Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Pagi tanggal sembilan Juli, Kiana kembali ke Vila Lim sebelum matahari naik terlalu tinggi.
Kali ini Mama tidak menunggunya di ruang kerja kecil.
Bi Lan hanya membuka pintu samping, lalu menunjuk pelan ke arah belakang rumah. "Nyonya di taman belakang. Pak Hendro belum pulang dari Surabaya. Pak Wang juga disuruh mengantar barang ke rumah lama, jadi area belakang kosong."
Kiana mengangguk. Sejak kemarin, rumah itu terasa seperti tempat yang sama sekali berbeda. Dulu setiap langkah di Vila Lim selalu seperti diawasi oleh bayangan Papa. Hari ini, lorong yang sama justru penuh bisik-bisik kecil orang yang diam-diam memilih berdiri di sisi Mama.
Taman belakang masih basah oleh sisa embun. Kolam ikan memantulkan langit pucat, sementara bunga kamboja jatuh satu-satu ke atas batu pijakan. Lily duduk di kursi rotan di bawah pergola, mengenakan cardigan tipis warna krem. Di depannya ada teko teh melati, dua cangkir kecil, dan sebuah foto lama yang ditutup telapak tangannya.
"Kia," panggil Mama.
Nada itu membuat Kiana langsung tahu, pembicaraan hari ini bukan tentang angka rekening.
Ia duduk di sebelah Mama. "Mama sudah sarapan?"
"Sedikit."
"Itu jawaban yang biasanya berarti belum."
Bibir Lily bergerak seperti hendak tersenyum, tetapi gagal. Ia menuangkan teh untuk Kiana, lalu menatap jalan setapak di depan mereka. "Mama ingin cerita soal Hansen."
Nama itu jatuh di antara bunyi air kolam.
Kiana tidak menyela.
Lily membuka telapak tangannya. Foto lama itu memperlihatkan dua anak muda di halaman kampus. Perempuan dalam foto jelas Mama, jauh lebih muda, rambutnya tergerai sampai bahu, wajahnya tidak seanggun sekarang tetapi lebih hidup. Di sampingnya berdiri seorang pria berkacamata tipis, kurus, dengan senyum yang membuat wajahnya tampak terlalu lembut untuk dunia bisnis.
"Hansen Lim," kata Lily pelan. "Kami tumbuh di lingkungan yang sama. Keluarga jauh, bukan saudara dekat. Dulu semua orang bilang kami hanya teman kecil. Tapi saat kuliah, dia orang pertama yang membuat Mama merasa hidup Mama bukan hanya daftar kewajiban."
Kiana menatap foto itu. Ada sesuatu yang menyakitkan dalam cara Mama menyentuh sudut kertas, seolah takut satu tekanan saja bisa merusak masa muda yang tersisa.
"Dia tahu Mama suka menggambar," lanjut Lily. "Dia suka membongkar mainan robot, Mama suka membuat bentuknya. Kami pernah menggambar konsep robot kecil untuk menemani anak-anak di rumah. Namanya BoBo. Konyol sekali kalau dipikir sekarang."
"Tidak konyol," kata Kiana lembut.
Lily menunduk. "Waktu itu Mama belum menjadi istri siapa pun. Belum menjadi nyonya rumah. Belum menjadi ibu. Hanya Lily."
Kalimat itu pendek, tetapi Kiana merasakan dadanya seperti ditekan.
Selama ini Mama selalu hadir sebagai Mama. Perempuan yang memastikan supnya hangat, pakaian Kiana rapi, keluarga tidak pecah di meja makan. Kiana hampir lupa, sebelum menjadi tempat pulang orang lain, Mama juga pernah punya dirinya sendiri.
"Keluarga tidak setuju?" tanya Kiana.
Lily menggeleng pelan. "Keluarga Hansen ingin dia pergi ke luar negeri. Keluarga Mama ingin Mama menikah dengan orang yang bisa dikendalikan, orang yang tidak membuat Mama terlalu jauh dari Bintang Grup. Lalu Hendro datang. Sopan, rajin, tahu cara menyenangkan Engkong."
Nama Papa membuat suara Mama mengering.
"Mama dipaksa menikah dengan Papa?"
"Dipaksa secara halus." Lily tersenyum tanpa bahagia. "Di keluarga seperti kita, paksaan sering tidak perlu suara keras. Cukup satu meja makan penuh orang tua yang bilang, perempuan baik tidak mengecewakan keluarga."
Kiana menatap cangkirnya. Teh melati di dalamnya masih bening, tetapi tangannya terasa dingin.
"Hansen pergi?" tanyanya.
"Pergi. Mama menikah. Setelah itu kami tidak pernah benar-benar bicara lagi." Lily menarik napas, panjang dan patah di ujungnya. "Sampai hari Bu Loe kecelakaan."
Kiana mengangkat wajah.
Nama Mendiang Bu Loe selalu membawa udara lain. Duka keluarga Loe, tuduhan Jovian, kebencian yang dilemparkan pada Mama selama bertahun-tahun, semuanya berputar kembali ke satu hari itu.
Lily meremas ujung cardigan.
"Hari itu Hansen menghubungi Mama. Nomornya asing, tapi suaranya... Mama langsung tahu. Dia bilang ada hal penting yang harus disampaikan langsung. Tidak bisa lewat telepon. Dia juga bilang, jangan beri tahu Hendro."
"Kenapa tidak boleh tahu Papa?"
"Mama tidak tahu. Mungkin karena Hansen tahu Hendro tidak suka namanya. Mungkin karena hal itu memang berhubungan dengan Hendro." Lily menelan ludah. "Mama bodoh, Kia. Mama seharusnya menolak. Mama sudah menikah, punya anak, punya rumah. Tapi saat mendengar suaranya, Mama ingin tahu. Sekali saja, Mama ingin tahu kenapa masa lalu tiba-tiba mengetuk lagi."
"Mama tidak bodoh."
Lily tidak seperti mendengar. Matanya memerah, tetapi ia terus berbicara seperti orang yang sudah terlalu lama menahan air di balik pintu.
"Bu Loe yang datang hari itu. Dia dan Mama tidak terlalu dekat, tapi dia baik. Dia tahu Mama gelisah. Dia bilang, kalau Mama pergi sendiri, orang rumah akan curiga. Dia akan mengantar Mama sebentar, lalu pergi belanja sambil menunggu."
Jari Kiana mencengkeram cangkir.
"Mendiang Bu Loe mengantar Mama untuk bertemu Om Hansen."
Lily mengangguk.
"Kami sampai di sebuah kafe kecil dekat Kebayoran. Hansen belum datang. Bu Loe menerima telepon, katanya ada urusan mendadak. Dia minta Mama menunggu di kafe, lalu dia pergi sebentar. Mama menunggu hampir satu jam. Hansen tidak muncul. Bu Loe juga tidak kembali."
Angin lewat di taman belakang, menggoyang daun kamboja. Suaranya terlalu pelan untuk menutup getar napas Mama.
"Lalu kabar kecelakaan datang."
Kiana memejamkan mata sesaat.
Potongan ingatan kehidupan sebelumnya kembali menusuk, hujan deras, lampu sirene, suara orang berteriak di lokasi jatuhnya pesawat. Seorang pria paruh baya berdiri basah kuyup, matanya merah, memaksa tim penyelamat mencari Mama lebih lama saat semua orang sudah mulai kehilangan harapan.
Waktu itu Kiana hanya mengira dia keluarga jauh.
Sekarang wajah pria itu mulai bertemu dengan foto di atas meja.
Hansen Lim.
"Sejak hari itu, Mama selalu berpikir kalau Mama tidak pergi menemui Hansen, Bu Loe tidak akan ada di jalan itu." Suara Lily pecah. "Kalau Mama tidak menyembunyikan pertemuan itu, mungkin dia tidak akan mati. Jovian membenci Mama. Mungkin dia memang punya alasan membenci Mama."
"Tidak."
Kiana meletakkan cangkir, lalu menggenggam tangan Mama.
Lily menoleh. Air mata akhirnya jatuh, satu garis bening di pipinya.
"Kia..."
"Kecelakaan itu bukan Mama yang rencanakan. Mama tidak menyuruh mobil itu menabrak. Mama juga tidak membuat Bu Loe menerima telepon dan pergi sendiri." Kiana menahan suaranya tetap lembut, tetapi setiap kata ia letakkan dengan tegas. "Rasa bersalah Mama mungkin nyata, tapi rasa bersalah bukan bukti kesalahan."
Lily menangis tanpa suara.
Kiana mengusap punggung tangan Mama dengan ibu jarinya. "Kalau ada orang yang memakai pertemuan itu untuk menjebak Mama, maka orang itu yang bersalah. Kalau ada orang yang sengaja membuat Bu Loe berada di jalan itu, orang itu yang harus dicari. Mama tidak boleh menghukum diri sendiri menggantikan penjahatnya."
"Tapi Bu Loe mati, Kia."
"Dan Mama juga hampir mati berkali-kali karena rasa bersalah itu." Kiana menatap foto Hansen, lalu kembali pada Mama. "Om Hansen menghubungi Mama karena ada hal penting. Dia tidak muncul. Bu Loe menerima telepon lalu pergi. Itu bukan kebetulan sederhana."
Lily mengangkat wajah perlahan.
"Kamu pikir..."
"Kia pikir kita harus mencari tahu. Bukan untuk membuka luka Mama, tapi untuk menutup mulut orang yang memakai luka itu sebagai pisau."
Untuk pertama kalinya pagi itu, Lily menarik napas sampai dadanya benar-benar terisi. Tangannya masih gemetar, tetapi genggamannya pada Kiana menguat.
"Mama tidak tahu Hansen sekarang di mana. Setelah kecelakaan itu, nomor itu tidak bisa dihubungi. Beberapa tahun kemudian, Mama dengar dia membangun perusahaan robotik di luar negeri. Lalu kabarnya hilang lagi."
"DeepBlue?" tanya Kiana, karena nama itu terlintas dari laporan teknologi lama yang pernah ia baca.
Lily terdiam.
Kiana melihat jawabannya bahkan sebelum Mama bicara.
"Mama tidak pernah berani memastikan," bisik Lily. "Nama itu terlalu mirip mimpi yang pernah kami gambar bersama."
BoBo. DeepBlue. Lily.
Kiana tiba-tiba merasa semua yang tampak seperti masa lalu ternyata masih bergerak diam-diam di bawah tanah, menunggu hari untuk muncul.
Sore tanggal sepuluh Juli, Kiana kembali ke Navara Tech dengan mata sedikit sembap tetapi langkah lebih stabil.
Fang sudah menunggunya di ruang rapat kecil dengan laptop terbuka dan tiga folder dokumen.
"Bu Kiana, update dari Vista Home sudah masuk," kata Fang. Nada suaranya kembali rapi seperti biasa, tetapi matanya langsung menangkap wajah Kiana yang lelah. Ia berhenti setengah detik. "Perlu saya jadwalkan ulang?"
"Tidak. Lanjut."
Fang tidak bertanya lagi. Itu salah satu alasan Kiana mempertahankannya. Ia tahu kapan harus menjadi asisten, kapan harus menjadi tembok.
"Demo Langit AI untuk modul smart home diterima sangat baik oleh tim teknis Vista Home. Mereka minta dua revisi minor di dashboard, tapi approval internal sudah masuk tahap legal review. Kalau tidak ada perubahan, kontrak implementasi awal bisa keluar minggu depan."
Kiana membuka folder pertama. Diagram sistem yang kemarin mereka presentasikan tampak bersih, rapi, dan hidup. Fire safety warning integration masih menjadi inti, kecil tapi kuat, seperti benang merah yang menghubungkan pekerjaan Hans dengan masa depan Navara Tech.
"Bagus. Revisi dashboard kasih ke Lina, tapi semua akses repository tetap lewat kamu."
"Siap."
Kiana membuka folder kedua. Kali ini bukan dokumen Vista Home, melainkan salinan wasiat Engkong, akta pernikahan Catatan Sipil, struktur saham Bintang Grup, dan daftar komisaris yang harus hadir dalam RUPS.
Fang menatap dokumen itu. "Mulai disusun sekarang?"
"Harus. Vista Home menyelamatkan Navara Tech, tapi medan utama tetap Bintang Grup." Kiana menunjuk pasal yang diberi stabilo kuning. "Klausul Engkong jelas. Setelah menikah sah, aku berhak mengaktifkan warisan empat puluh persen saham. Papa menunda proses dengan alasan administrasi. Kita balas dengan administrasi yang tidak bisa dia bantah."
"Pengacara Tjen sudah dapat salinan?"
"Malam ini."
Fang mencatat cepat. "Saya siapkan timeline RUPS, daftar notaris, dan dokumen pendukung. Untuk konflik kepentingan Pak Hendro, apakah bukti transfer kemarin dimasukkan?"
"Belum. Itu senjata lain." Kiana menutup folder pelan. "Untuk RUPS, kita pakai hak waris dulu. Biar Papa datang dengan wajah tenang, lalu menyadari kursinya sudah tidak setinggi yang dia kira."
Fang mengangguk. Ada kilatan singkat di matanya, semacam rasa hormat yang ia sembunyikan terlalu cepat.
Setelah ia keluar, ruang rapat menjadi sunyi.
Kiana duduk sendirian di depan tiga folder yang berbeda, Vista Home, RUPS, dan catatan pribadi yang ia tulis dengan tinta hitam.
Di halaman paling atas, ia menulis tiga nama.
Mendiang Bu Loe.
Lily.
Hansen Lim.
Lalu di bawahnya, satu pertanyaan yang sejak pagi tidak mau pergi.
Apa yang hendak Om Hansen katakan pada Mama hari itu?