"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Pemberontakan sang Pewaris Tunggal
Seminggu telah berlalu sejak Aruna kembali ke kediaman megah keluarga Prawijaya. Berkat perawatan medis intensif dan asupan nutrisi yang diatur ketat oleh koki pribadi, kondisi fisiknya menunjukkan perubahan yang signifikan. Tubuhnya tidak lagi sekurus saat pertama kali keluar dari rumah sakit, kini Aruna tampak lebih berisi, kulitnya mulai memancarkan rona sehat, dan gurat keanggunan seorang putri konglomerat semakin matang memancar dari pembawaannya. Namun, perubahan fisik itu sama sekali tidak melunakkan hati Aruna yang telah membeku.
Pendingin ruangan di lantai eksekutif gedung Prawijaya Group berdesis halus, mengalirkan hawa pekat yang entah mengapa terasa mencekam bagi Aruna. Wanita itu berdiri di depan jendela kaca besar, menatap hamparan gedung pencakar langit Jakarta yang berselimut polusi sore. Di dalam benaknya, Jakarta seharusnya menjadi tempat pelarian yang aman setelah badai di London meremukkan fisiknya hingga koma. Namun, baru beberapa minggu ia menginjakkan kaki di tanah air, bayang-bayang masa lalu itu seolah menolak untuk melepaskannya.
Aruna merapikan blender jas kerjanya, mencoba menghalau rasa sesak yang tiba-tiba mengetuk dadanya. Ia tidak boleh terlihat lemah. Tidak di sini, dan tidak di depan ayahnya.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu memutus lamunan Aruna. Pintu kayu ek itu terbuka, menampilkan Deon Prawijaya yang melangkah masuk dengan langkah tegap, diikuti oleh sekretaris pribadinya. Raut wajah sang ayah seketika membuat insting Aruna waspada. Ada aura bisnis yang kaku, tipe tatapan yang selalu menuntut Aruna untuk menjadi proyek masa depan yang sempurna.
"Kau sudah membaca berkas kerja sama strategis dengan Dirgantara Group, Aruna?" tanya Deon tanpa basa-basi, langsung meletakkan sebuah map dokumen tebal di atas meja kerja.
Mendengar nama 'Dirgantara', jemari Aruna yang berada di sisi tubuhnya otomatis mengepal erat.
"Sudah, Yah. Tapi aku sudah katakan, aku tidak ingin terlibat dalam proyek yang bersentuhan dengan mereka."
Deon mengembuskan napas panjang, tatapannya menajam. "Ini bisnis besar, Aruna. Jangan campur adukkan urusan personal atau sentimen masa kuliahmu di London dengan keputusan profesional perusahaan. Sore ini, CEO mereka akan datang langsung untuk penandatanganan draf awal. Ayah ingin kau hadir di ruang rapat utama."
"Yah, tapi.."
"Tidak ada bantahan, Aruna. Ini demi masa depanmu di perusahaan ini," potong Deon final, sebelum berbalik dan melangkah keluar ruangan.
Aruna terpaku di tempatnya. Logikanya berputar hebat. Pria itu Baskara Dirgantara sang algojo akademik yang meremukkan harga dirinya hingga ia ambruk di podium wisma London, kini akan melangkah masuk ke dalam dunianya lagi. Kali ini bukan sebagai dosen pembimbing yang otoriter, melainkan sebagai raksasa korporasi yang siap mendikte hidupnya.
Satu jam kemudian, atmosfer di dalam ruang rapat utama Prawijaya Group terasa seperti hamparan es yang siap retak.
Aruna duduk di sebelah kanan ayahnya, pandangannya lurus menatap dokumen di depannya, menolak untuk mendongak ketika pintu ganda ruangan terbuka lebar. Langkah kaki yang konstan dan berwibawa terdengar mendekat. Hawa intimidasi yang begitu familier seketika memenuhi rongga udara.
Baskara Dirgantara masuk dengan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Wajahnya tampan, namun sekeras pahatan marmer. Tidak ada keramahan, tidak ada riak emosi. Ia tetaplah sosok Baskara yang dingin, angkuh, dan berjarak pria kejam yang sama yang diingat Aruna dalam traumanya.
Baskara mengambil posisi duduk tepat di seberang Aruna. Untuk sesaat, sepasang netra elang milik pria itu bergerak, menatap lurus ke arah Aruna. Tatapan mereka berbenturan di udara.
Aruna bisa merasakan jantungnya bertalu gila-gilaan, memori saat ia disidang di ruang dosen London mendadak berputar di kepalanya. Namun, Aruna memaksa matanya untuk tetap mendingin. Ia membalas tatapan itu dengan sorot mata menantang, menegaskan bahwa ia bukan lagi mahasiswi ringkih yang bisa dibentak hingga tumbang.
"Selamat sore, Pak Deon," suara bariton Baskara mengalun datar, profesional, tanpa cela. Ia mengalihkan pandangannya dari Aruna secara konstan, membuka draf berkas di depannya. "Mari kita langsung mulai pembahasan pasal integrasi aset. Saya tidak memiliki banyak waktu sore ini."
Sikap Baskara yang teramat acuh dan dingin itu justru memicu letupan amarah yang terselubung di dada Aruna. Pria itu bertingkah seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Seolah-olah tangisan kesepian Aruna di London hanyalah debu angin yang tidak penting bagi sejarah hidupnya.
Di balik meja rapat, Aruna mencengkeram pulpennya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, bersiap untuk menguliti setiap pasal yang diajukan oleh Dirgantara Group. Jika Baskara pikir ia bisa mendominasi permainan ini seperti di London, maka pria itu salah besar. Perang dingin di Jakarta baru saja dimulai.
"Pada pasal 14 ayat 2 mengenai pengalihan hak kelola anak perusahaan," Aruna tiba-tiba memotong, suaranya mengalun bening namun setajam silet, memecah eksposisi sepihak dari tim legal Dirgantara Group. "Prawijaya Group diminta untuk menyerahkan kendali penuh atas lini logistik di koridor barat.
Saya rasa, klausul ini tidak bisa disebut sebagai bentuk kerja sama strategis, melainkan bentuk akuisisi terselubung."
Suasana di dalam ruang rapat mendadak senyap. Beberapa direktur senior Prawijaya Group tampak saling pandang, terkejut melihat keberanian Aruna yang langsung menyerang poin krusial di depan Baskara Dirgantara.
Deon Prawijaya berdeham pelan, memberikan kode peringatan lewat tatapan matanya agar Aruna menjaga ritme bicara. Namun, Aruna mengabaikan kode tersebut. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus pada pria berjas abu-abu gelap di seberangnya.
Baskara tidak langsung menjawab. Pria itu meletakkan pulpen montblanc miliknya di atas meja, lalu menegakkan tubuh. Sepasang netra elangnya menyipit, mengunci paras pias Aruna yang tampak kontras dengan sorot matanya yang menyala penuh dendam profesional. Bagi Baskara, ini adalah pertama kalinya ia melihat Aruna bertarung di medan laga yang sesungguhnya, bukan lagi sebagai mahasiswi yang bisa ia tekan di bawah podium akademik London.
"Nona Aruna," suara bariton Baskara mengalun berat, setiap suku katanya sarat akan penekanan yang mendikte. "Klausul itu disisipkan berdasarkan kalkulasi risiko efisiensi modal. Jika Prawijaya Group tidak bisa memenuhi standar kecepatan logistik di koridor barat, Dirgantara Group yang harus menanggung kerugian marginnya. Ini bisnis objektif, bukan ajang untuk menguji sentimen."
"Bisnis objektif tidak seharusnya menumbalkan kemandirian mitra, Pak Baskara," kejar Aruna tanpa jeda, seolah tidak memberi celah bagi Baskara untuk mendominasi ruangan. "Jika efisiensi yang Bapak cari, kami bisa merombak sistem internal tanpa harus menyerahkan hak kendali. Kecuali... sejak awal Dirgantara Group memang meragukan kapasitas kami."
Mendengar kalimat berani itu, sudut rahang Baskara tampak mengetat samar. Ada riak keterkejutan kecil yang melintas di balik mata dinginnya. Pria itu menyadari bahwa gadis di depannya ini telah bertransformasi; Aruna tidak lagi menunduk atau menahan tangis seperti tahun terakhir di London. Gadis itu kini menyerangnya balik dengan argumen hukum yang terstruktur rapi.
Di bawah meja rapat, Aruna meremas jemarinya yang mulai terasa dingin. Detak jantungnya bertalu kencang, memicu rasa pening samar di pelipisnya akibat trauma masa lalu yang mendadak berhamburan naik. Namun, ia menolak untuk tumbang di depan pria kejam ini.
Deon Prawijaya yang melihat tensi kian memanas, segera mengambil alih kendali pembicaraan. "Baik, mengenai pasal 14 akan kami tinjau ulang secara internal malam ini sebelum penandatanganan draf final minggu depan. Saya rasa untuk sore ini, pertemuan bisa kita sudahi."
Rapat akhirnya ditutup dengan atmosfer yang masih terasa membeku. Ketika para jajaran direksi mulai bangkit dan membereskan berkas, Aruna dengan cepat menyambar tas dan dokumennya, berniat menjadi orang pertama yang keluar dari ruangan terkutuk itu. Ia butuh oksigen. Udara di sekitar Baskara terasa terlalu beracun untuk dihirup lebih lama.
Namun, tepat saat Aruna melangkah melewati kursi Baskara, suara berat pria itu terdengar sangat lirih, hanya ditujukan untuk indra pendengaran Aruna seorang.
"Kau sudah banyak berubah, Aruna. Setidaknya, argumenmu di ruang rapat lebih tajam daripada draf skripsimu di London dulu."
Langkah kaki Aruna seketika terhenti. Kalimat bernada sinis dan arogan itu sukses memutar kembali memori rasa sakitnya. Aruna menoleh sekilas, menatap wajah kaku Baskara dengan tatapan mendingin yang menusuk.
"Manusia belajar dari rasa sakit, Pak Baskara," desis Aruna pelan namun sarat akan penekanan, sebelum melangkah lebar meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Baskara yang berdiri mematung menatap punggungnya dengan gurat ekspresi yang sulit diartikan. Perang dingin di Jakarta ini, resmi berjalan dengan tensi yang jauh lebih berbahaya.
"Manusia belajar dari rasa sakit," gumam Baskara lirih, mengulang setiap suku kata yang keluar dari bibir tipis gadis itu.
Suara baritonnya yang biasa terdengar penuh otoritas, kini terdengar begitu hambar dan sarat akan tanda tanya yang mendalam. Rahang pria itu mengetat. Ada sesuatu yang mengganjal di ulu hatinya, sebuah rasa tidak nyaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Baskara bukan pria bodoh. Ia menangkap dengan jelas kilatan dendam, luka, dan kebencian yang teramat pekat di balik sepasang netra bening Aruna sore ini.
Selama ini, di dalam ingatan Baskara, Aruna hanyalah sosok mahasiswi Prawijaya Group yang manja, yang bisa masuk ke universitas terbaik di London berkat jaringan dan uang ayahnya. Ia ingat betul bagaimana kasarnya ia menguliti setiap kesalahan draf akademis Aruna, menuntut kesempurnaan tanpa memedulikan air mata yang tertahan di pelupuk mata gadis itu. Baskara mengira Aruna membencinya hanya karena egonya sebagai anak konglomerat terluka akibat teguran keras seorang dosen.
Namun, tatapan mata Aruna sore ini tidak menunjukkan ego yang terluka. Itu adalah tatapan dari seseorang yang telah melewati titik nadir kehidupan.
"Pak Baskara?" suara asisten pribadinya, yang sejak tadi berdiri cemas di dekat pintu, memecah keheningan. "Mobil sudah siap di lobi. Kita harus mengejar jadwal makan malam dengan komisaris utama."
Baskara tidak langsung menjawab. Ia merapikan jas abu-abu gelapnya dengan gerakan konstan, mencoba mengembalikan topeng dinginnya yang sempat retak. "Batalkan makan malam itu."
"Tapi, Pak.."
"Katankan saya ada urusan mendesak yang tidak bisa ditunda," potong Baskara dingin tanpa menerima bantahan, lalu melangkah lebar meninggalkan ruangan dengan aura yang begitu mencekam.