Novel ke-enam
Kejadian satu malam dengan pria lain akhirnya merusak kepercayaan Louis terhadap Elena. Setelah bercerai dan terpaksa meninggalkan putranya yang masih berusia dua bulan, Elena memutuskan mendekati kembali putranya yang kini berusia delapan tahun.
Karena keadaan tersebut, Elena rela dipanggil bibi oleh putranya dan menjadi orang lain demi menghindari tatapan kebenciannya.
Dengan percaya diri ia membuat kesepakatan dengan mantan suami yang menyadari kehadirannya.
"Aku jal*ang yang mempesona, kan?" senyumnya tanpa beban. "Aku hanya minta waktu satu tahun dari seumur hidup yang kau punya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Belum Kering
Setelah menunggu beberapa saat, Elena akhirnya keluar. Louis langsung menegakkan tubuhnya dan mengamati dengan dalam. Ekspresi Louis terlihat mengeras begitu seorang pria mendekati Elena dan ikut masuk ke dalam mobilnya.
“Pria itu yang bernama Jeff, Sir. Dia asisten pribadi nona selama delapan tahun ini.” Lucas menjelaskan. Berharap kekesalan Louis sedikit mereda.
“Apa sulitnya mencari asisten wanita di sisinya. Kenapa harus laki – laki?!” gerutunya.
Wah, yang namanya cemburu memang percuma saja di jelaskan. Lucas seharusnya mengerti seperti apa tuannya jika menyangkut Elena, tapi siapa yang tahu jika sikap itu masih sama meski sudah menunjukkan kebenciannya? Begitu pikir Lucas.
“Mungkin hanya pria itu yang bisa menangani nona,” jawab Lucas asal yang membuatnya salah bicara.
Bodoh!
"Wah ... benar – benar.” Louis berdecak semakin kesal.
Louis pasti tidak menyadari sikapnya sekarang. Kecemburuan nya terlihat begitu jelas di mata Lucas.
“Mereka bergerak! Cepat ikuti, Lucas!” Memukul pundak Lucas.
...***...
“Sepertinya ada yang mengikuti kita,” kata Jeff melihat dari kaca spion.
Elena yang memainkan ponselnya ikut melihat kesana. Senyum kepuasan tersungging di bibirnya.
“Lihat, kan? Meski menolakku berkali – kali, dia tetap mengikutiku seperti ini. Dia memang payah jika cemburu.” Dulu juga sama. Mana bisa Elena tidak peka jika Louis menunjukkan kecemburuannya begitu. “Tapi, tetap saja kecurigaannya padaku tidak hilang," gerutunya.
“Aku akan mencari buktinya secepat mungkin, Elena.”
Elena hanya tersenyum saja sambil mengawasi mobil yang dipakai Louis dan Lucas dari kaca spion. Sebenarnya tidak peduli sekuat apa Jeff mencari, bukti itu tidak akan pernah ada. Tapi, percuma saja mengingatkan Jeff. Toh ia akan berhenti sendiri nantinya.
“Apa kita biarkan saja mereka mengikuti kita?”
“Biarkan saja. Aku, kan, tidak melakukan kejahatan.”
Bagaimana bisa aku menyerah jika kau begini, Louis. Setiap hari aku hanya bisa menjadi serakah, batin Elena dengan tersenyum.
Jeff menghentikan mobilnya setelah sampai di depan butik. Di depan mobil mereka sudah terparkir mobil lain dimana seorang pria tampan sudah menunggunya sejak tadi. Elene mengetuk kaca mobil tersebut sehingga orang di dalamnya keluar.
“Kenapa tidak menunggu di dalam saja?” Elena berkacak pinggang.
“Kau terlambat satu jam lima belas menit,” ujar pria itu sambil melihat jam di tangannya dan mengabaikan ucapan Elena.
“Memangnya aku peduli?! Jika ingin ribut, pulang saja sana!” hardik Elena.
Pria itu tampak acuh saja. Ia mengamati Elena dari atas hingga ke bawah dengan seksama, memastikan tidak ada yang berubah dari wanita ini. Pria itu lantas menatap Jeff yang berdiri tak jauh dari mereka. Jeff mengangguk sekilas.
“Ayo bicara di dalam.” Memutar tubuh Elena dan merangkulnya masuk ke butik. Elena tidak menolak meski terlihat malas.
“Selamat datang kembali, Nona Elena.” Ellie menyapanya lebih dulu dengan senyum lebar.
“Thanks, Ellie. He's Kendrick, my brother.”
Kendrick Joyce atau panggil saja ia Ken. Merupakan kakak laki-laki satu – satunya dari Elena Joyce. Pria inilah alasan mengapa Elena masih belum terlepas sepenuhnya dari keluarga Joyce.
“Halo, Sir Kendrick. Saya Ellie, penanggung jawab tempat ini. Silahkan panggil saya jika anda membutuhkan sesuatu,” ramahnya.
“Hm.” Kendrick mengangguk ringan. Elena melirik jengah, kemudian menarik pria itu ke lantai atas dimana ia biasanya tinggal.
“Jadi, kau tinggal disini selama ini?”
“Kenapa? Kau mau bilang tempat ini kecil?” cibir Elena mengejek.
“Apa boleh jujur? Sebenarnya sangat kecil.”
"Ck!" Elena berdecak.
“Mau kubuatkan tempat yang lebih besar lagi dari ini?”
“Tidak perlu! Untuk apa tempat yang besar jika sendirian,” sarkas Elena kesal.
Lihatlah kesombongan sang kakak yang membuatnya ingin mencakar wajah tampannya itu. Elena lupa jika sifat itu juga di turunkan padanya.
“Kalau begitu ikut pulang denganku. Kau tidak akan sendirian lagi.” Kendrick tersenyum percaya diri, sedangkan Elena menatapnya sedatar mungkin.
“Sepertinya kau senang jika melihatku terluka setiap hari, ya, Kakak!” tekan Elena.
Kembali ke rumah sama saja dengan menggoreskan luka baru di luka yang belum kering. Tidak akan pernah sembuh meski di obati beberapa kali.
“Mereka sudah menyesalinya, Elena. Mom sangat merindukanmu,” tukas Kendrick pelan. “Kondisi mom menurun. Dia menangis setiap malam. Dad sudah mencoba membujuknya, tapi mom hanya mau kau pulang.”
Elene duduk diam sambil memeluk bantal sofa. Ia menatap ke arah lain dengan menumpukan dagunya di bantal. Kakinya meringkuk di dada. Buliran bening mengalir dari sudut matanya tanpa permisi.
“Padahal mereka tahu betapa sakitnya kehilangan anak, lalu kenapa mereka membiarkanku merasakannya juga,” gumam Elena masih terdengar. “Mereka keterlaluan, Ken. Bukan hanya aku, tapi anakku juga terluka.”
Kali ini Kendrick tidak dapat menyangkalnya. Apa yang di lakukan orang tuanya pada sang adik memang bukanlah luka ringan, melainkan luka besar yang sulit di hilangkan dan akan terus membekas seumur hidup.
Dulu ia terlambat menyadari perbuatan orang tuanya pada sang adik. Dirinya terlalu sibuk mengurus diri sebagai penerus sehingga melupakan Elena. Dirinya pun terkejut saat mengetahui adiknya hamil sebelum pernikahannya waktu itu.
“Aku tidak mau bertemu denganmu lagi jika kau menyuruhku pulang!” Menghapus air matanya dengan kasar.
Kendrick menghela nafas pelan. Pria itu menarik Elena ke pelukannya dan mengelus rambut panjangnya yang tergerai lurus.
Hari itu Kendrick bertanya-tanya. Apa yang terjadi sehingga Elena dan suaminya bercerai. Tapi, setelah mendengar alasan jika adiknya tidur dengan pria lain, Kendrick tidak mempercayainya. Kemudian, setelah beberapa hari perceraian yang membuat Elena murung setiap hari, kenyataan pun di ungkap oleh Elena yang mengetahui jika insiden ini tidak lepas dari campur tangan orang tuanya.
Hal tersebut diketahui pada saat pria yang sama pada malam itu datang menemui ibunya. Lebih terkejut lagi bahwa pria itu merupakan sepupu mereka sendiri yang bekerja sama dengan orang tuanya.
Elena begitu terpukul mengetahui orang tua yang paling dicintainya melakukan itu pada keluarga kecilnya.
“Aku ingin bertemu keponakanku. Apa boleh?” Memang lebih baik tidak seharusnya ia membahas tentang masa lalu. Melihat adiknya menangis juga termasuk luka bagi Kendrick.
-
-
-
tapi jangan pernah menjadikan alesan untuk menyakiti orang lain apalagi terjadi yg namanya pembullyan
karena kita tidak tau seluka dan setrauma apa orang yg mengalami nya.
kau tau apa yg lebih kejam dr pembullyan itu sendiri
yaitu pengambian dan tidak melakukan apa apa .
korban satu akan membuat pelaku kejahatan yg lain.
nice ending
beautiful story
mulai saat ini pelajaran buat kita karena kesalahpahaman akan membuka kejahatan yg lain
lindungi dirimu sendiri dengan melindungi orang " sekitar mu
tapi yg utama.... lindungi dirimu sendiri
bullying bukan hanya sekedar kenakalan remaja saja
apalagi terlihat teman temannya tidak ada rasa menyesal.
karena perbuatannya memberikan trauma mendalam.
jangan menormalisasikan kenakalan remaja ini
ini adalah sebuah. kriminalitas.
karena kita ga akan pernah tau,sedalam apa efek nya pada tiap korban
dan ketika membalas apa yg dia rasakan ketika dulu,dia di cap sebagai penjahat.
double standar bukan?
segala sesuatu itu tergantung sudut pandang orang 🥹🥹
ga ada dan ga akan pernah ada yg bisa membandingkan seciah cinta seorang ibu buat anaknya.
apalagi melukiskan seberapa megah dan besarnya rasa cinta ibu.
akhhh
sakitnya Ampe kedalem Thor, karena aku juga seorang ibu 🥹