasan dia tidak setuju karena dia anak seorang taipan yang selalu bersebrangan dengan perusahaan Dominic. Papa tahu semua bisnis keluarga Kalinda. Mereka adalah pebisnis Shadow Economy paling berpengaruh di kawasan Asia Pacific.
Dominic berusaha membujuk Papa dengan iming-iming kerja sama dengan perusahaan Kalinda, tapi Papa tidak setuju dan mengatakan perusahaan bisa collapse jika bekerja sama dengan perusahaan Kalinda.
"Maaf, diantara anda berdua siapa yang bernama Dominic?" Obrolan serius antara saudara ipar itu terpangkas saat ada perawat yang menegur mereka. Saking seriusnya, mereka tidak sadar jika seorang perawat keluar dari ruang perawatan ayahnya.
"Saya Mbak" Balas Dominic keheranan.
"Bapak Wisesa sudah sadarkan diri. Dan beliau meminta saya untuk memanggil anaknya yang bernama Dominic" Tutur perawat itu dengan nada halus dan sopan.
"Baik Mba, saya bisa masuk kan sekarang?"
"Bisa Pak, tapi hanya Pak Dominic saja ya. Saya permisi" Perawat itu berpamitan pergi.
Dominic menghela nafas perlahan, menguatkan hati untuk bertemu Sang Papa. Sebagai anak, Dominic tidak mengharapkan Papanya cepat di panggil oleh Sang Maha Kuasa. Namun jika dilihat dari kondisi Papa yang bisa di katakan kritis dan obrolannya dengan Mas Doni, ada sedikit kesinambungan disini. Apakah Papa akan memberikan wasiat atau permintaan?
Dominic mengucap salam saat membuka pintu dan di sambut oleh senyum Papa yang hangat di wajah pucatnya. Dihidung telah terpasang selang, banyak alat-alat penopang kehidupan yang menempel di badan sang ayah.
"Maaf Pa, Domi baru bisa jenguk Papa..." Dominic tersenyum duduk di sebelah ranjang Papa.
Papa merespon dengan gelengan kepala. Memaklumi jika anak lelakinya ini sibuk mengurus kantor yang di tinggalkannya.
"Papa tahu, kamu sudah bekerja keras menggantikan posisi Papa" Papa berkata dengan suara yang berat dan nafas kembang kempis. Dominic hanya ingin mendengar dan tidak berniat menyela perkataan sang Ayah.
"Domi, mumpung Papa masih ada sisa umur yang tinggal sedikit, Apa papa boleh mengajukan permintaan sama kamu?"
Perlahan, Dominic meraih tangan Ayahnya yang mulai dingin dan mengelusnya perlahan.
"Silahkan Pa."
Pandangan papa menerawang jauh menatap plafon gypsum ruang perawatannya ini. Beliau ingin sekali menyampaikan permintaan sekaligus uneg-uneg sebelum Sang Khalik memanggilnya.
"Papa cuma pengen lihat kamu menikah. Apa kamu bisa mengabulkan permintaan Papa Nak?" Papa tersenyum kembali menatap lekat anaknya dengan pandangan agak kabur.
"Papa ingin memastikan jika kamu sudah berkeluarga, dan mempunyai keturunan untuk meneruskan generasi keluarga kita. Kamu anak lelaki yang Ayah banggakan. Jantaka juga anak Papa. Tapi Papa berharap besar sama kamu Nak. Papa Enggak tahu berapa lama Papa bisa bertahan. Papa juga salah selama ini bersalah karena menyakiti Mama kamu dengan Menikahi Saras"
Saras adalah ibu Jantaka, istri siri Papa. Dominic dan Nadia yang mengetahui Ayah mereka pernah menyakiti Mama bahkan menikah diam-diam di belakang Papa hingga Tante Saras dan Papa mempunyai anak laki-laki bernama Jantaka geram dengan kelakuan Papa. Bagaimana bisa Papa menghianati Mama yang begitu baik menjadi istri dan ibu bagi kedua anaknya. Rahasia besar Papanya terkuak saat Tante Saras meninggal dunia dan Jantaka di boyong Papa ke Jakarta.
Dominic dan Nadia mengira Mama akan marah besar jika selama ini Papa menghianatinya. Namun sebaliknya, Mama malah tulus menerima Jantaka seperti anaknya sendiri. Hingga Mama yang lama sakit asam lambung, meninggal dunia dan Jantaka yang paling terpukul atas meninggalnya Mama.
"Pa, selamanya Domi sama Mbak Nadia menganggap Jantaka bagian dari keluarga Kita. Sebagaimana dulu Mama juga sayang sama Jantaka. Papa jangan khawatir ,kami tidak akan mengesampingkan Jantaka" Dominic menangkap maksud Papa. Papa hanya memastikan Nadia dan Dominic tidak merubah sikap walaupun Papa mereka sudah tiada.
"Jadi, kamu mau kan Nak menikah secepatnya?" Tangan dingin Papa beralih ke lengan anak lelakinya meremas perlahan dengan tenaganya yang lemah. Dominic meraih tangan Papa dan menggenggamnya.
"Pasti Pa, secepatnya Domi akan menikah" Angin segar terasa sejuk menerpa hati dan kepala Dominic. Ayahnya sudah setuju jika dirinya menikahi Kalinda. Sesuatu yang diimpikannya sejak dulu.
"Papa berharap kamu menikah dengan wanita yang baik. Yang bisa membawa rumah tangga kalian sakinah mawaddah warohmah."
"Tentu Pa, pasti Domi akan menikahi wanita yang baik dan yang terpenting Domi dan dia saling mencintai." Ingin rasanya Dominic segera kabur dari ruangan ini dan berlari menemui Kalinda. Pasti dia senang mendengar jika Papa akhirnya merestui hubungan mereka.
"Tapi Nak, Papa minta kamu jangan menikah dengan Kalinda."
Binar mata Dominic yang semula menampakkan kelegaan dan kebahagiaan, mendadak sendu mendengar penuturan Papa. Kakinya serasa tidak menapak lantai dan separuh raganya melayang.
Cinta atau wasiat Papa?? Yang harus dia pilih...??
🐞🐞🐞🐞
"Kayaknya dewan direksi deh Yank, yang menekan Papa untuk tidak memberi restu hubungan kita" Kalinda meremas genggaman tangan kekasihnya dengan wajah cemas. Satu jam yang lalu, Dominic menelpon dan mengajaknya bertemu membicarakan sesuatu yang penting.
Selain Papa tidak ingin Dominic menikah dengan Kalinda, Papa beserta dewan direksi sudah memutuskan jika Dominic tetap bersikeras menikahi Kalinda, Dominic tidak mendapatkan hak waris dan posisi apapun di perusahaan Papa. Dengan kata lain, Dominic tidak dianggap anak lagi oleh Papa.
Dominic geram dengan sikap Papa. Mengapa Ayah kandungnya itu membuat keputusan sepihak dengan melibatkan dewan direksi. Ini bukan hanya menyangkut masa depan, tapi ini juga menyangkut rasa cintanya terhadap Kalinda.
Bagaimana mungkin Dominic menikah dengan orang yang tidak di cintai? Lalu bagaimana dengan Kalinda?
"Aku rela nglepas semuanya demi Kamu Yank. Aku enggak bisa kalau enggak nikah sama kamu. Cuma kamu perempuan yang aku cintai setelah Mama meninggal." Dominic membalas remasan Kalinda dan berharap wanita itu juga menghargai keputusannya untuk melepas semua harta dan posisi demi Kalinda.
"Tapi Yank," Kalinda tergagap " Kamu udah bekerja keras di kantor Papa. Menggantikan posisi Papa agar perusahaan tidak goyah. Kamu enggak mungkin kan nglepas semuanya setelah apa yang kamu lakukan demi perusahaan? Kamu inget nggak, kamu nolak jalan sama aku gara-gara kamu lebih mentingin meeting, enggak mungkin donk kamu pergi gitu aja.?" Kalinda buru-buru melepas genggamannya. Menurutnya, Dominic terlalu terbawa perasaan. Dia harus berpikir jernih. melepas harta demi cinta itu hal yang konyol.
"Yank, kalau aku enggak nglepas semuanya, aku enggak bisa sama-sama kamu lagi" Dominic menangkup wajah Kalinda. Matanya menatap lekat gadis pujaannya. Gadis yang membuat matanya tertutup dari kaum hawa yang coba menebar jala untuk menggodanya.
"Masih ada cara lain Yank, kamu enggak harus kehilangan aku atau semua yang kamu miliki !" Terlintas cepat dalam otak Kalinda, ada jalan keluar untuk masalah Dominic kali ini.
🐞🐞🐞🐞🐞🐞
makasih masih inget wreni belum beres ini, penasaran sampe novel mu yang lain aku baca ulang🤣👍
masih menunggu thor,,,miss uuuuuu😍😘
kak akan dilajut kah