Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Rumah Sakit
Mobil terus melaju. Tak ada yang memulai percakapan sejak mereka meninggalkan area jembatan, hanya suara deru mesin yang memenuhi di tengah siang yang menyengat. Entah rumah sakit mana yang akan dituju, Ibra hanya tahu satu hal, ia harus membawa Naya menjauh dari kawasan tempat mereka tinggal.
Sudah lebih dari setengah jam mereka berkendara. Berbelok ke kiri, kanan, lurus dan begitu lagi. Keduanya juga sama-sama bungkam, tenggelam dalam pikiran yang kacau di kepala masing-masing.
Sepanjang perjalanan, jemari Naya tak pernah berhenti meremas ujung hoodie hitamnya, memintalnya erat-erat hingga tangannya terasa sakit. Matanya terus menatap kaku ke arah kaca depan, enggan menoleh sedikit pun kepada pria di balik kemudi.
Ibra sendiri hanya fokus mengemudi dengan tatapan lurus ke jalan raya. Kedua tangannya menggenggam lingkar kemudi begitu erat hingga urat-urat di punggung tangannya mencuat jelas.
Beberapa kali Ibra menelan ludah dan mengatupkan bibir saat hendak membuka suara sebab melihat gestur Naya yang begitu tegang serta napasnya yang masih pendek-pendek, Ibra memilih kembali membisu. Ia tak ingin menambah beban gadis itu.
Setelah perjalanan panjang, Ibra akhirnya memarkirkan mobil di pelataran sebuah rumah sakit swasta yang cukup jauh dari pusat kota.
Naya turun sendiri, meski Ibra berniat membukakan pintu untuknya, pria itu hanya bisa menghela napas panjang.
Dengan kepala menunduk dalam-dalam, Naya menaikkan maskernya hingga menutupi sebagian besar wajahnya, juga menarik kupluk hoodie-nya rendah-rendah.
Mereka berjalan berdampingan. Naya terlihat sangat gusar dalam setiap langkahnya, mengikuti langkah Ibra yang lebih tenang di sebelahnya.
"Kamu duduk di sana dulu," bisik Ibra pelan, menunjuk deretan kursi besi di lorong poli Obgyn yang tampak cukup ramai. "Saya mau urus pendaftarannya."
Naya hanya mengangguk tipis tanpa bersuara, lalu berjalan kaku menuju kursi tunggu paling ujung, mengambil tempat di balik pilar besar.
Di ruang tunggu itu, dunia nyata menghantam Naya tanpa ampun. Suara panggilan perawat yang lembut, aroma antiseptik yang khas, serta lalu-lalang pasien lain perlahan masuk ke dalam kesadarannya. Naya bisa melihat wanita-wanita disana, dengan perut-perut besar mereka.
Tak jauh dari tempatnya duduk, ada seorang wanita hamil dengan perut yang baru mulai membuncit, didampingi suaminya. Pria itu sesekali tertawa kecil sambil mengelus perut sang istri. Keduanya tampak berdiskusi hangat sambil memilih jadwal pemeriksaan untuk bulan berikutnya, memegang obat-obatan dan vitamin dengan wajah penuh binar kebahagiaan.
"Tanggal tujuh aja gimana? Sekalian aku ambil cuti, kita jalan-jalan habis periksa."
Sang istri mengangguk antusias. "Mau."
Naya buru-buru mengalihkan pandangannya ke lantai keramik dingin di bawah kakinya.
Dadanya mendadak terasa teremas ngilu. Bukan, bukan karena iri, melainkan karena kesadaran pahit yang tiba-tiba menamparnya. Keberadaannya di tempat ini tidak didasari oleh senyuman, kebahagiaan, atau penantian yang disambut hangat. Ia berada di sini karena sebuah musibah. Ironi bukan?
"Naya."
Suara rendah Ibra mengejutkannya, Naya tersentak. Pria itu sudah kembali membawa berkas pendaftaran dan lembar nomor antrean di tangannya. Ibra berdiri agak menjaga jarak, seolah memahami bahwa berdekatan bisa membuat Naya semakin tidak nyaman.
"Ibu Mala?"
Seorang perawat berseragam putih muncul dari balik pintu ruang periksa.
Naya tersentak pelan. Ia menoleh ke kiri dan kanan, seolah mencari orang lain, yang kemungkinan bernama sama dengan nama depannya. Tapi tidak ada yang bangkit, apakah yang dipanggil adalah dirinya. Tunggu, kalau iya, kenapa begitu cepat? bahkan mendahului orang-orang di sekitarnya?
Sekali lagi perawat memanggil. "Ibu Mala Jinaya."
Oh, ya Tuhan. Itu nama lengkapnya. Dan Naya menoleh pada Ibra yang menganggukinya. Ia ingin bertanya, tapi urung ketika Ibra mempersilahkannya.
Mengikuti, Naya pun berdiri dengan tubuh yang sedikit kaku. Ketika Ibra mengambil langkah untuk mendampinginya masuk, Naya mendadak menahan lengan kemeja Ibra dan menggeleng cepat dengan tatapan memohon.
"Jangan masuk..." bisik Naya amat lirih, hampir tak terdengar. "Tolong... tunggu di luar aja."
Ibra terpaku seketika. Ada rasa asing yang menjalar di dadanya melihat penolakan itu, rasa sakit, pedih, dan sejenisnya, tetapi ia mengangguk paham. Pria itu mundur satu langkah, memberikan ruang.
"Saya tunggu di sini. Kalau ada apa-apa, panggil saya, ya."
Naya mengangguk kecil sebagai respon.
Naya terus mengedipkan matanya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Rasa takut kembali memenuhi dadanya. Dan di dalam ruang periksa yang dingin dan beraroma karbol itu, seorang dokter wanita paruh baya dengan tatapan hangat menyambut Naya dengan ramah.
"Silakan berbaring dulu, Ibu Naya. Kita periksa dengan USG, ya," ujar dokter itu lembut.
Dengan gerakan lambat dan canggung, Naya menaiki tempat tidur periksa. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan melalui perutnya. Dokter kemudian menyingkap sedikit pakaian Naya, mengoleskan dan meratakan gel yang terasa dingin sebelum menempelkan alat transducer di atas perutnya.
Beberapa saat dokter memperhatikan layar, lalu kembali memeriksa dari beberapa sisi. Dikarenakan usia kehamilannya masih sangat dini, gambaran pada layar belum terlihat cukup jelas.
Dokter memperhatikan layar beberapa saat sebelum akhirnya menjelaskan dengan tenang.
"Kehamilannya masih sangat dini, Bu. Dari USG lewat perut, gambarnya belum terlalu jelas. Jadi untuk saat ini kita belum bisa melihat banyak."
Naya menelan ludah.
Dokter kemudian menjelaskan bahwa pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk memastikan lokasi dan perkembangan kehamilannya. Setelah pemeriksaan dilanjutkan, dokter kembali mengarahkan perhatian pada layar monitor.
Naya memejamkan mata rapat-rapat. Jemarinya meremas kain celananya begitu kuat sampai tubuhnya gemetaran.
Dokter yang menyadari gestur itu menatapnya dengan tenang. "Ini kehamilan pertama, ya, Ibu?" tanyanya.
Naya menahan napas, lalu mengangguk kecil setengah ragu. Jemarinya meremas kain celananya, matanya masih setia terpejam, seolah tak ingin melihat kenyataan.
Dua kata itu terasa begitu asing di telinga Naya. Bagi dokter, mungkin itu hanya pertanyaan biasa. Namun bagi Naya, kata “kehamilan pertama” terasa seperti sesuatu yang seharusnya membawa cerita tentang penantian, kebahagiaan, atau setidaknya keinginan. Bukan seperti dirinya kini.
Ini bukan kehamilan yang ia tunggu. Bukan sesuatu yang pernah ia rencanakan. Ini adalah kenyataan yang lahir dari sebuah malam yang bahkan masih terlalu menakutkan untuk ia ingat tanpa gemetar.
Naya menelan ludah, menahan sesak yang kembali merambat di dadanya.
"Wajar kalau tegang begini. Rileks saja, ya. Napasnya pelan-pelan."
"Bisa buka matanya sebentar, Ibu?"
Suara dokter kembali terdengar tenang. Naya mengandalkan sisa keberaniannya untuk membuka mata, melirik takut-takut ke arah layar monitor berwarna hitam abu-abu di samping ranjang. Naya hanya melihat ada pola garis dan bayangan abstrak yang tak ia pahami.
"Nah, ini..." Dokter menunjuk sebuah titik hitam kecil di dalam bayangan rahim pada layar. "Kantung kehamilannya sudah terlihat, Ibu."
Naya menahan napas.
"...ukurannya masih sangat kecil karena kehamilannya memang masih sangat dini."
Kata-kata dokter mulai masuk ke telinga Naya, terputus-putus, seolah terdengar dari jarak yang sangat jauh.
"Kalau dari pemeriksaan ini, usia kehamilannya masih sekitar empat minggu. Masih sangat awal."
Minggu keempat.
Kalimat itu terngiang berulang-ulang di kepala Naya, mengunci seluruh persendiannya.
Empat minggu.
Tanpa sadar, pikirannya mulai menghitung mundur. Mencari satu waktu yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya.
Waktu itu cocok.
Sangat cocok dengan malam yang terus menghantuinya.
Naya memejamkan mata. Tak perlu lagi menghitung terlalu jauh. Ia tahu kapan semua ini bermula.
"Untuk saat ini, embrionya memang belum terlihat. Tapi itu belum tentu berarti ada masalah, ya. Nanti kita lakukan pemeriksaan ulang untuk melihat perkembangannya."
Pandangan Naya mengabur lagi oleh genangan air mata.
Dokter kemudian menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan selama masa awal kehamilan, termasuk anjuran mengonsumsi asam folat dan menjaga kondisi tubuh. Namun, Naya tidak lagi benar-benar mendengarkan.
"Untuk sementara, Ibu bisa mulai konsumsi asam folat. Istirahat yang cukup, makan teratur, dan kalau ada keluhan seperti nyeri hebat atau perdarahan, segera datang kembali ke rumah sakit."
Ia hanya menatap pasrah pada tumpukan tisu yang diberikan perawat untuk membersihkan gel di perutnya.
Naya hanya mengangguk, meski sebenarnya hampir tidak ada satu pun penjelasan dokter yang benar-benar mampu ia cerna. Kata-kata seperti pemeriksaan ulang, perkembangan kehamilan, dan usia kehamilan berputar di kepalanya tanpa membentuk arti yang jelas.
Setelah selesai, Naya duduk perlahan di tepi tempat tidur. Tangannya merapikan hoodie yang tadi tersingkap, seolah dengan menutupi kembali tubuhnya, ia juga bisa menyembunyikan kenyataan yang baru saja dikonfirmasi dokter.
Begitu pintu ruang pemeriksaan terbuka, Naya melangkah keluar dengan langkah pelan. Wajahnya masih pucat, matanya sembap, sementara satu tangannya menggenggam erat lembar hasil pemeriksaan yang baru saja diberikan dokter.
Ibra yang sejak tadi menunggu langsung berdiri melihat presensi Naya dari balik pintu ruang pemeriksaan.
"Naya..."
Pria itu hendak menghampiri, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat wajah gadis itu.
Ibra menatapnya beberapa detik. Ada begitu banyak hal yang ingin ditanyakan, tetapi pada akhirnya hanya satu yang keluar.
"Gimana?" tanyanya pada akhirnya, ketika Naya berjalan tepat di hadapannya.
Naya menghentikan langkah tanpa menjawab. Ia hanya berdiri di hadapan Ibra, perlahan mengangkat pandang, tatapan mereka kembali bertemu.
Mata Naya kembali berkaca-kaca, bibirnya bergetar di balik masker, dan dari cara jemarinya mencengkeram lembar pemeriksaan hingga kusut, itu sudah lebih dari cukup. Cukup untuk memberikan jawabannya.
Ibra tanpa sadar menahan napas. Untuk beberapa detik, tak satu pun dari mereka bergerak, hanya saling bertatap dengan kekacauan yang saling bertabrakan.
Sungguh, siksaan ini begitu berat, bagi keduanya.
Makasih thor lanjut up ya