Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siang Yang Menenangkan..
Keesokan paginya mereka tidak memiliki agenda apa pun. Kegiatan KKN baru akan dimulai menjelang sore, sehingga hampir semua penghuni posko memilih bersantai.
Ada yang masih tidur karena kelelahan, ada juga yang duduk santai mengobrol di teras posko.
Sementara Alya masih rebahan di kasurnya sambil asyik menonton drama Korea.
Tak lama kemudian terdengar suara dari luar posko.
“Cari siapa, Pak?” tanya salah satu anak KKN yang sedang duduk di teras.
“Saya mau nganter paket buat Mbak Alya,” jawab pria kurir itu.
Dion yang mendengar langsung menoleh ke dalam.
“Al! Cepat keluar, ada abang paket Nyariin lo!” teriak Dion dari teras posko.
Mendengar namanya dipanggil, Alya buru-buru keluar.
“Saya Alya, Pak.”
“Oh, benar Mbak.”
“Ini ada kiriman paket dari Tuan Wijaya. Tolong tanda tangan dulu di sini.”
Alya langsung menandatangani bukti penerimaan.
“Pak, boleh dibantu masukin ke dalam posko?”
“Boleh, Mbak.”
Tak lama kemudian beberapa kurir mulai mengangkat satu per satu kardus besar ke dalam posko.
Jumlah paketnya benar-benar banyak hingga memenuhi ruang tengah posko. Butuh waktu sekitar tujuh menit bagi para kurir untuk memindahkan semuaNya ke dalam.
Anak-anak KKN yang sejak tadi memperhatikan langsung mengerubungi tumpukan kardus itu dengan rasa penasaran.
Alya mulai membuka kardus pertama.
Begitu terbuka—
isinya ternyata beberapa set pakaian baru dari merek ternama.
Dimas langsung melongo.
“Buset…Satu baju ini aja kayaknya bisa bayar uang kos gue setahun.”
Beberapa yang lain langsung mengangguk setuju.
Kardus kedua dibuka.
“Wih…”
“Isinya cemilan semua!” seru Rizki antusias.
“Astaga…”
“Bawaannya nggak kaleng-kaleng.”
Tawa kecil kembali terdengar.
Saat kardus ketiga dibuka, kali ini isinya berbagai bahan makanan.
Ada daging segar, telur, mi instan, sosis, dan berbagai persediaan dapur lainnya.
Rizki langsung tersenyum lebar.
“Nah, kalau yang ini baru gue suka. Lumayan, nambah nutrisi kita nih,” ujar Rizki dengan wajah berbinar.
Dion langsung menyahut.
“Betul. Akhirnya nggak makan sayur doang terus. Batal kurus deh kita,” timpal Dion sambil tertawa.
Ucapan itu kembali membuat suasana posko dipenuhi gelak tawa.
Belum habis rasa penasaran mereka, Alya kembali membuka kardus berikutnya. Kali ini isinya dua buah kipas angin, satu berukuran beSar dan satu lagi berukuran mini.
Alya langsung mengangkat kipas berukuran Besar itu sambil menoleh ke arah teman-temannya.
“Yang ini taruh di tengah aja, ya. Biar semuanya bisa kebagian anginNya,” ucap Alya sambil tersenyum.
Lalu ia mengangkat kipas yang kecil.
“Kalau yang ini, aku taruh dekat kasurku ya. Biar Enak kalau lagi tidur,” ujar Alya sambil mengangkat kipas berukuran mini.
Kevin langsung tertawa.
“Serius nih, Al?”
“Iya, serius.”
jawab Alya santai sambil mengangguk.
Setelah makan siang, suasana posko kembali tenang. Cuaca siang itu terasa sangat terik hingga membuat semua orang malas beraktivitas.
Arga kembali fokus menatap layar laptopnya, sementara kelompok cowok yang lain sibuk bermain gaMe hingga suasana posko kembali ramai oleh suara mereka.
“Woi, Vin! Yang bener dong mainnya!”
“Iya, iya… sabar napa!”
Suara mereka terus memenuhi ruang posko.
Di sisi lain, para perempuan sedang asyik mengobrol dan bergosip.
Tak lama kemudian Alya keluar dari kamar. Penampilannya yang tidak biasa sontak membuat semua oRang menoleh ke arahnya.
Wajahnya dipenuhi masker wajah berwarna putih, membuatnya terlihat cukup lucu.
Rizki langsung terkekeh.
“Buset, Al... sekarang lo mirip ibu-ibu kosan gue.”
Alya hanya mendengus.
“Huh... aku baru ingat udah lama banget nggak maskeran. Takut wajahku jadi keriput.”
Ucapan itu langsung disambut tawa.
“Emang bisa keriput secepat itu?” goda Dion.
Adrian yang sejak tadi rebahan tanpa ikut bermain game ikut bersuara.
“Ya udah, sini maskernya juga, Al. Siapa tahu habis pakai masker dari lo, muka gue bisa mirip kak Keano.”
Dion langsung penasaran.
“Keano siapa?”
“Kakaknya Alya lah,” jawab Rizki.
Dimas langsung tertawa.
“Hahaha... kalau itu mah nggak bakal bisa.”
“Keano tuh gen orang kaya.”
“Dasar kalian,” gerutu Alya sambil tertawa.
Ia kemudian mengambil satu lembar masker baru.
“Ya udah sini, Aku yang pakaikan.”
Adrian langsung duduk tegak dengan wajah antusias.
“Siap!”
Alya mendekat sambil membuka kemasan masker.
“Tutup mata.”
“Siap, nona alya.”
Saat Alya baru saja hendak menempelkan masker ke wajah Adrian tiba-tiba sebuah tangan mengambil masker itu lebih dulu.
Alya langsung menoleh bingung.
Ternyata Arga.
Cowok itu mengambil masker dari tangan Alya dengan wajah datar.
“Biar aku aja.” ucapnya singkat.
Adrian langsung menelan ludah.
“Guys…Jantung gue kok deg-degan ya?”
Ucapan itu langsung membuat semua orang tertawa.
Dimas langsung menyahut.
“Jangan-jangan lu naksir Arga.”
“Salting tuh.”
“Bukan, anjir!”
“Ini mah jantung gue rasanya mau copot. Kayak mau dihukum.”
Tawa mereka kembali pecah.
Adrian masih belum berhenti.
“Tolong ya…Kalau gue nggak selamat, History browser gue tolong dihapus.”
“Diam.”
Arga menjawab datar sambil langsung menempelkan masker ke wajah Adrian dengan sedikit lebih kasar dari seharusnya.
“Buset! Bukannya habis maskeran gue jadi makin ganteng, ini mah malah muka gue rasanya mau copot,” keluh Adrian dramatis hingga membuat yang lain kembali tertawa.
Keluhan Adrian kembali disambut gelak tawa seluruh penghuni posko.
Seolah tak terjadi apa-apa, Arga kembali ke tempatnya semula lalu melanjutkan pekerjaannya di depan laptop.
Sementara Alya masih duduk mematung tidak jauh darinya, sesekali melirik Arga dengan wajah yang masih menyimpan kebingungan.
Setelah kehebohan itu mereda, Alya kembali duduk santai sambil melanjutkan drama Korea yang tadi sempat tertunda.
Sementara Adrian memilih rebahan agak jauh darinya sambil bergumam kalau duduk terlalu dekat bisa-bisa Arga datang lagi. Ucapannya itu membuat beberapa orang terkekeh pelan.
Tak lama kemudian suasana posko kembali tenang, hanya terdengar suara obrolan anak-anak, tawa kecil, dan bunyi permainan dari ponsel mereka.
Di sisi lain, Laura yang sejak tadi hanya diam kembali membuka suara.
“Al, nanti sore jadwal kamu yang ke lapangan belanja kebutuhan dapur, ya.”
Alya menoleh bingung.
“Loh, bukannya tadi udah ada paket yang datang, Ra?”
“Beda. Yang tadi itu cuma persediaan tambahan. Bumbu dapur kita juga udah banyak yang habis, jadi tetap harus belanja lagi,” jelas Laura.
Alya mengangguk pelan.
“Ohh…”
Laura kembali melanjutkan.
“Lagian kamu juga belum pernah ikut belanja kebutuhan dapur ataupun masak.”
“Jadi sekalian aja belajar.”
“Baiklah,” jawab Alya pasrah.
“Tapi aku kurang ngerti harus belanja apa.”
“Nggak apa-apa. Nanti minta aja daftar belanjanya ke Nadia,” jawab Laura singkat.
“Oh iya,” lanjutnya sambil menoleh ke yang lain.
“Oh iya, sekalian ingat ya. Kita juga harus masukin uang kas lagi. Masing-masing seratus ribu buat belanja kebutuhan dapur sore nanti,” ujar Laura kepada teman-temannya.
Mendengar itu, Dion langsung memegangi kepalanya.
“Ya ampun…”
“Uang lagi…”