Bukan hanya tentang cinta. Tapi, tentang ikrar dari sebuah pernikahan itu sendiri. Mencintai, tapi tidak dicintai, rasa sakit yang bertubi-tubi. Yang pada akhirnya memilih pergi, setelah sebuah pengorbanan mewakili rasa cinta yang mendalam.
Dua kisah yang berbeda, tapi tujuannya sama. memperjuangkan pernikahan.
Aulya, nama yang simpel, tapi hidupnya penuh kesedihan. Menikah dengan Muhammad Zaen, laki-laki yang tidak mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syarifatul hidayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Saat Sela Tahu
"Sela?" Zaen sangat terkejut, karena yang datang adalah Sela.
"Eh, Zaen maaf aku tidak memberimu kabar, aku baru saja sampai, kamu dari mana saja sama adikmu?" Tanya Sela dengan senyum termanisnya.
"Dia istrinya, bukan adiknya," ujar bapak Fakhri, membuat suasana semakin tidak karuan.
Kini bukan hanya Zaen yang terkejut, Sela lebih terkejur lagi, tangannya gemetar, matanya merah, nafasnya tak beraturan.
Saat semua mendengar jawaban bapak Fakhri, semua menjadi diam. Hanya tatapan sela yang mampu di mengerti oleh Zaen. Bahwa, pernikahan Zaen dan Aulya sudah terjadi. Sela langsung keluar tanpa permisi. Sedangkan Zaen hanya diam tanpa berkata apa-apa. Sebenarnya Zaen khawatir dengan Sela.
Bapak Fakhri merasa heran melihat kepergian Sela, beruntung sekali, ibu irma sudah tidur.
"Kenapa dengan temanmu? Kenapa dia pergi begitu saja."
"Mungkin ada hal penting yang lupa dikerjakan Pa," jawab Zaen gugup.
Sedangkan Aulya hanya diam. Karena, dia sudah tahu siapa sela sebenarnya. Aulya hanya bisa berharap yang terbaik.
Saat ini Aulya merasa sangat bersalah, karena merasa dirinya sudah merebut Zaen, dan menyakiti Sela.
Entah apa yang akan terjadi, jika kedua orang tua Zaen mengetahuinya. Jawaban atas doa Aulya mulai terjawab. Satu persatu akan tahu jika dirinya dan Zaen menikah.
"Pa, Zaen pamit keluar dulu."
"Ajak istrimu, biar papa disini."
"Tidak Pa, Aulya capek, muter-muter menuju pintu keluar, mending disini saja," ujar Aulya berbohong. Yang sebenarnya dia ingin memberi kesempatan Zaen, untuk bertemu Sela.
Zaen mengejar Sela, dia ingin menjelaskan semua yang terjadi. Mencari Sela kesana kemari, yang ternyata Sela sudah duduk didalam mobilnya
"Sela, buka pintunya."
Pintu mobil dibuka, Sela menatap Zaen tajam. Dia sangat marah. Karena ternyata sudah hancurkan impian kebahagiaannya.
"Sela."
Tangan Zaen memegang tangan Sela. Tapi Sela menepisnya.
"Laki-laki macam apa kamu? tega membohongi aku, ini yang kamu bilang cinta, munafik." Sambil memukul Zaen
"Aku tetap mencintai kamu. Tanpa kurang sedikitpun aku tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuaku. Aku dijodohkan sejak kecil, aku pikir mereka sudah melupakan perjodohan ini, tapi nyatanya mereka masih tetap menginginkan ini."
"Kamu bisa menolaknya Zaen. " Ujar Sela marah.
"Aku tidal bisa jika harus menyakiti hati kedua orang tuaku, karena mereka aku ada. Sejak kecil aku tidak pernah membangkang keinginan nya." Jelas Zaen mencoba meyakinkan Sela.
"Aku minta Ceraikan dia. Karena, aku tidak mau diduakan."
"Aku tidak mungkin ceraikan Aulya. Satu sisi orang tuaku sangat sayang sama Aulya." Jawab Zaen meyakinkan Sela.
"Atau kamu sudah di goda oleh wanita itu."
"Cukup Sel. Dia, tidak serendah yang kamu pikirkan. Aulya wanita sholehah. Dia sangat menjaga kehormatannya.:
"oh, baguslah. Itu artinya aku bisa lebih bebas memilikimu, dan mulai sekarang aku akan tinggal serumah denganmu,"
"tidak bisa Sel, kalau kamu tinggal di Rumah, apa kata kedua orang tuaku." Zaen bingung, dia merasa dirinya tidak punya jalan keluar.
"Aku gak mau tahu, aku hanya ingin hakku yang sudah dirampas wanita perebut itu." ucapnya marah penuh kebencian.
"Pulanglah. Kita bicarakan setelah mama sembuh."
Sela tidak menjawab. Dia langsung masuk kedalam mobil, dan pergi meninggalkan parkiran.
Zaen tanpak frustasi, keadaannya sangat rumit, tak terpikir akan seperti ini. Apa yanga akan terjadi jika yang tahu adalah kedua orang tuanya.
Zaen berjalan pelan, wajahnya tampak lelah, sesampainya di kamar, Zaen melihat Bapak Fakhri sudah tidak ada di kamarnya. Sedangkan Aulya duduk di samping tempat tidur Ibu Irma, buka tidur, tapi mengaji, pikirannya mulai kacau. Karena dua wanita yang saat ini berstatus istrinya sama-sama tidak bisa di lepaskannya.
Apalagi melihat Aulya yang lemah lembut, terlihat sangat penyayang dan sangat baik. Ibadahnya pun tidak perlu diragukan lagi.
"Sudah pulang Sela Mas." tiba-tiba pertanyaan Aulya membuat Zaen terkejut.
"Sudah,"
Sela menghampiri Zaen, dan duduk didekat Zaen.
"Besok, kita bicarakan dengan Papa dan Mama, saya ikhlas jika harus diceraikan."
"Ah tidak, jangan membuat tambah gaduh. Kamu lihat Mama, dia butuh suport dari kita, bukan menambah masalah yang ada."
"Kasihan dia Mas, saya dapat merasakan bagaimana rasanya di duakan. Saya benar-benar tidak apa-apa, jika saya harus di...."
Belum selesai bicara, handphone Zaen berdering.
"Papa," Ujar Zaen
"Bicaralah, mungkin Papa penting, tadi Papa pamit pulang."
Zaen menerima panggilannya.
"Iya Pa,"
"Besok Mama akan kita pindahkan ke Surabaya, kamu sama Aulya harus ikut. Untuk kerjaanmu, tidak perlu di lanjutkan. Sudah saatnya kamu kerja diperusahaan sendiri."
"Tapi Pa..."
"Jangan membantah, demi Mama kamu."
"Iya Pa." Jawabnya lesu.
Zaen langsung memutuskan panggilannya.
"Papa bilang apa Mas,"
"Kita besok harus ikut ke surabaya, karena Mama mau dipindahkan ke surabaya."
"Biar saya yang menemani mama Mas. Mas disini saja mengurus pekerjaannya."
"kamu tahu papa, dia tidak suka di bantah. Pastinya dia sudah menghubungi owner hotel, kalau saya akan berhenti."
"Maafkan Aulya, ya Mas. Gara-gara Aulya cinta mas tersiksa."
"Kamu tidak salah, justru aku yang salah."
mereka sama-sama diam, Zaen menyandarkan tubuhnya. Merasa sangat lelah, sedangan Aulya kembali lagi ke kursi semua.
Karena sudah malam, Aulya tertidur. Zaen merasa kasihan melihat Aulya tertidur dikursi tunggal. Dia dengan hati-hati mengangkat tubuh Aulya, dipindahkan ke kursi sofa.
"Maafkan aku belum bisa jadi suami yang baik." batin Zaen..
Malam semakin larut, semua sudah tertidur pulas. suara lalu lalang pun sudah tidak terdengar lagi. Hanya bunyi jam yang terdengar begitu keras.
Keesokan harinya, Aulya terkejut, karena dirinya sudah tertidur di sofa, sedangkan Zaen di lantai.
"Makasih Mas," ujar Aulya, lalu kekamar mandi untuk berwuduk.
Disisi lain, pak Ode dan istrinya sudah di villa, dia sudah menata koper yang berisa baju Zaen dan Aulya. Semua tidak ada yang tersisa, kecuali barang-barang yang memang sudah ada di rumah itu.
"Pak Ode, kamu bawa semua jangan ada yang tertinggal. Aulya dan Zaen ikut ambulan nanti, jadi kalian berangkat dulu ya."
"Baik Tuan,"
"Untuk uang makan dan beli bensin, sudah saya transfer, kalian hati-hati dijalan." Ujar bapak Fakhri.
"Terimakasih tuan."
"Sama-sama."
Bapak Fakhri langsung kerumah sakit, rumahnya sudah di gembok. Keluarga Bapak Fakhri akan pulang ke surabaya.
Sesampainya dirumah sakit, Bapak Fakhri langsung menemui keluarganya.
"Pagi Ma?"
"Pagi Pa, jadi kita kesurabaya hari ini,"
"Iya, Semua sudah di bawa sama Pak Ode, jadi kita tinggal pulang saja. Dan dokter juga sudah mengizinkan Mama untuk dipindahkan kerumah Sakit Dr. Soetomo."
"Barang kita belum di siapkan pa," ujar Zaen yang tiba-tiba datang.
"Sudah, malah semua sudah di bawa kesurabaya, kalian kalau tidak ada baju ganti, beli saja dulu. Karena semua sudah di bawa oleh pak Ode."
Zaen diam, kali ini dia tidak bisa bicara apa-apa. Karena segala keputusan tidak bisa di bantah. Apalagi Zaen tak ingin berdebat dengan Bapak Fakhri.
Bapak Fakhri pamit keluar, disusul Zaen, mengikuti Bapak Fakhri.
"Pa, apa boleh saya ke hotel dulu, menemui sekertaris saya."
bapak Fakhri menoleh.
"Ingin ketemu sekertaris atau wanita itu??"
ratapi penyesalanmu..
apalagi ketika kau liat perlakuan istri tersayangmu pada ibumu kau akan nyesel zaen telah mempertahankanya...
pergi yg jauh aulia biar zaen tau rasa..