NOVEL KE.9 = SANG PENARI.
"SUGENG RAWUH ING DUSUN GRINGGING"
Di sinilah perjalanan kami dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PILIHAN
Cukup lama Galang terdiam. Terjadi perdebatan hebat dalam batinnya. Tentu dia tidak tega mengorbankan salah satu temannya. Namun, ia pun tidak ingin tetap tinggal dan menjadi tumbal di sana. Si pendorong gerobak beberapa kali menanyakan pertanyaan serupa tapi Galang, masih diam dalam posisinya.
"Bicaralah! tidak lama lagi, kita akan sampai ke lokasi!" pinta si pendorong gerobak.
"Bagaimana denganmu Adnan, kamu pilih yang mana?"
"Aku tidak akan memilih!" pekik Adnan yang lekas mendapat sambutan tawa lebar dari keenam pendorong gerobak.
"Apakah kamu masih berpikir kalau dirimu aman? beberapa menit yang lalu, nasibmu sudah tidak di tangan kami lagi. Melainkan di tangan kedua temanmu ini. Kalau kedua temanmu sama-sama menyebutkan namamu maka, kamulah yang akan ditumbalkan," jelas si pendorong gerobak.
"Bagaimana kalau kami bertiga, saling menyebutkan nama yang berbeda?" sela Galang.
"Emm.. itu artinya, kalian bertiga akan ditumbalkan semuanya."
...Deg.....
"Laknat!" pekik Adnan.
"Kami memang makhluk yang telah dilaknat Tuhan. Karena itulah kami mencari teman sebanyak-banyaknya," jawab si pendorong gerobak disusul tawa lebar.
"Baiklah. Bagaimana denganmu Rizal? kamu pilih siapa?"
Belum sempat Rizal menjawab, Galang menyelanya.
"Adnan, aku memilih Adnan untuk ditumbalkan!" ucap Galang.
...Deg.....
Adnan membulat seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar. Bibirnya terkunci rapat-rapat, tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Zal! kamu juga harus memilih Adnan agar kita berdua bisa selamat!" imbuh Galang.
Sekali lagi, keempat pendorong gerobak tertawa dengan lantang.
"Akhirnya kamu memilih, sekarang giliranmu Rizal, katakan! siapa yang kamu pilih?"
"Kamu gila ya Lang, bisa-bisanya mengorbankan teman sendiri," cela Rizal.
"Dalam kondisi seperti ini, tentu harus memilih. Kamu dan aku saling kenal sejak kecil. Sudah bertahun-tahun lamanya, kita bersahabat. Sementara Adnan, baru dua tahun ini kita kenal. Pikirkan matang-matang! jangan dahulukan emosimu!" jawab Galang dengan tenang.
"Benar kata Galang, kamu harus memikirkannya dengan matang!" sahut si pendorong gerobak.
Rizal lantas menoleh ke arah Adnan tanpa mengatakan apa-apa. Adnan sendiri masih syok setelah mendengar kalau temannya begitu tega menumbalkan dirinya untuk mencari keselamatannya sendiri. Sementara tadinya ia begitu yakin kalau mereka bertiga akan menghadapi masalah ini bersama-sama hingga akhir. Saling berjuang tanpa menjatuhkan yang lain. Namun sayangnya, dia harus menelan rasa kecewa. Kini, Adnan masih dibuat berdebar menanti pilihan dari Rizal. Jika Rizal pun menyebutkan namanya maka, selesai sudah. Dirinyalah yang akan ditumbalkan dan kedua temannya akan selamat.
"Hemm.. aku.."
Rizal mulai bersuara.
"Katakan!" pinta si pendorong gerobak.
Rizal menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan jawaban.
"Aku... aku tidak akan memilih siapa pun."
"Hah?" Galang terperangah mendengar jawaban Rizal.
"Cukup mengejutkan tapi baiklah."
"Hemm.. hemm..."
Si pendorong gerobak berdehem beberapa kali lalu kembali mengatakan perihal peraturan pilihan
"Sekarang, peraturannya begini, kalau nanti Adnan juga tidak memilih siapa-siapa maka, Galang yang akan ditumbalkan."
...Deg.....
"Bagaimana bisa seperti itu? kenapa peraturannya berubah-ubah? kalian sengaja mempermainkanku, mempermainkan kami!"
Galang meluapkan kekesalannya. Bahkan, ia juga mengumpat berulang kali.
"Memang, kami memang mempermainkan kalian. Kenapa kamu baru menyadarinya? Kami yang berkuasa di sini. Sementara kalian, tidak punya hak untuk menolak. Kalian hanya perlu mengikuti aturan main yang kami buat. Lagi pula, ucapanmu tidak sepenuhnya benar. Jika Rizal dan Adnan sama-sama tidak memilih siapa-siapa, berarti kan keduanya mengatakan hal yang sama. Wajar jika yang berbeda lah yang akan ditumbalkan."
...Deg.....
"Sialan! Bangsat kalian!"
"Bersikap baiklah kepada Adnan agar dia, tidak membalasmu karena kamu telah berniat untuk menumbalkannya di awal!"
Galang kembali mengumpat lalu memalingkan pandangannya ke Rizal.
"Zal! kenapa kamu tidak memilih siapa-siapa? kita ini sudah berteman sangat lama. Kenapa kamu mengatakannya?" cerca Galang.
"Lang, aku mengatakan hal itu karena tidak ingin mengkhianati kalian berdua. Aku tidak ingin mengorbankan kamu dan aku juga, tidak ingin mengorbankan Adnan," jawab Rizal memberi penjelasna.
"Bodoh! itu adalah hal terbodoh yang kamu lakukan! kamu cukup menyebutkan nama Adnan dan semuanya akan selesai. Kita berdua akan selamat, kita akan pulang."
"Lalu Adnan? bagaimana dengan dia? aku tidak bisa setega kamu untuk mengorbankannya."
"Sudah cukup! jangan berdebat! sekarang giliran Adnan untuk memilih. Bagaimana Adnan, sudah kamu pikirkan baik-baik? Lihatlah kedua orang ini. Kamu sudah bisa melihat bukan, siapa teman dan siapa lawan?"
Adnan mengembuskan napas panjang.
"Tidak ada satu pun pilihan yang menguntungkan pihak kami," ucap Adnan.
"Tentu saja, namanya juga pilihan. Tentu harus ada yang dikorbankan. Di dunia ini, jangan berharap untuk bisa mendapatkan semua hal yang kamu inginkan!"
Adnan menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan matanya.
"Ya Alloh! aku harus bagaimana? jin-jin ini mempermainkan kami sedemikian rupa. Pilihan apa pun yang akan kubuat tidak akan ada yang menguntungkan. Aku sendiri tidak ingin terlibat dalam perjanjian apa pun dengan para jin. Lebih dari itu, aku tidak ingin menyesal di sepanjang usiaku jika mengorbankan temanku. Ya Alloh! apa yang harus aku lakukan?" benak Adnan.
"Sebentar lagi, kita akan sampai. Cepatlah membuat pilihan!"
Galang masih memejamkan matanya. Bibirnya pun terkunci rapat. Sementara otaknya begitu riuh, mempertimbangkan pilihan yang ada.
"Adnan, sudah waktunya kamu membuat pilihan."
"Ya Alloh! apa aku sungguh harus memilih? Engkau tahu betul kalau hatiku tidak bisa melakukannya. Tolong bantu aku! bantu kami untuk keluar dari tempat ini! karena kebodohan kami sendiri yang akhirnya menyudutkan posisi kami. Tolong beri kami satu kesempatan lagi! Jangan biarkan kami mati di sini!"
"Adnan, jangan mengulur waktu lagi! cepat katakan pilihanmu!"
Adnan menghela napas seraya membuka kedua matanya.
...🍁 Bersambung... 🍁...