Hanya seorang penjual ikan disiang hari. dan pengantar barang dimalam hari itulah pekerjaan pria yang bernama Satria.
Di caci maki sudah menjadi makanannya sehari-hari. Bahkan lebih parahnya lagi dia di khianati oleh istrinya sendiri dan hampir dibunuh oleh selingkuhan istrinya tersebut.
Tapi nasib merubah hidupnya sejak dia menolong seorang kakek tua misterius yang memberinya sebuah kalung pusaka naga.
Dan itu merubah hidupnya menjadi seorang penguasa.
Akhirnya Satria bertekad untuk membalas orang yang sudah merendahkan nya.
Penasaran dengan kisahnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
*
*
*
"Mengapa ketua wilayah selatan begitu akrab dengan putra kita?" tanya Shun.
"Jadi dia ketua penguasa selatan?" tanya Shin balik.
"Kamu tidak tau, istriku?" tanya Shun lagi. Shin menggeleng.
"Yang aku tau, dia seorang penjual ikan. Dan dia juga yang menolong putra kita, setiap hari dia selalu memberi ikan pada putra kita. Karena aku tidak mampu untuk membelinya," jawab Shin menjelaskan.
Shun tertegun, "pantas saja putraku begitu dekat dengannya," batin Shun.
Kini pandangan Shun berubah 180 derajat terhadap Satria. Yang tadinya meragukan Satria, kini ia benar-benar yakin kalau Satria adalah pemimpin yang tidak haus kekuasaan.
Tapi sebenarnya Lohan lah yang jahat dan haus kekuasaan. Shun memandang lagi lukisan yang diberikan oleh Satria kepadanya. Seketika Shun tersenyum saat melihat lukisan tersebut.
"Lukisan yang sangat indah," gumam Shun.
Kini Shun, istri serta putranya sedang berada di panggung Aula tersebut. Shun mengumumkan bahwa istri dan anaknya sudah ditemukan. Dan penjahat yang mencelakai istri dan anaknya sudah menerima hukuman.
Tanpa mereka sadari Lohan memasukkan racun kedalam minuman yang ada disitu. Karena semua orang sedang sibuk mengucapkan selamat kepada Yang Mulia Shun. Jadi kesempatan itu Lohan gunakan untuk meracuni mereka.
Lohan memang licik, tapi mereka tidak bisa membunuh sembarangan. Karena setiap wilayah punya aturan masing-masing. Terkecuali kalau sudah terbukti barulah pelaku akan dihukum berat. Karena Lohan begitu licik, jadi setiap kejahatan yang ia lakukan tidak terbukti. Makanya dia selalu lolos.
Semua orang sudah selesai memberikan ucapan selamat kepada Shun. Kini saatnya mereka untuk minum.
Anggur merah yang sudah dituangkan dalam gelas dan sudah tersedia diatas meja. Mereka mengambil satu persatu. Saat salah satu dari penguasa wilayah Utara meneguk minuman tersebut. Ketua wilayah Utara langsung tumbang dan mulutnya berbusa.
Orang yang melihat kejadian itu pun mengurungkan niatnya untuk minum. Ketua wilayah Utara pun kejang-kejang dilantai.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" tanya Shun.
"Dia," tunjuk Lohan pada Satria. Semua orang menoleh kearah Satria yang duduk didekat Chan putranya Shun.
Satria yang tidak tau apa-apa pun cuek saja. Karena memang bukan Satria yang melakukan.
"Dia yang memasukkan racun kedalam minuman tersebut," tuding Lohan pada Satria.
Satria tercengang, ia tidak kemana-mana. Dia dari tadi bersama dengan anak itu, justru malah dia yang dituduh.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Satria.
"Kau yang telah memasukkan racun kedalam minuman itu," tuding Lohan.
Mata Satria melihat ketua penguasa wilayah Utara masih kejang-kejang pun segera menghampirinya. Yang lain tidak berani mendekat apalagi menyentuhnya.
Tangan Satria bercahaya keemasan, tentu saja tidak terlihat oleh mereka, hanya Dewi yang bisa melihat cahaya itu.
Satria mengarahkan telapak tangannya kebagian dada pria itu dan ...
Buugh ... Buugh, dua pukulan Satria layangkan didada ketua penguasa wilayah Utara. Seketika darah kehitaman keluar dari mulut pria penguasa wilayah Utara.
Sedetik kemudian pria itu pingsan. Bawahan dari penguasa wilayah Utara pun mengepung Satria. Karena menduga kalau Satria sudah membunuh ketua mereka.
"Tenang...! Tenang semuanya...!" dengan suara lantang Shun menghentikan mereka.
"Kita tidak boleh main hakim sendiri, kita tidak punya bukti untuk menuduh Yang Mulia Satria," ucap Shun.
Mendengar hal itu, mereka semua menyingkir. Karena apa yang dikatakan Shun ada benarnya.
Sementara Lohan dah Ronald sudah pergi dari situ, mereka takut ketahuan. Kalau mereka adalah pelaku sebenarnya. Pengecut memang.
"Uhhuk ... Uhhuk" Tiba-tiba Banan tersadar dan terbatuk-batuk. Kemudian ia kembali mengeluarkan darah berwarna hitam.
Satria kembali memeriksa denyut jantung dan nadi Banan. Beruntung racun tersebut belum menjalar ke jantungnya.
"Yang Mulia Banan, bagaimana perasaan Anda?" tanya Satria.
"Te-terima kasih," ucap Banan.
Mereka semua bernafas lega, apalagi bawahan Banan. Mereka semua meminta maaf kepada Satria.
"Siapa yang memasukkan racun kedalam minuman tersebut?" tanya Shun.
Mereka semua menggeleng pertanda tidak tau. Bahkan para pengawal pun kecolongan, hingga mereka semua tertunduk.
"Tuan muda!" panggil Dewi.
Satria menjauh dari mereka, dan Dewi pun mengatakan kecurigaannya. Bahwa Lohan lah yang meracuni Banan.
"Kita tidak bisa menuduh sembarangan, kita tidak punya bukti yang kuat," kata Satria.
Akhirnya minuman yang diatas meja pun dibuang. Dan diganti dengan yang baru. Wine yang terbuat dari anggur pada tahun 1787 terbuang sia-sia. Dan diganti dengan yang baru, tapi wine yang sama. Bedanya kali ini tidak mengandung racun.
"Mari semua kita minum," ajak Shun.
Sementara Satria kembali bersama Chan. Keduanya terlihat sangat akrab bercanda bersama dengan bocah itu. Shun dan istrinya tersenyum melihat kedekatan mereka.
"Apa mereka memang sedekat itu?" tanya Shun pada istrinya.
"Aku juga tidak tau, yang aku tau, setiap kali Chan pulang kerumah, selalu membawa ikan. Dan itu berlangsung setiap hari," jawab Shin. Shun dan istrinya menghampiri Satria.
"Yang Mulia!" panggil Shun. Satria menoleh.
"Bagaimana kalau Yang Mulia menginap di mansion kami saja?" tanya Shun.
"Satria tersenyum, "maaf Yang Mulia Shun, saya dan asisten pribadi saya sudah memesan hotel untuk menginap. Dan juga besok pagi-pagi sekali kami sudah harus kembali," jawab Satria.
"Hmmm, sayang sekali, padahal saya ingin Yang Mulia menemani anak saya. Melihat kedekatan kalian membuatku merasa terharu," ucap Shun.
"Ya kami memang cukup dekat, sebelum saya mengetahui kalau Chan adalah putra mahkota," ujar Satria.
"Dan mohon maaf Yang Mulia, saya tidak bisa menerima tawaran anda," ucap Satria lagi.
Akhirnya pesta pun selesai, semua orang yang diundang sudah kembali pulang. Satria dan Dewi pun berpamitan. Tapi Chan sepertinya tidak rela berpisah dari Satria.
Bahkan ia terus memeluk Satria dengan erat, seperti tidak ingin jauh. Satria pun mengelus rambut hitam Chan dan berkata.
"Lain kali kita bisa bertemu lagi."
"Janji?" Chan menautkan jari kelingking nya ke jari Satria.
"Janji," balas Satria. Kemudian mereka pun berpisah.
Chan sempat menangis melihat kepergian Satria yang semakin menjauh dari pandangan mereka. Akhirnya mobil yang Satria kendarai pun menghilang dari pandangan mereka.
"Sudahlah, nanti kita berkunjung ke tempat Paman Satria," hibur Shun pada putranya.
"Benarkah ayah?" tanya Chan. Dan dijawab anggukan oleh Shun dan Shin.
Satria dan Dewi kini sudah tiba di hotel, keduanya keluar dari mobil setelah memarkirkan mobilnya. Keduanya masuk kedalam lift menuju lantai tempat mereka menginap. Kamar Dewi dan kamar Satria bersebelahan, jadi kalau terjadi apa-apa akan lebih mudah.
Satria masuk kedalam kamarnya, dan membuka pakaiannya satu persatu. Satria ingin mandi terlebih dahulu sebelum ia tidur.
Satria mengguyur tubuhnya dibawah shower. Satria sengaja mandi dengan air dingin biar lebih segar.
Setelah selesai mandi, Satria pun berganti pakaian dengan piyama tidur. Mereka sengaja membawa pakaian ganti agar lebih mudah.
*
*
*