Season 1:
Dena, gadis yang baru saja menginjak bangku sekolah menengah atas. Ia harus pasrah saat sang Papa mengirimnya ke perkampungan? ya, tepatnya kampung sang Kakek. Di sana ia akan bertemu dengan seorang pemuda yang terkenal di desanya. Terkenal bukan karena sifatnya yang kalem tapi nakal.
Diselingi kisah sang papa yang statusnya sebagai duda dipertemukan dengan seorang wanita yang juga sebagai karyawan di kantornya. Tidak disangka, putrinya lebih dahulu mengenal wanita itu. Dimulai dari perdebatan hingga berujung percintaan. Wira, sebagai papa Dena harus berjuang mendapatkan restu dari calon mertuanya. Statusnya sebagai duda yang menjadi permasalahan. Duda anak satu sedangkan sang wanita masih berstatus lajang.
Bagaimanakah Dena merajut kisah asmaranya dengan seorang pemuda dari kampung kakeknya?
𝗦𝗲𝗮𝘀𝗼𝗻 𝟮: (𝗠𝘆 𝗙𝗶𝗲𝗿𝗰𝗲 𝗕𝗼𝘀𝘀)
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Begitu keluar dari pesawat, senyum Dena langsung lepas. Berjalan cepat begitu melihat sang Papa yang melambaikan tangannya.
"Ummm... Dek." panggil Cahya yang mengikuti Dena. Takut kalau remaja itu tersesat.
"Iya, Kak?" tanya Dena langsung memberhentikan langkahnya.
"Kakak duluan ya? Kamu udah ada yang jemput kan?" tanya Cahya dengan ekspresi gelisah.
"Loh, kenapa, Kak?"
"Ummhh.. Gini, Dek. Di sini ada bos Kakak. Kakak takut nanti dilihat karna Kakak ijin tidak masuk kantor karena sakit." ujar Cahya yang berbisik tepat di depan telinga Dena. Gadis itu hanya mengangguk patuh tanpa curiga lalu membiarkan wanita yang kurang lebih 2 jam ia kenal.
"Iya deh, Kak. Hati-hati ya pulangnya." balas Dena yang diangguki oleh Cahya. Wanita itu langsung melipir meninggalkan Dena.
Begitu melihat Cahya sudah menghilang dari pandangannya, Dena dibuat kaget setengah mati begitu melihat ke depan, sudah ada Papanya yang bediri tegak tepat dihadapannya.
"Astaghfirullahaladzim... Papa!?" sentak Dena mengelus dadanya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Wira yang dibuat bingung dengan ekspresi putrinya. Bukannya memeluk untuk mengobati rindu eh malah seakan diabaikan oleh darah dagingnya sendiri.
"E-enggak. Dena kaget aja liat Papa udah di depan." jawab Dena.
"Tadi yang ngobrol sama kamu itu siapa?" Wira, Papa Dena begitu penasaran dengan wanita yang sempat mengobrol dengan putrinya. Walau tidak nampak jelas, namun Wira tau wanita itu tengah mengobrol dengan putrinya tadi lalu pergi meninggalkannya.
Senyum Dena langsung terbit. Tampak ia menggandeng lengan Papanya sambil bergelayut manja di lengan kekar itu.
"Kenalan Dena, Pa, pas di dalam pesawat. Tadi sempat ngobrol banyak. Orangnya baik, Pa, cantik lagi." curhat gadis itu seraya mendongakkan kepalanya ke atas.
"Oh ya? Baguslah kalau orang itu baik. Papa cuman takut aja ada orang jahat yang deketin kamu." sahut Wira membalas ucapan Dena dengan mengelus pucuk kepala putrinya.
"Enggak kok, Pa. Kalo orang jahat yang deketin Dena, kan ada Papa?"
"Heh! Kamu itu. Oh ya... ini mau pulang ke rumah gak? Kayaknya gak kangen nih sama rumah. Apalagi sama Papa. Duh kasihan!"
"Dena kangen rumah kok. Apalagi Papa, Dena kangen banget. Pengen peluk kayak gini. Papa, kok--bau tante-tante." Dena melepaskan pelukannya lalu mengendus-endus aroma tubuh Wira.
"Tuh kan! Papa... coba jelaskan!" titah Dena tanpa bantahan.
Wira hanya terkekeh. Putrinya itu sungguh memiliki indra penciuman yang sangat tajam. Pria tiga puluh delapan tahun itu tidak marah saat diinterogasi oleh putrinya.
Kembali tangan Wira merangkul bahu Dena, lalu memerintahkan supir yang ikut di belakangnya untuk membawa koper Dena beserta barang-barang lainnya.
"Tadi ketemu klien Papa di kantor." ucap Wira sembari menuntun Dena masuk ke dalam mobil.
"Cewek?" tanya Dena yang dibalas anggukan oleh Wira. Saat ini keduanya telah duduk anteng di jok belakang.
"Tapi kok bisa sampe nempel gitu wanginya?" selidik Dena menatap horor sang Papa.
"Tadi Papa nolongin dia yang gak sengaja mau jatuh. Papa reflek jadinya ya gitu." jawab Wira menjelaskan.
"Mencurigakan. Awas aja pegang-pegang. Kalo berani? Huh! Dena potong tangan Papa trus kasih makan buaya di pekarangan biar mereka kenyang."
"Gak berani, Sayang. Papa gak berani kok. Kalau gak percaya tanya aja sama Om Steve. Om Steve juga ikut meeting sama Papa kok, gak berduaan."
"Om Steve? Dena jadi kangen sama Om Steve. Kapan-kapan Dena main ke kantor Papa ya?"
"Boleh kok. Kapan sih Papa ngelarang kamu buat main ke kantor Papa, hem?"
"Eh ya, Pa. Besok sekolah Dena diantar supir biasa aja ya?"
"Kok gitu? Kan biasanya juga bareng Papa? Ada apa nih? Kamu gak macem-macem kan?" tuduh Wira yang sedikit curiga.
"Ih, Papa! Fitnah, dosa tau. Dena cuman mau berangkat sendiri aja. Capek dikatain anak Papa mulu." curhat Dena.
"Lah lah... kan kamu memang anak Papa? Emamgnya kamu itu anak siapa? Anak ayam atau gak bebek?"
"Sekali aja ya, Pa. Pliss..." gadis itu merayu dengan mengeluarkan ekspresinya.
"Cuman sekali aja ya?" ucap Wira tidak tahan dengan rayuan putrinya.
"Beneran Papa ngijinin?" tanya Dena tidak percaya.
"Enggak."
"Papa!" rengek gadis itu.
"Iya, iya. Sekali aja."
"Yeayyy.... makasih, Pa." Dena berhamburan ke pelukan Papanya.
.
.
.
1 bab dlu yah🤭insyaAllah nnt malam lanjut lagi 🤗
kykny keluar dr judul ya,Thor...
🥰😊😊
Semangat tetap& Ttp semangat,Kak Thor!!!!💪💪🤺
udh dong mewek ya.
skrg bhgian ya plk dong thor
kok melo ya eps yg in
lain judl pun gak ap2 thor.
yg pnt arel sma dena
Disini aj laaa Ampe habis cerita Dena&Fairel..