NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persekongkolan Jahat

Sementara di rumah, Vira menangis dan dilanda kegelisahan luar biasa menanti kabar yang tak kunjung datang, jauh di seberang lautan sana, situasi yang sebenarnya terjadi jauh lebih berbahaya, jauh lebih gelap, dan jauh lebih mengerikan daripada sekadar alasan "sedang sibuk bekerja".

Fakta yang sesungguhnya adalah... Farzhan Ibrahim sama sekali tidak sedang duduk manis di ruang rapat mewah atau beristirahat nyaman di kamar hotel bintang lima.

Pria yang biasanya begitu berkuasa dan dihormati itu, saat ini justru berada di tempat yang gelap, lembap, sempit, dan sangat tidak nyaman. Tempat yang jauh berbeda dari kemewahan yang biasa ia nikmati.

Kejadian naas itu bermula tepat dua hari yang lalu. Saat itu, Farzhan dan Zikri baru saja selesai melakukan pertemuan bisnis yang sangat penting dan sedang dalam perjalanan kembali menuju ke penginapan mereka. Jalanan saat itu terlihat sepi dan lengang, hingga tiba-tiba sebuah mobil van berwarna putih memotong jalan dan menghadang laju mobil mereka secara tiba-tiba.

Tanpa ampun, kendaraan mereka ditabrak dengan keras dari arah samping.

BRAKKK!!!

Kaca jendela pecah berantakan berkeping-keping. Ban mobil meletus kempes seketika karena benturan hebat. Hentakan keras itu membuat tubuh Farzhan dan Zikri terpental ke depan dengan kuat, kepala mereka berdenyut hebat, pandangan mata menjadi kabur, dan rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuh.

Belum sempat mereka sadar sepenuhnya atau memahami apa yang terjadi, pintu mobil ditarik paksa hingga terlepas dari engselnya. Beberapa orang pria bertopeng, bertubuh kekar, dan tampak garang langsung menyeret mereka keluar dengan kasar dan beringas ke atas aspal jalan.

"ARGH! SIAPA KALIAN?! BERANI SEKALI KALIAN!" teriak Zikri berusaha melawan sekuat tenaga, namun ia langsung dipukul keras di bagian perut hingga napasnya tertahan dan jatuh tersungkur tak berdaya.

Farzhan yang masih dalam keadaan pusing berusaha melawan menggunakan kemampuan bela dirinya, ia berhasil memukul dan menjatuhkan satu orang penyerang, namun jumlah mereka terlalu banyak dan tidak seimbang. Tanpa ia sadari, seseorang yang bersembunyi di belakangnya menyabetkan benda keras berat tepat ke arah kepalanya.

KRAKK!

"Arghh.." Farzhan mengerang kesakitan hebat. Pandangannya seketika menggelap dan berputar. Tenaganya terkuras habis dan tubuhnya menjadi lemas tak berdaya seketika.

Sebelum matanya benar-benar tertutup dan ia kehilangan kesadaran sepenuhnya, hal terakhir yang ia dengar adalah suara tawa jahat yang mengerikan, dan suara seseorang yang sangat ia kenal — suara yang tidak pernah ia sangka akan berani melakukan tindakan sekejam ini.

"Selamat datang, Tuan Bos Besar... Terima kasih banyak karena sudah mau datang sendiri masuk ke dalam perangkap yang kami siapkan dengan indah ini."

 

Kini, Farzhan dan Zikri perlahan mulai tersadar. Mereka melihat diri mereka terbaring di sebuah gudang tua yang pengap, lembap, dan sedikit gelap. Tangan kedua-duanya terikat sangat kuat di belakang punggung dengan tali tebal yang menusuk kulit. Mulut mereka pun disumbat rapat dengan kain kasar agar tidak ada suara yang bisa keluar.

Kepala Farzhan terasa sangat berat, berdenyut nyeri hebat di bagian yang terbentur. Ia membuka matanya perlahan, berusaha memfokuskan pandangan dan menyesuaikan diri dengan kegelapan ruangan yang remang-remang.

Di hadapannya, berdiri dua sosok yang tidak pernah ia duga akan memiliki keberanian — atau lebih tepatnya kegilaan — untuk melakukan hal sebegini ekstrem.

Nabila.

Dan berdiri di sebelahnya, dengan senyum yang paling menyebalkan dan penuh kemenangan, adalah Pak Herman!

Orang yang dapat membeli hukum dengan uang yang tidak seberapa baginya.

Keduanya tersenyum puas lebar-lebar, tatapan mata mereka penuh dengan dendam kesumat, kebencian yang mendalam, dan kesombongan yang meluap-luap.

"Ah... akhirnya si pahlawan besar, si orang paling hebat itu bangun juga," ejek Nabila dengan nada suara dingin, tajam, dan penuh kebencian. "Bagaimana rasanya, Pak Farzhan Ibrahim? Rasanya tidak enak kan ditindas? Rasanya tidak enak kan berada di posisi lemah dan tidak berdaya begini? Hilang sudah wibawa dan aura ketampananmu itu."

Farzhan hanya bisa mendengus keras menahan amarah yang meluap, matanya memancarkan api kemurkaan yang luar biasa tajam meski tubuhnya sedang terikat dan terluka. Ia ingin sekali menerjang dan mencekik leher wanita di hadapannya itu, namun ikatan di tangannya terlalu kuat dan kondisinya belum pulih sepenuhnya.

"Jangan sok keras dan sok gagah lagi sekarang, Pak," kata Pak Herman maju selangkah mendekat, wajahnya dipenuhi rasa sombong yang menjijikkan. "Anda pikir Anda sudah menang besar setelah memecat kami kemarin? Anda pikir Anda bisa seenaknya menghancurkan karier, masa depan, dan hidup kami begitu saja tanpa balasan? Anda salah besar, Tuan Muda."

Jadi inilah kenyataan di balik semua kejadian ini. Semua ini adalah sebuah PERSEKONGKOLAN JAHAT yang telah direncanakan dengan sangat rapi, matang, dan penuh perhitungan.

Setelah gagal menjatuhkan nama baik dan posisi Farzhan lewat cara korupsi, intrik kantor, dan penghancuran proyek, Nabila dan Pak Herman memutuskan untuk mengambil langkah yang paling ekstrem, paling berbahaya, dan sepenuhnya kriminal.

Mereka menyewa sekelompok preman profesional yang kejam untuk melakukan penculikan ini, tepat saat Farzhan berada di luar negeri — tempat di mana kekuasaan, perlindungan, dan pengaruh Farzhan tidak sekuat di tanah airnya sendiri.

"Apa sebenarnya tujuan mereka?" batin Farzhan berpikir cepat di tengah situasi sulitnya. "Apakah hanya soal uang tebusan? Atau mereka benar-benar berniat membunuhku untuk menghilangkan jejak?"

Seolah bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Farzhan, Nabila tertawa renyah namun terdengar sangat jahat. Ia berjalan berputar mengelilingi kursi tempat Farzhan diikat.

"Tenang saja... kami belum mau membunuhmu. Membunuhmu terlalu mudah, terlalu cepat, dan terlalu murah harganya," katanya dengan nada penuh ancaman.

"Kami mau kamu hidup, tapi dalam penderitaan. Kami mau kamu menandatangani beberapa dokumen penting. Surat penyerahan seluruh saham perusahaan secara paksa ke tangan kami, dan surat pernyataan bahwa kamu mengundurkan diri karena sakit parah yang membuatmu tidak mampu bekerja lagi."

Nabila berhenti tepat di depan wajah Farzhan. Ia mengeluarkan sebuah pisau lipat yang tajam dan berkilau, lalu memainkannya di depan mata Farzhan dengan gerakan lambat dan mengancam.

"Dan kalau kamu menolak atau keras kepala..." ucapnya berbisik dingin, "...temanmu yang setia di sana, Zikri, yang akan kami potong-potong secara pelan-pelan di depan matamu sampai kamu mau menurut. Atau... alternatif lain yang lebih menarik: kami bisa terbang ke Indonesia sekarang juga dan menyelesaikan masalah ini sampai ke akarnya dengan istri manismu bernama Vira. Bagaimana? Kamu mau lihat apa yang akan kami lakukan padanya?"

DEGG!!!

Sebutan nama Vira yang keluar dari mulut wanita jahat itu bagaikan petir yang menyambar langsung ke ulu hati dan seluruh tubuh Farzhan.

Wajah Farzhan seketika berubah menjadi pucat pasi karena rasa panik yang luar biasa. Bayangan wajah Vira yang tersenyum manis, Vira yang sedang menunggunya pulang dengan rindu, Vira yang mungkin saat ini sedang menangis sambil menelponnya berulang kali, muncul sangat jelas dan nyata di kepalanya.

Jangan... Jangan sentuh Vira! Jangan pernah berani menyentuhnya! Jangan libatkan dia dalam kotoran kalian!

"Kalian benar-benar sudah gila..." Farzhan akhirnya bisa mengeluarkan suaranya meski terdengar serak, berat, dan tertahan rasa sakit. "Kalian berani bermain sejauh dan sejahat ini? Kalian pikir kalian bakal bisa lolos begitu saja dari semua kejahatan ini?"

"Siapa yang akan tahu dan siapa yang akan buktikan?" Pak Herman tertawa sinis dengan percaya diri. "Kamu kan hilang di luar negeri, jauh dari orang-orangmu. Ceritanya bisa kami atur sesuka hati: bisa saja kamu kecelakaan lalu hilang, atau kabur karena punya utang besar, atau apa saja. Dunia ini sangat luas, Tuan Farzhan. Di dunia ini masih banyak tempat tersembunyi yang cocok sekali untuk menyembunyikan mayat, atau bahkan orang hidup yang sudah dianggap mati."

Mereka berdua ternyata benar-benar sudah kehilangan akal sehat dan nurani. Dendam kesumat serta keserakahan telah membutakan mata dan hati mereka sampai berani melakukan tindakan penculikan yang berisiko hukuman penjara seumur hidup, bahkan hukuman mati sekalipun.

Farzhan menundukkan kepalanya sejenak, napasnya memburu dan berat.

Di satu sisi, tubuhnya terluka, ia sakit, dan ia tertawan tak berdaya.

Namun di sisi lain, semangat juangnya belum padam sedikit pun. Api pembalasan dendam dan rasa cintanya pada Vira justru membara semakin hebat.

"Kalian merasa menang sekarang..." gumam Farzhan pelan, matanya menyipit tajam menatap kedua musuh bebuyutannya itu dengan pandangan yang sangat mengerikan, pandangan seseorang yang tidak akan pernah menyerah. "...tapi ingat baik-baik apa yang aku katakan ini. Kejahatan sekecil apa pun pasti akan ketahuan dan terbongkar. Dan kalian... kalian berdua akan membayar semua perbuatan jahat ini dengan harga yang sangat mahal, jauh lebih mahal daripada yang kalian bayangkan."

"Omong kosong dan ancaman kosong saja!" Nabila menendang kursi di dekat kaki Farzhan dengan marah. "Cepat tandatangani surat-surat itu sekarang sebelum kami benar-benar kehilangan kesabaran dan melakukan hal yang lebih buruk!"

Pertarungan hidup dan mati yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di tengah keterbatasan dan bahaya yang mengancam nyawa, Farzhan harus berpikir lebih cepat, mencari celah sekecil apa pun untuk membalikkan keadaan, bertahan hidup sekuat tenaga, dan yang paling utama: ia HARUS pulang kembali ke pangkuan Vira.

Dia tidak boleh mati di sini. Dia tidak boleh membiarkan Vira terus menunggu sia-sia dalam ketidaktahuan dan kesedihan.

1
Siti Sarfiah
jadilah pemimpin yg tegas , jangan mau d injàk" oleh penghianat seperti kepiting busuk
Siti Sarfiah
alhamdulillah , jadi rumah tangga yg samawa
Siti Sarfiah
aduh , jangan pasang gengsi , buang egonya masing" karena vira dan farzhan dh sah suami istri 💪
Siti Sarfiah
ehh mau bicara apa sama vira , jangan membentaknya lagi ya🤭
Siti Sarfiah
kenapa jadi begini , buang dulu rasa gengsinya kan dh sah jadi suami istri , semangat💪
Siti Sarfiah
pria yg sedingin es balok bisa juga merayakan ulang tahun dan memberikan kado untuk istrinya berupa berlian , mantap👍👍
Siti Sarfiah
wah dh mulai lembut hatinya dan merayakan ulang tahun istrinya romantis sekali pak bos😄
Siti Sarfiah
dh mulai cinta dan timbul juga rasa cemburunya😄😄
Siti Sarfiah
wah mantap sekali , kenangan yg tersimpan rapi akhirnya menyadarkan si suami sedingin kulkas es
Siti Sarfiah
akhirnya sadar juga setelah melihat vira sakit
Siti Sarfiah
yg sabar vira nggak akan selamanya manusia berhati baja pasti akan ada saatnya melunak dan akhirnya farzhan mengaku dan minta maaf atas kesalahannya👍
Siti Sarfiah
hmm geregetan juga jadinya🤣
Siti Sarfiah
aduh vira salah paham lagi, itukan kewajiban suami istri saling menolong, suatu saat farzhan akan ada waktunya untuk vira💪
Siti Sarfiah
akhirnya luluh juga , awalnya seperti harimau yg siap menerkam kini jadi manusia penurut🤭👍
Siti Sarfiah
mudahan cpat sembuh kucing orennya vira🤲
Siti Sarfiah
alhamdulillah, ada kemajuan sehat🤭
Siti Sarfiah
kalau presiden dh memberi mandat harus d laksanakan nggak boleh protes
Siti Sarfiah
haaa sama" banteng, bukan lagi harimau dan si ceroboh🤭🤭
Siti Sarfiah
bersyukurlah, yg penting dapat tempat tinggal, makanan ada dan ada tempat tidur yg nyaman , banyak" berdoa agar dapat kebahagiaan
Siti Sarfiah
sabar vira , suatu saat dia akan lembut hatinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!