TAMAT
Karna ayah yang sedang sakit-sakitan membuat Putri Mentari harus menikahi seorang duda beranak satu yang merupakan dosen mata kuliah umum di fakultasnya.
"Kamu jangan berharap lebih dengan pernikahan ini! Aku pastikan pernikahan ini tidak bertahan lama!" - TAMA BATARA
"Ya ampun Pak... Jangan galak-galak napa. Entar makin nambah loh keriputannya." - PUTRI MENTARI.
Tama yang masih mencintai mendiang istrinya membuat pernikahan yang dijalani wanita yang akrab dipanggil Tari itu terasa berat.
Tari yang ceria terus berusaha mendapatkan cinta sang suami.
Akankah pernikahan yang berat ini berubah menjadi pernikahan bahagia?
fb : Kacan
=> Mari follow akun Noveltoon Othor Kacan🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Segi Tiga Kuning
Air muka Tama semerah tomat. Merosot sudah harga dirinya hingga ke dasar. Tak kuasa lagi menahan malu, dengan segera dirinya mengambil ancang-ancang untuk menggeser tubuh Tari dari depan pintu.
Rupanya, sebelum Tama melakukan hal itu. Tari lebih dulu menggeser tubuhnya ke samping, gadis itu peka pada situasi yang terjadi. Tapi peka nya terlambat. Karna segi tiga kuning milik Tama sudah ternodai dengan warna kuning lainnya.
Brak...
Begitu Tama masuk ke dalam kamar mandi, Tari melipat bibirnya agar suara tawanya tidak pecah. Sangking tidak tahannya, ia sampai membelit perutnya sambil sesekali menepuk-nepuk dungkulnya.
Suara 'Pret... tet... tet....' terngiang-ngiang di kepala Tari. Hal itu tak henti-henti menggelitik perutnya.
Sakit rasanya menahan tawa, karna sudah tidak tahan lagi akhirnya suara tawa Tari menggema ke seluruh kamar Tama dan dirinya.
"Buahaha.... Pret... Buahaha." Tari tertawa ngakak, sampai-sampai sudut matanya berair.
Tama yang sedang duduk di kloset mengumpat kesal ketika mendengar suara tawa Tari yang membahana.
"Bocah sableng!!!" Gigi Tama bergemelutuk, dirinya geram ditertawai seperti itu.
Pret...
"Auh.... Shittt," keluh Tama ketika suara alam itu muncul lagi, untungnya dia masih duduk di kloset.
Tama berdiri setelah menyelesaikan proses pembuangannya, ia membuka seluruh kain yang membungkus tubuhnya. Ada rasa geli ketika dirinya membuka segi tiga kuning penutup juniornya.
Diangkatnya segi tiga kuning itu hingga berada dalam jangkauan matanya. Ketika matanya menyorot ke warna kuning dalam artian lain, muka nya langsung menampilkan ekspresi jijik.
Glebuk....
Dibuangnya segi tiga kuning ekstra kuning ke dalam keranjang sampah yang berada di dalam kamar mandi. Celana bahan berwarna hitamnya pun turut ia buang agar segi tiga sialaan itu tertutupi.
Pria itu berdiri di bawah guyuran air yang mengucur dari shower, dirinya enggan berendam di dalam bathup karna kondisi tubuh yang sudah lemas. Maka dari itu dirinya mempercepat proses membersihkan diri yang sedang ia lakukan.
Tama keluar dari kamar mandi, dan segera menuju ruang ganti. Namun, belum sampai ke dalam ruang yang ingin ia tuju, gadis yang selalu dirinya panggil dengan bocah sableng itu mengekorinya dari belakang.
"Pak Tama.... Are you okay?"
"Bocah sableng, sekali ini saja jangan mengganggu! Dan jangan mengikutiku, aku mau ganti baju." Ucap Tama dengan suara yang terdengar lemas.
Tari berhenti mengikuti suaminya, dan membiarkan pria itu memakai bajunya di ruang ganti.
Makhluk berjenis kelamin perempuan itu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, ia merasa keheranan. "Mungkin tenaganya Pak Tama udah terkuras kali yak. So... gak bisa menjelma jadi singa kayak biasanya."
Tama yang baru keluar, melewati Tari begitu saja. Saat ini dirinya hanya ingin membaringkan diri di atas ranjang.
Mata Tari mengikuti langkah Tama. Dirinya bisa menangkap wajah pucat itu. Tak tega melihat sang suami yang tampak tidak berdaya, segera ia menghampiri Tama.
Tangan Tari bergerak untuk memeriksa suhu tubuh Sang Suami. Namun baru sedikit tersentuh, lengannya sudah ditepis oleh pria yang tergeletak lemah itu.
"Apa yang kau lakukan?" Suara Tama terdengar lirih.
"Pak Tama, jangan banyak gerak dulu. Sini Tari periksa!"
Tama seperti tak memiliki kekuatan untuk menghalangi istrinya kembali. Ia pasrah ketika hangat telapak tangan Tari menempel di keningnya.
"Astaga!!! Dingin banget ini, kita ke rumah sakit aja ya." Panik Tari.
Gerakan kepala Tama menunjukkan keengganan pria itu untuk pergi ke gedung tempat menyediakan dan memberikan pelayanan dalam masalah kesehatan.
Tari yang kebingungan untuk membujuk Tama, segera dia mengambil jalan lain. Yaitu memberikan obat diare.
Perempuan itu berlari kecil-- mencari kotak P3K. Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, segera dirinya turun ke dapur dan mengambil makanan berupa nasi dan sayur sop untuk suaminya.
Langkah kaki Tari membawanya menaiki tangga untuk kembali ke kamar.
"Tari, kok makannya tidak di ruang makan?" tanya Mama Widi keheranan.
"Ini, Ma Pak Tama lagi sakit. Jadi Tari bawa makanannya ke kamar."
Raut wajah Mama Widi berubah khawatir. Tari yang menyadari hal itu, berusaha menenangkan mama mertuanya. "Mama tenang aja, Pak Tama hanya sakit perut. Mungkin karna gak sarapan pagi. Tari balik ke atas ya, Ma."
Mama Widi menghela napas lega mendengar penjelasan dari Tari. Dan membiarkan menantunya itu kembali ke kamar anaknya. Namun, ada hal yang dirasa aneh oleh Mama Widi. Kenapa Tari selalu memanggil suaminya dengan sebutan 'Pak Tama'?.
Beralih kembali pada Tari yang sudah masuk ke dalam kamarnya. Sat... Set... Sat... Set, gerakan perempuan berambut pendek itu sangat gesit. Ia meletakkan nampan berisi makanan dan obat diare ke atas nakas yang berada di samping ranjang.
"Pak Tama, ayo makan dulu." Tari menepuk pelan tubuh suaminya.
Tama yang sudah lemas hanya bisa membuka matanya tanpa banyak bicara.
Pelan-pelan Tari mengangkat kepala Tama, dan mengganjal kepala suaminya dengan dua tumpukkan bantal.
"Aaa...." Tari memberi arahan pada pria tampan itu.
Seulas senyum terukir di wajah Tari, ketika Tama menerima suapan darinya tanpa menunjukkan ekspresi marah.
Mata Tari menangkap bulir-bulir keringat yang mengalir di wajah Tama. Diusapnya bagian yang berkeringat itu dengan tangannya.
Akhirnya sepiring nasi habis tanpa sisa serta semangkuk sop yang hanya menyisakan sedikit kuah. Baru lah Tari memberikan obat kepada Tama.
Tari mengurus suaminya yang sedang sakit dengan sangat baik. Untung saja bocah gembilnya masih belum bangun dari tidur siangnya, padahal hari sudah sangat sore. Mungkin anak itu kelelahan karena sepulang sekolah Una asik bermain bersama Tari dan Oma-Opa nya.
"Pak Tama, Tari balurin minyak kayu putih ya perutnya...."
Tama menggeleng, Namun bocah sableng itu malah tetap melakukannya.
Grep...
Tari menarik kaos suaminya ke atas. Diperlakukan seperti itu Tama ingin memberontak. Tetapi tangan Tari lebih dulu menahan lengan suaminya yang ingin bergerak.
"Hadeh.... Gak diperkaos kok, Pak. Tenang aja," Ujar Tari, seraya menuangkan minyak kayu putih lalu meratakannya ke seluruh bagian kulit perut Tama.
"Nah udah selesai. Sekarang Pak Tama istirahat ya." Tari menurunkan kembali kaos yang dikenakan suaminya. Lalu menutupi tubuh Tama dengan selimut tebal.
Teringat suhu kamar yang dingin karna AC, Tari segera meraih remot pendingin ruangan itu dan menaikan suhunya agar tidak terlalu dingin.
Beberapa menit kemudian Tama tertidur, mungkin itu salah satu efek samping obatnya. Suara dengkuran halus milik Tama sampai ke telinga Tari, karena memang dirinya yang masih stay di tempat, untuk menjaga suaminya yang sedang sakit.
Sesekali Tama bergerak gelisah. Melihat itu, Tari mengusap puncak kepala suaminya agar pria itu kembali tenang.
"Manda, sayang...." Terdengar suara Tama mengigau.
Deg....
`
`
`
Wes lah Tari, kasih aja si Tama racun😭
mantap kaka pantun nyaaa 👍👍😄