Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 022 : Penyihir Es dan Racun Kabut Beku
Di dalam goa yang lembap dan pengap, udara terasa berat dipenuhi aura gelap pekat. Elara berdiri tegak, Dengan Drakar dan Gorah yang ada dibelakangnya berdiri. Matanya berkilat penuh ambisi yang tak terpuaskan.
"Apa rencanamu sekarang, Elara?" tanya Drakar pelan, penuh keraguan.
Elara tersenyum dingin. "Kembali ke sana dan merebut Srigala Bangsawan. Mengambil sumber kehidupannya kekuatanku akan bertambah berkali-kali lipat, menjadi tak tertandingi."
Gorah mengerutkan kening, ragu-ragu. "Srigala Bangsawan dilindungi Nazar dan Seraphina. Seraphina sangat kuat, apalagi dia keturunan Srigala Merah Legendaris. Kita tak boleh meremehkannya."
Elara menatap tajam, matanya berkilat penuh ambisi. "Seraphina sedang tak ada di sana. Ini peluang emas merebutnya, Kita bergerak sekarang sebelum dia kembali."
Seraphina dan Kaelan yang sudah pulih melanjutkan perjalanan jauh ke dalam hutan menuju sumber kehidupan Morgarth. Semakin dalam mereka melangkah, semakin dingin dan sunyi suasana, seolah hutan sendiri sedang menahan napas.
"Kaelan, kita makin masuk ke dalam. Harus lebih berhati‑hati," ucap Seraphina pelan namun tegas sambil memindai sekeliling. "Semakin dalam kita masuk hutan, semakin kuat dan berbahaya musuh yang akan kita hadapi."
"Aku mengerti, Tuan Putri. Aku akan tetap waspada," jawab Kaelan mantap, tangannya erat mencengkeram gagang pedang.
Langkah mereka terhenti di wilayah yang diselimuti kabut es tebal. Angin kencang membawa butiran salju menusuk kulit; suhu jatuh drastis, napas pun berubah uap putih.
“Sangat dingin di sini, seolah musim dingin abadi,” ucap Kaelan sambil menggosok kedua tangan.
Seraphina mengerutkan kening waspada: “Benar. Sepertinya ada Penyihir Es yang menjaga tempat ini. Tetap waspada, jangan lengah sedetik pun.”
Seraphina baru melangkah maju menembus kabut es, tiba‑tiba cahaya biru menyambar kilat! “Jurus Tombak Kabut Beku!” Ia sigap melompat mundur, serangan lewat beberapa senti dari lengan dan menghantam pohon di belakangnya, yang seketika membeku keras membatu.
“Kaelan, hati‑hati! Tetap fokus! Musuh menyerang dari kegelapan!” serunya tegas.
Belum sempat mencari sumber serangan, gelombang dingin tajam kembali melesat ke arah Kaelan! Ia berusaha menangkis namun terlambat,serangan menghantam lengan kirinya. Darah segar memancar, lalu perlahan berubah kebiruan gelap yang merambat menyebar.
"Astaga, Kaelan kamu terluka!" Seraphina segera berlari mendekat, wajahnya pucat pasi. "Darahnya biru… beracun!" Tanpa ragu ia merobek ujung bajunya, lalu mengikat lengan Kaelan rapat tepat di atas luka. "Tahan sebentar, aku akan menahan racunnya agar tak menyebar."
Kaelan mengertakkan gigi menahan nyeri hebat. "Jangan khawatirkan aku… selesaikanlah musuhmu."
Seraphina mengangguk pelan, memejamkan mata sejenak lalu memfokuskan seluruh kesadarannya. Di tengah kabut es yang pekat itu, ia merasakan denyut lemah namun jahat yang sedang bersembunyi.
"Ketemu," bisik Seraphina dingin. Ia membuka mata, menatap lurus ke dalam kabut kosong. Di sana melayang perlahan sesosok wanita tua berjubah putih kebiruan, tubuhnya samar dan transparan.
"Rasakan ini, nenek tua!" Seraphina mengumpulkan tenaga, bola cahaya merah menyala terbentuk di kedua telapak tangannya, lalu melemparnya sekuat tenaga! Terjadi ledakan hebat, dan wanita tua itu terpental jatuh keras ke tanah. Tubuhnya yang tadinya samar kini sepenuhnya nyata, tak lagi transparan.
"Ha ha ha... ternyata kau tak bisa diremehkan, gadis kecil," ucap penyihir tua itu sambil bangkit perlahan, suaranya serak dan dingin. Matanya yang biru pucat menatap tajam ke arah Seraphina.
"Itulah akibatnya berani menyerang diam‑diam." jawab Seraphina tegas penuh amarah, melangkah maju mendekati penyihir itu. Sekarang serahkan penawar racun untuk temanku! Atau aku buat kau menyesal pernah lahir ke dunia!
Penyihir Es tertawa pendek, suaranya bagai es saling bergesekan pecah. "Namaku Morrina. Ketahuilah… tak ada penawarnya. Itu Racun Kabut Beku. Sebar ke seluruh tubuh dalam satu jam, lalu temanmu mati perlahan membeku kesakitan."
Seraphina mengepal erat hingga buku jari memutih, amarah membakar dadanya. Tanpa ragu ia melesat menyerang Morrina dengan sekuat tenaga setiap serangan penuh amarah dan tekad menyelamatkan Kaelan.
Morrina tak diam: ia melambaikan tangan, dinding es muncul melindunginya, lalu membalas dengan rentetan tombak es yang tak putus. Pertarungan baru saja dimulai, namun waktu terus berlalu, mendekati batas satu jam yang berarti nyawa Kaelan semakin terancam