SCANDAL Part II: To Catch a Star
Sinopsis:
Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.
Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.
Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.
"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
.....
Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri saat kesibukan melanda unit apartemen mewah milik Galasky Ardayana. Pukul empat pagi, udara Jakarta masih diselimuti hawa dingin yang menusuk kulit, namun atmosfer di dalam hunian eksklusif itu terasa begitu hangat dan sedikit terburu-buru. Setelah malam rekonsiliasi yang penuh dengan kelembutan dan janji kepemilikan mutlak di atas sofa panjang kemarin, hari ini realitas kembali memanggil sang aktor papan atas untuk kembali ke dunia nyata.
Gala harus kembali ke lokasi syuting luar kota. Sebuah proyek film layar lebar yang sempat tertunda selama tiga hari karena aksi "melarikan diri" Gala demi menata akal sehatnya, kini menuntut tanggung jawab profesionalismenya. Tempat syuting itu terletak di kawasan pegunungan Bandung, Jawa Barat—sebuah kota yang berjarak sekitar empat hingga lima jam perjalanan darat dari ibu kota jika ditempuh di waktu subuh seperti ini.
Namun, ada satu hal besar yang membedakan keberangkatan Gala kali ini dengan keberangkatan tiga hari lalu. Kali ini, dia tidak akan pergi sendirian. Tembok pertahanannya sudah runtuh, egonya sudah dibakar bersama rasa cemburu buta, dan Gala tidak akan pernah membiarkan rubah licik bernama Airaya Greline Pradipta berada jauh dari jangkauan pandangan matanya lagi. Mengunci Yaya di apartemen sendirian terbukti hampir membuatnya gila karena cemburu, jadi membawa gadis itu bersamanya adalah satu-satunya pilihan rasional yang tersisa di otak dewasanya.
"Om... ngantuk banget, kaki Yaya juga masih agak lemes tau..." keluh Aira dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Dia duduk di tepi ranjang kamar tamu, mengucek matanya yang sayu sambil memeluk bantal guling erat-erat. Pagi ini, daster sapi kesayangannya sudah diganti dengan hoodie oversize rajut berwarna krem tebal dan celana jins panjang yang nyaman untuk perjalanan jauh.
Gala yang baru saja selesai menutup koper besarnya berjalan mendekat. Pria 35 tahun itu tampak sangat segar dan luar biasa tampan mengenakan kemeja kasual hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Wajahnya dipasang mode tenang dan terkendali, meskipun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa gemas melihat penampilan berantakan gadis di depannya.
Gala berjongkok di depan Aira, meraih sepasang sepatu sneakers putih milik gadis itu, lalu dengan sangat telaten memasangkannya ke kaki Yaya satu per satu—sebuah tindakan protektif yang kini terasa sangat alami ia lakukan.
"Gak usah banyak protes, Yaya. Pakai sepatu kamu," ucap Gala dengan suara baritonnya yang rendah dan tenang. Dia mendongak, menatap lekat wajah polos Aira yang tanpa riasan namun terlihat sangat menggemaskan. "Om gak akan biarkan kamu tinggal di Jakarta sendirian lagi setelah kelakuan ugal-ugalan kamu kemarin. Mulai hari ini, ke mana pun Om pergi, kamu ikut. Paham?"
Aira mencebikkan bibirnya judes, tapi desiran hangat di dadanya tidak bisa bohong. Senyum licik andalannya perlahan mengembang di sudut bibirnya. "Dih, bilang aja Om Gala kangen dan gak bisa jauh-gauh dari Yaya kan? Sok-sokan bawa alasan kelakuan kemarin. Posesifnya kelihatan banget tahu, Om!" ledek Aira berani, sengaja memajukan wajahnya sedikit.
Tuk!
Gala kembali menyentil kening polos Aira dengan pelan, membuat gadis itu memekik manja. "Makin pintar ya menjawabnya. Sudah, cepat berdiri. Devan sudah menunggu di lobi basement sejak sepuluh menit yang lalu," perintah Gala sambil berdiri tegak, meraih tas selempang Yaya dan menentengnya di satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari mungil Yaya untuk ditarik keluar dari apartemen.
Di dalam lift menuju basement, kecanggungan sempat melanda Yaya. Dia tahu, keluar dari zona aman apartemen berarti mereka harus berhadapan dengan orang-orang dari industri hiburan yang mengelilingi Gala. Dan orang pertama yang harus mereka hadapi adalah Devan, manajer pribadi Gala yang sudah bekerja bersamanya selama sepuluh tahun penuh.
Begitu pintu lift terbuka di area parkir bawah tanah, sebuah mobil MPV mewah berwarna hitam dengan kaca super gelap sudah menyala. Di samping pintu kemudi, berdirilah Devan, pria berkacamata dengan ekspresi wajah yang tampak sangat terkejut dan bingung saat melihat Gala keluar lift tidak sendirian, melainkan menggandeng erat tangan seorang gadis muda secantik model internasional yang wajahnya sangat familier.
"Gal... ini..." Devan terbata-bata, membetulkan letak kacamata hitamnya dengan gerakan kaku. Sebagai manajer, dia tahu betul kalau Gala adalah sosok pria yang sangat tertutup, dingin, dan anti membawa perempuan mana pun ke ranah pekerjaannya. Gosip cinlok dengan Jesica saja murni rekayasa produser untuk promosi film, tapi hari ini Gala membawa seorang gadis di subuh buta?
Gala tetap memasang ekspresi wajah sedingin es batu seolah tidak terjadi hal aneh apa pun. Dia melepaskan genggaman tangannya pada Yaya secara perlahan saat mendekati Devan, kembali mengaktifkan mode profesionalnya sebagai aktor papan atas.
"Dev, ini Airaya. Anak dari Bang Elang Adytama," ucap Gala dengan suara baritonnya yang mantap, penuh penekanan yang tidak menerima bantahan atau pertanyaan lebih lanjut. "Mulai hari ini, dia bakal ikut kita ke lokasi syuting. Di mana pun gua berada, dia harus ada di sana."
Mendengar nama legendaris 'Elang Adytama' disebut, mata Devan membelalak bulat karena syok. Sebagai orang yang bergerak di lingkaran elit, Devan tentu tahu siapa itu Elang Adytama—sahabat karib sekaligus rekan bisnis raksasa keluarga Gala yang disegani se-Indonesia.
"Hah?! Putrinya Pak Elang?! Tapi Gal, kenapa dibawa ke lokasi syuting luar kota? Ini kan tempat kerja, ntar kalau kru atau paparazi liat gimana?" bisik Devan panik, melirik Aira yang sekarang berdiri di belakang tubuh tegap Gala sambil melambaikan tangan kecilnya ramah, memberikan senyuman manis tanpa dosa pada sang manajer.
"Halo, Om Devan. Panggil Yaya aja," sapa Aira dengan nada manis yang dibuat se-sopan mungkin, aktingnya sebagai keponakan yang baik langsung aktif seketika.
Gala berdeham tegas, menarik perhatian Devan kembali padanya. "Gua cuma menjalankan amanah dari Bang Elang, Dev. Bang Elang sama istrinya lagi ada pembukaan hotel baru di China selama tiga bulan., dan Bang Elang menitipkan Yaya sepenuhnya ke gua karena dia gak percaya sama orang lain buat jagain anak gadisnya di Jakarta. Daripada gua bolak-balik Bandung-Jakarta tiap hari yang bakal mengacaukan jadwal syuting film lu, mending dia gua bawa ke sana."
Gala menjeda kalimatnya, menatap Devan dengan tatapan tajam dan mengintimidasi. "Gua mau lu atur semua keperluan Yaya di Bandung. Kamar hotelnya harus bersebelahan langsung dengan kamar gua, pastikan fasilitasnya nyaman, dan konsumsinya terjaga. Di depan kru film, produser, atau artis lain seperti Jesica... status Yaya adalah ponakan gua yang lagi dititipkan orang tuanya karena urusan luar negeri. Lu paham kan maksud gua, Dev?"
Devan menelan ludah susah payah melihat aura otoriter Gala. Jika Gala sudah mengeluarkan nada bicara seperti itu, artinya keputusan sang aktor sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat sama sekali. Di satu sisi, penjelasan Gala tentang "amanah Elang Adytama" terasa sangat masuk akal bagi Devan. Siapa yang berani meragukan status hubungan Gala dan Elang yang sudah seperti saudara kandung? Menitipkan anak gadis di saat rumah kosong adalah hal yang lumrah di kalangan mereka. Devan sama sekali tidak menaruh rasa curiga kalau di balik alibi "amanah" itu, kedua orang di depannya ini sebenarnya sudah melakukan pelanggaran batasan moral yang sangat intens sampai membuat Yaya encok dua malam lalu.
"Oke, oke, gua paham, Gal. Lu tenang aja," jawab Devan akhirnya pasrah, menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Urusan kru, sutradara, sama artis-artis lain biar gua yang hendel. Gua bakal bilang kalau Yaya ini ponak lu yang lagi liburan kuliah dan mau ikut liat syuting. Mereka pasti gak bakal berani macam-macam atau bikin gosip aneh, apalagi kalau tahu dia anak Pak Elang. Semua kebutuhan Yaya di hotel Bandung juga biar gua yang urus subuh ini lewat asisten."
"Bagus. Makasih, Dev," ucap Gala singkat, merasa puas karena taktik berjalan sangat lancar tanpa celah kecurigaan. Gala membukakan pintu penumpang bagian tengah untuk Aira, mempersilakan sang Tuan Putri masuk terlebih dahulu. "Masuk, Yaya. Tidur di dalam, perjalanannya masih jauh."
"Siap, Om " bisik Aira sangat pelan saat melewati tubuh Gala, sengaja mengedipkan sebelah matanya nakal sebelum meluncur masuk ke dalam kabin mobil yang empuk dan luas.
Gala hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkat kebebalan Yaya yang sama sekali tidak berkurang meskipun di depan manajernya sendiri. Gala ikut masuk ke dalam, duduk di samping Yaya, sementara Devan mengambil alih kemudi di depan dan mulai melajukan mobil MPV mewah itu membelah jalanan fajar menuju Bandung.
Sepanjang perjalanan di jalan tol, suasana di dalam mobil begitu tenang. Devan fokus menyetir sambil sesekali berkoordinasi lewat telepon genggamnya dengan tim logistik di Bandung untuk menyiapkan kamar hotel VIP tambahan tepat di sebelah unit Gala tanpa menimbulkan kegaduhan di kalangan kru film.
Sementara di kursi tengah, Aira yang kelelahan akibat bangun terlalu subuh perlahan mulai terkantuk-kantuk. Kepalanya bergoyang beberapa kali sebelum akhirnya jatuh dengan sangat pas mendarat di atas bahu bidang Gala. Mencium aroma stroberi yang sangat familier menyerbu indra penciumannya, Gala tidak mendorongnya menjauh. Pria 35 tahun itu justru mengulurkan tangan besarnya, merangkul pundak sempit Yaya dengan erat, membiarkan tubuh ramping gadis itu bersandar sepenuhnya di bawah perlindungannya sepanjang perjalanan.
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘