Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Ayahku
Beberapa hari sejak kejadian kotak di malam itu. Alena hanya diam dan menyimpan benang itu rapat-rapat. Bahkan sampai saat ini Kai tidak diberi tahu.
Wanita itu berusaha menyembunyikan semuanya, dan suatu sore saat ia pulang dari pekerjaannya tanpa sengaja langkah kakinya berjalan ke arah pantai.
Entah kenapa ia hanya ingin menghilangkan penat yang ada di dalam pikirannya, akan tetapi saat ia melihat debur ombak yang begitu tenang tanpa sadar tatapannya menangkap sosok pria yang sedang duduk seolah sedang menanti seseorang.
Pria berkaca mata hitam itu adalah Kael. Ia duduk di bawah pohon sementara Alena tahu tempat ini merupakan area bermain anak-anak terutama si Kai.
Entah keberanian dari mana tiba-tiba saja wanita itu menghampiri Kael dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Sudah lama, anda duduk di sini?" tanya Alena tiba-tiba.
Mendengar suara itu Kael sedikit tersentak, rupanya Alena sejak tadi memperhatikannya. "Aku di sini hanya ingin melihat anakku."
Suara itu terdengar begitu enteng seolah ia tidak pernah melakukan kesalahan di masa lalunya.
"Jangan pernah bicara tentang anak, anakku tidak akan pernah punya ayah seburuk anda!"
Sejenak dada Kael memanas, kalimat itu mengingatkannya pada kejadian delapan tahun lalu, dimana waktu itu dengan sadar ia menolak kehadiran janin yang di kandung Alena.
"Maaf." satu kata yang keluar dari mulut Kael. "Kalau aku bisa menarik semua kata-kataku dulu, aku pasti tidak akan mengatakan itu, aku tahu kamu membenciku kamu tidak sudi melihatku, tapi aku mohon jangan pernah halangi niatku untuk melihat darah dagingku sendiri meskipun hanya dari kejauhan," pinta Kael, baru kali ini suara pria itu terdengar memohon.
Alena sedikit melengos, tangannya mengepal kuat, seolah tidak terima dengan pernyataan yang ia dengar sekarang.
"Kau bisa berkata seperti itu sekarang karena sudah melihat Kai," ucap Alena lirih. "Tapi coba kalau wajahnya tidak semirip itu denganmu. Apa kau masih akan datang mencari kami?" tanyanya penuh keraguan.
Kael terdiam sejenak, seolah tahu jika wanita dihadapannya itu meragukan dirinya.
"Dia mirip denganku karena dia darah dagingku Alena, dan kau tidak bisa mengelak akan hal itu," sahut Kael, tangannya mulai membuka kaca mata hitamnya saat tatapan itu bertemu dengan Alena.
"Justru karena dia darah dagingmu, tapi kenapa kau malah menolaknya dan hal itu tidak akan pernah terlupakan, sekalipun dunia sudah memaafkan mu kau tidak bisa mengelak jika kau pernah jadi orang jahat pada darah dagingmu sendiri."
Deg!
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong menghantam tepat ke dasar hatinya, Kael tidak bisa berkata-kata lagi ia membeku seketika saat kemarahan itu keluar sendiri dari mulut seorang wanita yang sudah membesarkan anaknya.
"Dan, satu lagi pintaku," lanjut Alena. "Jangan pernah kirim apapun pada anakku, dia sudah cukup bahagia, dengan keempat ibunya yang sudah memberikan cinta tak bersyarat untuk Kai, cinta yang tulis meskipun tak sedarah," larang Alena tegas.
Tepat setelah mengatakan itu, Alena pergi tanpa menatap kembali ke arah Kael. Sementara pria itu hanya mematung sambil melihat punggung Alena yang semakin jauh dari hadapannya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya.
Pagi itu di sekolah, Kai terlihat menggaruk kepalanya, anak itu sempat bingung dengan tugas yang diberikan oleh guru. Tidak seperti biasanya, bahkan saat pelajaran yang tersulit pun anak itu selalu selesai duluan.
"Kai belum selesai?" tanya seorang guru yang merasa heran.
"Belum Bu," sahut anak itu seolah seperti menahan sesuatu yang sampai saat ini belum ia mengerti.
Sementara itu teman sebangkunya melihat buku kai yang masih kosong merasa heran juga.
"Kai belum selesai juga ya?" tanya temannya itu.
"Belum," sahut Kai cepat.
Kemudian teman perempuannya itu melirik ke arah tugas Kai yang masih kosong. "Kai memangnya kamu tidak tahu sama ayahmu?" tanyanya polos.
Kai diam sejenak terlihat berpikir namun seingatnya ia tidak pernah mendengar keempat ibunya menceritakan tentang ayahnya.
"Aku gak tahu Elia."
"Masak sih kamu tidak tahu sama ayahmu, atau setidaknya kau tahu namanya," ucap Elia.
Kai menggelengkan kepalanya cepat. "Dibilang gak tahu ya gak tahu," sahutnya tegas.
Kai mulai melihat ke arah bukunya, padahal ia sudah membuat pohon keluarga yang disitu sudah tertulis. Mama Alena, Ibu Senna, Ibu Anne bahkan Ibu Rina.
Akan tetapi tepat di kotak yang bertuliskan Ayah anak itu bingung. "Tuhan... bantu Kai."
Bahkan sampai bel pulang sudah berbunyi dan sebagai anak sudah mengumpulkan tugas lalu pulang. Sementara Kai masih tetap dengan kebingungannya sendiri.
Anak itu masih menatap pohon keluarga yang ia buat sendiri, karena merasa diam terlalu lama, akhirnya ia memberanikan diri untuk maju ke meja guru.
"Bu, Kai masih bingung," ucap anak itu.
Guru itu mulai melihat jelas pohon keluarga yang digambar oleh anak itu. Dan di setiap kotak sudah ada nama ibunya masing-mading hanya satu nama saja yang tidak tertera.
"Nak, kalau Kai memang belum tahu, tidak apa-apa dikosongkan dulu."
"Tapi Kai mau tanya Mama dulu, Bu. Boleh Kai kumpulkan besok?"
Guru itu dengan sabar menganggukkan kepalanya. "Baiklah Nak, tapi kalau ibumu gak kasih jawaban jangan dipaksa ya," pesannya.
Kai mengangguk cepat, tanpa membuang waktu lagi anak itu langsung kembali ke bangkunya dan memasukkan bukunya itu ke dalam tas, setelah itu tak lupa ia bersalaman pada gurunya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Malam harinya, sejak kepergian Rina tempo hari yang lalu, mereka bertiga setiap malam selalu ngumpul di rumah Alena. Hal ini mereka lakukan agar Kai tidak murung berlarut-larut.
Seperti biasa, mereka makan malam dengan menu sederhana yang tersaji diatas meja.
Ikan bakar, sambal. Dan sayur bening. Suasana awalnya hangat. Sampai akhirnya Kai meletakkan sendoknya perlahan.
"Mama?"
"Hm?" sahut Alena.
Kai terlihat ragu seperti takut ingin menanyakan hal yang selama ini tidak pernah diceritakan oleh ibunya. Namun akhirnya anak itu memberanikan diri.
"Mama..."
"Iya Sayang?"
"Kai punya Papa kan?"
Sendok yang berada di tangan Alena langsung berhenti di udara. Anne langsung membeku seketika sementara Senna yang sedang minum hampir tersedak.
Rumah kecil itu mendadak sunyi. Hanya karena suara pertanyaan kecil itu. Kai menatap mereka satu per satu. Wajah polos itu dipenuhi rasa penasaran.
"Tentu saja Kai punya Papa," jawab Alena akhirnya.
Suaranya terdengar pelan. Hampir bergetar.
"Kalau begitu..." Kai menelan ludah. "Papanya Kai di mana?"
Tidak ada jawaban. Anne menunduk.Senna memalingkan wajah. Sedangkan Alena merasa dadanya seperti diremas seseorang.
Selama delapan tahun penuh. Ia berhasil melewati semua pertanyaan itu, namun pada malam ini benteng yang selama ini ia bangun mulai retak.
"Kai cuma ingin tahu karena ada tugas dari sekolah, semua temen Kai sudah mengumpulkan tugas itu, tinggal Kak sendiri," jelas anak itu.
Dan justru itu yang paling menyakitkan.
Perlahan anak itu mengeluarkan kertas dari tasnya.
Pohon keluarga di bagian ayah masih kosong.
"Teman-teman Kai gambar Papa mereka."
"Kai gak bisa."
Mata Alena langsung memanas. Sementara Kai masih berbicara tanpa sadar bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti pisau yang mengiris hati ibunya.
"Papa Kai masih hidup kan?"
Pertanyaan itu membuat Alena kehilangan napas sejenak.
"Iya."
"Kalau masih hidup..." Kai menunduk. "Kenapa Papa gak pernah datang?"
Air mata yang sejak tadi ditahan Alena akhirnya jatuh, dan melihat itu Kai benar-benar merasa bersalah.
"Ma, apa Kai salah ngomong?" tanya anaknya itu.
Alena menggeleng dengan cepat. "Tidak Nak, Kai tidak salah, Mama hanya ngerasa sekarang Kai udah gede ya makanya Kai butuh tahu siapa nama Papa," jelas Alena dengan nada yang bergetar.
Melihat mamanya yang berurai air mata seketika Kai teringat akan ucapan gurunya tadi. "Baiklah Ma, jika Mama masih belum bisa jawab gak apa-apa," sahut anaknya itu seolah mengerti.
Sementara di luar rumah. Tidak jauh dari jendela yang terbuka. Seorang pria berdiri diam dalam kegelapan.
Kael.
Awalnya ia hanya ingin memastikan Kai baik-baik saja sebelum kembali ke penginapan. Namun tanpa sengaja ia mendengar semuanya.
Setiap pertanyaan kecil yang keluar dari mulut Kai terasa seperti menghantam dadanya tanpa ampun.
Papa Kai masih hidup kan? Kalau masih hidup... kenapa Papa gak pernah datang?
Kael memejamkan matanya kuat-kuat.
Untuk pertama kalinya ia sadar, yang paling ditakuti Alena bukanlah dirinya. Melainkan hari ketika Kai mulai mencari jawaban tentang ayahnya.
Dan hari itu? Ternyata sudah datang.
Bersambung...
Selamat sore yuk komen yu... biar rame saja lapakku ... He he. teruntuk pembaca yang senantiasa tiasa meninggalkan jejak meskipun jarang aku balas. Terus terang saja aku sangat bahagia seperti semangat lagi. Love you kalian semuanya ♥️♥️♥️♥️