NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 ​Pemberontakan sang Pewaris Tunggal

Seminggu telah berlalu sejak Aruna kembali ke kediaman megah keluarga Prawijaya. Berkat perawatan medis intensif dan asupan nutrisi yang diatur ketat oleh koki pribadi, kondisi fisiknya menunjukkan perubahan yang signifikan. Tubuhnya tidak lagi sekurus saat pertama kali keluar dari rumah sakit, kini Aruna tampak lebih berisi, kulitnya mulai memancarkan rona sehat, dan gurat keanggunan seorang putri konglomerat semakin matang memancar dari pembawaannya. Namun, perubahan fisik itu sama sekali tidak melunakkan hati Aruna yang telah membeku.

​Sore itu, ruang tamu utama yang bernuansa emas dan marmer tampak dipenuhi oleh beberapa kolega bisnis penting Deon Prawijaya. Mereka sengaja datang berbondong-bondong untuk menjenguk sekaligus melihat langsung sosok pewaris tunggal Prawijaya Group yang selama ini menempuh pendidikan di London. Di antara deretan tamu ternama tersebut, tampak hadir pula keluarga besar Dirgantara, lengkap dengan putra sulung mereka, Baskara Dirgantara.

​Baskara duduk di salah satu sofa tunggal, penampilannya tetap menonjol dengan kemeja flanel gelap yang lengannya digulung hingga sebatas siku, memberikan kesan maskulin sekaligus berwibawa. Sejak melangkah masuk ke rumah itu, tatapan mata Baskara tidak pernah lepas dari Aruna. Ada binar kelegaan saat melihat wanita itu kini tampak lebih sehat dan berisi. Baskara berulang kali mencoba bersikap manis dan menunjukkan perhatian yang teramat sangat, sesuatu yang sama sekali belum pernah ia tunjukkan saat masih menjadi dosen berhati es di London. Ia mengambilkan segelas air hangat, mengatur posisi bantal duduk Aruna, dan melemparkan senyum lembut yang sarat akan permohonan maaf tak terucap.

​Beberapa kolega bisnis senior yang baru pertama kali melihat Aruna secara langsung tampak tertegun mengagumi kecantikannya yang berkelas. Salah seorang wanita paruh baya, istri dari rekan bisnis Deon, melangkah mendekat dengan wajah penuh haru. Ia mengulurkan tangan, lalu dengan lembut mengelus puncak kepala Aruna seolah menganggapnya seperti putri sendiri.

​"Cantik sekali kamu, Aruna. Syukurlah kamu sudah pulih dari masa kritismu. Papa dan Mamamu menceritakan bagaimana khawatirnya mereka saat kamu sakit di London," ucap wanita itu dengan tulus.

​Menghadapi perhatian dari kolega orang tuanya, Aruna tidak ingin merusak suasana. Ia menurunkan sedikit ego dinding esnya, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat anggun. "Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk saya, Tante," jawab Aruna dengan nada suara yang lembut namun tetap berjarak.

​Namun, pemandangan itu berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat setiap kali Baskara mencoba membuka suara.

​"Aruna, bagaimana dengan resep obat dari dokter kemarin? Apakah pil nya terlalu pahit? Aku bisa meminta,"

​Sebelum Baskara menyelesaikan kalimatnya, Aruna sudah memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia memperlakukan Baskara seolah-olah pria itu adalah hembusan angin kosong yang berlalu tanpa makna. Sepanjang sore hingga matahari terbenam dan para kolega bisnis satu per satu pamit pulang, Aruna sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Baskara. Jangankan menjawab pertanyaannya, menatap ujung sepatu pria itu pun Aruna enggan. Pengabaian total yang konsisten itu membuat Baskara hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan gejolak rasa bersalah dan sesak yang kian menghimpit dadanya.

​Malam pun merayap naik, dan kini di ruang tamu luas itu hanya tersisa keluarga besar Dirgantara yang memang memiliki hubungan sangat dekat dengan Deon Prawijaya. Jamuan makan malam telah usai, dan kedua keluarga kini duduk melingkar di ruang tengah, berbincang hangat diselingi canda tawa mengenai perkembangan bisnis dan masa lalu mereka. Di tengah riuh rendah atmosfer yang akrab itu, Aruna duduk bagai sebuah patung marmer yang indah namun mati. Ia hanya menundukkan kepalanya, menatap jemarinya sendiri di atas pangkuan, sama sekali tidak berniat untuk meleburkan diri ke dalam obrolan mereka.

​Di tengah pembicaraan, ayah Baskara menoleh ke arah Aruna dengan senyum ramah. "Deon, bagaimana dengan rencana masa depan Aruna? Dia sudah lulus dengan hasil yang luar biasa dari London. Bagaimana dengan pekerjaannya sekarang?"

​Deon Prawijaya tersenyum bangga, ia memajukan tubuhnya dan menjawab dengan nada mantap. "Tentu saja, setelah kesehatannya pulih total dalam beberapa minggu ke depan, aku sendiri yang akan turun tangan mengajarinya langsung di kantor pusat Prawijaya Group. Dia adalah pewaris tunggal, sudah saatnya dia duduk di kursi direksi dan mempelajari seluruh jalannya dinasti bisnis keluarga."

​"Aku tidak mau. Dan aku sama sekali tidak tertarik, papa!" potong Aruna tiba-tiba.

​Suara datar dan dingin itu seketika memotong seluruh tawa dan obrolan di ruangan tersebut. Atmosfer yang tadinya hangat langsung lenyap, berganti dengan keheningan yang mencekam. Deon Prawijaya tertegun, wajah bangganya seketika mengeras. Rahangnya mengetat menahan rasa malu dan amarah di depan keluarga koleganya. Namun, mengingat kondisi jantung Aruna yang baru saja dioperasi, Deon sekuat tenaga menahan emosinya agar tidak membentak putri tunggalnya itu.

​"Aruna," panggil Deon dengan nada suara yang ditekan, matanya menatap tajam namun dipenuhi kebingungan. "Apa maksudmu berkata seperti itu di depan Keluarga Dirgantara? Prawijaya Group adalah masa depanmu. Untuk apa kamu kuliah tinggi-tinggi ke London jika bukan untuk memimpin perusahaan ini?"

​Aruna perlahan mendongakkan kepalanya. Tatapan matanya yang sewarna malam menatap lurus pada sang ayah tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Aku akan mencari pekerjaanku sendiri. Aku akan mewujudkan cita-citaku yang dulu sering aku ceritakan sebelum Papa memaksaku mengambil jurusan bisnis. Aku ingin menjadi pembela hukum dan membantu para petani kecil di daerah untuk mendapatkan keadilan atas tanah mereka yang sering dirampas oleh para pengusaha serakah."

​"Aruna! Jangan konyol!" Deon tidak bisa lagi menahan argumennya, suaranya naik satu oktaf meski masih mencoba menahannya. "Cita-cita itu tidak menghasilkan apa-apa untuk masa depan keluarga kita! Kamu adalah seorang Prawijaya, tempatmu itu di gedung pencakar langit, bukan di tanah lumpur bersama para petani!"

​Mendengar penolakan keras dari ayahnya, sudut bibir Aruna terangkat, menciptakan sebuah seringai sinis yang teramat tajam. Ia menatap ayahnya dengan tatapan yang sarat akan luka masa lalu yang kini telah berubah menjadi senjata mematikan.

​"Kenapa, Papa?" sindir Aruna dengan nada suara yang teramat tenang namun menusuk dalam. "Apa Papa ingin mengusirku lagi karena aku tidak mau menjadi boneka bisnismu? Silakan, Papa. Aku sama sekali tidak takut."

​"Aruna, jaga bicaramu!" Deon tersentak, wajahnya memucat mendengar sindiran putrinya di depan keluarga Dirgantara.

​"Kalau seandainya Papa ingin mengusirku sekarang keluar dari rumah ini, aku akan pergi detik ini juga. Tanpa membawa satu sen pun uang dari rekening Prawijaya," lanjut Aruna sambil bangkit berdiri dari sofanya dengan anggun namun penuh ketegasan mutlak. "Aku sudah terbiasa hidup menderita dan sendirian di London tanpa kepedulian kalian, jadi keluar dari rumah ini bukanlah hal yang menakutkan bagiku."

​Suasana di ruangan itu benar-benar menjadi sangat tidak enak. Ayah dan ibu Baskara hanya bisa saling pandang dengan cemas dan rasa kikuk yang luar biasa, sementara Baskara sendiri hanya bisa terdiam membeku dengan hati yang berdarah melihat betapa hancurnya hubungan internal keluarga Aruna akibat akumulasi luka masa lalu.

​Melihat situasi yang kian memanas, ibu Aruna dengan cepat bangkit berdiri. Wajahnya dipenuhi air mata kepanikan. Ia langsung merangkul bahu Aruna yang kaku. "Sudah, Nak... sudah. Ayo ikut Mama masuk ke kamar ya, kita tenangkan dirimu dulu," bisik ibunya dengan suara bergetar, mencoba menarik Aruna menjauh dari ruang tengah sebelum ketegangan itu meledak menjadi konflik yang lebih besar.

​Aruna tidak menolak. Ia membiarkan ibunya menuntunnya melangkah menaiki tangga menuju kamar, meninggalkan ruang tengah yang kini diselimuti oleh keheningan yang pekat dan rasa bersalah yang mendalam dari setiap orang yang tertinggal di sana. Di bawah temaram lampu kristal, Deon Prawijaya hanya bisa terduduk lemas sambil memegangi kepalanya yang berdenyut pusing, menyadari bahwa luka yang ia tanam di hati putrinya kini telah tumbuh menjadi monster es yang siap menghancurkan keangkuhannya kapan saja.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!