"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bubur Pagi Membawa Petaka
Suasana di kedai bubur seberang persimpangan jalan itu mendadak jadi canggung banget. Pemilik kedai, seorang pria paruh baya dengan celemek putih yang penuh noda kecap, berdiri mematung di balik rombong dagangannya.
Tangannya yang memegang centong kuah gemetaran parah. Dia mau kabur tapi takut gerobaknya dihancurkan, tapi kalau tetap di sana, nyawanya berasa lagi di ujung tanduk.
Ling Chen dengan santai mengetuk meja kayu kedai, memecah keheningan fajar yang mencekam. "Paman, bubur ayam dua mangkuk. Kasih cakwe yang banyak, jangan pakai seledri."
"A-ah, iya, Tuan Muda! Segera siap!" jawab si pemilik kedai dengan suara bergetar, lalu buru-buru menyendok bubur secepat yang dia bisa seolah hidupnya tergantung pada kecepatan membuat mangkuk bubur itu.
Mu Rong'er duduk di sebelah Ling Chen sambil menaruh Kuro di atas meja. Gadis itu menopang dagunya, menatap Yan Mu yang masih terduduk lemas di tengah jalan sambil memegangi dadanya.
"Tuan Muda Ling, kamu beneran mau sarapan di sini? Itu si jubah putih kelihatan kayak mau mati karena menahan malu, lho."
"Makan itu penting untuk menyelaraskan energi fisik," jawab Ling Chen enteng, pas banget saat dua mangkuk bubur hangat disajikan di depan mereka.
Dia mengambil sendok, lalu mulai makan dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, kontras banget dengan situasi jalanan yang baru saja dia hancurkan.
Kuro mengendus mangkuk bubur milik Mu Rong'er, lalu mengeluarkan suara "Kyuu~" manja, minta bagian cakwe yang renyah.
Sementara mereka asyik menikmati sarapan pagi, Yan Mu yang ada di tengah persimpangan jalan terus menatap ke arah langit istana.
Dia tahu gurunya, Tetua Mo, memiliki kecepatan gerak yang luar biasa karena sudah menguasai Teknik Langkah Bayangan Langit dari Benua Tengah.
Nggak butuh waktu lama, udara di atas persimpangan jalan mendadak berdesir hebat. Langit pagi yang tadinya mulai terang tiba-tiba tertutup oleh segumpal awan hitam pekat yang berputar-putar.
Tekanan energi spiritual yang sangat masif langsung menekan area sekitar, bikin batu-batu kecil di jalanan mulai terangkat ke udara.
WUSS!
Sesosok pria tua berambut putih dengan jubah hitam longgar mendarat dengan anggun tepat di depan Yan Mu.
Setiap kali kakinya menyentuh tanah, ada riak energi hitam yang keluar, mengikis batu granit di sekelilingnya menjadi abu.
"Guru!" Yan Mu langsung merangkak mendekat, wajahnya yang penuh darah kelihatan girang banget seolah baru saja melihat dewa penyelamat.
"Guru, tolong saya! Bocah baju biru di kedai itu... dia menghancurkan kipas giok saya dan menghina klan kita dari Benua Tengah!"
Tetua Mo melirik muridnya sekilas, matanya menyipit penuh amarah saat melihat kondisi Yan Mu yang mengenaskan.
Dia kemudian membalikkan badannya perlahan, menatap lurus ke arah kedai bubur tempat Ling Chen masih asyik mengunyah cakwe.
"Bocah ingusan dari wilayah utara yang miskin," suara Tetua Mo terdengar serak namun bergaung hebat di dalam dada siapa pun yang mendengarnya.
"Kamu sudah berani menyentuh muridku. Serahkan Giok Jiwa Sembilan Langit itu sekarang juga, dan aku mungkin akan membiarkan jiwamu hancur tanpa rasa sakit yang berkepanjangan."
Mendengar tekanan suara yang begitu berat, Mu Rong'er langsung menghentikan suapannya.
Wajahnya kembali memucat karena hawa menekan dari Tetua Mo ini jauh lebih mengerikan dibanding semua musuh yang pernah dia temui sebelumnya.
Ini adalah kekuatan dari seorang master sejati yang sudah mendekati ranah puncak dunia fana.
Namun, Ling Chen bahkan tidak menghentikan kunyahannya.
Dia menelan buburnya perlahan, meminum secangkir teh tawar hangat yang disediakan, lalu mengambil selembar kain untuk mengelap bibirnya dengan rapi.
Setelah selesai dengan urusan makannya, Ling Chen baru menoleh ke arah Tetua Mo.
Matanya yang biru safir menatap pria tua itu dengan pandangan hambar, seolah-olah yang ada di depannya itu bukan seorang master besar, melainkan cuma pengemis tua yang lagi minta jatah makanan.
"Orang tua," Ling Chen membuka suara, nadanya santai tapi bikin semua orang menahan napas.
"Kamu datang jauh-jauh dari Benua Tengah cuma buat mengganggu orang sarapan? Dan satu lagi... baju hitammu itu jelek banget, mending pulang dan ganti baju sana sebelum aku bikin jubahmu itu jadi kain pel lantai kedai ini."
UHUK!
Mu Rong'er yang baru aja mau minum teh langsung tersedak mendengar ucapan Ling Chen yang kelewat batas gila itu.
Dia menatap pemuda di sampingnya dengan mata melotot, bener-bener nggak habis pikir kenapa Ling Chen bisa se-santai itu memancing amarah seorang monster dari Benua Tengah.
Wajah Tetua Mo yang tadinya sok tenang langsung berkedut parah. Jenggot putihnya bergetar hebat karena menahan emosi yang meledak-ledak.
"LANCANG! Hari ini, biar alam semesta menyaksikan bagaimana aku meremukkan setiap jengkal tulang di tubuhmu, Bocah Sialan!"
Awan hitam di atas langit langsung menyambar ke bawah, menyelimuti tubuh Tetua Mo dengan aura kegelapan yang sangat pekat, siap meratakan seluruh persimpangan jalan itu dalam sekali serang.
Konflik terbesar di Ibukota beneran sudah pecah, dan Ling Chen tampaknya sama sekali nggak berniat buat mundur selangkah pun.