Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Mendengar itu, tangan Raja Reynold berhenti bergerak. Dengan gerakan pelan, ia memandang Liam dengan tatapan yang sulit diartikan.
----------
“Apa maksudmu, Liam?” tanya Raja Reynold akhirnya.
Liam menelan ludah sebelum menjawab.
“Ratu Aurelia berada di Fuhan, Yang Mulia. Informasi ini disampaikan langsung oleh Ryker—putra Archduke Ethan.”
Untuk sesaat, ruangan itu terasa sunyi.
Raja Reynold mendorong kursinya dan bangkit berdiri. Gerakannya kaku, seolah tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya.
Dengan tangan yang sedikit mengepal. Ia memandang Liam dengan tatapan tajam.
“Siapkan kendaraan, kita berangkat kesana sekarang” ucapnya singkat.
Dengan langkah penuh semangat, Raja Reynold berangkat menuju Desa Fuhan.
----------
Tak lama kemudian, Raja Reynold telah berada di perjalanan menuju Desa Fuhan. Langit masih diselimuti malam yang hampir berganti pagi. Jam menunjukkan pukul 01.45, namun matanya tetap terjaga, dipenuhi kegelisahan.
Gelang milik Ratu Aurelia tak pernah lepas dari genggamannya. Benda itu selalu ia bawa ke mana pun ia pergi—seolah menjadi satu-satunya penghubung yang tersisa.
“Dengan siapa Aurelia datang ke Desa Fuhan?” tanya Raja Reynold, suaranya rendah namun tegas.
“Menurut keterangan Ryker, beliau datang bersama dua orang gadis remaja dari Kerajaan Wales untuk membantu Desa Fuhan,” jelas Liam.
“Selidiki,” balas Raja Reynold tanpa menoleh. “Jangan sampai kita kehilangan informasi sekecil apa pun.”
Pandangan Raja Reynold beralih ke luar jendela, menyusuri jalan yang diterangi lampu-lampu malam, sementara pikirannya hanya di penuhi tentang Ratu Aurelia.
----------
Desa Fuhan
Sementara itu, pagi telah tiba di Desa Fuhan, di awali dengan kesibukan ibu-ibu di pos pengungsian menyiapkan makanan seadanya yang akan mereka santap hari ini
Di antara ibu-ibu itu, Ratu Aurellia melihat lula dan Mila yang semangat membantu mereka semua. Dengan langkah pelan Ratu Aurelia berjalan menghampiri mereka.
"Salam, Yang Mulia." ujar orang-orang itu, melihat kehadiran Ratu Aurelia.
"Lanjutkan saja pekerjaan kalian, saya hanya ingin membantu sedikit. Tidak usah sungkan" jawab Ratu Aurelia.
"Maaf Yang Mulia, kami tidak berani" ujar salah satu dari mereka, sambil menundukkan kepalanya.
Mendapatkan respon seperti itu, Ratu Aurelia hanya menarik nafas dalam-dalam. Dengan langkah pelan, ia meninggalkan tenda itu. Tetapi sebelum meninggalkan tempat itu, ia mengelus punggung Lula singkat.
----------
Di kursi kayu yang berdebu, Ratu Aurelia duduk dengan punggung tegak, serta sorot matanya menyusuri setiap keadaan Desa Fuhan. Pikirannya melayang jauh ke Averdom setelah melihat Lula dan Mila. Setiap perasaan itu datang, terasa sangat menyakitkan di dadanya.
Seperti apa mereka sekarang, batinnya berbisik.
Dibelakangnya tanpa Ratu Aurelia sadari, Raja Reynold memandangnya dengan tatapan sendu. Dengan perlahan ia berjalan mendekat kearah Ratu Aurelia. Setelah itu ia duduk di sebelah Ratu Aurelia.
Merasa seseorang duduk di sebelahnya, Ratu Aurelia memutar kepalanya sedikit. Matanya langsung berkaca kaca melihat Raja Reynold, nafasnya terasa sesak.
Perlahan bayangan rahasia yang ia simpan datang bersamaan.
Tentang jati dirinya.
Tentang anak mereka.
Tentang semua kebohongan yang ia simpan rapat hingga saat ini.
Membuatnya meneteskan airmata satu persatu.
Raja Reynold yang tidak tega melihat kondisi Ratu Aurelia langsung memeluknya dengan erat.
" Maaf" gumam Ratu Aurelia pelan.
Raja Reynold melepaskan pelukannya perlahan.
Tangan besarnya mengusap pipi Ratu Aurelia dengan gerakan lembut, menyingkirkan sisa air mata di sana.
“Tidak apa-apa,” ucap Raja Reynold akhirnya.
Namun suaranya berubah sedikit lebih dalam.
“Tapi jangan ulangi hal seperti ini lagi.”
Ratu Aurelia menunduk. Jemarinya mencengkeram ujung pakaiannya tanpa sadar.
“Pergi tiba-tiba… tanpa penjelasan,” lanjut Raja Reynold.
“Kita bisa membicarakan semuanya dulu. Apa pun itu.”
Raja Reynold berhenti sejenak, seolah menahan kata-kata yang hampir keluar.
Rahangnya mengeras.
“Jangan pernah mengambil keputusan sendiri lagi,” ucap Raja Reynold lebih pelan,
“apalagi keputusan yang bisa membuatmu menghilang dari hadapanku.”
Ratu Aurelia mengangkat wajahnya sedikit.
“Maaf…” gumamnya lirih.
Raja Reynold memejamkan mata sesaat, lalu menghembuskan napas panjang.
Amarah yang sempat muncul perlahan ia tekan kembali.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menarik Ratu Aurelia ke dalam pelukan.
“Aku sangat marah,” bisik Raja Reynold di atas kepala Ratu Aurelia.
“Tapi aku lebih takut kehilanganmu.”
Ratu Aurelia menutup mata. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya bersandar pada dada bidang Raja Reynold. Ia mencoba menenangkan diri—meyakinkan hatinya bahwa semuanya akan baik-baik saja, meski masih banyak hal yang belum sanggup ia sampaikan.
----------
Akademi Howard
Sementara itu di Akademi Howard, kebingungan Elara semakin bertambah dari hari ke hari.
Selama beberapa hari bekerja bersama tenaga medis Zorvath, ia mulai menyadari sesuatu yang ganjil.
Beberapa pasien dibiarkan menunggu berjam-jam. Sebagian bahkan hanya dilirik sekilas sebelum ditinggalkan.
Mereka yang mengenakan pakaian sederhana—bangsawan rendah—nyaris tak pernah menjadi prioritas.
Baru kemudian Elara mengerti.
Tenaga medis Zorvath bukan sekadar dokter. Mereka adalah kaum bangsawan.
Dan bagi mereka, menyentuh pasien dari kasta yang lebih rendah dari mereka adalah sesuatu yang tidak pantas.
Elara dan Valencia duduk langsung di atas lantai yang dingin dengan punggung yang bersandar di dinding.
Rambut mereka kusut, wajah pucat dengan lingkar hitam di bawah mata. Sudah tiga hari mereka hampir tidak tidur dan entah sudah berapa lama tubuh mereka terasa lengket oleh keringat.
Valencia menghela napas panjang.
“Mereka benar-benar gila, El. Orang di depan mata butuh tabung oksigen, bukannya dibantu, malah sibuk berdandan,” gerutunya kesal.
“Itu masih mending, Val,” balas Elara dengan suara lelah.
“Tadi pagi ada yang jatuh dari brankar. Bukannya ditolong, malah dimarahi.”
Elara menggeleng pelan.
“Kadang aku mikir, otak mereka lebih cocok ditukar sama otak ikan.”
"Sini sebentar deh El" ujar Valencia meminta Elara duduk lebih dekat ke arahnya.
“Kamu tau nggak…” Valencia menurunkan suara lebih dalam.
Elara merespon dengan menggelengkan kepalanya.
“Ada satu berkas medis yang tidak seharusnya bocor.” bisik Valencia.
Elara menoleh tajam dengan dahi berkerut.
“Tentang Ratu Zorvath.”
_
_
_
29 Januari 2026