Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Langkah kaki Ethan terdengar mantap menyusuri koridor Adlerion Academy—sekolah elit milik keluarganya yang megah, penuh kaca, marmer, dan atmosfer prestisius yang memantulkan nama besar Adler Family. Para staf buru-buru menunduk memberi hormat saat Ethan lewat, tetapi pria itu tidak membalas satu pun tatapan. Wajahnya terfokus, garis rahangnya mengeras, dan sorot matanya gelap—terlalu gelap untuk waktu siang hari.
Ethan jarang memijakkan kaki ke sekolah ini, kecuali dalam acara-acara besar. Datang secara mendadak saat jam sekolah berlangsung? Itu bahkan belum pernah terjadi. Namun hari ini, pikirannya dipenuhi hanya satu nama.
Keira.
Dan—menyebalkan sekaligus memicu adrenalin—laporan Rowan barusan.
"Bu Keira dipanggil ke sekolah karena anaknya yang bernama Aiden Rhys telah melakukan tindak kekerasan di sekolah, Pak."
Anaknya.
Itu yang membuat Ethan pergi terburu-buru dari kantor tanpa memikirkan klien, tanpa memikirkan rapat, tanpa memikirkan image CEO-nya. Kata itu memukul dadanya lebih kuat daripada pukulan fisik mana pun.
“Keira… punya anak?”
Pria tampan itu menelan ludah. Langkahnya semakin cepat, seolah ruangan kepala sekolah berada di ujung dunia.
Satu kemungkinan, satu angka, satu tahun—semuanya berbaur jadi satu bayangan yang menghantui.
“Usianya… tujuh belas tahun.”
Pikiran itu meretakkan ketenangan yang selama ini ia banggakan.
Tujuh belas.
Usia yang tepat. Sangat tepat.
Jari-jari Ethan meremas gagang pintu kaca saat ia mengingat—dengan sangat jelas—malam itu. Malam yang mengubah hidupnya tanpa ia sadari. Malam ketika ia bertemu seorang gadis kecil, cantik, gila, polos, bar-bar… tapi dengan sorot mata yang menggetarkan kesadarannya.
Keira.
Gadis yang tubuhnya menggigil dalam pelukannya, gadis yang ia sentuh untuk pertama kalinya… tanpa pengaman. Gadis yang ia bawa berulang-ulang ke sudut ruang privat klub Eclipse, memerangkapnya di sana hingga fajar menyingsing. Gadis yang ia biarkan pergi tanpa bertanya nama, tanpa identitas.
Kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Atau takdir?
Ethan tidak tahu.
Yang ia tahu adalah—ketakutan aneh menusuk dadanya.
Ketakutan yang ia benci.
Ketakutan yang tidak boleh ada—karena ia adalah Ethan Royce Adler, pria yang tidak takut apa pun.
Tetapi sebuah pikiran berputar tanpa ampun...
“Kalau Keira punya anak berusia tujuh belas tahun… apa mungkin itu anakku?”
Koridor yang panjang terasa semakin sunyi. Hanya ada suara langkah sepatunya—bergaung keras, memotong udara dingin ruangan.
Beberapa murid memandangi sosoknya dengan bingung. Tidak ada yang berani menyapa. Aura Ethan terlalu kuat, terlalu menekan, terlalu… marah.
Ya, marah.
Karena jika benar Keira punya anak, kenapa ia tidak tahu?
Dan kalau benar anak itu adalah—anaknya, darah dagingnya—kenapa Keira menyembunyikannya?
Jantungnya berdenyut keras.
“Tidak.” Gumamnya pendek. “Keira… tidak mungkin…”
Tapi pikirannya menjawab, ‘Kamu menyentuhnya tanpa pengaman. Berkali-kali.’
Rahang Ethan mengeras. Ia memijat kening, mencoba mempertahankan logika. Tapi logika tidak pernah menang melawan kemungkinan bahwa ia mungkin telah menjadi ayah selama tujuh belas tahun… tanpa mengetahuinya.
Dan Keira tidak mengatakan apa pun.
“Kenapa… dia tidak bilang?” suara Ethan rendah, serak.
Rasanya seperti ditikam.
Tidak. Bukan karena Keira berbohong—tapi karena selama ini ia melihat Keira sendirian. Membesarkan seorang anak seorang diri. Menghidupi diri sendiri tanpa bantuan siapa pun. Sementara ia… hidup dengan kekayaan yang tidak habis tujuh turunan, tujuh tanjakan, dan tujuh tikungan.
Ethan berhenti di depan pintu ruang kepala sekolah.
Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang.
“Jika benar itu anakku…” ia bergumam lirih, tetapi penuh tekad gelap. “Aku akan—”
Pintu terbuka sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
Kepala sekolah hendak keluar dari ruangannya, namun langkahnya terhenti begitu melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Mata pria paruh baya itu membelalak kecil. “P-Pak Ethan?! Ba-Bapak kok—”
“Di mana Keira?” suara Ethan tegas. Tidak ada salam, tidak ada basa-basi.
“A-apa? Keira? Ma-maksud Bapak... Bu Keira ibunya Aiden?”
"Hm."
“O-oooh... Bu Keira sedang menuju ruang konseling, Pak. Insiden tadi cukup rumit, anak itu—”
Ethan memotong cepat. “Aku tidak bertanya soal insiden. Aku menanyakan Keira.”
Kepala sekolah terdiam.
Intensitas tatapan Ethan membuat siapa pun merasa seperti berdiri telanjang di depan badai.
Ethan melangkah mendekat. “Arahkan aku ke sana.”
“Baik, Pak… tapi, apakah Bapak mengenal anak itu?”
Ethan menatapnya lama.
Sorotnya kosong, namun dalam.
Seolah ia sedang memikirkan ribuan kemungkinan sekaligus.
Dengan suara berat ia menjawab, “Belum.”
Dan itu menjadi jawaban paling jujur yang pernah ia ucapkan.
Koridor menuju ruang konseling sunyi. Dari kejauhan, Ethan mendengar suara gaduh—suara beberapa guru yang terdengar panik.
Kemudian…
Satu suara perempuan—yang ia kenal sangat baik.
Suara Keira.
“Baik, Bu. Tadi ibu bilang anak saya memukuli putra ibu?”
Keira
Anak saya.
Hati Ethan seakan berhenti berdetak.
Ethan membeku beberapa detik sebelum akhirnya berjalan lagi, kali ini lebih cepat.
Ia sampai di depan pintu ruang konseling dan berhenti.
Ia mendengar suara Keira lagi—tegas, tapi lembut. Nada yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Nada seorang ibu.
Begitu pintu terbuka sedikit, ia melihat Keira berdiri di samping seorang remaja lelaki berseragam akademi, wajahnya lelah, mata merah karena marah atau frustasi. Anak itu tinggi, tubuhnya atletis, rahangnya tegas, dan…
Ethan merasa dadanya tersambar petir.
Anak itu… punya mata yang sama dengannya.
Mata gelap yang dalam.
Sorot dingin yang menusuk.
Ekspresi menahan emosi yang terlalu familiar.
Terlalu mirip.
Terlalu menohok.
Remaja itu memalingkan wajah—dan profil sampingnya membuat Ethan hampir kehilangan kontrol.
Hidung.
Rahang.
Bentuk bibir.
Bahkan posturnya.
Bukan hanya mirip.
Itu… dirinya. Versi muda.
Keira mengangkat satu alis—sangat bar-bar tapi tetap elegan.
Ibu itu mendengus, “YA! Anak ibu itu biadab! Anak saya sampai bengkak-bengkak begini! Apa ini pantas?!” katanya sambil mengelus wajah anaknya yang sudah babak belur.
Ethan mengepalkan tangan mendengar kata biadab yang keluar dari mulut wanita sialan itu.
Entah mengapa ia merasa tak terima mendengar anaknya mendapatkan sebutan seperti itu.
Eh! Anaknya?!
Ah... Apakah ini yang disebut sebagai naluri seorang ayah?
Entahlah.
Keira menautkan kedua tangannya ke depan dada. “Kalau soal pantas atau nggak, menurut saya... pelecehan jauh lebih nggak pantas, Bu.”
Ibu itu terdiam sepersekian detik. “A—apa maksud ibu?”
Keira tersenyum manis. Sangat manis. Tapi tatapannya menusuk seperti jarum es.
“Anak ibu memaksa ingin mencium seorang siswi bernama Echa. Aiden lihat, dan dia menolong. Kalau nggak ditolong, entah apa yang akan terjadi pada Echa.”
Nada Keira naik setengah oktaf. “Jadi sebelum ibu bilang anak saya biadab, mungkin lebih bijak kalau kita cek dulu siapa sebenarnya yang kelakuannya… ya, begitulah.”
Ibu itu memerah, “Nggak mungkin! Anak saya nggak mungkin melakukan hal kotor begitu! Kamu ini ibu macam apa? Membela-bela anakmu—”
Keira mengangkat tangan, menghentikan ocehan itu dengan sopan namun tegas.
“Oh, saya ibu yang sangat percaya pada anak saya. Saya juga ibu yang mendengarkan sebelum menghakimi.”
Ia menatap tajam. “Dan saya bukan tipe ibu yang akan diam ketika anak saya dituduh tanpa bukti.”
Aiden di sebelahnya langsung menoleh dengan tatapan yang seolah berkata, "This is my Mom."
Keira melanjutkan, suaranya semakin tajam namun tetap rapi, seperti CEO yang sedang menegur staf bawahan.
“Kalau ibu nggak percaya cerita Aiden, gampang sekali solusinya.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit.
“Kita panggil Echa. Biar dia bicara langsung. Biar semua orang dengar.”
Nada suaranya berubah dingin.
“Dan kalau Echa bilang benar, saya harap ibu juga siap bertanggung jawab atas tindakan putra ibu.”
Ibu si pelaku bernama Reno memerah padam seperti tomat direbus. “A—anak saya nggak mungkin melakukan itu! Dia anak yang baik!”
Keira tertawa kecil. “Oh, iya? Coba kita lihat saja nanti. Karena… ‘anak baik’ nggak sembarangan memaksa siswi lain melakukan hal yang nggak pantas.”
Guru BP yang sejak tadi hanya mengamati akhirnya angkat bicara, “Bu… akan lebih baik jika kita mendengar kedua belah pihak—”
“NGGAK PERLU!” ibu itu membentak. “Ini fitnah!”
Keira tersenyum lagi—kali ini dingin.
“Baiklah, kalau begitu saya yang minta Echa dipanggil langsung. Setidaknya biar ibu nggak menuduh orang seenaknya.”
Keira memiringkan kepala. “Atau… ibu takut sesuatu terbongkar?”
Ibu itu terdiam seketika, mulutnya terbuka tapi tidak keluar suara.
Keira berdiri tegap, melingkarkan tangan ke bahu Aiden.
“Anak saya bukan pemukul tanpa alasan. Ia hanya memberi pelajaran pada orang yang tepat. Dan saya bangga dia bisa melindungi seseorang.”
Aiden menatap ibunya sekilas—mata yang selalu dingin itu kini terlihat hangat.
Sementara itu tanpa Aiden sadari bahwa sejak tadi ada sepasang mata tajam yang tak bisa lepas dari setiap gerak-geriknya.
...****************...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪