NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

"Kami juga tidak sudi bertemu dengan kamu lagi! Cuih!" Rania meludah ke arah trotoar, tepat di dekat kaki Calista.

Ratna mendengus puas. "Ayo, Ran." "Kita buang-buang waktu saja meladeni perempuan seperti dia."

Keduanya berbalik menuju mobil mewah yang terparkir di pinggir jalan. Mesin mobil kembali menyala. Tak lama kemudian kendaraan itu melaju meninggalkan trotoar, menyisakan debu tipis dan tatapan sinis dari beberapa orang yang masih menyaksikan kejadian tersebut.

Calista masih berjongkok. Tangannya bergetar saat merapikan kembali berkas-berkas lamarannya. Beberapa lembar sudah kusut. Sebagiannya bahkan terkena noda dari genangan air di pinggir jalan. Ia mengembuskan napas panjang.

Air mata kembali menetes tanpa mampu ia bendung. "Ayah..." bisiknya lirih. "Calista capek...."

Namun ia segera mengusap wajahnya. Tidak. Ia tidak boleh menyerah. Perlahan Calista berdiri. Baru saja ia hendak melangkah, hembusan angin kembali menerbangkan satu lembar berkas miliknya.

"Kertasnya...!" Calista refleks mengejar. Namun sebelum sempat meraihnya, sebuah tangan lebih dulu menangkap lembaran itu.

Calista menghentikan langkahnya. Ia mengangkat wajah perlahan.

Di hadapannya berdiri seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi. Berpakaian rapi dengan setelan jas berwarna abu-abu gelap. Jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya.

Di belakangnya terparkir sebuah sedan hitam yang tampak elegan. Namun yang paling mencolok bukanlah penampilannya. Melainkan sorot matanya. Tenang. Dan penuh rasa prihatin.

Pria itu melihat sekilas isi map yang berada di tangannya. "Lampiran lamaran kerja?"

Calista buru-buru mengambil kembali berkas tersebut dengan sopan. "Iya... terima kasih."

Pria itu memperhatikan wajah Calista beberapa saat. Rambutnya masih sedikit berantakan. Mata perempuan itu sembap.

Bekas air mata masih terlihat jelas. Bahkan jemarinya masih bergetar ketika menerima kembali berkas itu.

"Kamu tidak apa-apa?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Calista terdiam. Sudah sangat lama... Tidak ada seorang pun yang menanyakan keadaan dirinya.

Ia memaksakan seulas senyum. "Saya baik-baik saja."

Pria itu tidak langsung percaya. Tatapannya sempat beralih ke arah mobil Ratna yang mulai menghilang di kejauhan. Ia jelas melihat sebagian keributan tadi. Meski tidak mengetahui persoalan sebenarnya.

"Saya rasa..." ucapnya pelan, "...barusan bukan kejadian yang bisa disebut baik-baik saja."

Calista menundukkan kepala. "Maaf. Saya tidak bermaksud merepotkan siapa pun."

Pria itu menggeleng pelan. "Kamu tidak merepotkan." Ia mengulurkan sebuah sapu tangan bersih. "Kalau berkenan... Gunakan untuk mengeringkan air mata."

Calista menatap sapu tangan itu beberapa detik. Lalu menggeleng halus. "Terima kasih. Tapi saya tidak apa-apa."

Pria itu tersenyum tipis. Ia tidak memaksa. "Kalau begitu... Saya harap hari kamu membaik."

Calista menundukkan kepala sopan. "Terima kasih." Ia menggenggam mapnya lebih erat, lalu melangkah pergi.

Tidak ada lagi yang ia katakan. Tidak ada pula usaha untuk memperpanjang percakapan. Saat ini, pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Mencari pekerjaan. Ia harus bertahan hidup. Ia tidak punya siapa-siapa lagi.

Pria itu memperhatikan punggung Calista yang perlahan menjauh di antara keramaian trotoar. Entah kenapa... Kakinya seolah enggan bergerak. Padahal selama ini ia bukan tipe orang yang mudah tertarik pada seseorang.

Apalagi hanya karena pertemuan singkat. Namun perempuan itu berbeda. Bukan karena kecantikannya. Meski ia mengakui wajah Calista memang sangat menawan. Melainkan karena ketegaran yang ia lihat. Ia baru saja dipermalukan di depan banyak orang.

Matanya masih sembab.

Tangannya masih gemetar.

Tetapi ia tetap berdiri.

Tetap berjalan.

Seolah tidak memberi izin kepada hidup untuk menghancurkannya.

Pria itu mengembuskan napas pelan. "Aneh." gumamnya. "Aku bahkan tidak tahu namanya."

Seorang pria lain yang sedari tadi berdiri di dekat mobil mendekat. "Pak Arga?"

Pria itu menoleh.

Asistennya, Dimas. "Rapat jam sembilan sebentar lagi dimulai."

Arga mengangguk. "Ya."

Namun tatapannya masih sempat mengikuti sosok Calista yang kini semakin jauh.

"Bapak mengenalnya?" tanya Dimas.

Arga menggeleng. "Tidak."

"Lalu kenapa memperhatikannya terus?"

Arga tersenyum tipis. "Tidak tahu."

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun sibuk dengan dunia bisnis...

Ia benar-benar tidak tahu jawaban pertanyaan itu.

*

Satu jam kemudian.

Calista berdiri di depan sebuah gedung tinggi yang menjulang megah. Gedung itu tampak begitu modern. Dinding kacanya berkilauan terkena sinar matahari pagi. Calista menelan ludah. Tangannya sedikit berkeringat.

Inilah perusahaan yang sejak semalam ia incar. Salah satu perusahaan terbesar di kota. Kesempatannya mungkin kecil. Namun ia tetap ingin mencoba. Ia menatap papan nama perusahaan itu beberapa saat. Lalu menarik napas panjang.

"Bismillah." bisiknya pelan. Setelah itu ia melangkah masuk.

Di lantai paling atas gedung yang sama. Ruang kerja utama tampak begitu luas. Jendela kaca membentang dari lantai hingga langit-langit. Memperlihatkan panorama kota dari ketinggian.

Arga baru saja memasuki ruangannya. Ia meletakkan jasnya di kursi. Kemudian membuka beberapa dokumen yang harus ia periksa hari itu. Namun baru beberapa menit bekerja... Pikirannya kembali teringat pada perempuan di trotoar tadi.

Mata sembab itu.

Senyum yang dipaksakan itu.

Dan suara lirihnya ketika berkata,

"Saya baik-baik saja."

Padahal jelas-jelas tidak.

Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.

Tok.

Tok.

Tok.

"Masuk."

Dimas masuk sambil membawa beberapa berkas.

"Pak. Ada kandidat walk-in interview yang datang pagi ini."

Arga mengangguk tanpa terlalu memperhatikan. "Taruh saja."

Namun saat Dimas meletakkan map paling atas... Sebuah foto identitas kecil yang menempel di berkas tersebut menarik perhatian Arga. Tangannya langsung berhenti. Keningnya berkerut.

"Sebentar."

Dimas berhenti.

Arga mengambil map itu. Matanya membelalak kecil. Foto itu... Perempuan yang tadi. Perempuan di trotoar. Perempuan yang baru saja dipermalukan.

Arga membuka halaman pertama. Nama yang tertulis membuatnya akhirnya mengetahui identitas wanita tersebut.

Calista.

Arga membaca nama itu perlahan. Seolah sedang mengingatnya.

"Dia melamar di sini?" tanyanya.

Dimas mengangguk. "Iya, Pak."

"Baru datang sekitar tiga puluh menit lalu."

Arga kembali menatap foto Calista. Lalu tanpa sadar mengingat map yang dipeluk erat oleh perempuan itu tadi.

Jadi... Berkas yang berusaha ia selamatkan sejak pagi ternyata ditujukan untuk perusahaan ini. Untuk perusahaan miliknya. Untuk perusahaan yang ia pimpin sebagai CEO.

Arga menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya masih tertuju pada foto kecil tersebut. Sementara di lantai bawah... Calista sedang duduk di ruang tunggu bersama puluhan pelamar lainnya.

Sama sekali tidak menyadari bahwa pria asing yang menolongnya di trotoar tadi...

Adalah seorang CEO perusahaan tempat ia sedang melamar pekerjaan.

*

Di tempat lain... Pagi yang biasanya menjadi awal rutinitas Danis Arganta, kini terasa begitu berbeda. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 06.15.

Namun Danis masih terduduk di tepi ranjang. Ia belum berganti pakaian. Belum mandi. Bahkan sejak membuka mata satu jam yang lalu, posisinya hampir tidak berubah. Tatapannya kosong mengarah ke sisi ranjang sebelah kiri.

Sisi yang selama beberapa bulan terakhir selalu ditempati Calista.

Kini... Kosong. Spreinya telah rapi. Bantalnya sudah tidak ada.

Lemari di sudut kamar juga tampak lengang. Beberapa gantungan baju yang dulu terisi pakaian Calista kini hanya bergoyang pelan tertiup angin dari pendingin ruangan.

Danis mengembuskan napas panjang. Entah sudah berapa kali ia melakukan itu sejak semalam. Tangannya meraih ponsel. Tanpa sadar ia membuka galeri. Di sana tidak ada satu pun foto Calista.

Memang sejak awal ia tidak pernah tertarik mengabadikan momen bersama perempuan itu.

Yang ada justru foto-foto proyek perusahaan, dokumen, dan beberapa gambar bersama rekan bisnis.

Danis mengusap wajahnya kasar. "Apa yang sebenarnya aku cari...?" gumamnya lirih.

Ia sendiri tidak tahu.

Tok...

Tok...

Tok...

"Mas."

Suara pembantu rumah tangga terdengar dari balik pintu.

"Mas Danis... sarapannya sudah siap."

Danis tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian ia berdiri. Langkahnya pelan menuju lantai bawah. Ruang makan sudah dipenuhi Ratna dan Rania. Begitu melihat Danis datang, Ratna langsung tersenyum.

"Nah, itu anak Mama. Duduk. Sari nanti juga datang."

Langkah Danis langsung terhenti. "Sari?"

"Iya." Ratna tersenyum lebar. "Kalian harus bicara baik-baik. Dia tadi telepon Mama. Dia masih menangis semalaman."

Danis menatap ibunya datar. "Ma."

Ratna masih terus berbicara. "Perempuan itu benar-benar tulus sama kamu. Kamu cuma salah paham. Kamu juga terlalu emosian."

Belum selesai Ratna berbicara... Danis memotong.

"Dia tidak akan datang."

Ratna mengernyit. "Maksudnya?"

"Aku sudah mengakhiri semuanya."

Suasana ruang makan langsung sunyi.

Rania meletakkan sendoknya. "Danis, jangan keras kepala."

"Aku serius."

Ratna mulai kehilangan kesabaran. "Kalau cuma karena satu kesalahpahaman—"

"Bukan salah paham." Suara Danis terdengar dingin. "Aku melihatnya sendiri."

Ratna masih ingin membantah.

Namun Danis sudah tidak ingin memperpanjang pembicaraan. Ia menarik kursi. Duduk.

Pelayan meletakkan sepiring roti panggang di depannya.

Danis menatap makanan itu cukup lama. Lalu... Entah kenapa. Pikirannya melayang pada pagi-pagi sebelumnya.

Pagi itu...

"Mas..." Suara lembut Calista selalu membangunkannya. "Sarapan sudah siap."

Saat ia turun... Meja makan selalu tertata rapi. Secangkir kopi hitam kesukaannya selalu mengepul hangat. Roti sudah dipanggang dengan tingkat kematangan yang ia sukai. Tak pernah sekalipun Calista terlambat menyiapkan semuanya.

Namun... Danis tak pernah benar-benar memperhatikannya.

Yang ia lakukan hanya duduk.

Makan.

Lalu pergi ke kantor. Bahkan ucapan terima kasih pun nyaris tak pernah keluar dari bibirnya.

Dan sekarang Danis benar-benar menyesal!

1
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Herman Lim
jgn hamil aja nanti Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
rupanya semesta alam belum merestui Danis bertemu Calista 🥺... tetap semangat ya Danis temukan Calista dan minta maaf,
partini
sedikit lagi bertemu tapi ga jadi macam sinet indo gumussss
Eva Karmita
ayo terus cari Calista Denis semangat 🔥💪🥰
partini
Danis tuh cari Calista mau minta rujuk
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
partini
udah di buang sekarang di cari mejilat ludah sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!