Melati harus menelan pil pahit ketika dirinya harus di benci oleh suaminya.
Kesalahan melati di masa lalu, membuatnya mau tak mau menerima luka demi luka akibat pernikahannya yang berawal dari fitnah yang ia lakukan terhadap Faisal.
Duka demi duka ia lalui.
Pedih demi kepedihan ia lewati.
Hingga ia tak tahan dan memilih pergi.
Sayangnya, keputusannya untuk pergi menjauh, membuatnya menyesali segalanya.
Untuk kembali pun, Melati tak lagi memiliki nyali.
Hatinya seakan mati seiring penyiksaan yang Faisal lakukan terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Perasaan saya tidak enak begini, Panca. Apa yang terjadi, ya?"
Fian tidak bisa memendam lebih lama lagi kegelisahannya kali ini. Bayangan Melati selalu terbayang di pelupuk matanya. Entah apa sebabnya, hati Faisal berdenyut tak karuan.
Sore ini, Fian tengah menikmati secangkir kopi susu bersama panca, anak sari salah satu kerabat dekat Pramono. Di temani satu piring pisang goreng krispi kesukaan Fian, mereka mengobrol ringan dan saling bercerita.
"Mungkin hanya perasaan kamu saja, Fian.....
Menjelang hari pernikahan, rasa rindu itu terkadang menjelma menjadi perasaan tak nyaman yang kadang memicu pemikiran yang tidak-tidak.
Sudah, jangan terlalu di pikirkan".
"Ah ya, kamu benar Panca. Saya memang merindukan janda kakakku".
Sedetik kemudian, terdengar gelak tawa dari Mereka berdua. Meski hatinya berdenyut tak nyaman, serta desiran sakit itu tiba-tiba menyapa, tapi Fian mencoba menyangkal hal itu.
"Oh, ya. Bagaimana kabar si tampan Gibran?".
Panca kembali melempar tanya ketika tawa Mereka terhenti sejenak.
"Baik, dia semakin cerdas dan tampan. Bahkan sekarang, dia memanggilku papa.
Bisa kamu bayangkan? Aku bahagia bisa di terima anak Melati."
"Hanya doa yang bisa saya panjat agar kamu bahagia, Fian. Jangan lagi ngerasa kalau kamu Ndak berarti apapun karena kamu hanya terlahir dari seorang selir.
Kamu..... Juga berhak bahagia".
Panca mendoakan dengan tulus.
Ada haru dan bahagia yang menyusup ke dalam hati Fian. Ketulusan Panca, benar-benar membuat Fian tidak lagi merasa sendirian.
"Terima kasih.".
Mereka berdua saling melempar senyum.
~~
~~
"Ibu mau ke rumah mbok Darsem dulu, nduk.... Mau ambil baju yang ibu dan bapak pesan. Kamu tidurlah kalau lelah. Gibran akan ibu ajak ke sana".
"Injeh, Bu"
Melati mengangguk dan tersenyum pasrah ketika Ratri meninggalkannya.
Entah mengapa, hatinya berdebar tak nyaman dan penuh kecemasan saat ini.
Berjalan menuju kamar, langkah Melati terhenti ketika mendengar suara deru mobil dari luar.
Lho.... bukannya ibu baru berangkat, ya?
Bisik hati Melati. Langkahnya kemudian berbalik arah menuju pintu ruang utama.
Tubuhnya seketika mematung saat melihat sosok ayah dari Gibran, berdiri menjulang dengan tatapan tajamnya.
Ada desir aneh yang bertahun lalu bercokol dalam hatinya. Tidak. Melati menyangkal bahwa desir itu, adalah wujud rasa cintanya terhadap Faisal.
Yang ada, Melati hanya ingin melepas sakitnya dengan ikhlas. Biar bagaimana pun, sebentar lagi Faisal akan menjadi kakak iparnya.
"Panjenengan mau mencari siapa, mas?
Bapak dan ibu keluar bersama Gibran, baru saja".
Faisal diam dan hanya berjalan semakin mendekat ke arah Melati. Melati gugup dan salah tingkah.
Senyum simpul terbit di bibir Faisal ketika Faisal menangkap, gelagat Melati yang memperlihatkan apa yang tengah ia rasakan.
Tidak salah lagi. Kamu memang benar-benar mencintai saya, Melati. Cinta kamu masih ada.
Bisik batin Faisal penuh percaya diri.
"Saya ingin bicara sama kamu, Melati. Empat mata".
Melati gamang atas permintaan Faisal yang secara tiba-tiba. Ia tak enak hati andai nanti Fian mengetahui kedatangan kakaknya kali ini, untuk menemui calon istrinya.
Tidak. Sebagai wanita yang bermartabat, Melati jelas tidak ingin merendahkan dirinya demi hal-hal yang tentu akan merugikan dirinya dan mencoreng nama baik Fian, sebagai calon suaminya.
Meski cinta itu masih hadir dalam hatinya yang terdalam untuk Faisal, tapi Melati sudah bertekad, untuk membunuh mati cinta yang telah menghancurkan hidupnya hingga bertahun-tahun lamanya.
"Maaf, mas Faisal. Tapi.... saya tidak berani untuk menemui njenengan secara pribadi. Biar bagaimana pun, saya hanya ingin menjaga perasaan mas Fian, calon suami saya. Saya Ndak mau nanti beliau, menilai lain dari pertemuan kita hari ini".
Seperti Baisa, Melati berkata dengan lembut dan bersikap terkesan santun dan memiliki tata Krama.
"Saya hanya ingin menyelesaikan apa yang belum selesai di antara kita, Melati".
Ungkap Faisal lirih. Melati mendongak dan diam-diam, hatinya menertawakan kekonyolan mantan suami nya itu.
"Apanya yang belum selesai, mas? Panjenengan sudah menghancurkan sendiri pernikahan kita, meninggalkan saya dan menghempaskan saya dengan sangat kejam.
Katakan, katakan di mana letak belum usainya hubungan di antara kita?"
Melati menatap Faisal dengan berani dan menantang. Faisal hanya diam tanpa berniat meladeni konfrontasi dari Melati.
Sesaat kemudian, Faisal menjawab dengan penuh kemantapan.
"Diantara kita, ada Gibran. Andai kamu tidak menyembunyikan nya dari saya".
"Jadi, njenengan menyalahkan saya?".
Senyum sinis Melati terulas di bibirnya yang nampak menawan dan menggoda.
"Bukan. Bukan begitu. Ini belum selesai, Melati. Saya mohon jangan lanjutkan hubungan mu dengan Fian. Menikahlah dengan saya dan saya berjanji untuk memba........".
"Mungkin anda terlampau lelah, mas Faisal. Jadi saya rasa, njenengan butuh istirahat hari ini".
Melati hendak pergi ketika tiba-tiba, dengan keras dan kasar, Faisal menghentak pergelangan tangan Melati ke dalam pelukannya. Geram bercampur marah, namun cinta yang bahkan menggebu-gebu, Faisal segera menyeret Melati ke dalam kamar Fian, kamar yang di tempati Melati selama beberapa hari ini menjelang pernikahannya dengan Alfian.
Di hempaskannya tubuh langsing Melati begitu saja di atas ranjang. Bukan hanya pekikan kaget, melainkan juga pekikan ketakutan yang Melati keluarkan. Sungguh, Melati panik luar biasa.
Di rumah sedang sepi, beberapa abdi juga ada di belakang untuk mempersiapkan kebutuhan hajatan Pram.
"Kamu boleh lari dari saya, Melati. Saya sudah memintanya dengan baik-baik, tapi kamu menolak apa yang seharusnya menjadi keputusan terbaikmu.
Maafkan saya karena saya tidak akan melepas kan kamu begitu saja".
Dan, tatapan tajam Faisal layaknya satu tahun bersama Melati dulu, kini kembali nampak.
Matanya berkilat penuh emosi.
Faisal lupa diri.
Faisal hilang kendali.
Faisal hilang kewarasannya.
"Ja...jangan, mas fai.....sal.... Sssa...saya mohon. Hentikan."
Dengan gerakan kilat, Faisal seketika menindih tubuh langsing Melati dengan api gairah yang berkobar.
Ia tak akan memikirkan apapun lagi kali ini. Yang ia pikirkan hanyalah, bagaimana caranya memiliki Melati seutuhnya.
Faisal sungguh gila.
"Ya. Menangislah Melati. Saya rindu tangisan kamu. Saya rindu rintihan kamu. Sebut nama saya..... sebut nama saya dengan perasaan".
Lirih Faisal setengah mengerang penuh nafsu.
Melati ingin berteriak, namun ia tak bisa berkutik ketika bibir Faisal membungkam bibirnya dengan melum*tnya kasar.
Sesuatu yang berdiri tegak di bawah sana, menyadarkan Melati bahwa Faisal, telah memasuki fase tuntutan keinginan primitifnya.
Sekuat tenaga Melati meronta dan berteriak meminta tolong, ketika bibirnya lepas dari lum*tan Faisal yang menyakitkan.
"Ing...ingat, mas. Ing....at anak istri njenengan di rumah.
Tolong.... Demi mereka.... demi Gibran......."
Dan rintihan tangis Melati seolah menjadi melodi tersendiri bagi Faisal yang sudah di gulung nafsu yang kepalang bertengger tak tau malu dalam raganya.
Saat Faisal berhasil meleburkan dirinya ke dalam tubuh Melati secara paksa hingga ia memuntahkan benihnya dengan sangat dalam di dalam tubuh melati, tiba-tiba pintu terdobrak dari luar.
Tanpa menanti lagi, sosok tinggi tegap penuh wibawa itu muncul dan menendang Faisal hingga terpental dari atas ranjang. Ratri dan Gibran yang juga berdiri di ambang pintu, segera berlari dan membalut tubuh tel*nj*Ng Melati dengan selimut.
Sosok itu............
....
....
....
Pikirannya pasti Travelling ke mana-mana.
Tolong di kondisikan ya, berhubung ini bulan puasa
🤪😂😂😂
Aku ngetiknya kan pas sahur, jadi belum masuk puasa, ya.....
Wkwkwkwk🙈
ingat loh masih punya istri gak mikir apa udah punya dua anak sama rianti,, mau melati juga🤣🤣🤣
bawangnya banyak banget 😩😩😩😩😩