Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.
namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.
shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.
terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 22
“Heru, gimana penyelidikanmu? Apa kamu sudah menemukan hal aneh?” tanya Kakek Hasan.
“Masih aman kok, Bah… Penghuni apartemen itu belum melakukan apa pun. Sebenarnya mereka makhluk apa sih, Bah?” Heru penasaran.
“Mereka juga zombie, tapi ini lebih ganas. Mereka bisa memangsa manusia… kalau di kota yang sudah dimusnahkan itu para zombie hanya menggigit saja,” jelas Hasan.
“Mungkin si Rainal itu menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkan mereka… Dia masih membiarkan kota ini aman dulu untuk sementara waktu,” ujar Heru.
Ternyata Heru adalah orang yang sering membantu Kakek Hasan dalam merawat tanaman obat, sekaligus ditugaskan untuk mengawasi apartemen itu.
“Pastilah… secara kota sebelah sudah berhasil dimusnahkan, dan sekarang orang-orang kaya itu lagi membangun vila-vila dan destinasi wisata juga,” ujar Kakek Hasan.
“Anak angkatku juga sampai sekarang masih sedih kalau mengingat kedua orang tuanya… Seandainya satu tahun yang lalu aku tidak bertemu dengannya, mungkin sekarang dia sudah terjebak di apartemen itu.”
“Tuhan sudah menakdirkan dia hadir dalam keluarga mu, Heru…”
“Besok kamu dan keluargamu datang ke rumah Abah, ya. Untuk menghadiri pernikahan Shila dan Gibran,” suruh Hasan.
“Baik, Bah.”
Setelah cukup lama berbincang, kedua laki-laki itu pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai sore.
Pernikahan Shila dan Gibran diadakan dengan sederhana saja. Yang penting sah di mata agama dan hukum. Hasan hanya mengundang tetangga sekitar. Meski sederhana, suasananya tetap hangat dan penuh kebahagiaan.
“Sudah saatnya kita beraksi. Mari kita acak-acak kota ini dengan para zombie ciptaanku,” perintah Rainal.
“Siap, Bos.”
“Sekarang biarkan para zombie itu keluar dari apartemen. Sudah saatnya mereka mencari makan sendiri.”
Ternyata isi apartemen itu adalah orang-orang yang selamat dari kota Shila. Mereka sengaja diberikan tempat tinggal gratis, padahal sebenarnya dijadikan bahan percobaan.
Setiap hari mereka diberi obat buatan Rainal.
Obat itu perlahan mengubah manusia menjadi makhluk buas jika terus dikonsumsi.
Para penghuni apartemen tidak menyadari bahaya tersebut. Mereka mengira itu hanya vitamin biasa…
Hanya Prof Teguh dan Siska yang tidak diberikan obat itu.
Malam ini, Siska sendirian di apartemen. Sejak siang, Prof Teguh keluar dan sampai sekarang belum kembali.
Karena merasa kesepian, Siska membuka pintu balkon untuk menghirup udara malam.
Ia melihat ke bawah.
Penghuni apartemen itu sangat ramai di luar. Mereka keluar bergerombol, berjalan dengan cara yang aneh.
“Kenapa semakin hari hawa apartemen ini semakin aneh sih… Gue selalu merasa tidak tenang tinggal di sini,” oceh Siska pelan.
Siska memperhatikan rumah-rumah di sekitar apartemen sangat sepi. Tidak ada satu pun yang berani keluar. Bahkan lampu rumah mereka dimatikan.
Hal itu justru membuat suasana semakin mencekam.
Perasaan tidak enak di hati Siska semakin kuat…Seolah-olah… sesuatu yang buruk akan segera terjadi malam ini.
Para pedagang kaki lima berlarian tidak karuan melihat salah satu pedagang tiba-tiba digigit oleh seorang bapak-bapak bermuka pucat.
Setelah itu, tiba-tiba muncul yang lain dan langsung berebut menyerang manusia yang telah digigit tadi. Suasana yang awalnya ramai berubah menjadi kacau dalam hitungan detik.
“Pak, kenapa berlari seperti itu?” tanya salah satu pedagang yang belum menyadari bahaya.
“Gawat, Pak! Ada manusia aneh seperti mayat hidup. Dia menyerang salah satu pedagang!” ceritanya dengan napas terengah-engah.
“Jangan-jangan mereka zombie, Pak…”
“Sepertinya sih… Ayo kita kasih tahu yang lain! Kita harus segera pulang!”
Mereka langsung berteriak menyuruh semua orang pergi dari sana. Suara panik terdengar di mana-mana.
Yang percaya langsung meninggalkan dagangannya dan berlari menyelamatkan diri. Namun, yang tidak percaya tetap bertahan, mengira itu hanya kabar berlebihan.
Dan keputusan itu… menjadi kesalahan terbesar mereka.
Satu per satu dari mereka jatuh menjadi korban. Tidak semua yang digigit langsung diserang… sebagian dibiarkan, perlahan berubah menjadi seperti mereka.
Malam ini… para pedagang menjadi target.
Di tempat lain, Rainal menyaksikan semua itu dengan senyum puas.
“Ternyata berhasil…,” gumamnya pelan.
“Aku mau tahu bagaimana reaksi kakek tua sialan itu setelah melihat apa yang terjadi malam ini,” ucapnya dengan angkuh.
Rainal memang menyimpan dendam pada Kakek Hasan.
Dulu, ia pernah mengajak Hasan bekerja sama.
Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah. Sejak saat itu, Rainal menganggap Hasan sebagai musuhnya.
Baginya, semua ini bukan sekadar eksperimen…
Tapi juga pembuktian—bahwa dialah yang paling hebat.
Dan malam ini… hanyalah awal dari kekacauan yang telah ia rencanakan.
******
Kini Gibran dan Shila sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka masih tidak percaya kalau sekarang hubungan mereka telah sah di mata agama dan hukum.
Rasa bahagia bercampur haru begitu jelas terlihat di wajah keduanya.
Para tetangga satu per satu datang memberikan ucapan selamat.
Suasana sederhana itu terasa hangat dan penuh kebersamaan. Mereka semua belum mengetahui kejadian mengerikan yang terjadi semalam.
Aira juga hadir bersama orang tua angkatnya. Gadis itu terkejut sekaligus terharu saat melihat Shila dan Gibran lah yang menjadi pengantin hari ini.
“Shila, Gibran!” panggil Aira sambil berlari menuju pelaminan. Ia langsung memeluk Shila erat.
Shila terkejut, matanya membulat tak percaya melihat sahabatnya masih hidup. Ia pun langsung membalas pelukan itu.
Tangis keduanya pecah.
Para tamu yang melihat momen itu ikut terharu.
“Ternyata Aira kenal sama Neng Shila, Pak,” ucap Bu Rahma pelan.
Gibran yang mendengar itu langsung tersenyum.
“Mereka sahabat, Bu. Shila pasti kaget melihat sahabatnya baik-baik saja. Karena sebelum kami meninggalkan kota, Shila sempat mengajak Aira, tapi dia menolak,” jelas Gibran.
“Pantesan… ternyata mereka sahabat,” angguk Heru.
“Ai, aku kira kamu tidak pergi dari sana,” tanya Shila sambil menatap Aira.
“Awalnya gue tidak mau, Shila. Tapi mama dan papa gue yang nyuruh… Mereka nasehatin gue panjang lebar sebelum semuanya berubah. Mereka marah karena gue keras kepala dan tidak mau ikut kalian,” cerita Aira dengan mata berkaca-kaca.
“Lo tinggal di sini sama siapa?”
“Sama ibu dan bapak angkat gue, Shila… Ceritanya panjang, nanti gue ceritakan. Dan selamat ya atas pernikahan kalian,” ucap Aira sambil tersenyum.
“Sama-sama… Gue senang banget karena sekarang gue punya teman di sini,” balas Shila.
Gibran menatap kedua sahabat itu dengan perasaan lega.
Di tengah kebahagiaan yang mereka rasakan hari ini…
Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari
bahwa ancaman besar sedang bergerak perlahan mendekati kota ini.
Dan kebahagiaan ini… bisa saja menjadi ketenangan sebelum badai datang.
"shila gue kepikiran dengan dewi. apa dia juga selamat" tanya aira.
gibran dan shila langsung saling tatap. harus mereka jujur dengan dewi yang berubah jadi zombie tapi mereka tidak mau aira sedih lagi dan memutuskan untuk tidak cerita aja..