-Dukung karya Author dengan cara tinggalkan jejak Like, Komen, Rate dan juga Vote kalian-
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
--------------------------------------------------
"Jangan memanggilku Ava karna itu bukan namaku"
"Itu namamu, Stupid"
"Namaku Fredella-...."
"Ava Elvarette"
Fredella terdiam karena mengiyakan ucapan pria itu dalam hati.
"Bodoh"
"Sialan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HufflePuff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjaga
"Kau lihat mobil suv berwarna hitam didepan sana?" tanya seorang pria berambut klimis dengan setelan kaus polos berwarna hitam sedang menyantap roti isi di genggamannya.
"Aku melihatnya, dia datang sejak pagi buta. Mengapa?" jawab orang disampingnya yang sedang menyandarkan punggungnya di jok mobil.
Tentu saja itu rekannya, ia memejamkan mata sambil menjawab pertanyaan orang tadi.
"Tidak ada" balas pria tadi
"Pukul berapa shift pagi datang, ah aku benar-benar lelah"
"Hanya duduk disini menunggui seorang gadis yang ternyata memiliki kemampuan bela diri, menurutmu mengapa bos kita melakukannya?" omel pria itu yang sembari tetap mengunyah roti itu.
"Bos kita tentu sangat mencintainya, kau bodoh" ucap rekan di sampingnya dengan tangan melayang menepuk kepala belakang pria yang sedang makan.
Satu mobil dengan dua orang berbadan kekar datang, salah satu dari mereka turun mengetuk kaca mobil kedua pria yang sedang berbincang tadi.
"Akhirnya mereka datang" ucap pria yang bersandar itu, ia lalu menegakkan punggungnya dan turun dari mobil untuk menyapa pria yang baru datang tadi.
"Mengapa kau lama sekali?" tanya pria yang baru turun dari mobil itu
"Urusan perut, tentu saja. Aku tidak bisa bekerja jika dalam keadaan lapar" timpal rekannya itu
Mereka melihat lekat-lekat mobil Fredella sudah keluar dari area apartemen.
Para penjaga itu sontak memasuki mobil untuk mengikuti mobil Fredella, namun para pria itu melihat mobil yang terparkir sedari pagi buta didepan mereka ikut mengekori mobil Fredella.
Tentu saja kedua mobil tadi mengikutinya karena tidak ingin ada hal diluar dugaan.
Nyatanya benar, mobil suv itu mengikuti Fredella.
Bahkan mobil itu ikut berhenti ketika wanita itu berhenti untuk menurunkan seorang wanita paruh baya didepan sebuah swalayan.
"Kejar mobil itu, dia menambahkan kecepatan untuk mengejar Nona"
Pria disampinya itu menancap gas untuk mengimbangi mobil suv didepannya agar bisa mengejar.
"Kau jaga Nona Fredella, mobil suv itu biarkan jadi urusan kami" ucap pria yang mengendarai mobil satunya di belakang dalam sambungan telpon.
Tidak lama, mobil suv yang dikendarai oleh orang suruhan Selena pun terkejar.
Mereka menghadang mobil itu tepat pada persimpangan sepi, kedua pria itu turun dan langsung meminta orang didalam mobil suv itu untuk keluar.
"Siapa kalian? Apa aku pernah memiliki urusan dengan kalian?" Tanya pria itu,
Dan tanpa jawaban pria itu sudah dikunci posisinya menghadap dan menempel pada mobil.
Saat orang suruhan Selena sudah teramankan, rekan pria tadi membuka mobil dan mulai menggeledah.
Mereka menemukan banyak alat untuk membunuh dan senjata tajam, juga selembar foto Fredella di jok mobil.
"Sialan" gumam pria yang menemukan foto Fredella disana.
Dengan isyarat yang sudah di mengerti kawannya, pria itu dibawa masuk ke dalam mobil, ia di borgol lalu dibawa ke suatu tempat untuk di interogasi.
"Baji*ngan gila, lepaskan aku. Aku sama sekali tidak mengenal kalian" teriak pria suruhan Selena itu.
Orang di jok depan mengambil sebuah Handphone dan seperti sedang memanggil seseorang.
"Ada yang mengikuti Nona, Tuan"
"Sudah kami amankan"
"Kami pastikan Nona Fredella selalu aman"
Mendengar apa yang pria di jok depan katakan, pria suruhan Selena membelalakkan mata tidak percaya.
Ternyata wanita itu memiliki bodyguard.
"Aku hanya disuruh, lepaskan aku" teriak pria itu.
"Hei, kenapa kau selalu berteriak? Simpan suaramu itu untuk nanti" ucap pria di depannya dengan tawa yang keras.
"Bagaimana jika uang yang aku dapat kita bagi dua, jadi kalian bisa melepaskanku dan kalian bisa pergi dengan uang dariku" tawar pria suruhan Selena itu.
Kedua pria didepannya saling menatap dan berkata.
"Ide bagus, untukmu. Tapi tidak dengan kami"
"Sial!" gumam pria suruhan Selena itu.
Ponsel salah satu pria di jok depan berdering, terlihat dilayar ponsel 'Mr.' memanggil. Pria itu mengangkat telepon tersebut.
"Introgasi, amankan" ucap Mr. disambungan telepon tersebut.
Dan tanpa jawaban, sambungan itu sudah terhenti.
"Baiklah, percepat" ucap salahsatu pria itu.
***
Fredella yang hendak memasuki lift itu langkahnya terhenti karena sebuah dering ponsel, ia tersenyum melihat nama yang tertera disana.
"Kau masih ingat padaku rupanya?" ucap Fredella yang menekan tombol untuk membuka pintu lift.
"Benarkah? Baik, jemput aku di apartemen" ucapnya lagi lalu menekan tombol icon merah tanda mengakhiri panggilan.
"Setelah tiga hari meninggalkanku tanpa kabar, kini dia memberikanku kejutan jika dia sudah pulang? Terima balasanku" gumam Fredella dalam hati
Wanita cantik itu lalu masuk ke dalam ruangan Damien, ia melihat ada Selena disana.
Mantan kekasih Damien itu sontak berdiri dan terkejut melihat Fredella masih baik-baik saja dan masih cantik.
"Kau- Kau masih hidup?" tanya Selena yang terbata lalu mundur satu langkah menjauh dari Fredella.
Sekretaris Damien itu tentu terheran oleh pertanyaan Selena, dan mengapa wanita itu terlihat ketakutan?
"Tentu saja saya masih hidup, Nona. Ada masalah?" Fredella berbalik bertanya.
Ia mengira jika Selena sudah memikirkan cara agar mencelakainya, karena jika tidak mengapa Selena bertanya seperti itu.
"Kau merencanakan sesuatu padaku? Dan itu tidak berhasil, benar kan?" Tanya Fredella yang hanya menebak.
Namun, ternyata tebakannya tidak meleset karena Selena tiba-tiba berteriak histeris pada Fredella.
"Kau apakan orang suruhanku? Beraninya kau mengirimkan potongan tubuhnya ke rumahku. Siapa yang melindungimu? Jala*ng sialan!" ungakapan Selena tentu membuat Fredella terkejut.
Bagaimana tidak? Apa kesalahannya hingga wanita itu berusaha mencelakainya.
Fredella yang tak habis pikir dengan ucapan Selena pun hanya dapat melindungi dirinya sendiri dengan berusaha untuk kuat dan berpura-pura sudah mengetahui rencana dari Selena.
"Kau pikir dirimu siapa bisa menyentuhku? Kau tidak tahu siapa aku, jangan membuang waktumu untuk hal yang tidak masuk akal"
"Karena, aku hanya akan semakin ingin menebarkan teror untukmu" ucapan Fredella sungguh menjadi sebuah ancaman bagi Selena.
Mantan kekasih Damien itu hanya bisa menelan ludah, ia mencoba menahan dirinya menggunakan tangan pada meja milik Damien karena kakinya begitu terasa lemas.
Ia tidak menyangka jika Fredella bukan wanita biasa, ia sudah membayar tenaga profesional untuk menyingkirkan wanita dihadapannya.
Tapi, dengan hasil yang mengecewakan Selena pun juga dibuat takut oleh ucapan Fredella.
Selena melangkah maju lalu mengambil tasnya yang tergeletak di sofa ruangan.
Ia pergi meninggalkan Fredella dengan rasa marah yang sudah mencapai puncaknya, selama ini Selena menganggap dirinya ratu yang selalu mendapatkan apa yang dia mau.
Sepertinya kali ini ia salah sasaran, Selena sangat penasaran siapa yang menjadi pelindungnya.
"Siapa yang melindunginya? Damien? Dia bahkan tidak pernah melakukan itu padaku" geram Selena dalam hati
Ia merasa frustasi, dengan mengacak-acak rambut dan air mata kemarahan yang menghapus mascaranya sudah membuktikan jika kali ini Selena sangat berantakan.
Ia menyalakan mobil lalu melajukan kencang mobil itu menuju rumahnya.
***
Selepas kepergian Selena, wanita didalam ruangan itu terduduk lemas karena tak mengira akan ada hari dimana ia dibalas karena perbuatannya menghabiskan uang dari suami orang lain.
"Aku masih hidup? Potongan tubuh?" gumam Fredella dalam hati.
Untungnya dia sempat merekam sebagian apa yang Selena ucapkan karena Handphone nya sedang ia genggam.
"Kau apakan orang suruhanku? Beraninya kau mengirimkan potongan tubuhnya ke rumahku. Siapa yang melindungimu? Jala*ng sialan!" setidaknya hanya itu yang bisa Fredella jadikan bukti jika suatu saat wanita itu kembali mencoba melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.
Fredella yang masih merenungkan ucapan Selena, dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka.
Damien, ya Damien masuk ke ruangannya dengan kerutan di keningnya.
Ia lalu menghampiri Fredella yang sepertinya ketakutan, Damien langsung membantu Fredella berdiri.
Tanpa pertanyaan, ia membawa Fredella ke kamar di ruangan miliknya dan memberikan sebotol air mineral yang ia keluarkan dari sebuah lemari.
Setelah meminum air dari Damien, tiba-tiba Fredella menitikkan air mata.
Sontak hal itu membuat Damien bertanya "Ada apa denganmu? Kau bisa bercerita padaku jika kau mau" ucap Damien.
Fredella hanya melirik pria itu lalu kembali menangis bahkan lebih kencang,
Tentu membuat Damien merasa kebingungan karena tidak mengetahui apa yang sudah terjadi pada wanita di hadapannya ini.
To Be Continue
lanjut ya