Cover by me
Argantara Putra Bimantara, pria yang tenang dan dingin, terus-menerus dipertemukan dengan Nasya Kayshila—sosok gadis berhijab yang diam-diam mencuri perhatiannya sejak awal pertemuan. Ia mencoba mendekat lewat kebaikan, berharap dikenang walau hanya sekejap. Tapi Nasya? Ia tak pernah mengingatnya. Tak satu pun pertemuan membekas di ingatannya.
Sampai akhirnya Argan sadar, menjadi baik saja tidak cukup. Jika kebaikan terlupakan, maka ia akan menjadi luka kecil dalam hidup Nasya karena rasa sakit lebih sering dikenang daripada rasa manis. Dan dengan begitu... setidaknya, ia tidak akan menjadi asing selamanya.
let's play!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tachycardia dan Arrhythmia
Sejak memasuki mobil keduanya sama-sama diam, Argan juga bingung mencari cara memulai percakapan dengan seorang gadis itu bagiamana, ia takut salah berucap malah membuat Nasya ilfeel padanya.
Wajar saja, dari lahir belum pernah dekat dengan perempuan selain mamanya, Yura dan Risa. Selain dari ketiga perempuan itu, Argan tidak pernah dekat dengan yang lain. Belum lagi sebelumnya mereka tengah adu mulut, semakin bingung lah Argan. Otaknya terus berputar mencari topik obrolan.
Sementara Nasya tak munafik ada bak magnet yang menarik dirinya saat di dekat Argan, amarahnya seketika sirna di gantikan rasa terpesona. Ia sesekali melirik Argan dari ekor matanya atau dari kaca rear-vision mirror di hadapannya. Aura Argan duduk di balik stir kemudi mobil itu tak terbantahkan, cakepnya makin kelewatan, apa lagi kalau duduk di kokpit pesawat tempur.
Ibarat kata petugas medis melihat Argan di balik kemudi mobil saja sudah tachycardia. Apa lagi sampai lihat Argan di balik kemudi kokpit pesawat tempur, bisa bisa arrhythmia.
Kejang-kejang dah.
Wajah flat, sorot mata yang dingin tapi memancarkan aura positif membuat kedua sudut bibir Nasya melengkung membentuk senyum. Walaupun setiap membuka mulut Argan akan melontarkan kalimat sepeda boncabe level sepuluh. Tapi lihatlah ketika tenang, bikin panas dingin.
"Udah sarapan?" tanya Argan memecah keheningan. Hanya itulah yang ada di kepalanya, ia sedikit menoleh kaget mendapati wajah Nasya yang begitu dalam memandanginya.
Apa gadis itu sejak tadi diam-diam menatapnya?
Refleks Argan membuang padangannya kedepan kembali fokus ke jalanan. Tidak bisa di pungkiri ada rasa bom ingin meledak di dalam jantungnya. Telinganya bahkan ikut bersemu merah.
Begini toh rasanya jatuh cinta.
"Hm?" Nasya tersadar dari kegilaan otaknya, ia juga langsung membuang pandangannya ke jendela sebelahnya, malu karena kepergok menatap Argan. Nasya kalau sudah melihat yang bening kelewatan gini suka lupa diri, jiwa murahannya meronta-ronta.
"Udah sarapan?" tanya Argan sekali lagi, tanpa menoleh. Ia fokuskan menatap jalanan saja karena jika ia menoleh pasti Nasya akan memergokinya dengan wajah memerah.
"Be-belum." jawab Nasya jujur, ia juga enggan menoleh karena terlalu malu.
"Mau beli sarapan?"
"Boleh." jawabannya cepat.
Argan lantas celingak-celinguk mencari tempat makan yang sudah buka sepagi ini.
"Bubur ayam?" tanya Argan masih enggan menoleh. Ia menatap lurus kedepan terdapat penjual bubur ayam yang sudah mangkal pagi-pagi di pinggir jalan dan kini di kerumuni banyak orang.
"Hm?" Nasya bingung dengan kalimat seuprit Argan.
"Mau bubur ayam?" ulang Argan, paham jika Nasya tak mengerti kalimat sepenggalnya.
"Boleh."
Argan menghentikan mobilnya di dekat gerobak bubur ayam itu.
"Tunggu disini." titahnya lantas turun dari dalam mobil, tanpa menunggu jawaban Nasya. Argan berjalan menghampiri gerobak yang menjual bubur tersebut.
Dari dalam mobil Nasya memperhatikan Argan, mulai dari ikut mengantri dengan sabar bersama pembeli lain, berinteraksi dengan penjual bubur ketika mendapat giliran dan tentunya tatapan memuja beberapa pembeli wanita disana yang melihat pria tampan berseragam loreng biru khas TNI AU. Siapa yang tak terpesona melihat keberadaannya?
Tapi tiba-tiba kening Nasya berkerut ketika tidak satu atau dua orang meminta foto bersama Argan, sudah seperti bertemu dengan artis. Apa karena segitu tampannya Argan sampai baik wanita maupun pria disana meminta foto bersama Argan?
Setelah semuanya selesai Argan kembali membawa satu porsi bubur ayam. "Maaf, lama."
Nasya mengangguk "gak papa. Mas punya banyak fans ya? Udah hampir nyaingi Rafi Ahmad kalau aku lihat." kekeh Nasya.
Argan speechless melihat Nasya terkekeh karenanya, setelah sekian lama. Dan setelah di ingat-ingat terkahir Nasya terkekeh seperti itu karenanya saat di Semarang. Sudah sangat lama bukan? Segera Argan menguasai dirinya.
"Gak Rafi Ahmad juga." diam-diam Argan tersenyum kecil, ternyata sejak tadi Nasya. memperhatikannya dari dalam mobil. Argan memberikan seporsi bubur ayam itu pada Nasya.
"Kok beli satu? Masnya udah sarapan?"
Argan mengangguk "sudah."
Nasya masih diam, enggan membuka kotak berbahan styrofoam pembungkus bubur ayam miliknya bahkan sampai mobil itu kembali berjalan.
"Gak suka?" tanya Argan menyadari Nasya yang hanya diam dan belum menyentuh bubur ayam yang ia belikan tadi.
"Gak suka apa? Mas?"
"Hah?"
"Hah?"
Dan keduanya sama-sama memasang wajah bodoh.
Bisa- bisanya punya mulut minta di cekokin.
"Ekhm, mak-maksud saya itu. Buburnya..." Argan berusaha menormalkan detak jantungnya. Ya Tuhan bisa-bisanya cuma dengar kalimat itu Argan malah baper.
"Oh...hehehe. Suka kok Mas, suka." Nasya malah menggapainya dengan tertawa bodoh menutupi rasa malu.
"Kamu tinggalnya dimana?" tanya Argan untuk yang terakhir kali, karena setalah mendengar jawaban Nasya keduanya tampak tak bersuara.
Mobil Argan akhirnya berbelok memasuki kawasan apartemen high end. Letaknya tak jauh dari rumah sakit tempat Nasya bekerja, agak kaget melihat tempat tinggal Nasya yang menandakan bahwa gadis itu bukan anak dari kalangan biasa. Seketika rasa ingin meminang Nasya menjadi menciut, bukan bagaimana anak perempuan yang di limpahkan dengan segala gelimang harta dan tempat tinggal yang mewah seperti ini, mana mungkin mau kelak di ajak tinggal di rumah dinas miliknya yang kecil dan sempit.
"Kamu tinggal disini?" tanya Argan menghentikan mobilnya di besman.
"Iya, saya tinggal disini. Walaupun mas sempet buat saya kesel di awal. Tapi makasih udah beliin saya sarapan dan mau anter saya pulang." jawab Nasya sembari membuka seatbelt miliknya. Entahlah sejak tadi hatinya terasa hangat karena perlakukan Argan. Padahal cuma di belikan sarapan dan di antarkan pulang. Sebiasa itu, tapi mampu membuat Nasya yang sejak awal tadi sempat marah-marah jadi melunak seketika bak bandeng presto.
Argan hanya menggumam sebagai jawaban rasa insecure pun Kembali menguasai dirinya.
"Kalau gitu saya masuk Mas, sekali lagi makasih." ucap Nasya benar-benar tulus, ia membuka pintu mobil Argan dan turun dari dalam sana.
Lagi-lagi Argan hanya menggumam sambil tersenyum tipis, sangking tipisnya sampai Argan sendiri pun tak menyadari bahwa dia tersenyum menatap kepergian Nasya. "Gak bakalan mau dia sama Lo, biasanya makan steak Wagyu, sama Lo nanti malah jadi makan ikan asin. Mana level dia Gan, Gan. Mana Lo tadi beliin cuma bubur ayam lagi. Padahal mungkin biasanya dia sarapan pakai roti gandum." gumamnya pada diri sendiri. Bukan Argan tak mampu memberi makanan mahal seperti itu, itu hanya pengibaratan saja. Melihat betapa hig classnya tempat tinggal Nasya. Sementara dirinya tinggal di rumah yang di berikan negara. Argan jadi sadar diri.
Argan mulai menghidupkan mesin mobilnya, bersiap-siap untuk pergi. Tapi tiba-tiba pintu mobilnya di ketuk dari luar.
Tok! Tok! Tok!
"Nasya!" segera Argan menurunkan kaca mobilnya. "Ada yang ketinggalan?" tanya Argan, mungkin Nasya balik lagi karena barang gadis itu tertinggal di mobil miliknya.
"Gak Mas, gak ada yang tinggal." deru nafas Nasya agak ngos-ngosan, Nasya sempat berlari tadi saat kembali ke mobil Argan, takut pria itu sudah pergi.
"Terus?"
"Emm... Mas masih punya waktu gak? Mau mampir?"
Author pinter bahasa Jawanya, tapi masih banyak yang harus diperbaiki dalam penggunaan bahasa Jawanya, apalagi jika berbicara dengan siapa yang diajak bicara ada tingkatannya.
Secara keseluruhan, cerita ini dapat banyak jempol dariku 👍👍👍👍👍👍
kenapa bikin orang nangis dak kelar kelar kakkkkk😥😥👍
bawang mahal,,mana bawang😭😭😥😥
ttp semangat dn terimakadih💞💞☕️🌹