hallo, saya sun sarang putri bungsu dari pasangan sun siwan dan hayega dinata, sun siwan yang tak lain adalah ayahku pembisnis pakaian dan ibuku hayega adalah seorang dokter.
anak pertama mereka kembar yaitu sun saga si paling tua 10 menit dan sun sagi , dan anak berikutnya ya saya si cantik sun sarang.
kakak pertama saga dia mengikuti gen sang ibu yaitu dokter dan kak sagi dia ikut jejak sang ayah yaitu pembisnis,
sedangkan aku? yah aku sekolah kedokteran tetapi kalian tau aku tidak mau jadi dokter , dan sekarang pekerjaan ku cukup tidak jelas,
kadang produser, kadang vidiografer dan kadang yah cuman tidur aja.
aku gak suka ribet apalagi di atur orang lain dan ternyata aku juga harus ngalamin pase di mana aku harus merendah dan mengontrol semua yang aku lakukan,
saat bertemu dengannya semuanya tampak salah, tidak seharusnya aku menyetujuinya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita zahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. makan siang
Setelah pulang joging aku mampir sebentar ke studio di sana sudah ada beberapa seniorku yang menjadi pembawa acara live di studio,
Aku hanya memberikan data tamu dan pertanyaan yang harus di ajukan host nya, sedangkan produces acaranya kini seniorku wu yan,
Setelah di rasa semuanya selesai aku pamit dan pulang ke vila green, di sana sudah ada yui chan yang memasak di dapur,
'mau reques makan sesuatu untuk siang ini nyonya?" tanyanya,
Aku hanya menggeleng dan tersenyum "tidak perlu aku akan memakan apapun" jawabku santai yang lantas pergi menuju tangga untuk pergi ke kamar,
Di ujung tangga atas sudah ada yanqi berdiri dengan kaos putih dan juga boxer setengah pahanya,
Itu pemandangan yang indah apalagi tubuh atletisnya terbalut dengan sempurna, rambutnya sedikit berantakan mungkin dia baru bangun tidur,
tadinya aku berniat acuh saja dan masuk kamar tanpa menyapanya, tetapi ketika aku melewatinya dia menarik tubuhku dan dengan gerakan kilat nya dia mengecup keningku
"morninggg honey,,,, kau harus mulai terbiasa dengan identitas nyonya yanqi mu" ujarnya melepaskan ku dengan senyuman tak tahu malu itu,
Yah aku tau dia tampan dan begitu memposana tetapi kenapa dia bisa punya sipat tak tau malu seperti itu,
Memelukku dan menciumku di hadapan para pekerjanya, mereka juga makhluk hidup bagaimana bila ada yang memotret bisa² aku di rujak para penggemarnya,
"eum,,," ujarku lantas pergi masuk kamar dan bersiap untuk mandi.
Selesai mandi aku memakain pakaian santai karna hari ini aku hanya di rumah saja dan pekerjaan ku hanya meeting dengan asistent ku terkait kerja sama yang akan di ambil dengan klien kedepannya,
Aku hanya mengenakan celana santai seperempat paha dan kaos over size berwarna abu² yang hampir menutupi celana itu,
Aku membawa laptopku menuju lantai dasar aku berniat akan meeting di ruang santai pinggir kolam, gak mungkin juga kan yanqi melarangku rapat di sana,
"ayo makan siang bersama,,," ajaknya yang sudah duduk di meja makan,
"aku harus join metting 2 menit lagi" ujarku dan dia tetap menarikku untuk duduk di sampingnya di meja makan itu yang sudah tertata beberapa lauk untuk makan siang ini,
"kau bisa metting sambil makan, bukankah hanya metting dengan asistant" ujarnya lagi,
"kenapa kau tau aku hanya meeting bersama asistant" heranku karna setahu ku tidak pernah berbagi soal pekerjaan kepadanya,
"tadi asisten mu datang jadi aku menyuruhnya tinggal di rumah belakang bersama pekerja2 ku biar kalau kau perlu tinggal panggil saja" ujarnya santai,
Yang beberapa menit kemudian benar saja nancy si asisten terbaikku itu sudah datang menghadap membawa laptopnya,
Dasar gila pikirku bisa2 nya dia nurut pada yanqi bukankah aku masih bos yang menggaji nya,
"baiklah tolong kirim file klien nya nanti aku akan memilihnya, dan untuk mettingnya di jadwalkan besok aku tidak punya waktu lagi" ujarku tak mau banyak omong dan menyuruhnya meneruskan pekerjaannya yang lain,
Aku pun makan hanya fokus kepada makanan dan menyibukan diri membaca data klien yang akan aku ambil,
"apakah kau selalu seperti ini" tanya yanqi yang sedang fokus melihatku makan dengan mata menuju layar laptop,
aku hanya mengangguk dan fokus kembali tetapi dia tampaknya tidak mau berdiam dan langsung mengambil piring makan yang sedang ku pegang,
"biar aku saja" ujarnya tampak iba mungkin melihatku seolah tidak punya waktu untuk sekedar makan,
Padahal waktuku cukup banyak aku sengaja tidak mau cari perhatian padanya makanya aku makan sambil fokus ke pekerjaan,
Tetapi apalah daya rasa ikut campurnya begitu besar sehingga kini dia mulai menyuapiku yang masih berpura2 fokus terhadap pekerjaan,
Padahal sebenarnya aku sangat ingin lari dan menghindar sejauh mungkin.