Gara-gara bola basket nyasar, Matahari Senja harus berurusan dengan si badboynya SMA Air langga, pentolan geng Atlantis yang terkenal hobi tawuran, playboy dan balap motor. Batara Matahari namanya
Matahari, nama mereka sama. Takdir keduanya pun hampir sama untuk dituntut sempurna. Tapi takdir tak semudah itu untuk membuat mereka bersatu. Matahari Senja dan Batara Matahari dengan luka mereka masing-masing, bisakah menyembuhkan satu sama lain?
.
Jangan lupa like, komen dan vote...🙏❤️
Follow ig author : @mukarromatul28
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukarromah Isn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lepaskan dan berubah
"Matahari Senja, namamu indah sekali" dokter perempuan dengan kacamata yang bertengger sempurna diatas hidungnya itu mulai melakukan sesi konsultasi. Ia adalah sahabat dokter Vanya yang sempat diberikan kartu namanya pada Senja saat itu, dr. Amel itu nama yang tertera pada jas putihnya. Setelah melakukan hipnosis dan pikiran Senja mulai tenang barulah dokter Amel mulai bertanya sambil melihat data diri gadis itu
"Iya, ibuku bilang kalau ia memberikan nama itu karena aku lahir saat Senja"
"Keren sekali, ibumu bisa memberikan nama secantik itu untuk putri secantikmu. Dia pasti orang yang hebat"
"Iya, ibuku hebat" balas Senja dengan sedikit senyuman diwajahnya. Jika dalam keadaan biasa, topik tentang ibu adalah hal yang paling ia hindari
"Pasti ibumu kecewa kalau melihat keadaan putrinya seperti ini"
"Sayangnya dia tidak melihatku dan mungkin tidak akan pernah" setetes air mata jatuh dari pipi gadis itu
"Kenapa begitu? Ibu adalah seseorang yang pertama kali bisa dekat dengan anak perempuannya. Dia pasti bahagia melihat putrinya tumbuh"
"Karena aku dianggap putri cacat. Ia memilih mengejar kebahagiaannya bersama orang lain dan menyayangi putri barunya"
"Cacat? Apa pantas gadis sesempurna kamu dinyatakan cacat?"
"Sebelah mataku cacat saat dilahirkan, mungkin ia malu punya putri sepertiku dan akhirnya pergi. Awalnya aku tak mengerti karena aku tak pernah meminta dilahirkan seperti itu, tapi sekarang aku paham alasannya"
"Bukannya sekarang kamu sudah baik-baik saja?"
"Entah, aku tak tau apalagi yang salah denganku. Mereka hanya mengatakan benci tapi tak memberitau dimana salahku agar aku bisa memperbaikinya"
"Apa sebegitu pentingnya mereka untukmu?"
"Tentu saja, mereka adalah keluargaku"
"Apakah ada cinta didalam keluarga itu?" Senja terdiam begitu pertanyaan itu diluncurkan dokter Amel
"Keluarga bukan hanya anggota yang terikat dengam hubungan darah atau terdata dalam kartu keluarga, keluarga adalah tempat kamu pulang saat lelah, tempat kamu tertawa dari kejamnya dunia diluar dan tempat kamu mengadu saat kamu merasa sakit. Apa orang yang kamu sebut keluarga seperti itu?"
"Tidak" satu kata itu keluar disertai dengan lelehan air mata dari sudut matanya
"Karena itu aku bingung, kemana aku pulang. Karena itu aku terus mengejar perhatian mereka, agar setidaknya aku bisa punya tempat untuk cerita kalau hari ini aku sedih atau bahagia"
"Maka dari itu lepaskan. Lepaskan Senja"
"Lepaskan belenggu itu darimu" lanjut dokter Amel dengan memperhatikan gerak tubuh Senja yang sedikit menegang saat ia mengatakan itu
"Melepas mereka? Artinya mengakhiri hubungan?"
"Bukan mengakhiri hubungan, tapi lebih tepatnya merubah dan melepas hal yang tak perlu"
"Melepas bukan dalam artian hubungan kalian berakhir, tapi melepas hal yang tak perlu dalam hubungan itu seperti menyiksa diri. Merubah artinya kamu harus bisa merubah pandangan kamu tentang keluarga"
"Maksud dokter?"
"Rubah definisi keluarga menurut kamu, keluarga tak hanya mereka yang memiliki hubungan darah denganmu, tapi juga siapa yang ada didekatmu dan peduli denganmu. Melepas mereka bukan artinya kamu bukan lagi bagian keluarga itu, tapi anggaplah kamu sedang melepas apa yang membuat kamu terluka"
"Banyak orang yang peduli padamu Senja, Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain"
"Tapi aku sudah tak percaya pada manusia lagi"
"Dengan kamu datang kesini artinya kamu punya sedikit kepercayaan. Tuhan melarang kita percaya sepenuhnya pada manusia karena bisa jadi hanya mengantarkan pada rasa kecewa, tapi tuhan menganjurkan kita menjaga hubungan dengan sesama makhluk-Nya"
"Kamu kecewa sampai menyakiti diri sendiri karena manusia bukan? Kamu tau kalau rasa kecewa itu awalnya sebuah harapan yang tak sejalan dengan pemikiran kita"
"Kamu berharap mereka menyayangimu, mencintaimu dan memperlakukanmu sama. Kamu melakukan apapun agar dianggap oleh mereka, bukankah artinya kamu berharap pada manusia?"
"Tapi mereka keluargaku"
"Seperti yang aku katakan diawal Senja, keluarga itu punya banyak definisi, pilihlah definisi keluarga yang membuatmu bahagia. Keluarga yang tak hanya sebatas hubungan darah"
"Hidup ini singkat dan hanya sementara, percuma kalau dihabiskan dengan menyakiti diri sendiri" Senja mengangguk setuju, gadis itu terlihat menarik nafasnya panjang seolah siap menghadapi hal baru
"Lepaskan Senja dan hiduplah bahagia. Berhenti menyakiti dirimu sendiri. Kalau kamu lelah dengan tuntutan, maka istirahatlah. Jangan sakiti fisikmu karena itu. Kamu hebat bisa bertahan sejauh ini, faktanya banyak orang yang gagal dan justru berakhir hidup dengan sia-sia"
"Kadang ada kalanya mereka sadar betapa pentingnya kamu, saat mereka merasakan sendiri bagaimana kamu berubah. Kamu bukan lagi Senja yang mereka kenal sekarang, Senja yang hanya bergantung pada kata keluarga tanpa tau definisinya. Sekarang kamu adalah Senja yang berbeda, yang menemukan arti definisi keluarga baru dan hidup bahagia"
"Aku mengerti" ucap gadis itu dengan sedikit senyumannya
"Tapi tetap ingat untuk libatkan pencipta dalam hidupmu. Kita memang bebas merencanakan, tapi skenario akhir dari perjalanan kita adalah dia yang menentukan"
"Aku bisa mengerti"
"Dan tolong jangan lampiaskan lagi lukamu pada fisik" dengan memegang goresan ditangan Senja, dokter Amel melanjutkan kalimatnya
"Biarkan luka ini sembuh dan jangan menggoresnya lagi"
Batara mengernyitkan alisnya saat melihat sesekali bibir perempuan yang duduk dibelakangnya mengembangkan senyum. Sejak keluar dari ruangan dokter Amel, gadis itu seperti diam saja bahkan saat ia bertanya, Senja hanya menjawab dengan deheman atau anggukan dan gelengan
Akhirnya ia memilih memberhentikan motornya ditepi jalan yang tak terlalu ramai, itu tentu membuat Senja menaikkan alisnya heran
"Kenapa berhenti?"
"Lo nggak kesambet apapun kan? Gue liat senyum-senyum sendiri dari tadi"
"Gue normal, lagian gue juga cuma pengen senyum doang, emang salah?"
"Nggak salah kalau orang lain, tapi kalau lo keliatannya agak aneh" Senja memukul kepala Batara yang memakai helm dengan tasnya
"Sial*n lo, emang gue kayak gimana?" Tanyanya jengkel
"Lo makin cantik kalau senyum, gue nggak mau orang lain liat"
"Dasar playboy" alih-alih tergoda seperti kebanyakan korban Batara, Senja malah terang-terangan menyebut laki-laki itu playboy
Tanpa diduga, sekitar lima berhenti didekat mereka, Batara melihat sekeliling kemudian mengumpat, tanpa kata ia langsung menarik gasnya dengan kecepatan tinggi, Senja yang terkejut alih-alih memegang Batara seperti adegan romantis dalam novel, ia malah memukul laki-laki itu cukup keras karena Batara hampir membuatnya terjungkal ke belakang
"KITA DIKEJAR!" Teriakan Batara teredam oleh kencangnya angin sampai membuat Senja tak mendengar jelas. Ia pikir motor yang tadi termasuk teman Batara dalam anggota Atlantis
"APA?" Senja balik berteriak karena benar-benar hanya menangkap kata belakangnya saja
Batara tak lagi menjawab, laki-laki itu melajukan motor ke markas, namun sampai dipertigaan yang sepi motor lain datang dari arah berlawanan
"Sial!"