NovelToon NovelToon
Suami Bayaran

Suami Bayaran

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Yeni Eka

Kisah tentang Cahaya atau Aya (30) seorang pengusaha wanita muda yang sudah menjalin hubungan kasih selama lebih dari 10 tahun dengan kekasihnya yang bernama Rudi. Mereka sudah merencanakan acara lamaran namun tiba-tiba Rudi membatalkan dan memutuskan hubungan dengan Aya tanpa alasan yang jelas. Aya yang tidak ingin membuat ibunya bersedih karena kegagalan acara lamarannya berusaha untuk mencari pengganti Rudi.

Kemudian ia bertemu dengan Rizal (23) seorang OB berwajah tampan. Pertemuan karena salah paham itu membuat mereka semakin dekat. Aya dan Rizal akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan istimewa dengan perjanjian tertentu.

Pada akhirnya mereka saling jatuh cinta di dalam ikatan pernikahan istimewa tersebut. Apa yang membuat mereka saling jatuh cinta? Dan bagaimana mereka menyikapi konflik karena kehadiran orang ketiga yaitu orang-orang yang pernah hadir di masa lalu Aya dan Rizal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zinnadine Zidane

Mereka masih berada di Resto X. Usai membahas soal surat perjanjian, mereka menikmati santap siang. Beberapa kali mereka makan bersama menunya selalu jajan bakso. Untuk pertama kalinya mereka santap siang di resto ini. Mereka memilih menu ikan gurame bakar dan cumi bakar sebagai lauknya, sayur asem serta lalapan, tidak lupa lauk sejuta umat yaitu pasangan sejoli tahu dan tempe. Dua gelas es jeruk melengkapi hidangan mereka, melengkapi santap siang yang nikmat ini.

"Eeeeu ... Alhamdulillah." Rizal bersendawa karena kekenyangan.

"Terima kasih ya Teh... santap siangnya sungguh nikmat." Ia berucap lagi.

"Iya sama-sama Rizal ... oya setelah ini kamu coba ke ATM ya!" seru Aya.

"Untuk apa Teh?!" tanya Rizal kebingungan.

"Sebelum datang ke sini, tadi aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening kamu."

"Uang untuk apa Teh?!" Rizal masih kebingungan.

"Coba kamu cek saja dulu, uangnya apakah sudah masuk atau belum," ucap Aya dengan nada datar.

Rizal mengambil ponsel dari kantongnya, kemudian ia membuka aplikasi Internet Banking dan ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.

"Lima Puluh Juta ... un--untuk apa uang sebesar itu Teh?" Bagi Rizal jumlah uang tersebut sangat besar, bahkan jika dia bertahun-tahun bekerja keras sebagai OB merangkap sebagai driver ojek online pun tidak akan mungkin mendapatkan uang sebanyak itu.

"Itu untuk keperluan pernikahan ... bukankah jika menikah si pria harus memberikan uang kepada keluarga si wanita," ujar Aya.

Konon menikah itu tidak sesederhana esensinya, mengucap janji suci atas nama yang Maha Kuasa, tetapi sering kali pria ditanya "Sudah punya uang berapa?" dan Aya yakin Rizal belum punya modal biaya untuk menikah.

"Oh, iya Teh saya mengerti," jawab Rizal lalu menundukkan kepalanya.

"Tapi aku menginginkan pernikahan yang sederhana... tidak ada pesta ... cukup akad nikah saja, jadi kamu tidak usah memberikan uang yang terlalu besar kepada keluargaku."

"Iya Teh... apa saya boleh bertanya, Teh?"

"Silakan... kamu mau tanya apa?"

"Teteh sudah berapa lama kerja di optik itu?"

"Aku tidak bekerja di sana... tapi aku adalah pemiliknya ... aku bosnya!" ujar Aya.

Ini pertama kalinya Aya berkata sombong, padahal tetangga bahkan Iis sahabatnya saja tidak tahu jika Aya adalah pemilik optiknya, mereka hanya tahu bahwa Aya bekerja di sana. Aya adalah seorang yang low profile, tidak pernah berkoar-koar tentang kesuksesannya kepada orang lain.

Rizal terkejut mengetahui hal itu, karena sebetulnya setelah ini ia ingin bertanya dari mana Aya mendapat uang sebanyak itu, karena ia harus memastikan jika uang itu halal. Tapi setelah mengetahui fakta bahwa Aya adalah pemilik Optik Kasih, ia jadi membatalkan pertanyaan yang akan ia tanyakan.

"Kalau Teteh tidak sibuk, saya akan mengajak Teteh ke rumah saya."

"Untuk apa?"

"Memangnya Teteh tidak khawatir... bagaimana kalau setelah menerima uang ini saya kabur... Teteh kan belum tahu rumah saya."

"Aku percaya kok sama kamu."

"Percaya tapi pakai surat perjanjian bermaterai segala," ucap Rizal dengan senyum sinis.

"Itu kan hanya untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk saja ... baiklah aku akan ke rumah kamu." Meskipun ini hanya pernikahan sandiwara Aya merasa perlu untuk mengenal keluarga Rizal.

Mereka mengendarai motornya masing-masing. Rizal dan motornya melaju di depan, sedangkan Aya mengikuti laju motor Rizal di belakang. Mereka sampai di kediaman Rizal. Rizal tinggal di sebuah perkampungan, masih banyak pemandangan persawahan menghiasi perjalanan menuju kediaman Rizal.

"Ayo masuk Teh!" Rizal langsung membuka pintu rumah yang tidak terkunci dan mempersilakan Aya untuk masuk. Aya pun melangkah masuk.

"Ya beginilah rumah saya... maksudnya rumah peninggalan orang tua... kalau saya mah belum punya rumah, hehehe... ayo Teh silakan duduk." Rizal berkata dengan sopan.

"Iya terima kasih Rizal," ucap Aya seraya mendudukkan bokongnya di kursi. Rizal pun ikut duduk.

Kediaman Rizal sangat sederhana, lebih kecil jika dibanding rumah Aya. Rumah Rizal memiliki tiga kamar sedangkan rumah Aya memiliki lima kamar karena Aya adalah keluarga besar. Mata Aya menelusuri pemandangan di sekitarnya dan tertuju pada sebuah foto di dinding ruang tamu.

"Itu foto almarhumah ibu kamu?" tanya Aya dan Rizal hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.

"Sudah lama ibumu meninggal?"

"Sudah tujuh tahun."

"Terus yang tinggal di sini siapa saja?"

"Ada teteh saya beserta suami dan anaknya, juga adik saya."

"Kalau ayahmu?"

"Ayah meninggalkan kami dari sejak saya kecil," jawab Rizal dengan raut muka sedih.

"Oh, jadi kamu anak yatim piatu?"

"Bukan... maksud saya ayah saya sudah lama pergi meninggalkan ibu saya dan kami anak-anaknya ... saya tidak tahu ayah sekarang ada di mana... apakah dia masih hidup atau meninggal pun saya tidak tahu," jawab Rizal dengan nada lemah, tampak kepiluan dari raut wajahnya.

"Maaf ya Rizal kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman." Aya meminta maaf, ia tahu Rizal merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya.

"Teteh kamu ke mana, Zal?" Karena sedari tadi Aya tidak melihat orang lain di rumah ini.

"Sepertinya sedang tidur... maklum ibu rumah tangga jam-jam segini adalah saatnya istirahat untuk mengisi ulang energi yang habis. Oya sebentar ya Teh saya ambilkan minum dulu." Rizal langsung berdiri dan berjalan menuju dapur.

"Ga usah repot-repot Zal!"

"Maaf ya Teh, hanya air putih saja," ucap Rizal sembari membawa nampan berisi sebotol air minum dan dua buah gelas.

"Iya ga papa ga usah repot-repot... oh iya Zal...." Baru saja Aya akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba seorang anak laki-laki nyelonong masuk rumah.

"Salamlikum." Kata anak laki-laki itu lalu salim mencium punggung tangan Aya dan Rizal.

"Salamlikum salamlikum aja... yang benar mengucapkan salamnya!" sahut Rizal dengan ekspresi gemas.

"Iya... assalamualaikum warahmatullah wabarakaaaaaaaaaatuh," kata anak kecil itu sambil kedua tangannya disatukan dan diletakkan di dada persis seperti pengucapan salam saat istifalan membuat Aya langsung tertawa lepas.

"Hahahaha... Ini adik kamu Zal?" Aya bertanya sambil tertawa, rupanya tingkah anak kecil ini sangat menggemaskan bagi Aya.

"Bukan Teh, ini keponakan saya ... anaknya Teh Nisa," jawab Rizal.

"Hai, sini! Nama kamu siapa?" Aya bertanya pada anak kecil itu sambil mengajaknya duduk di sebelah Aya.

"Nama saya Zinadin Zidan ... dipanggilnya Idan," jawab anak kecil itu seraya mengambil posisi duduk di sebelah Aya.

"Ih keren amat namanya ... pasti ayahnya ingin kamu jadi pemain bola seperti Zinadine Zidane ya?"

"Bukan... kata bapak biar Idan nanti bisa seperti Haji Zainudin orang paling kaya di kampung ini, mobilnya punya tiga, sawahnya punya banyak, kontrakannya juga banyak, udah berkali-kali naik haji... tapi biar kaya istrinya tetap satu, begitu kata bapak." Idan berkata dengan polosnya.

"Wahahaha..." Aya tertawa terpingkal-pingkal. Rizal pun jadi ikutan tertawa. Untuk pertama kalinya Rizal melihat Aya tertawa mengakak seperti itu.

"Oh, jadi biar keren nama Zainudin diganti dengan Zinadin gitu ya?!" ujar Aya masih dengan sisa tawa kecilnya.

"Iya, begitu kata bapak," jawab Idan sambil menganggukkan kepala berulang-ulang khas kelakuan anak kecil. Aya mencubit kedua pipi Idan saking gemasnya.

.

.

.

.

Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya. Terima kasih

1
Puput Regina Putri
itu ..aa ijal nya jangn saya..saya ajh lah kan udah saling bucin gk usah pke bhsa formal gtu
Puput Regina Putri
kesiaaan deh loh🤭
Puput Regina Putri
semangat yah Thor 👍 lanjutkan karya mu bagus
Puput Regina Putri
mam mam tah s batu krikil 🤭😂
Puput Regina Putri
ngok 😂
Puput Regina Putri
gumushh ih 😂
Puput Regina Putri
dasar pelakor galil adab🤭
Puput Regina Putri
uhuk..uhuk..auto bucin
Puput Regina Putri
ea ..ea..ea ...😂
Puput Regina Putri
oh ayolah istri sadarlah klo udah ada prasaan Cinta atw syng gtu
Puput Regina Putri
lanjutkan Thor..mudah"udah tumbuh prasaan cinta nyah buat istri nya nyaman
Puput Regina Putri
emng ada yah penyakit gtu ya Thor 🤭
Puput Regina Putri
kecewa dengan jln fikiran s aya
Puput Regina Putri
SAMAWA yah pengantin 🙏
Puput Regina Putri
cumungut thor
Puput Regina Putri
ngakak thor 😂
Puput Regina Putri
cumungut thor... di tunggu undangan nyah
Puput Regina Putri
aamiin keun zal 😁
Puput Regina Putri
udah terbiasa di panggil nong klo di panggil nma brasa yg manggil nya itu marah yah 😂 sama keg aku gtu biasa di panggil nung klo di panggil nma langsung keg orang sewot 🤭
Puput Regina Putri
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!