Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022 - Rumor dan Grup WhatsApp
Senin pagi setelah Try Out Akbar, nilai belum keluar, tetapi gosip sudah lebih dulu sampai ke kelas.
Keira mengetahuinya bukan dari grup.
Ia tidak ada di grup WhatsApp kelas.
Nomornya pernah dimasukkan pada awal semester, lalu entah siapa yang mengeluarkannya setelah beberapa kali ia tidak membalas meme, ajakan patungan, dan sindiran yang sengaja dibuat seperti bercanda. Sejak itu, informasi kelas biasanya datang terlambat lewat Bayu, papan pengumuman, atau Bu Ratna yang masih cukup waras untuk mengirim pesan langsung.
Pagi ini, informasi datang lewat suara cekikikan dari baris belakang.
"Katanya ada yang sok banget nggak ngerjain esai."
"Iya, padahal esai itu katanya jadi nilai tambahan."
"Kalau nggak bisa ya bilang aja nggak bisa."
Keira duduk di kursinya, membuka buku tipis tentang farmakokinetik yang sampulnya sudah ia balik agar tidak mencolok. Jemarinya berhenti di tepi halaman ketika nama Laras disebut.
"Laras kemarin ngerjain semua, kan?"
Laras menunduk dengan senyum malu yang rapi. "Aku cuma berusaha maksimal. Mama bilang, kesempatan seperti itu nggak boleh disia-siakan."
"Pantes calon UI."
"Kalau nanti Laras ranking, jangan lupa traktir."
Laras tertawa kecil. "Amin. Jangan gitu, nanti kalau nggak sesuai ekspektasi aku malu."
Kalimat itu terdengar rendah hati. Terlalu rendah hati sampai semua orang makin yakin ia akan tinggi.
Rika mengangkat ponselnya. "Eh, di grup angkatan ada yang bahas soal nomor dua belas. Banyak yang salah."
Laras cepat-cepat mencondongkan badan. "Yang fungsi itu?"
"Iya. Ada yang bilang jawabannya C."
Wajah Laras membeku satu detik.
Keira membalik halaman bukunya.
Satu detik cukup.
Di meja guru, Bu Ratna masuk membawa berkas. Suara kelas turun. Ia memandang murid-muridnya, lalu berhenti pada Keira sebentar.
"Hasil try out belum keluar. Jadi kalau ada yang sudah menyebarkan nilai, kesimpulan, atau tuduhan, itu namanya mengarang. Kalian kelas dua belas. Jangan terlihat lebih bodoh dari grup keluarga."
Beberapa siswa tertawa tertahan.
Laras menunduk. Rika segera menaruh ponsel.
Setelah pelajaran pertama, Bayu menunggu di depan kelas Keira. Keringat kecil muncul di dahinya karena ia naik tangga terlalu cepat.
"Mbak," katanya pelan, "di grup try out ada yang bilang peserta yang esainya kosong otomatis gugur."
"Siapa yang bilang?"
"Aku nggak tahu. Screenshot-nya muter. Nadira juga posting story."
Keira mengambil ponsel Bayu. Nadira mengunggah foto tangannya memegang kopi mahal, latar belakang dashboard mobil. Di atasnya ada tulisan:
Orang kalau mau masuk UI jangan cuma modal gaya. Instruksi aja nggak dibaca utuh, apalagi hidup.
Tidak ada nama. Justru karena tidak ada nama, semua orang bisa menaruh wajah Keira di sana.
Bayu menggigit bibir. "Aku mau komen."
"Jangan."
"Tapi dia nyindir Mbak."
"Kalau kamu masuk ke lumpur hanya untuk membuktikan lumpur itu kotor, sepatumu yang rusak."
Bayu diam. Ia tidak sepenuhnya paham, tetapi ia tahu nada itu berarti Keira sudah menghitung sesuatu.
Di rumah, Bu Sri lebih sibuk daripada biasanya. Ia menelepon toko kue sambil berjalan dari ruang tamu ke dapur.
"Yang ukuran sedang saja, tulisannya Selamat Laras. Jangan terlalu besar dulu. Iya, nanti kalau hasilnya benar-benar keluar, saya pesan yang lebih bagus. Fondant warna biru UI ada?"
Pak Prasetyo yang sedang memperbaiki stopkontak menoleh. "Nilainya belum keluar, Bu."
"Makanya saya bilang ukuran sedang." Bu Sri menutup speaker ponsel dengan telapak tangan. "Kamu itu jangan mematahkan doa. Anak mau sukses kok bawaannya pesimis."
"Bukan pesimis. Hanya..."
"Hanya apa? Kamu lihat sendiri Laras pulang kemarin tenang. Beda dengan yang satu itu." Mata Bu Sri bergerak ke arah kamar Keira. "Pulang-pulang seperti habis jalan santai."
Pak Prasetyo kembali menunduk. Obeng di tangannya tidak bergerak.
Laras duduk di sofa sambil membuka grup WhatsApp. Nama-nama pengirim bergerak cepat. Ada yang membahas bocoran kunci jawaban tidak resmi, ada yang memuji peserta dari sekolah lain, ada yang menanyakan apakah benar Prof. Dharma hadir.
Satu pesan membuat dadanya berdenyut.
Anak SMAN 7 yang selesai paling cepat itu siapa sih? Kok pengawas sampai ngecek lembarnya?
Laras mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Mungkin cuma cepat karena banyak yang dilewati.
Pesan itu terkirim.
Tiga emoji tertawa muncul.
Laras menghela napas. Namun rasa lega itu tipis, seperti plastik yang mudah robek.
Sore harinya, Keira duduk di warung kopi kecil dekat jalan belakang SMAN 7. Pemilik warung sudah terbiasa melihatnya datang sendirian, memesan kopi hitam tanpa gula, lalu membuka kertas-kertas yang tidak mirip tugas sekolah.
Hari ini, di depan Keira ada cetakan artikel medis berbahasa Inggris tentang respons obat pascaoperasi. Di sudut kanan kertas, ia menulis beberapa angka pendek.
Ponselnya bergetar.
Yves.
Kau tidak bisa menunda ini terus. Benua M mulai panas. Orang-orang M-Foundation menanyakan Dr. Seely lagi.
Keira menyeruput kopi. Rasa pahitnya menempel di lidah.
Ia membalas:
Tunda.
Balasan Yves muncul hampir seketika.
Kau selalu memakai kata itu seperti peluru terakhir.
Keira tidak membalas.
Notifikasi lain masuk. Prof. Dharma, lewat nomor yang ia dapat dari formulir try out.
Nona Keira Wulandari, saya ingin mengonfirmasi satu hal setelah hasil resmi keluar nanti. Mohon jangan mengganti nomor.
Keira menatap layar beberapa saat.
Nomor itu mungkin hanya satu jalur akademik. Namun di baliknya ada papan lain yang mulai bergerak. Sekolah, keluarga, Tan Hansel, Benua M, pasien yang belum sembuh, nama Dr. Seely yang tidak boleh muncul terlalu dekat dengan seragam putih abu-abu.
Di meja sebelah, dua siswa dari sekolah lain membahas story Nadira.
"Yang disindir itu anak SMAN 7, ya?"
"Katanya anak angkat yang baru sok pintar."
"Kasihan juga kalau nanti nilainya jeblok."
Keira melipat artikel medisnya. Tidak marah. Tidak juga ingin menjelaskan.
Di dunia yang pernah ia tempati, orang yang terlalu cepat tertawa biasanya paling lambat menyadari lantai di bawah kakinya sudah hilang.
Pemilik warung meletakkan sepiring pisang goreng kecil di mejanya.
"Buat teman kopi. Panas."
Keira mengangkat mata. "Saya tidak pesan."
"Bonus. Kamu dari tadi baca terus, nanti maag."
Keira menatap pisang goreng itu sebentar, lalu menarik piring sedikit lebih dekat. "Terima kasih."
Di luar, motor lewat membawa percikan air dari selokan. Awan gelap berkumpul di atas Megawan, tebal dan rendah.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari Bayu.
Mbak, Ibu pesan kue untuk Laras.
Keira mengetik satu kata.
Biarkan.
Lalu ia memasukkan ponsel ke saku, membuka kembali artikel medis, dan mencoret satu angka yang tidak cocok.
Di luar warung, langit Megawan mendung lagi. Seperti sesuatu sedang menunggu jatuh.