Diana seorang gadis yang tidak pernah kenal siapa orangtua kandungnya bertemu dengan Adi Pramono seorang Presdir secara tidak sengaja bertemu di taman.
****
"Diana." Teriak Beni cukup keras sehingga orang-orang melihat Beni.
Diana tersentak kaget mendengar suara papanya yang cukup keras, tiba-tiba rasa takut menghampirinya.
"Apa papa marah padaku, tidak pernah papa teriak sekeras itu padaku." pikir Diana.
Beni berjalan dengan sangat cepat, dan terlihat Meri tersenyum sangat manis pada Beni.
Seketika Meri merasa ketakutan melihat Rudi masuk bersama polisi. Beni dan Rudi telah melaporkan kejahatannya pada polisi dan bukti yang mereka miliki tidak bisa disangkal Meri meskipun kejadian bertahun-tahun yang lalu.
Meri marah pada Beni karena Diana dan akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan mengatakan semua rahasia yang selama ini ditutupi Beni.
"Anak haram, kamu itu anak haram Diana." ucap Meri membuat Diana terkejut dan terpukul hingga memutuskan untuk lari menjauh dari mereka semua. Diana terus berlari sampai dia lelah dan akhirnya berhenti di sebuah taman dan menangis tersedu.
"Hapus air matamu. Kau mau disini terus atau ikut denganku?" ucapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode dua dua
Senum memeluk Diana sangat erat membiarkan gadis itu menangis dipelukkannya. Beni sengaja membiarkan Senum memeluk Diana.
Bagaimanapun Diana tumbuh bersama Senum dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Senum ketimbang Beni. Beni memaklumi itu semua karena Senum juga sudah lama menganggap Diana anaknya sendiri bukan anak dari majikannya lagi.
Tampaknya Diana bisa merasakan pelukan seorang ibu dari Senum.
Senum terus memeluk Diana sambil mengusap kepala gadis itu.
"Diana sabar ndok, jangan nangis terus kasihan mama Diana. Ini semua sudah takdir ndok, takdir tidak bisa kita rubah sayang, yang terjadi biarlah ndok sekarang kamu kan ada papa, dan ada bibi juga kamu tidak sendirian ndok."
Setelah merasa tenang, Diana melirik ke arah Beni dan memeluk Beni menangis dipelukannya. Beni semakin terluka melihat Diana menangis dipelukannya.
"Ah sebaiknya tidak usah ku bawa Diana kesini biarlah jadi rahasia saja jika ku tahu akhirnya begini." gumam Beni.
"Pa papa hiks hiks hiks." Diana mengeluarkan suara dengan terbata-bata.
"Iya, Din. Sudah ya nak air matamu nanti kering menangis terus, kasihan mamamu nak dia pasti sedih melihatmu seperti ini."
"Hik hik hiks..... Iya pa, Di Diana udah nggak nangis lagi kok." jawab Diana, sambil melihat Beni dengan mata udah sembab.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tak sengaja melihat dan mengenali mereka, orang itu terus mengikuti mereka sampai ke dalam pemakaman. Mata itu terus memperhatikan Beni dan yang lainnya.
"Bukankah itu Beni, pria yang selama ini ku cari, siapa perempuan dan anak yang disampingnya, dan makam siapa itu." pikirnya.
"Lily ...., itu makam Lily dan anak itu apa dia anak Lily? Aku harus memastikan sendiri." ucapnya.
Kemudian orang itu berjalan ke makam yang membelakangi Beni, dan berpura-pura menjadi pengunjung makam.
"Din, udah yuk kita pulang. Sekarang kamu tahu kan mamamu siapa nanti kamu sakit lho dari tadi nangis terus." ucap Beni.
"Iya, pa. Diana nggak nangis lagi."
"Ya udah yuk Bi kita pulang, cukup untuk hari ini kita kembali ke penginapan saja."
"Baik pak."
"O, jadi memang betul itu anak Lily, dan perempuan ini pembantunya. Syukurlah, aku sudah lama menunggumu Beni dan mencarimu kesana kemari seperti orang gila dan kali ini aku tak akan melepaskanmu.
Tapi tunggu sebentar, gadis itu memanggil Beni dengan sebutan papa, apa mungkin Lily dan Beni sudah menikah?
Ah itu nggak mungkin, bukannya Lily meninggal di rumah sakit." gumamnya.
"Lebih baik aku ikuti mereka dulu sebelum aku kehilangan jejak."
Orang itu mengikuti Beni dengan berpura-pura sebagai pengunjung makam yang hendak keluar juga dan Beni tidak menyadadari ada orang yang memperhatikan dan mengikuti mereka dari tadi.
"Bi, bantu Diana masuk ke mobilya, kita ke penginapan saja nanti jika Diana sudah baikan baru kita keluar."
"Baik pak."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke penginapan.
"O, disini mereka menginap. Baiklah aku akan menunggu disini melihat apa yang bisa aku lakukan." gumamnya.
"Din, istirahatlah dulu. Nanti kita bicara lagi."
"Baik pa."
"Bi, jaga Diana dengan baikya."
"Baik pak, saya akan berusaha sebaik mungkin."
Bi Senum membawa Diana ke kamarnya dan Beni juga kekamarnya, mereka istirahat menenangkan diri.
”Huf, hari yang melelahkan." gumam Beni.
Diana yang sudah kelelahan karena menangis begitu lama tertidur dengan mudahnya dipangkuan Bi Senum. Bi Senum membelai rambut Diana dengan lembut.
Setelah beberapa jam tertidur, Diana terbangun karena merasakan sesuatu bergejolak diperutnya.
"Lapar." lirih Diana.
"Non udah bangun, mandi dulu ya bersihkan badan non udah lengket semua biar segaran baru kita cari makan non. Tadi papa non juga udah kesini ngeliat non tapi karena non masih tidur papanya pergi lagi." jelas bi Senum
"Oh baiklah bi, Diana mandi dulu."
Diana mengambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi demi cacing dalam perutnya yang sudah mau perang kayaknya.
Byur byur byur, bunyi air mandi Diana terdengar keluar kamar, kayaknya Diana mandi dengan sangat tergesa-gesa.
"Wah cepat mandinya ya non." ledek bi Senum.
"Ah bibi." Diana manyun.
"Diana udah lapar bi, ini perut udah mau lepas rasanya harus buruan diisi."
Diana segera memakai baju dan merias mukanya menggunakan make up yang minimalis.
"Bi, Diana keluar dulu ya, nanti kalau papa nanyain bilang Diana cari makan." pinta Diana langsung berlari tanpa mendengarkan jawaban Senum.
"Non, tunggu non."
lagi vakum nulis novelnya, sekali lagi maafya. mgkn nanti dilanjutkan lagi 🙏🙏🙏