Klara Arga Dirgantara adalah seorang gadis yang pada akhirnya akan berpacaran dengan seorang manusia yang dingin, misterius dan gila. Pria itu menjadi malapetaka bagi Klara, sedangkan Klara bagi pria itu adalah malaikat, yang dapat perlahan-lahan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Pernah Menantang Ku
Alfi bangun dari tidurnya, ia membuka matanya sambil terduduk di tempat tidur itu. Saat ia terbangun ia sudah melihat beberapa wanita yang saat ini ada di depannya, wanita itu adalah wanita penghibur yang ayahnya berikan untuk Alfi.
Yah siapa tau Alfi menjadi tergoda dengan wanita itu dan melupakan Klara pacarnya, namun sepertinya Alfi sama sekali tidak tertarik dengan wanita-wanita itu.
Alfi berdiri lalu berjalan keluar dari kamarnya, seorang wanita berjalan menghalangi langkah Alfi, "Bermain dengan ku malam ini, akan ku buat kamu puas dan melupakan segala, " ucap wanita itu, rupanya ia berusaha menggoda Alfi.
"Pergi dari hadapanku sebelum pistol di saku celana ku mengenai kepala mu, " ancam Alfi pada wanita itu.
"Oh benarkah? Bukannya dulu kau adalah anak yang gila dengan wanita, kau pasti sudah banyak tidur dengan wanita? Kenapa kau sekarang menolak ku, " Wanita itu menganggap ucapan hanyalah ancaman pura-pura.
"Jangan menantang ku, aku adalah orang yang tidak suka di tantang oleh siapapun, " balas Alfi yang sudah terlihat kesal.
Wanita yang berada di hadapan Alfi malah tersenyum, "Benarkah? Apakah setelah ku bukan bajuku kau tetap tidak akan tergoda oleh ku? Ayahmu saja tidak pernah menolak ajak kan ku, " wanita itu masih menganggap ucapan Alfi bohongan, wanita itu juga saat ini memegang dada Alfi.
Alfi yang sudah kesal langsung mengeluarkan senjata api dari celana nya lalu ia arahkan pada wanita yang saat ini ada di depannya. Wanita itu dan wanita lainnya kaget dengan apa yang Alfi lakukan saat ini.
"Aku sudah bilang, jangan berani mengancam ku, " tanpa merasa berdosa, Alfi langsung menarik pelatuk nya dan Dor suara tembakan terdengar di ruangan itu.
Darah segar mengalir dari kepala wanita itu, dengan cepat semua wanita yang masih berada di kamar Alfi langsung keluar. Sedangkan Alfi kembali memasukan pistol nya ke dalam saku celana lalu melangkahi mayat wanita itu.
Alfi berjalan keluar untuk menemui Julio, ia juga ingin mencari udara segar di luar. Yah walaupun saat ini langit sudah malam.
"Ada apa di dalam? " tanya Julio sambil menatap Alfi yang baru keluar dari kamarnya.
"Bukan urusan ku lagi, " balas Alfi santai sambil menatap Julio lalu menampilkan senyuman miring nya.
Seseorang melaporkan kejadian Alfi pada ayahnya Alfi, "Maaf tuan besar, Nona Mariana tewas di tembak oleh tuan muda, " seorang wanita melaporkan kejadian itu pada ayahnya Alfi dengan nafas yang terburu-buru.
"Kau suruh yang lain untuk membersihkan tempat itu saja, setelah itu kau bakar saja mayatnya. Atau kalau tidak kau kasih ke Harimau peliharaan ku, " balas ayahnya Alfi yang tak mau ambil pusing.
"Baiklah kalau begitu, " wanita itu tidak menyangka kalau ayahnya Arga benar-benar tidak bereaksi apapun saat mendengar wanita itu mati.
Padahal dulu mereka sering sekali tidur bersama dan bahkan menghabiskan waktu bersama, tapi ayahnya Alfi seperti yang benar-benar tidak peduli pada wanita itu. Ah sudahlah karena tidak mau ambil pusing wanita yang barusan melaporkan kejadian di kamar Alfi langsung menyuruh anak penjaga rumah ini untuk mengurus mayat wanita yang di bunuh Alfi.
Sedangkan itu di tempat lain Alfi saat ini sudah berada di atap rumah ini bersama dengan Julio di sampingnya, sambil bersantai ia juga menikmati sebatang rokok di tangannya.
Sesekali Alfi tersenyum ketika membayangkan Klara, wajah itu yang saat ini selalu berkeliaran di pikirannya.
"Apakah dia sudah tidur? " tanya Alfi sambil menatap ke depan dan tersenyum.
"Maaf, tapi siapa yah? " tanya Julio yang merasa kalau pertanyaan itu untuk dirinya. Karena di sana hanya ada Alfi dan juga dirinya saja.
"Aku sedang tidak bicara padamu, aku bicara pada diriku sendiri. Jadi kamu diam saja, dengarkan apa yang aku katakan saja, tapi jangan membalas nya, " balas Alfi sambil menatap Julio sekilas, setelah itu ia kembali memalingkan tatapannya.
Ya ampun gue punya bos gini amat yah, untung dia bos gue. Kalau bukan udah gue buang dah ke sungai, Batin Julio. Rupanya Julio juga bisa merasa kesal dengan kelakuan Alfi yang tidak bisa di ubah.
Beberapa waktu kemudian Klara bangun dari tidurnya, setelah itu ia berjalan sempoyongan menuju kamarnya. Ia harus mandi dan pergi ke sekolah untuk menambah ilmu, setelah beberapa menit ia keluar dari kamar mandi.
Kini Klara sedang memakai baju seragam sekolahnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin, Klara menarik nafasnya dalam-dalam setelah ingat apa yang akan ia temukan di sekolah.
Ia tau kalau semua siswa akan menghinanya jika ia pergi sekolah, tapi kalau tidak si David sialan itu akan bertanya banyak hal karena Klara tak mau sekolah. Kalau pun Klara bilang dirinya sakit di David itu langsung menyuruh dokter pribadi Alfi untuk memeriksa keadaannya.
"Ah ternyata sekarang aku lebih milih Alfi ada di sini deh kayaknya, tapikan ini semua juga di akibatkan kedatangan Alfi. Coba aja aku gak ketemu dia mungkin jalur kehidupan aku tuh masih lurus gak kayak sekarang yang udah gak tau arahnya mau kemana, " gumam Klara sambil menatap cermin.
Setelah beberapa menit di hadapan cermin akhirnya Klara turun untuk sarapan makan siang, namun entah kenapa kepalanya mendadak pusing.
"Ah nih kepala kenapa sih? Jangan pusing dulu dong, " ucap Klara pada dirinya sendiri.
Klara yang sudah merasa tidak papa kembali melanjutkan langkahnya, ia berjalan menuju lantai bawah. Singkat cerita, saat ini Klara sudah berada di sekolahnya. Seperti biasa ia berjalan menuju gerbang sekolah, kebetulan ini masih pagi.
Aurel dan keempat temannya kembali menghadang Klara, "Lu kok masih belum putus sama Alfi? gue udah tanyain soalnya sama Alfi, dan jawabannya katanya hubungannya baik-baik aja, " tanya Aurel sedikit ketus sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Aku gak bisa putusin Alfi tanpa alasan yang bisa Alfi terima, sebenarnya kalaupun ada alasan aku tetep gak bisa, " balas Klara yang sudah mulai muak bicara kalau ia tidak bisa meninggalkan Alfi.
"Aku mohon kita di dalam sekolah aja, aku gak mau ada yang liat kita, " sambung Klara, ia meminta mereka kasar padanya di dalam sekolah saja. Karena Klara melihat mobil David masih berdiri di sana.
"Kenapa? Emangnya kenapa kalau gue ngasarin di sini? " tanya Aurel sambil menjambak rambut Klara.
"Sebenarnya mau di sini atau di dalam juga kan sama aja, " timpa Adul sinis.
"Aku mohon, aku cuman gak mau masalahnya nanti semakin besar, " balas Klara sambil menahan rasa sakit itu.
Tiba-tiba Mark datang dan langsung melepaskan jambak kan itu, "Kalian tuh mau apa lagi sih? " tanya Mark kesal.
"Kita mau dia putus sama Alfi, setelah itu kita janji kita gak bakalan gangguin dia lagi, " balas Aurel sambil berjalan meninggalkan mereka.
Mark langsung berbalik ke arah Klara lalu mengelus rambut Klara, "Kamu gak papa kan?" tanya Mark khawatir.
"Aku gak papa kok, " balas Klara sambil menatap Mark.