NovelToon NovelToon
SINFUL HEARTS SOCIETY

SINFUL HEARTS SOCIETY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Teen
Popularitas:796
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titah pertama

Sera tidak membantah lagi. Tubuhnya terlanjur lelah menghadapi konfrontasi emosional dengan Yunkai. Begitu pria itu melepaskannya, ia langsung melangkah menuju kamar utama yang sudah disiapkan.

Kamar itu luas, bernuansa mewah namun terasa dingin. Sera segera membersihkan diri di kamar mandi. Rendaman air hangat di dalam bath tube sedikit meringankan beban di pundaknya. Setelah selesai, ia mengenakan pakaian yang telah ditata rapi oleh pelayan pribadi Yunkai di atas tempat tidur.

Sera baru saja mengeringkan rambut berwarna perak alaminya dengan handuk ketika ketukan pelan terdengar di pintu. Belum sempat Sera menyahut, pintu terbuka. Yunkai masuk membawa sebuah nampan berisi sup asparagus hangat dan steik daging yang sudah dipotong rapi.

"Aku tidak menyuruhmu masuk," ketus Sera, menyembunyikan keterkejutannya di balik wajah datar.

"Kalau aku menunggu izinmu, makanan ini akan dingin," balas Yunkai santai. Ia meletakkan nampan itu di atas meja kecil dekat sofa kamar. "Kau belum makan sejak siang."

Sera menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura acuh sembari berjalan mendekat. "Kau memata-mataiku lagi?"

"Tidak perlu mata-mata untuk tahu kau tidak muncul di kantin sekolah tadi siang," Yunkai berbalik, bersandar pada tepian meja sambil melipat tangan di dada. Matanya memperhatikan Sera yang tampak lebih segar, dengan rambut yang sedikit basah. "Kau mengurung diri di perpustakaan sampai jam pulang. Benar?"

Sera terdiam, merasa tertangkap basah. Ia memang sengaja menghindari kantin—atau lebih tepatnya, menghindari Yunkai—hari ini. Duduk di kursi sofa yang berseberangan dengan Yunkai, Sera menarik piring sup ke hadapannya.

"Aku hanya sedang malas mengantri makanan," kilah Sera asal, lalu mulai menyuap supnya. Kehangatan makanan itu langsung menyapa perutnya yang keroncongan.

Yunkai tidak beranjak. Ia tetap di posisinya, memperhatikan bagaimana Sera makan dengan tenang namun lahap. Keheningan di antara mereka malam ini terasa berbeda. Tidak ada pelayan, tidak ada formalitas istana. Hanya ada mereka berdua di dalam kamar yang remang.

Sosok gadis itu tampak begitu polos sekaligus memikat. Sepasang manik mata yang biasanya sehitam pekat karena softlens, kini menampakkan rona aslinya—biru lembut yang menawan. Itulah ciri khas trah Mourn; berambut perak dengan sepasang mata seindah batu safir.

"Kau ingin berlibur?” Tanya Yunkai menegakkan tubuhnya, mendekat satu langkah lalu bertumpu pada sandaran kursi tempat Sera duduk. Jarak mereka kembali mengikis, membuat Sera bisa mencium samar aroma parfum maskulin Yunkai yang bercampur udara malam. "Kau lelah. Aku juga. Besok, ikutlah bersamaku. Kita liburan seharian."

Sera meletakkan sendoknya, bersandar pada kursi dan menatap Yunkai lurus. Jantungnya berkhianat, berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. "Liburan bersama? Dalam rangka apa? Memperpanjang kontrak kerja sama kita?"

Yunkai menghela napas pendek, ada senyum tipis yang getir di sudut bibirnya. "Kenapa setiap hal bersamaku harus selalu kau kaitkan dengan kerja sama?”

"Karena memang itu alasan kita berada di ruangan yang sama saat ini, Pangeran," sahut Sera, suaranya tenang namun tajam, sengaja mengingatkan Yunkai—dan dirinya sendiri—pada batasan mereka. "Aku tidak mau berkhayal lebih dari itu."

Yunkai menundukkan wajahnya, menatap Sera dengan intensitas yang sanggup membuat siapa pun menyerah. "Lalu bagaimana kalau besok aku melepaskan gelar Pangeran itu seharian? Hanya Yunkai dan Seraphine.”

Sera terpaku. Sorot mata Yunkai malam ini terlalu jujur, membuatnya sulit untuk langsung menolak. Ada bagian dari dirinya yang egois, yang ingin mengiyakan tawaran itu. Namun, akal sehatnya menahan.

Sera memalingkan wajah, kembali meraih teh hangatnya. "Aku akan mempertimbangkannya jika perut ku sudah kenyang.”

Yunkai tahu itu adalah cara Sera untuk tidak memberikan jawaban instan, sebuah taktik tarik-ulur yang selalu gadis itu gunakan. Namun, melihat Sera tidak langsung menolak mentah-mentah sudah merupakan kemajuan besar baginya.

Yunkai terkekeh rendah, mengacak rambut Sera yang setengah basah dengan gemas sebelum menjauhkan dirinya. "Habiskan makananmu. Aku akan menagih jawabanmu besok pagi."

Sera tak menjawab ia menyesap teh mint hangatnya kembali, matanya menatap tajam Yunkai yang berdiri hendak keluar.

“Yang mulia—“ Panggilnya menghentikan langkah kaki pria itu.

Yunkai tak menjawab, hanya sedikit menolehkan wajahnya menunggu perkataan lanjutan dari gadis itu.

Sang Pangeran dapat merasakan langkah kaki Sera yang semakin mendekatinya. Tangan kecil itu menyentuh punggung Yunkai dengan lembut.

“Jadi, dalam satu hari besok. Apa aku bisa bertindak sesuka hati ku?— Memanggil nama mu tanpa gelar, Yun—Kai,” lembutnya.

Jantung sang Pangeran berdegup kencang dan perlahan ia membalikkan tubuhnya, kini tangan Sera tepat berada di dada bidangnya, tepat di atas jantungnya. Sera dapat dengan jelas merasakan degup jantung Yunkai yang berdetak lebih cepat.

Sera mendongak, menantang manik mata gelap Yunkai yang kini melebar karena terkejut. Senyum tipis yang sarat akan provokasi terukir di bibir ranumnya. "Kenapa? Jantungmu berdetak cepat sekali, Yunkai. Apa seorang Pangeran bisa segugup ini hanya karena namanya dipanggil?"

Yunkai tidak menjawab. Tenggorokannya mendadak kering. Sentuhan tangan Sera di dadanya terasa seperti api yang membakar dirinya, menyalurkan sengatan yang membuat seluruh otot tubuhnya menegang. Ia menunduk, menatap lekat jemari lentik Sera yang masih betah bersandar di atas detak jantungnya yang menggila.

"Kau sedang bermain api, Seraphine," bisik Yunkai, suaranya berubah menjadi serak dan berat.

Bukannya takut, Sera justru mengikis jarak yang tersisa. Ia berjinjit sedikit, mensejajarkan wajahnya hingga hembusan nafasnya yang beraroma mint menyapu rahang tegas Yunkai. "Bukankah kau sendiri yang menawarkan liburan tanpa kontrak? Aku hanya sedang memastikan... sejauh mana batasan 'bebas' yang kau maksud."

Mata Yunkai menggelap. Tarik-ulur yang melelahkan selama berhari-hari ini runtuh begitu saja dalam satu detik. Rasa kepemilikan mutlak dan hasrat yang selama ini ia tekan rapat-rapat mendadak menuntut untuk dilepaskan.

Tanpa aba-aba, tangan besar Yunkai bergerak cepat. Ia mencengkram pinggang Sera, menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna pada dadanya, sementara tangan satunya menyusup ke tengkuk Sera, mengunci pergerakannya.

Sera tersentak, nafasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya kini ikut berdegup liar, beresonansi dengan milik Yunkai.

"Kau boleh melakukan apa saja, sesukamu," gumam Yunkai, wajahnya merunduk, menyisakan jarak beberapa milimeter sebelum bibir mereka bertaut. "Termasuk menghancurkan kendali diriku."

Sera bisa merasakan kehangatan yang intim dari bibir Yunkai yang bergerak tepat di depan bibirnya. Segalanya terasa begitu nyata dan memabukkan. Dorongan di dalam dadanya berteriak pasrah, memintanya untuk memejamkan mata dan menyambut ciuman yang sudah di depan mata. Tangan Sera yang berada di dada Yunkai perlahan meremas pakaian pria itu, bersiap untuk ditarik lebih dalam.

Yunkai memiringkan kepalanya sedikit, matanya terpejam saat bersiap mengklaim bibir yang selalu mengabaikannya itu.

Namun, tepat ketika permukaan bibir mereka nyaris bersentuhan, kilasan tentang kesepakatan dan benteng pertahanannya mendadak menghantam kepala Sera seperti air es. Jika ia menyerah malam ini, ia akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia akan menjadi pihak yang kalah dalam permainan ini.

Dengan sisa kekuatan dan akal sehat yang hampir menguap, Sera menahan dadanya. Ia tidak mundur—karena kuncian Yunkai terlalu kuat—melainkan memalingkan wajahnya ke samping di detik terakhir.

Napas berat Yunkai akhirnya hanya mendarat di pipinya yang mendadak panas.

Suasana seketika membeku. Yunkai membuka matanya, napasnya memburu frustrasi. Keningnya bersandar di pelipis Sera, menahan gejolak gairah yang menuntut dilepaskan. Tangannya di pinggang Sera meremas gaun satin gadis itu dengan erat, menyalurkan rasa kecewa yang mendalam namun juga kekaguman atas kekuatan pertahanan Sera.

"Kau benar-benar kejam," bisik Yunkai parau, suaranya bergetar menahan diri.

Sera mengatur nafasnya yang terengah-engah, mencoba mengabaikan kekecewaan kecil yang juga bersarang di hatinya sendiri. Ia perlahan melepaskan remasannya pada kemeja Yunkai, lalu menatap sang Pangeran dari samping dengan tatapan yang kembali tenang, meski pipinya merona merah.

"Aku hanya memanfaatkan hakku untuk bertindak sesuka hati, seperti yang kau katakan," sahut Sera, suaranya agak serak namun terdengar tegas. "Dan malam ini, aku memilih untuk tidur."

Yunkai memejamkan mata sejenak, lalu menghembuskan napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya. Perlahan, ia melonggarkan cengkeramannya di pinggang Sera dan mundur satu langkah, memberikan gadis itu ruang untuk bernapas.

Pangeran itu menatap Sera yang sedang merapikan gaun tidurnya, lalu sebuah senyuman tipis—yang kali ini tampak pasrah namun penuh arti—muncul di wajah tampannya.

"Permainan yang bagus, Seraphine," ucap Yunkai rendah, suaranya kembali terdengar berwibawa meski sisa ketegangan masih tertinggal. Ia berjalan mundur menuju pintu. "Besok pagi jam tujuh. Bersiaplah. Ini titah ku, sebelum besok aku melepas segala bentuk gelar ku dihadapan mu.” Tanpa menunggu jawaban Sera, Yunkai memutar kenop pintu dan keluar, menutupnya dengan perlahan.

Sera langsung mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. Kakinya mendadak lemas hingga ia harus bertumpu pada pinggiran tempat tidur. Ia menyentuh bibirnya yang masih terasa panas, lalu menatap pintu kamar yang tertutup dengan perasaan campur aduk. Besok akan menjadi hari yang panjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!