Sejatinya, perempuan juga harus merasakan keikhlasan dalam pernikahannya sendiri. Dan kalimat Bismillah lah yang membuat gadis bernama Zahrana begitu percaya bahwa Keajaiban Tuhan itu ada.
Setelah mengucapkan kalimat pendek itu, ijab qobul yang terus berulang-ulang, seketika menjadi lancar. Pernikahannya dengan pria Saleh bernama Ajis, yang semula hanya karena keterpaksaan, berbuah menjadi cinta.
Permasalahan-permasalahan tumbuh. Berawal dari kebakaran kios milik Ajis, dan hutang-hutang yang diperbuat oleh Kakak Zahrana, sehingga mengakibatkan rumah orang tuanya tergadaikan.
Suatu hari, Zahrana bertemu Arya lewat chat online, artis papan atas yang mampu membuat namanya melambung setelah memperkenalkan novelnya. Dengan itu ia dapat membantu usaha suaminya bangkit kembali.
Permasalahan dalam keluarganya kembali muncul ketika Arya yang dianggapnya sebatas teman baik, tiba-tiba mengungkapkan perasaan cinta kepadanya. Hal itu pun diam-diam diketahui oleh Ajis. Kecemburuan menyalang di hati Ajis.
Akankah rumah tangga mereka hancur setelahnya? Yuk! Ikuti kisah cinta segitiga Zahrana, Ajis dan Arya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BEST SELLER
Zahrana tersentak dari lamunannya. Suara mesin motor Ajis yang sudah begitu hapal di telinganya, membuat ia semakin bersemangat dan melupakan masa lalu yang sempat menari kembali di pikirannya.
"Alhamdulillah, Bang Ajis pulang..." Soraknya dengan senyuman yang merekah di bibir tipisnya itu.
Zahrana bangkit dari duduknya, lalu setengah berlari keluar dari kamar menuju pintu depan rumahnya untuk menyambut kedatangan suaminya.
"Assalamualaikum..." Ucap Azis tampak kelelahan, namun ia paksakan juga tersenyum ketika melihat istrinya itu.
"Wa'alaikumussalam, Abang..." Jawab Zahrana seraya mengecup tangan suaminya yang sempat ia raih sebelumnya.
Zahrana dengan cepat mengunci pintu rumahnya kembali setelah mereka berdua masuk, lalu ia memeluk suaminya itu dengan sangat erat sehingga Ajis terperanjat karenanya.
"Heh tumben Adik begini? Kenapa?" Tanya Ajis begitu heran melihat tingkah istrinya itu.
Zahrana hanya menggelengkan kepalanya di dalam dada Ajis.
"Zahra kangen, Abang..." Rengeknya.
"Oh ya? Abang kan tadi kerja, Adik..." Dahi Ajis mengerinyit, ia semakin bingung. Tak biasanya Zahrana bersikap seperti itu ketika ia baru pulang dari mana pun. Zahrananya seperti anak kecil yang lama ditinggal pergi oleh seorang ayah untuk bertugas.
"Tapi Zahra kangen..." Ucapnya begitu manja.
"Abang bau keringat loh..."
"Nggak apa-apa, nggak bau betul kok..." Ucap Zahrana yang masih enggan melepas tubuh suaminya itu. Perasaannya semakin membuncah, dan hanya dengan memeluk tubuh suaminya itulah ia sedikit merasa lebih tenang karenanya.
"Adik sudah mandi memangnya?" Tanya Ajis begitu lembut sambil mengelus kepala Zahrana.
"Sudah..." Jawab Zahrana singkat.
Ajis mulai membalas pelukan Zahrana, lalu ia mengecup dahi istrinya itu banyak-banyak. Dia seakan juga merasakan kerinduan yang menyiksa hati perempuannya itu, dan karena kemanjaan Zahrana terhadapnya terlalu berlebihan kali itu, Ajis juga memeluk istrinya itu dengan erat pula untuk melepas lelahnya.
"Kalau begitu, biar kan Abang mandi dulu ya... Biar adik nggak ketularan bau tubuh Abang. Abang janji, nanti Abang peluk Adik lagi." Bujuk Ajis. Namun Zahrana tetap bersikekeh, ia menggeleng keras dan tidak mau melepas suaminya itu dengan begitu saja.
"Perut Zahra sakit lagi, Abang... Zahra mau Abang elus perut Zahra..." Pinta Zahrana.
"Perut Adi sakit lagi?" Tanya Ajis tampak begitu khawatir mendengar pengakuan Zahrana.
Zahrana mengangguk dengan bibir manyun. Dia begitu manja terhadap suaminya itu.
"Ya udah, kita duduk di sofa ya..." Ajak Ajis seraya menarik pelan lengan Zahrana menuju sofa ruang tamu.
Zahrana mengangguk dan menuruti ajakan suaminya itu.
"Apa sakit sekali, Adik? Apa sebaiknya kita periksakan saja ke dokter? Abang takut nanti ada apa-apa..." Ajis mengelus perut Zahrana sambil menanyai istrinya itu. Sungguh, terlihat sekali dirinya mencemaskan Zahrananya.
"Yaa Allah... Enak sekali rasanya jika Abang elus begini. Zahra udah baikan sekarang, dan nggak perlu diperiksa kok... Sekarang Abang sudah boleh mandi..." Ucap Zahrana menikmati elusan tangan suaminya itu di perutnya.
*****
Zahrana berkali-kali memuji asma Allah, ketika mendengar kabar bahwa lebih dari seribu eksemplar dalam bulan pertama terhitung sejak novelnya diterbitkan, laku terjual.
Air mata kebahagiaan mengambang di manik matanya. Setelah mendengar kabar itu, Zahrana segera menelepon Ajis yang siang itu masih bekerja di kios orang.
Assalamu'alaikum, Adik... Ada apa Adik telepon Abang jam segini? Apa semua baik-baik saja? ~ Terdengar suara suaminya menyahuti dengan cemas dari seberang.
"Wa'alaikumussalam, Abang... Alhamdulillah, Abang... Semua baik-baik saja... Zahra cuma mau bilang, Zahra sangat bahagia saat ini, Abang..." Ujar Zahrana begitu bersemangat.
Bahagia? Ada kabar apa memangnya, Dik?
"Novel Zahra yang sudah diterbitkan bulan lalu, termasuk best seller, Abang... Buku novel Zahra sudah terjual lebih dari seribu..." Tuturnya tak berhenti tersenyum.
Alhamdulillah... Selamat ya, Adik... Abang ikut senang mendengarnya...
"Terima kasih, Abang... Zahra sangat senang sekali. Ini semua berkat do'a dan dukungan dari Abang juga..." Ucap Zahrana dengan perasaan haru yang membuncah di dalam hatinya.
Abang hanya bisa bantu dengan do'a dan dukungan saja untuk Adik, selebihnya Adik yang mengusahakan. Adik telah berjuang dan bekerja keras selama ini... Jangan lupa ucapin terima kasih juga buat Arya yang sudah membantu Adik ya. Sampaikan salam Abang untuk dirinya...
"Iya, Abang... Nanti Zahra sampaikan... Ya sudah, Abang lanjut kerja ya. Maaf, Zahra sudah ganggu Abang..."
Iya, Adik... Abang lanjut kerja ya... Adik hati-hati di rumah. Assalamu'alaikum...
"Iya, Abang... Abang juga hati-hati kerjanya. Wa'alaikumussalam, Abang..."
Telepon berakhir, Zahrana meletakkan ponselnya ke dadanya. Ia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
Terima kasih Yaa Allah... Engkau telah memberi suami yang begitu pengertian kepada hamba. Bahagiakan kami hingga kami menua bersama Ya Allah...~ Batin Zahrana berdo'a.
.
.
.
.
.
makasih kak aku beneran sangat terharu. dri awal baca sampai di bab in mata aku sampai sembab krna kebanyakan nangis.
lgsg pencet tombol ❤️ deh...
jangan asal menyusui anak
takut nya klu gede ya gitu
eh kirain tadinya mo dibikin kecelakaan motor si ajis. kak radetza untung tidak sekejam itu & melawan taqdir logic dalam agama kita.
yah memang kepedihan mendalam kehilangan orang yg dicintai kebanyakan terjadi pada pasangan suami-istrikan. dan itu menjadikan batin mereka sakit mendalam itu bagi yg tidak mampu mengatasi kesedihannya. sebab dirundung duka itulah diapun menyusul pasangannya. tapi tidak semua begitu. ada juga yg tetap tegar sampai berpuluh tahun kemudian wafat. kalo yg baru meninggal pasangannya cepet move onnya gk tau sy. gk masuk kategori cinta sesungguhnya kata aku sih hehe.
intinya terimakasih kak radetza karyamu yg ini berkesan juga buat aku❤. walopun gk seagamis yg ku pengen like yg ku maksud kemaren. tapi ini sudah sudah jadi novel yg berkesan juga buatku🌷
pesanku tetap berkarya sesuai passionnya dengan gaya kak radetza karena itu bakal jadi ciri khasnya radetza👍
jangan terlena dengan hal yg sedang ramai. tapi gimana tulisan kita bener2 disukai,dicintai,diresapi oleh pembaca. sehingga bisa saja sebab dari membaca novel ini,personal seseorang bisa benar2 berubah hidupnya menjadi lebih baik dari sebelumnya. kualitas lebih baik daripada kuantitas👍. tapi lebih baik lagi jika kualitas & kuantitas sejalan berdampingan🌷
Barakallahu fiik author radetza❤
thankyou👍