Bagi Alexavier Barrack,jatuh cinta itu sangat sulit ,bagi nya cinta adalah nomor sekian dalam hidup nya .
mafia berdarah dingin dan datar ini kerap kali hanya menjadi kan wanita sebagai simpanan ataupun teman semalam nya saja.
lalu bagaimana jika Mafia kejam ini tiba-tiba bertemu dengan gadis menyebalkan dan Bar-bar yang selalu menolak nya?
akan kah seorang Mafia ini bisa membuat gadis tersebut jatuh hati pada nya?
Saksikan kisah nya yaa...
Jgn lupa Follow IG Othor .: Edeline_malika22
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAP_S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Maaf,aku hanya tidak menyukai kau di pandang seseorang siapa pun itu." Ujar Vier dengan lembut sambil memeluk Serry.
Serry diam,gadis itu dengan mudah nya berpikir positif jika memang suami nya tidak menginginkan nya berbusana yang aneh seperti ini.
"Seperti nya aku yang minta maaf,aku janji akan memikirkan apa yang akan ku pakai lain kali." Ucap Serry menatap Vier.
Vier mengangguk lalu mengecup kening Serry." Istirahat lah,aku akan pulang." Ucap Vier lembut.
Serry mengerut kan kening nya dan tak habis pikir dengan apa yang dikatakan suami nya barusan,tangan mungil nya langsung memegang erat tangan Vier,menahan tangan tersebut dengan cepat.
Vier menatap Serry,menatap sosok cantik yang sedang menahan nya,Vier tersenyum lalu menggeleng kan kepala nya." Aku hanya sebentar,karena kau tak menghubungi ku." Ucap Vier lembut.
"Lantas kau akan pulang?" Tanya Serry dengan nada yang tak ingin jika suami nya pergi.
Vier mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. Dengan lembut, ia mengelus kepala Serry menggunakan ujung jari-jarinya, seolah ingin menenangkan hati gadis itu. Serry merasakan ketenangan yang membawa rasa aman, sehingga tanpa disadari, cengkeraman tangan mereka semakin erat, memadu rasa kecintaan dalam keharmonisan rumah tangga mereka.
"Jika aku meminta mu tinggal?" Tanya Serry tiba-tiba.
Seketika Vier mengerut kan kening nya dan membuang nafas nya panjang." Besok pagi sekali aku ada meeting sangat penting." Ucap Vier memainkan rambut Serry.
Serry terdiam, menyadari bahwa tidak mungkin baginya untuk melarang suaminya bekerja. Dalam hati, berbagai perasaan bergolak, mencoba menemukan kata-kata yang tepat. Namun akhirnya, perlahan ia menganggukkan kepalanya, wajahnya penuh ragu-ragu. Menangkap ekspresi itu, Vier kembali mendekat dan dengan lembut mengecup pipi Serry, seolah meredakan keraguan yang tengah melingkupi hati gadis itu.
"Orang tua mu merindukan mu,pulang lah jika rindu mereka sudah terobati,aku akan sering menghubungi mu,pastikan kau memegang ponsel mu,atau jika tidak?"
"Jika tidak? Kau datang?" Tanya Serry dengan cepat memotong perkataan Vier.
Vier mengedip kan mata nya sebelah lalu terkekeh kecil," Jika aku tidak sibuk,maka aku akan datang,jaga diri,tidur cukup." Ucap Vier lalu memeluk gadis kecil nya dan berjalan menuju heli yang terparkir tidak jauh dari halaman Mansion Orang tua Serry.
Serry mengamati Vier yang pergi dengan tatapan nanar. Gadis cantik itu tampak terengah-engah, hembusan napas kasarnya terdengar keras di telinga Serry. Bahkan, pergerakan dadanya yang turun naik dengan cepat mencerminkan betapa beratnya situasi yang baru saja dilewati. "Apa dia baik-baik saja?" gumam Serry dengan rasa kekhawatiran yang mulai menyeruak.
"Jelas dia baik,karena dia baru saja dari sini,namun tidak tahu bagaimana hati nya." Sahut Mommy Serry dari belakang tubuh gadis itu.
Serry menatap Mommy nya dan membuang nafasnya panjang,lalu mendekat pada sang Ibu dan memeluk nya dengan erat.
"Seperti nya aku yang tidak baik-baik saja Mom." Ucap Serry jujur akan perasaan nya.
Mommy nya hanya bisa tersenyum,lalu membawa anak nya memasuki Mansion mereka, sementara Vier yang tengah berada di heli nya, tersenyum memikirkan istri kecil nya.
"Anak itu mampu menggetarkan hati dan jiwa ku,bajingan." Gumam Vier sambil menggeleng kan kepala nya berkali-kali.
Sesampai nya di Mansion besar nya,Vier langsung menuju kamar nya dan berendam di air hangat sejenak,tidak berapa lama,Serry menghubungi nya, Lengkungan senyuman tercetak jelas di bibir pria itu sambil mengangkat panggilan video Serry.
"Sedang apa?" Tanya Serry cepat melihat suami nya yang tengah santai duduk tanpa busana.
"Memikirkan mu." Goda Vier sambil menyesap wine yang ada di tangan nya.
Serry tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya perlahan, rona malu menyelimuti wajahnya saat ia mendengar ucapan dari suaminya tadi. Ada rasa canggung dan gemetar dalam hatinya, bagai terbawa dalam petualangan perasaan yang sulit dijelaskan.
"Kau sedang apa?"
Kembali terdengar suara pertanyaan,kali ini Vier yang menanyakan kepada sang istri mungil nya,Serry menatap Vier lalu tersenyum." Menatap mu." Ucap Serry lembut.
Vier mengalihkan pandangan nya dan terkekeh geli." Menyebalkan!" Gerutu Vier.
Vier lalu memejamkan mata nya,merasakan kehangatan dari air yang merendam sebagian tubuh nya." Aku sedang berendam." Ucap nya pelan lalu membuka mata nya menatap Serry yang tengah memandangi diri nya.
"One day,kita berdua akan berada di bathtub yang sama ini,memandangi indah nya pemandangan dari kamar mandi ku." Ujar Vier dengan datar,namun mengandung banyak harapan.
"Hanya berendam?" Tanya Serry dengan tanpa dia sadari.
Vier yang mendengar perkataan Serry tersenyum sambil menggigit bibir bawah nya."Jika ingin lebih maka kita akan sambung di ranjang." Ucap Vier lalu meminum kembali wine nya, mengedip kan mata nya pada sosok istri cantik nya itu.
"Menyebalkan!" Gerutu Serry saat menyadari pertanyaan bodoh nya.
Vier mengangguk anggukkan kepala nya,sambil tersenyum manis,lalu mata nya tak sengaja menatap bagian dada Serry dan meneguk Saliva nya dengan kasar." Tidak terlalu besar,namun berisi." Ucap Vier kembali meneguk wine nya dalam sekali teguk.
"Apa ?" Tanya Sery yang memang tidak mengerti akan apa yang dikatakan Vier.
"Sesuatu." Jawab Vier datar.
Serry mengangguk tidak mau terlalu ambil pusing dengan perkataan Vier barusan," aku mengantuk." Ucap Serry lembut.
"Tidur lah, istirahat." Ucap nya menjawab perkataan istri nya.
"Cium dulu."Ucap Vier lembut.
"Tidak nyata." Ucap Serry.
Vier kembali terdiam,bibir nya tersenyum lebar." Kau menggoda ku,apa kau tahu aku bisa saja saat ini langsung kesana dan menciu-m mu." Ucap Vier yang memang sangat nekat.
Serry menggeleng cepat dia paham jika suami nya itu terlalu nekat,tadi saja Vier datang hanya karena panggilan nya tidak di angkat,apalagi saat ini,jika dia menantang,maka pria tampan nan datar itu bisa saja dalam beberapa menit kedepan tiba di Mansion nya.
Serry menggenggam ponselnya erat, bibirnya mengecup permukaan layar sejenak sebelum menatap Vier yang tengah menatapnya dengan perasaan yang sulit ditebak. Matanya berkaca-kaca, dan dengan suara datar nya, ia berkata, "Terima kasih, istirahat lah, Wife." Ujar Vier dengan ekspresi datar, mencoba menyembunyikan perasaan senang yang sesungguhnya ia rasakan.
Serry mengangguk lalu mematikan sambungan telepon mereka,Vier memejamkan mata nya dan tersenyum lebar sambil menggeleng kan kepala nya berkali-kali.
"Oh,gadis ku,cepat lah pulang." Gumam Vier menatap langit-langit kamar mandi nya.
Sementara Serry yang sudah berbaring,menatap ke samping tempat tidur yang semalam di tempati suami nya, perlahan tangan lembut nya mengelus elus bantal yang ada di sebelahnya.
"Aku akan segera pulang."
***