SEQUEL dari Novel BOSKU SUAMIKU
Zia putri reyga, putri bungsu dari pasangan Zara almeera reyga dan Alfatih reyga. Gadis berparas cantik yang berkepribadian periang harus menerima perjodohannya dengan seorang pria yang ia sukai di masa lalu, yang saat ini menjadi dosennya.
Nathan himawan, pria berpostur tinggi tampan yang merupakan seorang dosen di sebuab Universitas tempat Zia menuntut ilmu. Perjodohannya dengan Zia mampu menggetarkan hatinya yang sempat mati.
Namun pernikahan yang mereka jalani cukup rumit, kehadiran orang ke tiga di antara mereka mampu membuatnya saling menjauh.
Saling mencintai namun tak terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Alifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELEPAS RINDU
Setelah satu pekan berbulan madu di Negeri sakura, sore hari ini keduanya mendarat di Bandara. Tampak keluarga konglomerat itu bersiap menyambut putri dan menantu mereka, dengan pengawalan yang ketat tentunya.
Zara memeluk sang putri saat perempuan itu tiba di hadapan mereka, "Putri mama, mama kangen tau".
"Aku juga kangen sama mama".
"Sama papa enggak Zi??". Al tak mau kalah, mencolek ujung hidung mancung sang putri kemudian memeluknya.
"Kangen lah pa".
Setelah saling melepas rindu, Zia memicingkan matanya saat ada yang kurang di antara mereka. Perempuan itu pun bertanya. "Mba Rea sama Nara mana bang?".
"Mba kamu lagi ada jadwal operasi, kalau Nara belum pulang les dia".
Zia mengangguk, padahal dia sangat ingin memprotes tentang hadiah itu pada sang kakak ipar. Namun perempuan yang tengah hamil anak ke duanya itu malah mangkir.
"Mas, pulang ke apartemen atau kemana?". Zia menggandeng lengan sang suami, bertanya pada pria itu berharap dalam hatinya mereka akan pulang ke rumah utama keluarga Reyga dulu.
"Kamu maunya kemana?". Nathan balik bertanya, bukan ia tak tau keinginan sang istri, namun ia hanya ingin menggoda perempuan itu saja.
"Aku mau jawaban, bukan pertanyaan mas".
Nathan terkekeh, mengusap puncak kepala sang istri kemudian berkata. "Pulang ke rumah mama sama papa juga boleh".
Zia tersenyum senang, "Beneran mas?". Ia bertanya untuk sekedar memastikan kembali.
"Iya sayang, tapi abis kita nginep di rumah mama, kita nginep di rumah mama papa aku yah".
Zia mengangguk semangat. "Siap pak dosen".
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Tiba di rumah utama keluarga Reyga, Rea dan Nara menyambut mereka. Nara menghambur ke pelukan sang Tante saat mereka tiba di teras rumah. Rupanya Rea dan Nara lebih dulu pulang dan sampai ke rumah.
"Auntyyyy".
"Naraaa aunty kangen". Zia berjongkok, menyesuaikan tinggi badannya dengan sang keponakan kemudian saling memeluk satu sama lain.
"Oleh-oleh buat aku mana aunty?".
Zia mencubit hidung mancung sang keponakan dengan gemas, "Kamu nih tanya kabar aunty dulu atu, malah nanya oleh-oleh".
Nara tertawa, ia melupakan hal itu. "Maaf aunty, aunty apa kabar? Udah kan? Oleh-olehnya mana aunty??".
Mereka tertawa, melihat tingkah bocah itu membuat mereka gemas sendiri.
Rea memeluk sang adik ipar, perempuan itu berbisik. "Gimana hadiah dari mba? Kamu pake gak Zi?".
Tak menyangka sang kakak ipar akan bertanya hal itu membuat Zia gelagapan, pasalnya Zia sangat menghindari pembahasan itu, ia bingung harus menjawab apa, akhirnya perempuan itu memilih jujur. "Ga.. gaunnya aku pake mba". Zia tertawa kikuk.
"Bagus kan??". Rea kembali berbisik.
Zia mengangguk, dan kalimat yang terlontar selanjutnya dari sang kakak ipar membuat gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sering-sering kamu pake yah". Sepertinya perempuan hamil itu tengah berbagi pengalaman.
"Tapi mba, gaunnya robek". Zia berucap lirih, hampir tak terdengar namun Rea masih bisa mendengarnya.
"Apa??".
"Jangan kenceng-kenceng mba, nanti yang lain denger ih".
"Kamu tega banget Zi nyobekin gaun dari mba". Rea merajuk, perempuan itu tampak berkaca-kaca, sejak hamil, memang Rea menjadi sangat sensitif dengan hal sekecil apapun, hingga terkadang Rafa kewalahan.
"Bukan aku yang nyobekin mba, tapi suami aku".
Rea menoleh, ia ternganga dengan mulut yang sedikit terbuka. "Suami kamu??". Ulangnya.
Zia mengangguk pelan, "Maaf mba".
"Astaga, ganas banget si Nathan".
Zia membekap mulut ember sang kakak ipar, mereka tengah menjadi pusat perhatian semua keluarga. Ucapan Rea juga membuat Nathan menoleh pada Zia dengan tatapan memicing, pria itu salah tingkah.
"Siapa yang ganas sayang?". Rafa bertanya.
"Abang gak usah ikut-ikutan, ini masalah perempuan bang". Zia menjawab dengan terburu-buru, ia takut jika kakak iparnya itu akan keceplosan lagi.
Rea tampak berpikir, wanita itu tengah duduk di sisi ranjangnya. Setelah melepas rindu dengan putri bungsu keluarga itu, mereka kembali ke kamar masing-masing.
"Boleh di coba tuh, aku suruh Abang nyobek gaun juga ah".
Eh??????