NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22 - Anak Siapa

"Saya mau pulang."

Itu kalimat pertama Naya setelah infus dilepas.

Arkan berdiri di depan pintu ruang rawat, jasnya sudah kusut, mata merah karena tidak tidur. Ia tidak bergeser.

"Dokter bilang kamu harus observasi."

"Dokter juga bilang saya boleh jalan."

"Jalan di koridor, bukan pulang."

Naya mengambil tas kecil dari meja. Vitamin kehamilan yang baru diberikan dokter masih terbungkus plastik. Ia memasukkannya ke dalam tas seperti memasukkan barang milik orang lain.

Arkan melihatnya.

"Kamu mau apa dengan anak itu?"

Gerakan Naya berhenti.

"Anak itu ada di tubuh saya."

"Aku tidak bilang sebaliknya."

"Tapi Bapak sudah bertanya seperti pemilik."

Arkan menahan napas. "Aku bertanya karena aku ada malam itu."

Naya menoleh tajam.

Matanya membuat Arkan menyesal sebelum kalimatnya selesai.

"Malam itu tidak memberi Bapak hak untuk mengatur hidup saya."

"Aku tidak akan membiarkan kamu mengambil keputusan karena takut pada Rania."

"Saya takut pada kalian semua."

Pintu terbuka sedikit.

Raka muncul. "Pak, Bu Rania masih menunggu di lobi. Bu Mira membawa wartawan infotainment. Katanya ingin menanyakan kabar kehamilan."

Naya tertawa pendek.

"Lihat? Bayi bahkan belum punya detak jantung yang bisa saya dengar, tapi sudah jadi bahan perang."

Arkan menatap Raka. "Usir wartawan. Kalau Bu Mira menolak, laporkan pelanggaran privasi pasien."

"Baik."

Raka pergi.

Naya memanfaatkan celah itu untuk berjalan keluar lewat pintu samping.

Arkan mengikutinya.

"Naya."

"Jangan ikuti saya."

"Kamu mau ke mana?"

"Klinik."

Arkan berhenti.

Satu kata itu cukup.

"Klinik apa?"

Naya tidak menjawab.

Ia turun lift ke lantai dasar, keluar dari gedung utama, lalu berjalan ke area taksi online. Hujan rintik jatuh di halaman rumah sakit. Rambutnya cepat basah, tetapi ia tidak peduli.

Arkan mengejarnya dan menarik tangannya.

Naya langsung menepis. "Jangan pegang!"

Arkan melepas.

"Kamu mau menggugurkan kandungan?"

Beberapa orang menoleh.

Naya menatapnya dengan wajah pucat.

"Pelankan suara."

"Jawab."

"Saya mau konsultasi."

"Konsultasi apa?"

"Apakah saya sanggup melahirkan anak di tengah keluarga yang mencuri dua anak saya sebelumnya."

Arkan terdiam.

Hujan makin rapat.

Naya mengusap air dari wajahnya. "Bapak pikir saya kejam? Saya juga berpikir begitu. Tapi saya tahu bagaimana rasanya melahirkan, lalu bangun tanpa bayi. Saya tahu bagaimana rasanya dipaksa percaya anak saya mati. Saya baru menemukan Rayyan mungkin anak saya, Lila masih takut suara pintu, dan sekarang ada bayi lain yang bisa kalian rebut dengan surat, uang, dan nama keluarga."

"Tidak akan."

"Bapak tidak bisa janji."

"Aku bisa."

"Empat tahun lalu Bapak juga tidak tahu apa-apa, tapi nama Bapak tetap menjadi rumah tempat kebohongan hidup."

Arkan seperti dipukul.

Taksi yang dipesan Naya berhenti di depan lobi.

Ia masuk.

Arkan membuka pintu sisi lain dan ikut masuk.

Sopir terkejut. "Pak?"

"Jalan," kata Naya dingin.

"Ke klinik yang kamu tulis?" tanya sopir.

Arkan melihat layar ponsel sopir. Nama kliniknya membuat rahangnya mengeras. Bukan rumah sakit besar. Sebuah klinik kecil di pinggir Jakarta yang terkenal melayani pasien tanpa banyak pertanyaan.

"Batalkan," kata Arkan.

Naya menoleh. "Ini perjalanan saya."

"Saya bayar dendanya," kata Arkan pada sopir. "Turunkan kami."

Sopir bingung, tetapi aura Arkan terlalu kuat. Ia menepi.

Naya keluar lebih dulu, hujan membasahi bajunya.

"Bapak selalu begitu. Memutuskan. Membayar. Mengira semua selesai."

"Klinik itu ilegal dan berbahaya."

"Saya tahu."

"Kalau kamu tahu, kenapa?"

Naya menatapnya.

"Karena hidup saya juga berbahaya."

Arkan tidak punya jawaban cepat.

Naya melanjutkan, suaranya lebih rendah. "Saya bukan perempuan baik-baik di mata orang. Mantan napi. Anak yang ditolak keluarga. Ibu yang bahkan belum bisa membuktikan anaknya sendiri. Kalau saya hamil, mereka akan bilang saya mengejar harta. Kalau saya melahirkan, mereka akan hitung warisan. Kalau bayi ini mati, mereka akan pakai kematian itu untuk menyalahkan saya."

"Aku tidak akan membiarkan mereka."

"Bapak selalu terlambat mengatakan itu."

Kalimat itu masuk ke tulang.

Arkan berdiri di depan Naya, membiarkan hujan merusak kemeja mahalnya.

"Anak itu anakku?"

Naya memejamkan mata.

Ia ingin mengatakan iya. Ia ingin satu kali saja tidak berbohong tentang darahnya sendiri. Tapi bayangan Rania, Bu Mira, Nenek Ratih, pengacara, polisi, dan meja rumah sakit membuat lidahnya membeku.

"Bukan."

Arkan menatapnya.

"Siapa?"

"Tidak penting."

"Penting."

"Kenapa? Karena ego Bapak terluka?"

"Karena aku tahu kamu bohong."

"Bapak tidak tahu apa pun tentang saya."

"Aku tahu malam itu."

Naya menamparnya.

Suara tamparan itu tenggelam dalam hujan, tetapi beberapa orang tetap menoleh.

Arkan tidak bergerak.

Naya gemetar. "Jangan pakai malam itu untuk memaksa saya."

"Aku tidak memaksa."

"Bapak sedang memaksa."

Arkan menatap matanya. "Kalau kamu bilang anak itu bukan anakku, aku tidak bisa menuntut apa-apa. Tapi aku tetap bisa mencegah kamu membahayakan diri."

"Atas hak apa?"

"Atas hak sebagai orang yang berutang padamu."

Naya tertawa pahit. "Utang Bapak terlalu banyak untuk dibayar dengan mengurung saya."

Sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan. Raka keluar membawa payung.

"Pak, wartawan sudah pergi. Tapi Bu Rania mengunggah story. Dia menulis bahwa ada perempuan yang ingin menghilangkan calon ahli waris Wiratama."

Naya menutup mata.

Arkan mengambil ponsel Raka. Satu foto buram menampilkan Naya keluar dari rumah sakit, wajahnya pucat, tubuhnya basah oleh hujan. Caption Rania sudah tersebar di grup gosip.

`Kasihan bayi yang belum lahir kalau ibunya hanya memikirkan uang.`

Naya membuka mata.

Kali ini, yang muncul bukan takut.

Marah.

"Saya tidak akan pergi ke klinik itu," katanya pelan.

Arkan menatapnya.

"Bukan karena Bapak melarang. Tapi karena mereka ingin saya terlihat bersalah."

Ia mengambil payung dari tangan Raka.

"Antar saya pulang. Ke tempat saya. Bukan rumah Wiratama."

Arkan ingin menolak.

Naya menatapnya duluan.

"Kalau Bapak masih punya sedikit hormat, bertanyalah sekali saja."

Arkan diam lama.

Lalu ia berkata pada Raka, "Antar ke apartemen Naya."

Naya berjalan ke mobil tanpa menoleh.

Di belakangnya, Arkan membaca ulang unggahan Rania.

Untuk pertama kalinya, rasa cemburu dalam dadanya kalah oleh sesuatu yang lebih gelap.

Jika Rania memakai bayi untuk menyerang Naya, ia akan membuat perempuan itu kehilangan panggungnya.

Di apartemen, Naya langsung mengunci pintu begitu masuk.

Lila sedang tidur di kamar kecil. Rayyan sudah dibawa pulang ke rumah Wiratama setelah menangis terlalu lama di mobil. Naya menempelkan punggung ke pintu, lalu perlahan turun duduk di lantai.

Tangannya membuka tas.

Vitamin kehamilan jatuh satu per satu.

Ia memungutnya dengan gerakan lambat.

Satu tablet putih.

Satu kapsul merah muda.

Satu lembar jadwal kontrol.

Semua benda itu terlihat terlalu rapi untuk hidupnya yang berantakan.

Ponselnya menyala.

Pesan dari Arkan.

`Aku tidak akan bertanya malam ini. Tapi besok dokter datang untuk cek kamu. Dokter perempuan. Kamu boleh menolak.`

Naya membaca kalimat terakhir dua kali.

Kamu boleh menolak.

Kalimat sederhana itu membuat dadanya sakit, karena ia terlalu jarang mendapat izin untuk menolak.

Ia mengetik:

`Jangan kirim siapa pun.`

Lalu berhenti.

Perutnya kram ringan. Tidak parah, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa di dalam tubuhnya ada sesuatu yang tidak bisa ia benci begitu saja.

Ia menghapus pesan itu.

Mengetik ulang:

`Dokter boleh datang. Pengawal tidak.`

Balasan Arkan datang cepat.

`Baik.`

Naya menaruh ponsel di lantai dan menutup wajah.

Di rumah Wiratama, Arkan berdiri di depan kamar Rayyan.

Anak itu tidak mau tidur di ranjang. Ia duduk di lantai memeluk lutut.

"Papa marah sama Mama Naya?"

"Tidak."

"Mama Naya marah sama Papa?"

"Iya."

"Papa salah?"

Arkan duduk di lantai, berhadapan dengan anaknya.

"Iya."

Rayyan menatapnya lama. "Kalau salah, minta maaf."

"Sudah."

"Kalau belum dimaafkan?"

"Minta maaf lagi. Tapi tidak memaksa orang memaafkan."

Rayyan berpikir keras, lalu mengangguk. "Papa belajar dari Mama Naya?"

Arkan tersenyum tipis. "Sepertinya begitu."

Rayyan mendekat dan berbisik, "Kalau adik di perut Mama Naya anak Papa, Papa jangan bikin dia nangis."

Arkan tidak bisa menjawab.

Karena anak kecil itu memberi perintah yang seharusnya sudah ia mengerti sejak lama.

Di sisi lain kota, Rania menerima kiriman foto dari orang klinik: Naya berdiri di tengah hujan, Arkan di depannya, Raka membawa payung.

Tidak ada adegan salah.

Tapi cukup dekat untuk dibuat salah.

Rania mengirim foto itu ke satu akun gosip dengan kalimat:

`Kasihan Bu Rania. Sedang hamil, calon suaminya malah sibuk menjaga perempuan lain.`

Ia menunggu unggahan itu naik.

Lalu tersenyum.

Kalau Arkan ingin menghancurkan panggungnya, ia akan membuat panggung itu terbakar bersama Naya.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!