Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUBUHKU TAK TERKENDALIKAN
Arnelia dan Bryan masih asyik membicarakan lukisan-lukisan yang mereka kagumi. Sesekali, keduanya kembali mengamati detail goresan pada kanvas, seolah masih menemukan sesuatu yang menarik setiap kali melihatnya.
Setelah cukup lama berdiskusi, mereka akhirnya berunding dengan Bandung mengenai harga ketiga lukisan tersebut.
Bandung menyetujui harga yang mereka tawarkan tanpa banyak tawar-menawar.
Transaksi pun dilakukan melalui ponsel masing-masing. Tak lama kemudian, pembayaran selesai dan ketiga lukisan itu resmi berpindah tangan.
Beberapa saat berselang, Dola dan Deden datang membawa beberapa kotak pizza.
“Halo, Bang! Ini pesanan Pizza Hut-nya,” ujar Dola sambil menyerahkan kotak-kotak tersebut kepada Bandung.
Setelah meletakkan pesanan di meja, Dola dan Deden bersalaman dengan Arnelia serta Bryan.
Bandung memberi isyarat agar mereka menyiapkan tempat untuk makan sekaligus membuatkan kopi bagi para tamu.
Dola segera membawa pizza ke meja di sudut ruangan, sementara Deden pergi mengambil perlengkapan yang dibutuhkan.
“Den, tolong ambil kain, ya. Bungkus tiga lukisan yang tadi sudah dipisahkan itu,” pesan Bandung.
“Siap, Bang.”
Deden segera masuk ke ruangan yang biasa mereka sebut gudang, tempat menyimpan berbagai perlengkapan melukis. Sementara itu, Dola menata pizza dan menyajikan kopi di atas meja kecil yang dikelilingi beberapa bangku.
Setelah semuanya siap, mereka kembali berkumpul di sudut ruangan.
Bryan duduk berhadapan dengan Bandung. Ketika hendak mengambil kopi, pandangannya justru tertuju pada layar komputer di dekat mereka.
Di monitor itu tampak grafik Bitcoin yang bergerak naik turun.
Bryan mengangkat alis.
“Wah, Saudara Bandung main mata uang digital juga, ya?”
Ia bangkit dan mendekati komputer untuk melihat grafik tersebut lebih jelas.
Sebelum Bandung sempat menjawab, Arnelia ikut berdiri. Ia memperhatikan layar monitor, lalu membelalakkan mata ketika melihat angka yang tertera di sana.
“Wah, ini fantastis sekali! Saldo lo udah sampai empat digit dolar?”
Bandung hanya tersenyum santai.
“Ah, itu mah angka-angka doang. Belum tentu ada cuannya.”
Bryan dan Arnelia saling pandang, lalu tersenyum seolah tak sepenuhnya percaya pada jawaban Bandung.
Dari tempat duduknya, Luna hanya memperhatikan mereka. Ia sendiri tidak terlalu memahami apa yang sedang mereka bicarakan.
Bandung kemudian bersandar di kursinya.
“Itu punya gue dari sekitar tahun 2011. Dulu gue pernah jadi sales Bitcoin. Waktu itu harganya masih sekitar satu dolar. Setelah itu, gue nggak pernah fokus lagi ke sana.”
Arnelia langsung menoleh kepada Bryan.
Bryan terdiam sesaat, lalu kembali menatap Bandung.
“Sebentar. Dulu harganya cuma satu dolar, sekarang nilainya sudah sampai empat digit? Kalau kita hitung berdasarkan kenaikan harganya, nominalnya sekarang bisa berapa, coba?”
Bandung hanya tersenyum tipis.
“Gue nggak pernah menghitungnya secara serius.”
Jawaban itu membuat Bryan dan Arnelia kembali bertukar pandang.
Mereka tidak mendesak lebih jauh. Perbincangan kemudian beralih ke dunia seni, koleksi lukisan, dan berbagai pameran yang pernah mereka kunjungi.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Ketika langit mulai gelap, Arnelia dan Bryan akhirnya berpamitan.
Bandung berdiri untuk mengantar mereka sampai ke depan galeri.
“Den, tolong ambilkan mobil mereka, ya. Tadi diparkir di jalan depan gang.”
Deden mengangguk, lalu bergegas keluar.
Beberapa menit kemudian, ia kembali mengendarai sebuah Toyota Fortuner putih. Setelah berhenti di depan galeri, Deden turun dan menyerahkan kunci mobil kepada Arnelia.
“Ini kuncinya, Miss.”
“Makasih, ya, Den.”
Arnelia dan Bryan kembali bersalaman dengan Bandung sebelum masuk ke mobil.
“Terima kasih untuk lukisannya, Bandung. Semoga kita bisa bekerja sama lagi,” ujar Arnelia.
“Dengan senang hati, Miss.”
Mobil itu kemudian melaju meninggalkan gang.
Dola dan Deden pun berpamitan untuk kembali ke basecamp. Setelah memastikan semua tamunya pergi, Bandung masih berdiri beberapa saat di depan galeri, memperhatikan jalanan yang mulai dipenuhi cahaya lampu kendaraan.
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya.
“Bandung.”
Ia menoleh.
Luna berdiri di belakangnya sambil melipat kedua tangan di depan dada.
“Nah, sekarang waktunya lo jelasin ke gue.”
Bandung mengernyitkan dahi.
“Jelasin apa?”
Luna menunjuk ke arah lukisan wajahnya yang masih terpajang di dalam galeri.
“Gimana ceritanya lo bisa bikin lukisan wajah gue?”
Bandung menggaruk kepalanya.
“Udahlah, nggak usah banyak-banyak. Gue juga nggak tahu gimana ceritanya.”
“Enak aja! Masa pelukisnya sendiri nggak tahu?”
“Ya memang begitu kejadiannya.”
Bandung mengeluarkan ponselnya, kemudian mengulurkannya ke arah Luna.
“Sekarang, coba lihat HP lo.”
Luna langsung curiga.
“Mau ngapain lo lihat HP gue?”
“Gue mau kasih komisi buat lo sebagai model lukisan.”
Luna buru-buru menggeleng.
“Nggak usah. Gue nggak butuh-butuh amat, kok!”
“Lah, kok nggak butuh? Lo kan modelnya.”
“Bandung, gue bilang nggak usah!”
Namun, Bandung sudah lebih dahulu mengambil ponsel dari tangan Luna. Ia berniat mengirimkan sejumlah uang sebagai komisi atas lukisan yang terjual.
Luna segera berusaha merebut kembali ponselnya.
“Siniin HP gue!”
“Nggak bisa gitu dong, Luna. Gue nggak mau dibilang curang.”
“Curang apaan? Gue nggak pernah minta jadi model lukisan lo!”
Luna terus berusaha mengambil ponselnya. Bandung pun mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menjauhkan ponsel itu dari jangkauannya.
“Bandung! Turunin!”
“Ambil sendiri kalau bisa!”
Luna mendengus kesal.
Karena tak berhasil meraih ponselnya, ia melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Bandung untuk menjaga keseimbangan, sementara tangan kanannya berusaha menjangkau ponsel tersebut.
Namun, perbedaan tinggi badan mereka membuat Luna kesulitan.
Ia berjinjit, tubuhnya terhuyung, lalu refleks memeluk Bandung agar tidak terjatuh.
Bandung yang tidak siap menerima gerakan mendadak itu ikut kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terdorong ke belakang hingga punggungnya membentur dinding.
Kini mereka berdiri dalam posisi yang sulit dijelaskan.
Luna masih memeluk pinggang Bandung. Sementara itu, kedua tangan Bandung terangkat, berusaha menjaga keseimbangan mereka agar tidak jatuh.
Perlahan, mereka Menyadari betapa dekatnya posisi mereka.
Luna mendongak.
Bandung menunduk.
Tatapan mereka bertemu.
Tiba-tiba, semua suara di sekitar mereka seolah menghilang.
Bandung merasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia mencoba mengatur napas, tetapi justru semakin menyadari betapa dekat wajah Luna dengannya.
Luna pun tak segera melepaskan pelukannya.
Ada sesuatu dalam tatapan Bandung yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan. Untuk beberapa detik, ia bahkan lupa bahwa awalnya ia hanya ingin merebut kembali ponselnya.
Wajah mereka perlahan mendekat.
Bandung sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, mungkin menyuruh Luna mundur atau melontarkan lelucon seperti biasanya.
Namun, kata-kata itu tak kunjung keluar.
Jarak di antara mereka semakin dekat. Luna bahkan bisa merasakan embusan napas Bandung di wajahnya.
Sedikit lagi, bibir mereka akan bersentuhan.
Tepat pada saat itu—
KREK!
Pintu galeri terbuka.
Boril muncul lebih dahulu, diikuti Cenang.
Begitu melihat Bandung dan Luna berpelukan di dekat dinding, Boril langsung membalikkan badan karena terkejut.
Sayangnya, Cenang yang berada tepat di belakangnya tidak sempat menghindar.
Bruk!
Keduanya bertabrakan dan jatuh berdebam di depan pintu.
“Eh, gila lu!” seru Cenang. “Jalan pakai mata, dong! Main tabrak aja!”
Boril buru-buru menempelkan telunjuk ke bibirnya.
“Ssst!”
Ia mengerucutkan bibir, memberi isyarat agar Cenang melihat ke arah Bandung dan Luna.
Cenang menoleh.
Begitu memahami maksud Boril, ia langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
“Ya ampun! Gue nggak lihat apa-apa! Gue nggak lihat apa-apa!”
Mendengar keributan itu, Bandung dan Luna akhirnya tersadar.
Luna buru-buru melepaskan pelukannya, merapikan pakaian, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi tanpa berani menatap Bandung lagi.
Bandung hanya berdeham.
Ia merapikan bajunya, kemudian melangkah menuju meja di sudut ruangan dan duduk. Dengan berusaha setenang mungkin, ia mengambil cangkir kopi dan menyeruputnya.
“Lain kali kalau masuk, ketuk pintu dulu!” tegurnya pelan.
Boril segera bangkit dan membantu Cenang berdiri.
“Maaf, Bang. Boril yang nyelonong duluan.”
Cenang langsung menoleh tajam.
“Lah, kok malah nyalahin gue? Bukannya lu yang dorong-dorong gue tadi?”
“Udah, udah!” Bandung memotong perdebatan mereka. “Yang sudah terjadi biarin aja.”
Ia merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya kepada Boril.
“Nih, komisi buat kalian. Bagi-bagi sama Dola dan Deden.”
Cenang langsung menghampiri Bandung dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Wah, ini uang tutup mulut, ya, Bang?”
Bandung mengangkat tangan seolah hendak memukul kepala Cenang. Namun, senyum di wajahnya menunjukkan bahwa ia hanya bercanda.
“Dasar jambul ayam!”
Ia menyerahkan uang itu kepada Boril.
“Itu komisi karena tadi tiga lukisan terjual.”
Boril menatap lembaran uang di tangannya dengan mata berbinar.
“Banyak juga, Bang!”
Ia mulai menghitungnya.
Bandung mengernyitkan dahi.
“Boril, ngapain lu hitung? Gue aja nggak ngitung waktu ngasih.”
“Ya justru itu, Bang. Makanya gue hitung!”
Cenang tertawa cekikikan.
Boril ikut tertawa, kemudian menyimpan uang tersebut dengan hati-hati.
Bandung kembali merogoh dompetnya. Kali ini, ia mengambil sejumlah uang lain dan menyerahkannya kepada Boril.
“Ini buat Ibu Guru. Tolong kasih ke Luna, ya. Kalau gue yang kasih, pasti dia nolak.”
Boril menerima uang itu, lalu menatap Bandung dengan senyum penuh arti.
“Oalah... buat Ibu Guru, toh?”
Bandung langsung menunjuk wajahnya.
“Boril!”
“Iya, iya! Gue ngerti, Bang!”
Boril dan Cenang kembali tertawa kecil sebelum melangkah menuju ruang belakang.
Mereka memutuskan menunggu Luna keluar dari kamar mandi sebelum berpamitan.
Bandung mengembuskan napas panjang, lalu kembali menyeruput kopinya.
Ia mencoba bersikap biasa saja, tetapi pikirannya masih tertinggal pada kejadian beberapa menit sebelumnya.
Bagaimana bisa jarak antara dirinya dan Luna menjadi sedekat itu?
Dan mengapa, ketika kesempatan itu hampir membuat mereka berciuman, sebagian dirinya justru tidak ingin menjauh?
Bandung menatap cangkir di tangannya, kemudian menggeleng pelan.
“Gawat,” tubuh gue mulai kurang ajar!" gumamnya nyaris tak terdengar.
Di luar galeri, matahari telah tenggelam di balik cakrawala. Cahaya jingga perlahan menghilang, digantikan malam yang mulai menyelimuti bumi.
Namun, bagi Bandung dan Luna, ada sesuatu yang belum ikut tenggelam bersama matahari.
Sesuatu yang semakin sulit mereka abaikan, meskipun keduanya belum benar-benar berani menyebutnya dengan nama.