Demonstrasi sejuta buruh dan mahasiswa yang mengepung istana negara menjadi perubahan konstelasi kehidupan seorang mahasiswi akhir bernama Nawa Putri. Agenda pertemuannya dengan dosen pembimbing skripsinya berjalan tidak sesuai rencana. Ia justru terjebak dalam malapetaka. Bahkan ia tak menyadari pasca-kejadian tersebut, Na—sapaan Nawa—telah masuk lebih dalam di kehidupan Saba yang rumit dan penuh intrik. Idealisme tidak lagi seia sekata dengan kerinduan yang mengharu biru. Tak jelas lagi ke mana arah yang dituju.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NL choi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Di Bawah Pohon Jengkol
...21. Di Bawah Pohon Jengkol...
Nawa memilih untuk menghindari laki-laki yang setengah telanjang dada itu. Dan duduk di atas bangku kayu tepat di bawah pohon rindang. Yang tak jauh dari rumah Bu Ning.
Dengung suara terdengar meraung-raung dari balik bukit di hadapannya. Sesekali ia melihat anak-anak kecil bermain di jembatan gantung sebagai penghubung antara wilayah rumah Saba dengan perumahan di depannya.
Meski matahari terik menampakkan kehebatannya, ia tidak begitu merasakan panas yang menyengat.
“Aku pikir kamu pulang?” Saba menghampirinya dari belakang. Berdiri tak jauh dari bangku kayu. Saba telah berpakaian lengkap. Bahkan terlihat lebih bugar.
“Abang belum jawab pertanyaanku?”
Saba menyandar di tepi bangku. Memasukkan kedua tangan di saku celana. “Apa jawabanku gak memuaskan?”
“Gak,” sanggahnya.
Desis Saba terdengar. “Bagaimana biar jawaban itu memuaskanmu?”
“Jawaban yang gak masuk akal.”
“Di mananya gak masuk akal? Kamu bantu-bantu tanam bunga itu. Dan aku memberikan untukmu sebagai imbalan telah membantuku.” Saba menatapnya sambil tersenyum kecil.
“Kenapa baru kemarin diberikan?” Ada jawaban yang belum memuaskan hatinya, maka ia berdalih tak masuk akal.
“Kamu membantu menangkap ikan, memasaknya aku berikan imbalan sebagai ucapan terima kasih. Kamu bantu tanam bunga aku berikan imbalan juga sebagai ucapan terima kasih.”
“Apa semua bentuk ucapan terima kasih harus membagi apa yang telah diperbantukan?” desaknya.
Saba menarik bahu. Lalu menghela sejenak.
“Kalau begitu, bagaimana aku harus memberi imbalan pada Abang ketika Abang menyelamatkanku saat demo tempo lalu? Karena sampai sekarang aku merasa berhutang budi,” urainya.
“Itu sudah tugasku, Na. Melihat seseorang dalam kondisi lemah dan perlu bantuan. Tidak mungkin aku berdiam diri saja,” bela Saba.
Ia memilih bangkit karena tak mendapatkan jawaban yang memuaskan seperti yang diinginkannya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Saba.
“Aku penasaran lewat jembatan gantung itu.” Ia menunjuk jembatan besi yang hanya bisa dilewati orang. Membuka pagar lalu berjalan perlahan.
Saba terlihat menyusul di belakang.
Baru juga di bibir jembatan, goyangan mulai terasa. Ia berpegangan pada pagar pembatas jembatan yang berada di kanan-kiri.
“Suara apa di depan sana, Bang?” Langkahnya pelan menyusuri jembatan yang lumayan panjang.
“Buldoser.”
“Ada proyek pembangunan?”
Saba mengikutinya di belakang. Bedanya Saba tak perlu berpegangan pada pagar di kanan-kiri.
“Proyek pengembang. Mungkin 2-3 tahun lagi ada mall di belakang sini,” sahut Saba. Info yang didengarnya seperti itu. “Bahkan pasar mingguan langganan Bu Ning ikut tergusur.”
“Memangnya tanahnya milik siapa?” Ia berhenti di tengah-tengah jembatan. Melihat satu sisi pemandangan sungai yang airnya cukup tenang mengalir.
“Milik penduduk sini yang dijual ke pengembang dengan iming-iming yang mungkin menggiurkan. Tapi dengan dia menjual ke satu pihak maka banyak manfaat yang hilang.” Saba berdiri di sebelahnya. Lagi, lagi tanpa berpegangan pada pagar pengaman. “Kalau hanya mall yang berdiri di situ. Maka yang mampu datang ke mall dan melakukan transaksi jual-beli adalah orang-orang kelas atas dan menengah. Yang punya uang. Yang sanggup sewa bayar tenant. Berbeda tuh, misal kondisinya masih dalam bentuk pasar. Yang datang berbagai pelaku ekonomi. Dari mulai penjual kebutuhan bahan pokok, penjual makanan seperti pedagang bubur, es cendol, soto betawi, dan mereka semua UMKM, belum lagi penjual mainan, pedagang baju, penyalur atau distributor, pembeli sendiri bahkan pendatang yang hanya sekedar melihat-lihat saja tanpa rasa takut diinterogasi.” Saba berhenti sesaat ketika seseorang melambaikan tangan sekedar menyapa dari seberang sana. Ia membalas melambaikan tangan.
“Coba saja kamu datang ke mall dengan pakaian yang … mungkin sedikit lusuh atau terlihat kumuh sedikit pasti kamu dicurigai dan bisa-bisa dilarang untuk masuk. Artinya mall bukan tempat bermain bagi mereka yang tidak punya uang berlebih.”
“Lalu pasarnya sekarang digusur ke mana?” Ia berpindah sisi. Melepas pegangan dengan melipat tangan di dada. Melihat pemandangan sungai di sisi yang lain.
“Karena mereka tidak ada lagi tempat untuk berdagang pada akhirnya ada yang memilih pergi ke tempat lain. Sebagian berjualan di pinggir jalan raya. Yang akhirnya membuat masalah baru berupa kemacetan.”
Dua orang anak-anak berlari menuju mereka saling berkejaran. Membuat jembatan gantung tersebut bergoyang cukup keras.
“Eh … Ba-Bang.” Ia berusaha menggapai pagar pengaman. Sayang, tangannya tidak sampai. Saba sigap mengulurkan tangan untuk membantunya. Dengan cepat ia memegangi tangan Saba.
Anak-anak itu justru malah makin senang melihatnya ketakutan. Tertawa riang seakan-akan mengejeknya yang ketakutan. Mengumpamakan jembatan gantung itu seperti trampolin.
Pegangannya pada tangan Saba makin kuat. Kemudian Saba mengajaknya untuk kembali.
“Anak-anak itu gak takut?”
“Mereka sudah biasa. Jembatan ini pengganti tempat bermain mereka yang ikut tergusur.”
Mereka telah berada di ujung jembatan.
“Kamu bisa lihat ada dua orang yang sedang memancing di bawah itu?”
Ia mengangguk.
“Dulu ikan-ikan di sungai ini banyak. Tapi seiring masifnya pembangunan di daerah sini. Ikan-ikan itu juga tergusur.”
“Abang pernah mancing di sana?”
“Sekali. Yang lebih sering suami Bu Ning sama Arif,” sahut Saba.
Ia melepaskan pegangan tangannya pada tangan Saba ketika baru menyadari Saba membuka pagar menggunakan tangan kiri.
Sempat rasa gugup itu muncul. Lalu ia berusaha menguasai diri.
Saba mendongak ke atas pohon. “Kamu pernah lihat pohon jengkol?”
“Belum.”
“Itu pohon jengkol!” Tunjuk Saba pada pohon rindang yang menaunginya saat ia duduk tadi.
“Sayang belum berbuah. Kalau berbuah penduduk sini biasanya pada minta,” terang Saba.
“Abang yang tanam?”
“Pohon ini warisan dari pemilih tanah sebelumnya.”
Bu Ning datang membawa rantang. Ia tersenyum menyambut wanita itu.
“Makan siangnya mau di sini saja, Pak?” tanya Bu Ning.
“Simpan situ saja, Bu.” Saba menunjuk bangku kayu di bawah pohon.
“Bu Ning masak apa?” Ia antusias melihat Bu Ning yang melepaskan rantang dari besi pengait.
“Ini nasi,” sebut Bu Ning pada rantang paling atas yang diletakkannya. “Ini ikan sepat acar kuning,” tambahnya menyebut pada rantang kedua. “Ini ikan lele goreng sama sambal,” sebutnya pada rantang ketiga. “Dan ini sayur lodeh,” pungkas Bu Ning pada rantang terakhir. Ia juga mengeluarkan piring dan air minum dari kantong yang dibawanya.
“Bu Ning makan sekalian bareng kami, ya?”
“Sudah, Mbak. Baru saja. Silahkan … Mbak.” Bu Ning pamit pergi.
“Kamu nyaman makan di sini?” tanya Saba. Mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Lantas menyodorkan kepadanya.
“Untukku?”
Saba menukas, “Untuk siapa lagi?”
Ia tersenyum. “Makasih,” balasnya menerima piring tersebut.
“Makan siang di bawah pohon jengkol,” ucap Saba.
“Tetap enak.” Ia mengambil ikan lele goreng beserta sambal. Menambahkan sedikit sayur lodeh.
“Sederhana dan gak romantis,” celetuk Saba.
“Romantis bukan tentang tempat dan apa yang diberikan,” sahutnya.
Saba tiba-tiba menaruh bunga kenikir berwarna pink di atas piringnya. Pada saat ia hendak duduk. Ia sedikit terkejut dengan tindakan Saba.
“Biar sedikit romantis,” ucap Saba dengan senyum.
Meskipun jantungnya sedikit melonjak berdetak, ia menukas, “Ini bisa di makan?”
“Kalau kamu mau?”
“Sayang, gak jadi ah. Aku simpan biar jadi bunga deposito,” kelakarnya. Menyisihkan bunga ke bagian pinggir.
Saba tertawa ringan. Duduk di sebelahnya.
“Abang satu komunitas sama Bang Leo?”
Saba mengangguk. Sambil menyantap makanannya. “Kamu kenal Leo?”
“Bang Leo temannya Mbak Sapta. Dulu mahasiswa abah. Jadi benar Abang satu komunitas sama Bang Leo. Termasuk Kania dan orang-orang yang datang kemari?”
“Tidak semua.”
“Abang yang punya Malaka?”
Saba mengangguk.
“Abang keren. Punya komunitas banyak anggotanya. Banyak yang kagum sama Abang.”
Saba tak menanggapi.
“Aku datang ke acara Abang kemarin karena Bang Leo. Tapi maaf, aku harus buru-buru pergi sebelum sempat mengikuti seminar Abang. Pasti seminar Abang gak kalah keren dengan pembicara pertama,” pujinya.
“Memang aku keren? Kan, kamu belum lihat,” sergah Saba.
“Intuisiku berkata begitu,” balasnya.
“Seberapa keren menurut intusimu?”
“Abang mau tahu?” tantangnya ingin membuat penasaran Saba.
“Skor dari satu sampai sepuluh?” desak Saba.
“Mm ….” Ia sengaja berbelit-belit.
“Kalau kamu menilai aku lebih keren dari pembicara pertama. Artinya nilaiku lebih besar. Dan aku pastikan 9,5.”
Ia memainkan kepala ikan lele yang menganga. Seraya manggut-manggut. “Ya, 9,5. Sembilan untuk retorika. Lima untuk kelakuannya.”
Seketika membuat Saba menoleh pada dirinya.
tolong lanjutkan lagi lah nih novel...
please,,.
ah bang saba kurang peka
mungkin ada banyak kosakata baru yg saya mengerti..
karena saya tidak pernah kuliah,
dan masih banyak teka-teki yg belum ke jawab