NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Tangan Alexa gemetar hebat saat menggenggam ponselnya. Pesan dari nomor tak dikenal itu seolah menjadi racun yang menyebar cepat ke seluruh aliran darahnya. Ia menatap Zyan yang sedang sibuk menerima ucapan selamat dari para direksi di seberang ruangan. Pria itu tampak begitu berwibawa, begitu protektif, tapi tiba-tiba di mata Alexa, ada bayangan gelap yang menyelimuti sosok suaminya.

“Apakah benar Papa Zyan sengaja mematikan sistem keamanan itu?” Pertanyaan itu terus berputar di otak Alexa.

"Alexa? Kamu kenapa? Wajah kamu pucat sekali," Zyan mendekat, mencoba menyentuh kening Alexa, khawatir demamnya menular pada istrinya.

Alexa refleks menghindar. "Eh... nggak apa-apa, Om. Gue cuma... pusing aja habis ngerayap di plafon. Kayaknya kebanyakan hirup debu semen."

Zyan menyipitkan mata, merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap Alexa yang mendadak dingin. "Kita pulang sekarang. Kamu harus istirahat."

Sepanjang perjalanan pulang, Alexa hanya diam menatap jendela. Sesampainya di rumah, saat Zyan mandi, Alexa tidak membuang waktu. Ia tahu Zyan punya sebuah ruang kerja rahasia di lantai dua yang hanya bisa diakses dengan kode sidik jari. Tapi Zyan lupa satu hal: Alexa adalah mahasiswi teknik yang tahu cara mengakali kunci digital sederhana.

"Maafin gue, Om. Gue harus tahu," gumam Alexa sambil mengeluarkan alat kecil dari tas teknisnya.

Dengan sedikit trik pada sensor termal dan sisa residu sidik jari di panel, pintu ruang kerja itu terbuka dengan bunyi klik pelan. Alexa masuk ke dalam ruangan yang berbau kertas tua dan kayu ek. Di sana, terdapat lemari besi besar yang berisi arsip-arsip lama Arsalan Group.

Alexa mencari folder tahun 2001. Tangannya meraba deretan map sampai ia menemukan satu map berwarna merah kusam dengan tulisan: "LAPORAN INSIDEN SIRKUIT UJI COBA – PROYEK X-GEN."

Di dalamnya terdapat foto-foto kecelakaan mobil yang diceritakan ayahnya. Mobil itu hancur total, terbakar hebat. Ada laporan teknis yang ditandatangani oleh ayahnya sebagai kepala teknisi. Namun, saat Alexa membalik halaman terakhir, ia menemukan sebuah dokumen internal yang diselipkan secara sembunyi-sembunyi.

Itu adalah nota rahasia dari pihak asuransi. Di sana tertulis: "Klaim asuransi sebesar 500 miliar rupiah disetujui setelah kegagalan sistem keamanan dinyatakan sebagai human error atau kesalahan teknisi lapangan."

Dan di bawahnya, ada tanda tangan almarhum Ayah Zyan, Pak Arsalan.

"Jadi... Papa Zyan setuju kalau ini kesalahan Ayah demi dapet duit asuransi?" bisik Alexa, air matanya mulai jatuh menetes ke atas dokumen tua itu. "Berarti Ayah difitnah biar perusahaan nggak bangkrut?"

Rasa sesak di dada Alexa terasa mencekik. Ia merasa selama ini ia hanya dijadikan penebus dosa yang dibeli dengan kemewahan. Pernikahan ini bukan soal cinta, bukan soal takdir, tapi soal transaksi moral yang menjijikkan.

Tiba-tiba, lampu ruangan menyala terang.

"Apa yang kamu lakukan di sini, Alexa?"

Suara berat Zyan terdengar dari ambang pintu. Pria itu berdiri di sana dengan handuk yang masih melingkar di lehernya, matanya menatap tajam ke arah dokumen yang ada di tangan Alexa.

Alexa berbalik, wajahnya penuh amarah dan air mata. Ia mengangkat dokumen itu tinggi-tinggi. "LO TAHU SOAL INI, KAN?! Lo tahu kalau bokap lo sengaja ngebiarin bokap gue difitnah demi duit asuransi 500 miliar ini?! Lo tahu kalau kaki bokap gue cacat dan namanya hancur karena keserakahan keluarga lo?!"

Zyan terdiam. Ia berjalan mendekat perlahan, mencoba menenangkan istrinya. "Alexa, letakkan dokumen itu. Biar saya jelaskan."

"GAK PERLU PENJELASAN! Dokumen ini udah jelas banget! Tanda tangan bokap lo ada di sini! Lo nikahin gue karena lo ngerasa jijik sama sejarah keluarga lo sendiri, kan?! Lo pengen cuci tangan pake cara nikahin anak korbannya!"

"SAYA TIDAK PERNAH MERASA JIJIK DENGAN KAMU!" suara Zyan meninggi, membuat Alexa tersentak. "Dengar dulu! Saya memang tahu soal dokumen itu. Saya menemukannya tiga tahun lalu setelah Papa meninggal. Dan sejak hari itu, saya tidak pernah menyentuh satu rupiah pun dari uang asuransi itu. Uang itu saya simpan di yayasan amal atas nama ayah kamu tanpa dia tahu."

"Tapi lo tetep nyembunyiin fakta kalau bokap gue nggak bersalah! Lo biarin dia hidup dalam rasa malu selama puluhan tahun!"

"Karena saya belum punya bukti siapa yang sebenarnya mensabotase mobil itu, Alexa! Kalau saya buka sekarang tanpa bukti pelaku aslinya, nama ayah kamu tetap akan tercemar sebagai teknisi yang gagal!" Zyan mencengkeram bahu Alexa. "Perjodohan ini adalah cara saya untuk membawa kamu masuk ke dalam hidup saya, agar saya punya alasan untuk memberikan semua yang seharusnya jadi milik ayah kamu. Saya mencintai kamu, Alexa, terlepas dari semua dosa masa lalu itu!"

"CINTA?! Lo sebut ini cinta?!" Alexa tertawa getir, suaranya parau. "Cinta nggak dibangun di atas tumpukan kebohongan, Om! Gue ngerasa kayak barang rongsokan yang lo beli biar hati nurani lo tenang!"

Alexa mendorong dada Zyan dengan kuat dan berlari keluar dari ruangan itu.

"Alexa! Tunggu!"

Alexa tidak peduli. Ia berlari menuju garasi. Pak Bambang yang sedang berjaga kaget melihat Alexa keluar dengan wajah sembab.

"Non Alexa! Mau ke mana malam-malam hujan begini?!"

"Buka gerbangnya, Pak! Buka!" teriak Alexa sambil menaiki motor ZX-nya.

"Tapi Non, ini hujan badai—"

Alexa tidak menunggu instruksi lagi. Ia langsung menggeber gas motornya, menerobos gerbang yang baru terbuka separuh. Motornya melesat di tengah jalanan Jakarta yang licin dan gelap. Angin kencang dan hujan yang menusuk kulit tidak ia rasakan. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang: Ayahnya.

Ia harus memastikan sesuatu pada ayahnya.

Sesampainya di rumah ayahnya, Alexa masuk dengan keadaan basah kuyup dan berantakan. Pak Surya kaget melihat anaknya dalam kondisi seperti itu.

"Alexa? Ada apa lagi, Nak? Kenapa kamu hujan-hujanan begini?"

"Yah... jujur sama Alexa. Waktu kecelakaan itu... apakah Papa Zyan beneran nggak tahu kalau sistemnya disabotase? Atau dia emang sengaja diem biar dapet asuransi?" tanya Alexa sambil terisak di depan kursi roda ayahnya.

Pak Surya terdiam, wajahnya tampak sangat sedih. Ia menarik napas panjang. "Nak... Pak Arsalan itu orang baik. Tapi saat itu, Arsalan Group sedang di ambang kehancuran. Ribuan karyawan terancam PHK. Dia terjepit antara kejujuran pada satu sahabat, atau keselamatan ribuan orang. Dia memilih menyelamatkan ribuan orang, tapi dia menghabiskan sisa hidupnya dengan mengirimkan bantuan diam-diam pada Ayah."

"Berarti dia emang sengaja fitnah Ayah?!"

"Dia tidak memfitnah, dia hanya membiarkan dunia percaya pada asumsi yang salah. Dan itu adalah penyesalan terbesarnya sampai mati." Pak Surya memegang tangan Alexa. "Zyan berbeda, Lex. Zyan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membersihkan nama Ayah di mata dewan direksi secara rahasia. Dia bukan Papanya."

Alexa menangis sejadi-jadinya di pangkuan ayahnya. Ia bingung. Ia benci kebohongan itu, tapi ia juga melihat perjuangan Zyan yang tulus merawatnya.

Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar di depan rumah. Zyan datang dengan keadaan yang tak kalah berantakan, tanpa jaket, kemejanya basah kuyup karena mengejar Alexa dengan mobil jendela terbuka.

Zyan masuk ke rumah Pak Surya. Ia melihat Alexa yang sedang menangis. Zyan tidak langsung mendekat, ia berdiri di depan pintu dengan nafas tersenggal.

"Alexa... kalau kamu memang ingin pergi, saya tidak akan menahan kamu lagi. Saya sadar, keberadaan saya hanya akan mengingatkan kamu pada luka ayahmu," ujar Zyan dengan suara pelan dan penuh kepasrahan. "Tapi tolong, jangan benci diri kamu sendiri. Kamu adalah hal terbaik yang pernah terjadi di hidup saya, bukan karena tugas dari Papa, tapi karena kamu adalah kamu."

Zyan meletakkan sebuah map di atas meja ruang tamu. "Itu adalah dokumen pemulihan nama baik ayahmu. Saya baru saja menyelesaikannya pagi ini. Besok, seluruh media akan tahu bahwa Pak Surya adalah pahlawan yang difitnah, bukan teknisi yang gagal. Itu janji saya."

Setelah meletakkan map itu, Zyan berbalik untuk pergi kembali ke tengah hujan.

Alexa melihat map itu, lalu melihat punggung Zyan yang tampak sangat kesepian dan rapuh. Untuk pertama kalinya, Alexa melihat sisi Zyan yang benar-benar hancur. Bukan karena bisnis, tapi karena kehilangan dirinya.

"OM!" teriak Alexa.

Zyan berhenti, tapi tidak menoleh.

"LO... LO BELUM MASAKIN GUE MAKAN MALEM!" teriak Alexa lagi, suaranya gemetar antara tangis dan tawa getir.

Zyan perlahan menoleh, wajahnya bingung. "Makan malam?"

"Lo bilang tadi siang lo mau masakin gue! Mana?! Lo mau kabur dari janji lo ya?!" Alexa berdiri, berjalan mendekati Zyan dengan langkah goyah. "Dan satu lagi... bubur lo yang tadi pagi itu rasanya masih kayak oli bekas. Lo harus tanggung jawab benerin lidah gue!"

Zyan menatap Alexa dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu... kamu tidak jadi pergi?"

Alexa menubruk tubuh Zyan, memeluknya dengan sangat erat, membiarkan rasa basah dan dingin dari baju mereka menyatu. "Gue benci lo, Om. Gue benci keluarga lo. Tapi gue lebih benci lagi kalau harus bayangin hidup tanpa duda kaku yang hobi gombal kayak lo."

Zyan membalas pelukan itu dengan sangat protektif, seolah takut Alexa akan menghilang lagi jika ia melepaskannya. "Saya janji, Alexa. Tidak akan ada lagi rahasia. Mulai sekarang, hanya ada saya dan kamu. Dan mungkin... beberapa motor di ruang tamu."

"Dih, kalau itu mah wajib!" Alexa tertawa di dalam pelukan Zyan.

Di kejauhan, Pak Surya tersenyum melihat mereka. Namun, di tempat lain, Clarissa yang sedang berada di kantor polisi justru tertawa sinis saat melihat berita di televisi. Ia belum benar-benar kalah. Ia tahu sebuah rahasia yang jauh lebih besar: bahwa sabotase 25 tahun lalu sebenarnya melibatkan orang yang sangat dekat dengan Alexa, seseorang yang selama ini Alexa anggap sebagai teman baiknya.

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!