NovelToon NovelToon
Pilih Aku, Aruna...

Pilih Aku, Aruna...

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:591.3k
Nilai: 5
Nama Author: HeniNurr

Aruna melangkah semakin jauh, meninggalkan segala harapan Nuno yang sudah di pupuknya sedari dulu, hilang dan pupus seketika.

Pencarian cinta yang semula terbayang manis, menyisakan pahit bak setetes empedu dalam sebelanga susu. Status Aruna sebagai istri seorang pengusaha bernama Aryo, tidak menjadikan rumah tangganya hidup dalam gelimang kebahagiaan. Pengkhianatan akan kesetiaan tak ubahnya pakaian yang harus ia ganti setiap hari.

Nuno melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta Aruna, menarik gadis impiannya itu dari hitamnya lumpur penderitaan, sedangkan keadaan memaksa dirinya untuk bertunangan dengan Manda, wanita yang memendam harap bahwa Nuno akan membalas cintanya yang begitu tulus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berpura-pura Kuat

Kenapa wajah itu tidak bisa aku hempas dan tinggalkan sebentar saja. Dia bukan wanita yang bisa aku damba dalam khayal, tak patut aku rangkai dalam mimpi. Dia hanya bayangan semu yang ingin aku sentuh, namun bukan sosok halal yang bisa aku gapai.

"No ayo maju...."

Nuno bergeming, jalan remang dengan aspal hitam yang semakin pekat dijadikan dunia indah untuk dia mengkaji diri, mengulik perasaan akan ketidakberdayaan raga yang tidak bisa memungkiri kalau perasaan untuk memiliki datang tanpa bisa disadari.

"Mas lampunya udah ijo tuh." Seru Jino yang mengesampingkan game di ponsel karena suara protes klakson mobil yang menjerit-jerit tiada henti, menganggu konsentrasi tangannya yang lincah menekan dan mengoceh lawan hingga tanda KO diberikan untuk dirinya yang lagi-lagi mendapat kekalahan.

"Mas ayo jalan....!" Pekik Jino kesal, moodnya sudah turun dratis sejak sang Mama memaksanya untuk pulang bersama, meninggalkan motor sportnya begitu saja. Dan akhirnya dia lampiaskan pada game online yang nyatanya malah semakin membuat mood nya semakin anjlok.

"Iya-iya sebentar." Dengan segera Nuno menginjak gas dalam sekali tekanan, perasaannya yang sedang limbung tidak serta merta membuyarkan konsentrasinya dalam mengemudi, ada dua nyawa yang harus dia jaga.

"Ada yang sedang kamu pikirkan?"

Nuno melirik sejenak, kemudian mengusap tangan Mama yang menempel di pundaknya,"Nggak ada, Ma." Mengukir senyuman lembut, meredam kecurigaan Mama yang dia jawab dengan kebohongan.

"Yang dansa sama Mas itu Mbak Aruna kan?" Tanya Jino penasaran karena tak sempat menyapa karena Aruna lebih dulu pergi, terlebih lagi kerumunan tiga orang wanita yang mengendurkan nyalinya yang seketika lenyap, label Playboy yang sudah Mama sematkan jauh-jauh hari tidak bisa dia sangkal lagi.

"Iya."

"Kenapa kamu nggak ngenalin Aruna sama Mama?" Protes Mama Dila yang tidak bisa bersabar lagi menunggu Nuno bercerita, egonya terlalu besar bila harus memahami raut wajah Nuno yang seperti enggan untuk mengatakan apapun tentang Aruna.

"Waktunya tidak memungkinkan Ma, mungkin lain hari."

"Terus cowok yang membawa Aruna itu siapa Mas?"

Nuno membisu, kata yang tidak ingin dia utarakan harus segera dia ucapkan, mengingat kedua orang yang berarti di dekatnya ini sedang menunggu jawaban pasti yang tidak bisa dia pungkiri lagi,"Suaminya."

"Apa?"

🌿🌿🌿🌿

Dalam hening Aruna terpekur, lampu jalanan yang menjulang tinggi tak serta merta menerangkan cahaya hatinya yang gelap gulita. Mata dia biarkan menutup, mengenyahkan semua kejadian yang dilalui beberapa waktu lalu saat di pesta.

Namun bayangan gelap itu berkelebat bayangan Nuno yang memperlakukannya sangat berbeda. Sentuhannya, tatapannya dan hembusan nafasnya yang menyentuh kulit, menggiring aliran darahnya berdesir sangat cepat, merasakan hal yang berbeda dari sekedar hanya teman biasa.

Tak pernah dia rasakan itu kepada Aryo. Jantungnya berdegup kencang, kulitnya ikut terangsang, hatinya bergejolak, membuncah dalam jiwa yang selama ini dia kubur dalam kata teman.

"Run, kita sudah sampai."

Belaian di pipi sontak membuat kelopak mata Aruna terbuka. Dia tidak tidur, dia hanya ingin melepas beban batin yang ternyata hanya sia-sia, saat matanya kembali terbuka, beban itu masih ada.

Aruna beringsut, menegakan tubuh yang semula bersandar, menyapu sekeliling yang ternyata itu adalah halaman rumahnya sendiri.

"Aku bawa dulu payung di bagasi, hujannya besar."

Aruna menoleh sejenak, membiarkan Aryo keluar menghalau derasnya hujan yang mengguyur malam yang semakin gelap. Tidak ada bintang, apalagi bulan, semuanya bersembunyi, seperti tak sanggup mengalahkan air yang berebut turun, menenggelamkan mereka di balik awan.

"Ayo!" Aryo membuka sedikit pintu mobil agar Aruna bisa keluar, dirangkulnya bahu itu untuk mendekat, menghalangi tetesan hujan yang berniat jatuh di sebagian sisi tubuh wanita yang ingin dia lindungi.

"Badan kamu masih panas, habis ini minum obat dan langsung tidur ya?"

Aruna mengangguk, memang yang dibutuhkannya hanyalah obat, si bentuk kecil yang mengerti dan mampu memahami keadaan tubuhnya yang mengalami berbagai macam rasa sakit.

Baru beberapa langkah mereka meninggalkan mobil, langkah Aryo terhenti, mengamati sesuatu yang terbujur dan tak lama dia pun berteriak, menyebutkan nama seseorang yang telak menancap tepat di jantung Aruna yang seketika ngilu.

"Rantiiii....." Pekiknya dengan berlari, menjatuhkan payung yang semula menaungi, meninggalkan Aruna yang tertegun.

Aryo meraih tubuh ramping yang tergolek di lantai dingin, bercampur basahnya rembesan hujan yang tergenang di beberapa bagian.

Khawatir yang berlebih membuat Aryo lupa keberadaan Aruna yang sudah dia singkirkan seketika. Beberapa kali Aryo menepuk pipi yang pucat pasi, mengusap rambut panjang yang tergerai basah, menggenggam tangan lemah yang tidak juga mau bergerak.

Aruna meremas dadanya yang seperti di hantam gada, melangkah pelan membuka pintu kokoh yang akan menjadi saksi, bahwa dia akan mengizinkan wanita itu masuk dalam kehidupan rumah tangganya yang sudah hancur,"Bawa dia masuk!"

Aryo terhenyak, suara Aruna menyadarkan dirinya yang sudah khilaf. Ditelaahnya wajah Aruna yang basah, berdiri di hadapannya yang membatu.

"Run...."

"Dia akan kedinginan kalau dibiarkan di luar." Potong Aruna seraya berlalu, tak membiarkan Aryo menangkap buliran air mata yang hampir saja jatuh.

Mengerahkan seluruh tenaga, diangkatnya tubuh Ranti yang belum sadar, dibawanya masuk dengan membaringkannya di atas sofa dengan tumpukan bantal yang sudah Aruna siapkan.

"Keringkan tubuhnya." Diberikannya handuk putih yang Aruna ambil dari ruang tamu, dan setelah itu ia kembali pergi, membiarkan Aryo mengurus wanita itu sendirian.

Aryo menerima handuk yang terlipat rapi, kemudian beralih menatap punggung Aruna yang menjauh,"Maafkan aku, Run..."Ucap Aryo hampir tak terdengar.

"Mas Aryo...."

Rasa bersalahnya buyar tatkala Ranti menyebut namanya dengan lirih,"Ranti...."

Mata lentik itu mengerjap,"Mas ini kamu?" Disentuhnya wajah Aryo dengan senyuman lemah tak berdaya.

"Kenapa kamu kesini?"

Tak mampu lagi menjawab, Ranti langsung memeluk leher Aryo dengan deraian air mata,"Jangan tinggalkan aku Mas."

"Ranti lepas."

Bukannya melepaskan Ranti malah semakin memperat lingkaran tangannya,"Biarkan begini sebentar saja." Mohon Ranti pilu.

Tanpa Aryo sadari, Aruna sudah kembali dengan segelas teh hangat yang dia simpan di atas meja. Aryo terhenyak, segera melepaskan tangan Ranti yang masih membelit, kemudian beranjak meraih tangan Aruna yang sudah mau pergi.

"Run...."

Tubuh Ranti yang terhempas langsung menatap Aruna dengan lekat, membuka memorinya ke beberapa hari yang lalu, di tolong seorang wanita di pinggir jalan dan ternyata wanita itu adalah orang yang ada dihadapannya sekarang ini. Ranti membungkam.

Aruna menatap keduanya bergantian, tidak ada cukup kata yang bisa dia ungkap dalam sebuah kalimat pendek, namun sikapnya yang seperti ini sudah cukup mewakili tengah apa yang dia rasakan.

Dia hanya seorang manusia biasa yang masih memiliki sedikit hati nurani, mengabaikan posisinya yang lebih pantas dikasihani.

Aruna melepas genggaman tangan Aryo, menangkap sorot matanya yang seperti ingin mengungkapkan sesuatu yang tidak lebih dari sekedar kata maaf.

"Aku mau istirahat." Ucap Aruna dingin.

"Aku akan menjelaskan semuanya kalau...."

Diangkatnya sebelah tangan agar Ayo diam, sungguh dia tidak ingin mendengar apapun saat ini, semuanya sudah sangat cukup menyakitkan,"Aku mau istirahat." Diulangnya lagi perkataan itu.

"Hoeeeekkk...." Suara Ranti memutus pandangan Aryo kepada Aruna, yang kemudian menoleh untuk sekedar mengecek keadaannya yang masih lemah.

Aruna menghela nafas berat, sampai kapan dia bisa setegar ini di depan Aryo, ingin rasanya dia berlari menerjang hujan lebat, menjatuhkan diri di jalan aspal dan berteriak sekencang mungkin. Tapi tidak, dia tidak boleh selemah itu di depan Aryo.

"Dia lebih membutuhkanmu." Ucapnya seraya berbalik, menaiki undakan tangga, mengabaikan Aryo yang membisu karena gamang.

Tubuh Aruna merosot di balik pintu yang dia tutup rapat. Tubuhnya sudah lelah berpura-pura kuat, berpura-pura tersenyum padahal hatinya tengah terluka.

Di peluknya lutut dengan rintikan air mata, menangis pilu tanpa suara merenungi nasib diri yang semakin jauh tak terarah, dan tanpa dia sadari, bibirnya menyerukan nama seseorang yang tiba-tiba saja terbersit dalam hati,"Nuno...." Ia pun menggugu.

🥀

🥀

🥀

_ Bersambung _

1
74 Jameela
pengen q begal ajja tuch si manda jd org kok memaksakn diri..egois banget🤮
74 Jameela
Manda cinta sendiri trllu ngarep jd kyk punguk merindukn rembulan..kn jls aruna yg kenal duluan dg nuno...aruna gk ngrebut nuno dr manda scra nuno gk prnh ksh harapan atau janji ke manda😇
Sabila Brina
akhirnya moly nongol😍😍
Solehatun Rayhan
bagus ceritanya
Elly Watty
visual Aryo g da tanding
Elly Watty
Aruna sok jd pahlawan, klw dia mengikhlaskan Nuno untuk Manda hrusnya totalitas donk dg pergi jauh dr hidup mrk berdua, klw msih satu kota sih percuma
Elly Watty
dekik di pipi samakah artinya ma lesung pipi
Puturidho Waseso
bagus ceritanya
Dewi Rukmini
disini keluarga Nuno dan Nuno tidak tegas seolah2 hanya Manda saja yg di perhatikan sedang Nuno tahu harus ada hati yg di jaga,Nuno tidak tegas menghadapi Manda kasian ya kasian tapi tidak harus segitunya kali thor
Mrs.Kristinasena
org tua angkat dan kandung Nuno..ini luar biasa semua yaaa..
Mrs.Kristinasena
duuuh Nuno Ama Aruna menikmati surga dunia sebelum ketuk palu..haha honeymoon dini yaaa...
Mrs.Kristinasena
mama Dila ,kasih sayangnya melebihi ibu kandung...ngerti banget demi kebahagiaan anak..walau statusnya anak sambung
Mrs.Kristinasena
semoga ada jalan utk mereka berjodoh..
Mrs.Kristinasena
otw janda kembang, Jino..jadi jgn bilang mama dulu yaa..tunggu jadi janda dulu..baru lapor..hehe
Mrs.Kristinasena
kamu bohong kalo bilang cinta sama Aruna..kalo cinta,pasti akan setia..kamu cuma lelaki bejat..brengsekk..yg lebih murahan dari pelacur
.digesek dikit ajah sdh tergoda..kamu mmg ga pantas buat Aruna...
Mrs.Kristinasena
Aruna serasa dihajar luar dalam..tubuh dan mentalnya disakiti sama Aryo dan Ranti..
Mrs.Kristinasena
diiiih enek bgt Ama Aryo..klo suamiku dah tak cincang" itu senjatanya..biar nyahok...hehehe
Mrs.Kristinasena
ga cuma Nuno dan Aruna yg galau..aq pun nyesek liat mereka berdua..
Mrs.Kristinasena
Akhirnya Nuno tau kalo Aruna istrinya pak Aryo..yg sedang berselingkuh..Nuno pasti ikut merasakan kesakitan hati Aruna Krn suaminya tukang selingkuh...rebuuuuttt aja Nuno..Arunanya..kasiiiaaann..Aruna berhak bahagia dan dicintai kan..
Mrs.Kristinasena
baguuuuusssss...kata dlm kalimat nya enak dibaca..ga bikin pusing..malah sll penasaran utk terus menerus membaca...luaaarrr biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!